Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Lelaki Yang Tulus


__ADS_3

Tepat saat Olivia sampai di rumah, hujan pun turun dengan derasnya. Tidak mau menunggu semakin dingin, Ia memutuskan bergegas mandi agar lebih santai juga. Setelah mandi, berkutat di depan meja belajarnya mengerjakan tugas. Memang anak rajin.


Tok tok!


"Ya masuk!" teriaknya tanpa repot membukakan pintu kamar yang diketuk.


Ternyata Mamanya yang masuk, wanita paruh baya itu menghampiri putrinya lalu menyimpan secangkir coklat panas di meja belajar. Memperhatikannya sejenak yang terlihat fokus sekali belajar, bahkan belum melirik nya sedikit pun.


"Kamu lihat Kai gak? Dia belum pulang dari tadi, Mama khawatir sama dia," tanya Keisha baru membuka suara.


Olivia pun baru menatap Mamanya itu, "Bukannya harusnya pulang les dari tadi ya? Memangnya Mama gak suruh supir jemput?"


"Kai bilang tadi pagi bakal dianter pulang sama guru les nya, soalnya katanya mereka akan sekalian praktek di sekolah lain. Mama sudah telepon Miss Caca, tapi nomornya gak aktif," kata Keisha.


Kernyitan terlihat di kening Olivia, jadi ikut memikirkan itu dan khawatir pada adiknya juga. Ia lalu meminta nomor ponsel guru privat adiknya itu, dan mencoba menghubunginya. Tetapi sama, tidak aktif.


Melihat jam sudah menunjukkan pukul enam sore dan hujan turun semakin deras, membuat kedua perempuan itu sama-sama dilanda khawatir. Mereka memutuskan turun dahulu, entah kebetulan atau bagaimana Kevin baru saja pulang.


Keisha pun langsung menghampiri suaminya itu, "Mas kamu pulang bareng Kai?"


"Hah? Enggak, memangnya Kai belum pulang?" tanya Kevin balik.


"Belum, harusnya pulang les kan jam empat atau jam lima. Aku juga sudah coba telepon Miss Caca, tapi sama-sama gak aktif, gimana nih?"

__ADS_1


Kevin yang melihat istrinya akan menangis membuatnya pun segera memeluknya untuk memberikan ketenangan. Ia sempat melirik Olivia, putrinya juga sepertinya ikut khawatir. Sebagai Kepala Keluarga, Ia harus tetap tenang.


"Sebentar Papa coba telepon temen Papa yang polisi untuk bantu carikan, semoga saja Kai gak hilang."


Tetapi baru saja akan menelepon teman polisinya itu, suara bel berbunyi mengalihkan perhatian. Olivia yang berusaha paling tenang pun membukakan pintu, terkejutnya dirinya melihat yang datang.


Kai tidak sendirian, di belakangnya ada Dilon. Kedua orang tuanya yang ikut melihat pun segera menghampiri, Kai lalu dipeluk Keisha dengan eratnya, bahkan wanita itu tidak bisa menahan tangisannya lagi.


"Aww Mama sakit!" ringis Kai, membuat Keisha pun segera melepas pelukannya.


"Hah kamu sakit apa? Siapa yang sakitin kamu?" tanya Keisha bingung, sempat melirik Dilon yang berdiri di belakang anaknya. Tidak mungkin kan?


Kai terlihat mengusap tangannya, "Tangan aku sempet ke himpit dasbor mobil, jadi sedikit sakit," jawabnya.


Semua tentu saja merasa bingung mendengar penjelasan dari anak kecil itu. Ketiga orang di sana lalu melirik Dilon, meminta penjelasannya agar lebih bisa dipahami. Tetapi sebelum itu, mereka mempersilahkan pria itu masuk dahulu agar bisa mengobrol dengan santai.


"Ekhem jadi begini Om Tante, saya tadi di jalan gak sengaja lihat Kai. Ternyata mobil yang membawa dia gak sengaja menabrak tiang pembatas, sampai macet juga," ungkap Dilon mulai menjelaskan.


"Ya ampun, Kai kecelakaan?" pekik Keisha terkejut, Ia pun segera memegang bahu putranya itu memperhatikan tubuhnya takut ada yang terluka lagi.


Tetapi Kai langsung menepis pelan tangan Mamanya itu, "Aku gak papa kok Mah, tapi Miss Caca kayanya yang sedikit terluka di kening," katanya.


Anak kecil itu pun mulai menceritakan bagaimana kejadian sebenernya, ternyata guru les nya itu menyetir sambil ber teleponan dan membuatnya tidak fokus sampai menabrak tiang. Mungkin karena sedang hujan, jadi jalanan tidak terlalu terlihat.

__ADS_1


Kedua orang tua Kai tentu merasa kesal mendengar itu, nanti mereka pasti akan bicara dengan guru les bahasa Inggris Kai. Untungnya putra mereka tidak kenapa-napa, sakit di tangan kirinya hanya karena benturan saja, tidak sampai berdarah atau lecet.


"Pas aku lagi sendirian di sisi jalan karena Miss Caca lagi ditanyai sama polisi, Tiba-tiba Kak Dilon datang. Aku seneng dong, karena bisa pulang," lanjut Kai yang kini sudah tersenyum lebar, ekspresi wajahnya yang tadi muram pun berubah.


Perhatian Keisha dan Kevin pun kembali pada remaja laki-laki itu, "Terima kasih banyak ya Dilon sudah bawa Kai pulang, dia pasti bingung sekali di sana tidak tahu harus gimana."


"Iya gak papa Om Tante, saya juga tadi gak tega lihat dia di sana sendirian, untungnya setelah bicara sama Polisi tidak apa diantar pulang," sahut Dilon menanggapi.


Dilon sempat melirik Olivia, dari tadi perempuan itu diam saja memperhatikannya. Entah apa yang sedang dipikirkannya itu. Dilon lalu melirik jam tangannya, sepertinya Ia harus pulang sekarang.


Jujur saja tadi Ia gugup sekali karena harus mengantar Kai pulang, karena sudah pasti Ia akan bertemu orang tua Olivia lagi. Pandangan mereka kepadanya kan sudah buruk, sekarang pun tidak memiliki hubungan apapun lagi.


"Ekhem maaf Om Tante, kayanya saya mau pamit pulang sekarang," ucap Dilon sambil tersenyum.


"Kenapa buru-buru? Gimana kalau kita makan malam dulu?" tawar Keisha ramah, percayalah ajakannya itu dari dalam hati. Mungkin sebagai tanda terima kasih juga.


Tetapi Dilon menggeleng dan menolaknya dengan sopan, "Maaf Tante, sekarang saya harus pulang. Terima kasih sudah menawarkan, sebuah kehormatan."


Sebelum benar-benar pergi, dengan sopan Dilon menyalami tangan pasangan paruh baya itu. Ia juga sempat pamitan pada Kai dan meminta anak itu istirahat dan mengobati tangannya yang memar nanti. Tetapi Dilon hanya melirik Olivia, tidak berpamitan karena akan sangat canggung.


Keisha lalu menghampiri putrinya itu, "Kamu gak mau anterin Dilon sampai ke depan? Mungkin kalian mau ngobrol dulu," tanyanya. Terlihat Dilon berjalan menjauh akan keluar rumah.


"Untuk apa? Bukannya Mama sama Papa bilang aku harus jaga batasan sama dia? Kalian kan takut aku deket sama dia lagi, terus ngingetin aku kalau aku sudah punya tunangan, Septian si calon menantu yang kalian banggakan itu!" katanya menohok dengan suara sinis.

__ADS_1


Tidak mau emosinya semakin naik, Olivia pun pergi dari sana juga. Tetapi bukan menyusul Dilon, melainkan naik ke lantai atas menuju kamarnya. Percayalah dari tadi Ia berusaha menahan tangis, dan saat sampai di dalam kamar air matanya pun jatuh juga.


Melihat Dilon yang berani datang ke rumahnya lagi dan berusaha bersikap baik di depan orang tuanya, entah kenapa membuat Olivia tidak tega sendiri. Apakah kedua orang tuanya tidak malu sempat menjelekkan lelaki itu? Tetapi Dilon masih baik dan membantu mereka.


__ADS_2