
"Besok Vanessa ngajak kerja kelompok, katanya seninnya kan tugasnya sudah di kumpulin. Lo mau ikut gak?" tanya Dilon sambil tersenyum kikuk.
Olivia yang tahu Dilon sedang mengalihkan pembicaraan hanya menghela nafas berat. Pria itu selalu saja menghindar, padahal jika mereka membicarakan permasalahan keluarga Dilon, mungkin Olivia pun bisa bantu.
Bisa jadi Dilon tidak nyaman, Olivia pun tidak mau terlalu menekan Dilon takutnya terlalu ikut campur. Tetapi Olivia berharap hubungan Dilon dengan orang tuanya baik-baik saja, maka dari itu Olivia sedang berusaha juga mendukung.
"Ikut, besok aku juga mau masuk sekolah lagi. Bosen banget di rumah terus," jawab Olivia.
"Lo yakin? Sudah agak baikkan emangnya?" tanya Dilon memastikan.
"Iya beneran sudah baikkan kok, lagian aku gak mau izin terlalu lama, sayang banget banyak pelajaran tertinggal."
"Huh dasar anak rajin!" sindir Dilon sambil mendengus.
Obrolan mereka terhenti saat melihat pintu kamar terbuka, dan masuklah Kai. Anak laki-laki itu terlihat sumringah melihat kehadiran Dilon, dan segera menghampirinya.
"Kak Dilon dari kapan di sini?" tanya Kai setelah duduk di sebelahnya.
"Belum terlalu lama kok, ada apa Kai?" tanya Dilon balik.
"Kak kita main game bareng yuk, aku punya PlayStation loh." Kai terlihat bangga sekali saat mengatakan itu, dadanya bahkan membusung tinggi.
"Boleh sih, mau main game dimana?"
"Di kamar aku lah, kan game nya di sana. Yuk!" Kai pun turun dari ranjang, lalu menarik tangan Dilon untuk pergi bersamanya.
Tetapi sebelum pergi, Dilon sempat menatap Olivia seolah meminta izin untuk pergi, dan Olivia pun mengangguk memberikan. Memang dasar Kai itu selalu saja mengganggu, tapi tidak apalah, mereka juga kan bersenang-senang.
__ADS_1
Setelah Dilon pindah ke kamar Kai di sebelah, Olivia pun ikut keluar kamar dan berencana ke lantai bawah untuk membawa minum. Tetapi di dapur Ia malah bertemu Papanya, tumben sekali Papanya itu pulang tepat waktu.
"Kamu sudah baikkan? Masih pusing gak?" tanya Kevin sambil menempelkan tangannya di kening putrinya.
Olivia menggeleng lalu menurunkan tangan Papanya itu, "Sudah enggak, besok juga aku mau masuk sekolah lagi. Gak papa kan?"
"Ya kalau sudah ngerasa sehat masuk saja, tapi pokoknya kamu harus sarapan dulu, jangan kaya waktu itu," nasihat Papanya.
"Hehe iya-iya, aku juga gak mau sakit lagi. Sudah kelas tiga, sayang banget kalau ketinggalan pelajaran," gumam Olivia.
Kedua orang itu lalu keluar dari dapur sambil mengobrol, ternyata Papanya akan memberikan mainan pada Kai, katanya pesanannya yang sudah dari beberapa hari lalu. Olivia pun sekalian saja, ingin melihat Dilon juga di sana.
Melihat Papanya yang terkejut melihat kehadiran Dilon di kamar Kai, membuat Olivia mengulum senyuman, Ia tadi sengaja tidak cerita. Dua lelaki berbeda usia itu terlihat asik sekali main game, sampai tidak sadar ada seseorang yang masuk kamar.
"Ekhem asik banget kayanya, gantian dong," celetuk Olivia menegur.
Awalnya Dilon hanya melirik sekilas Olivia, lalu kembali fokus main game karena sedang seru-serunya. Tetapi beberapa detik kemudian langsung sadar jika bukan hanya perempuan itu yang datang, melainkan ada Papa Olivia juga.
"Kamu sudah lama ya Kai main game nya?" tanya Papanya lalu duduk di sofa, memperhatikan dua orang itu yang terlihat fokus sekali main game di depannya.
"Enggak kok, aku sama Kak Dilon baru aja main. Iya kan Kak?" Kai meminta penjelasan pria itu juga, agar bisa membela dirinya sendiri.
"I-iya Om, kami baru main kok," jawab Dilon masih kikuk. Apakah Ia sekarang terlihat tidak sopan sekali karena mengobrol tapi asik sendiri?
"Inget ya kalau main game jangan terlalu lama, harus dibatasi. Jangan lupa juga kerjain tugas sekolahnya, ngerti?" nasihat Kevin.
"Iya Pah, tenang aja, nanti malam tugasnya pasti aku kerjain kok. Apa Papa juga mau main game? Mau coba lawan Kak Dilon gak? Dia jago juga loh," tawar Kai sambil menolehkan kepalanya ke belakang.
__ADS_1
Kevin tidak langsung menjawab, terlihat berpikir dengan keras. Walaupun usianya tidak lagi muda, tapi Ia masih jago main game. Mendapat tawaran seperti itu terdengar menarik, apakah Ia akan menemukan lawan yang seimbang?
"Boleh deh," jawab Kevin setelah beberapa waktu berpikir, menurunkan gengsinya.
Dilon yang mendengar itu tidak bisa menahan senyumannya, merasa senang karena calon mertuanya itu mau juga main game bersamanya. Sempat Dilon melirik Olivia lagi, perempuan itu hanya tersenyum lebar seperti membiarkan.
Awal game kedua orang itu terlihat kikuk dan canggung satu sama lain, tapi lama kelamaan mulai mencair. Kevin dan Dilon kadang saling menyoraki satu sama lain saat dirasa permainan semakin sengit, mereka benar-benar bermain dengan serius.
"Olivia, kamu dukung siapa nih?" tanya Kevin di sela permainannya.
"Em dukung siapa yah? Papa aja deh, pokoknya Papa harus menang ya?" Olivia lalu tertawa kecil setelah mengatakan itu, pasti Dilon ada rasa iri karena tidak di dukungnya. Ya semoga saja tidak marah.
Kai lalu menatap sengit Kakak perempuannya itu, "Hm kalau aku dukung Kak Dilon dong, soalnya Kak Dilon kelihatan lebih jago dari pada Papa," katanya.
Dilon pun langsung bersorak senang karena dirinya pun mendapat dukungan, ya walau bukan dari pacarnya. Permainan keduanya pun terasa lebih sengit dan seru, tidak menyangka Dilon dan Papanya Olivia bisa bermain game bersama.
Sedangkan Kai dan Olivia di belakang terus menyemangati, mereka juga yang menonton ikut heboh sendiri. Akhirnya setelah setengah jam lamanya, permainan berakhir juga. Dengan Kevin yang menjadi pemenang.
"Nah kan lihat, apa Papa bilang? Papa lebih jago dari Dilon, lihat Papa menang," ucap Kevin dengan suara kerasnya sanking terlalu bersemangat.
"Yah kok Kak Dilon bisa kalah sih? Tadi aja jago banget," desah Kai dengan suara kekecewaannya.
Dilon lalu berdiri sambil menggaruk belakang kepalanya, "Hehe maaf ya Kai, habisnya Om Kevin jago banget. Sebelumnya Kakak belum pernah kalah, tapi Om Kevin emang keren banget sih," puji nya.
"Hehe kamu juga jago kok Dilon," balas Kevin sambil menepuk bahu remaja itu beberapa kali.
Kevin dan Kai pun keluar kamar lebih dulu saat mendengar panggilan Keisha yang mengajak makan malam. Setelah dua orang itu pergi, Dilon pun menghampiri Olivia dan merangkul bahunya.
__ADS_1
Pria itu lalu berbisik di telinga Olivia, "Sebenarnya aku ngalah, biar Papa kamu itu senang dan jadi suka sama aku."
Olivia menatap kekasihnya itu terbelak, tapi senyumannya semakin lebar. Hebat juga pikirnya Dilon bisa mendapatkan hati Papanya, pasti setelah ini sikap Kevin pun tidak akan terlalu dingin pada Dilon.