
Saat Olivia akan ke bangkunya, perempuan itu terkejut karena ada yang menghalangi kakinya membuatnya pun terjatuh ke depan. Terdengar ringisan kesakitan dari perempuan itu, apalagi di bagian siku dan wajahnya yang terkena lantai lebih dulu.
Beberapa teman kelasnya yang melihat itu ada yang merasa kasihan, tapi ada juga yang tertawa. Tasya dan Syifa yang melihat itu langsung mendekat untuk membantu, merasa linu sendiri apalagi suara jatuhnya tadi sangat keras.
"Ya ampun Olivia, kamu gak papa kan?" tanya Tasya memperhatikan tubuhnya.
"Mana yang sakit? Aduh kasihan banget," kini giliran Syifa yang bertanya.
Olivia masih sesekali meringis merasakan linu di beberapa bagian tubuhnya. Perlahan Ia mengangkat kepala untuk melihat pada si pelaku, Vanessa yang menyadari di tatap langsung membuang muka.
"Heh Vanessa, kamu kan tadi yang halangin jalan?!" tanya Olivia kesal.
"Apaan sih? Kok jadi ke aku?" tanya Vanessa pura-pura.
"Sudahlah ngaku aja, orang tadi akuĀ ngerasain nya di situ. Kenapa lakuin itu? Sengaja ya kamu?!" Nada suara Olivia terdengar makin tinggi.
"Jangan nuduh sembarangan ya, bisa aja kamu jatuh sama yang lain," Bantah Vanessa.
Dengan susah payah Olivia pun berdiri, lututnya sampai bergetar merasakan linu. Ia pun mendekati Vanessa lalu menggebrak meja nya, membuat keduanya pun saling bertatapan tajam.
"Kalau gak suka bilang, gak usah jahil dan nyelakain begitu. Tahu gak ini sakit banget? Mau aku bales hah?!" omel Olivia.
Vanessa mulai terpancing emosi karena merasa dipermalukan, "Kalau aku bilang emang gak suka sama kamu gimana hah? Aku juga sengaja jatuhin kamu, rasanya puas banget." Setelah mengatakan itu, Vanessa tertawa keras.
Kedua mata Olivia terbelak mendengar itu, Ia pun menjambak rambut Vanessa, "Aku sudah duga kamu emang dari awal gak suka sama aku. Kenapa? Cemburu ya Dilon nya aku rebut hah?" ledek nya.
"Aduh sakit, lepasin gak?!" sentak Vanessa. Memang sih Olivia tidak terlalu keras, tapi tetap saja perih.
Kedua perempuan itu pun mulai cekcok tidak mau kalah, dengan nada suara tingginya. Suasana di kelas itu pun perlahan menjadi ramai, bahkan para murid lelaki malah menyoraki menyemangati.
__ADS_1
Syifa dan Tasya sendiri saling berpandangan, merasa bingung harus bagaimana. Saat melihat Vanessa yang membalas menjambak Olivia, keduanya pun segera menghampiri dan berusaha membela Olivia.
Dilon yang baru masuk kelas tentu saja bingung melihat suasana kelasnya yang ramai. Pandangannya lalu tertuju pada kerumunan, perasaannya langsung tidak enak melihat Olivia dan Vanessa di sana. Segera Ia pun mendekat untuk melerai.
"Hei-hei ada apa ini?!" tanyanya keras.
Melihat kedua perempuan itu saling jambak-jambakan membuat Dilon berusaha memisahkan satu sama lain. Tetapi ternyata cukup sulit, Dilon malah jadi takut menyakiti salah satu. Bahkan Dilon juga beberapa kali terkena pukulan.
"Olivia berhenti, kamu ini apa-apaan sih?!" bentak Dilon yang akhirnya berhasil menarik pacarnya itu ke belakang.
Nafas Olivia terlihat tidak teratur, dadanya sampai naik turun. Penampilannya juga jadi berantakan, apalagi bagian rambutnya. Dilon sempat melirik Vanessa yang ditahan yang lain, kondisinya pun hampir sama.
"Lihat tuh sahabat kamu itu, dia yang duluan buat aku jatuh. Wajah aku sama siku sakit banget kena lantai," ucap Olivia mulai mengadukan.
Vanessa langsung mengelak, "Enggak, aku gak ngelakuin itu Dilon. Dia fitnah aku, Olivia cuman lagi cari perhatian kamu aja."
Vanessa kembali terpancing emosi, "Emang dasar kamu ini pengganggu, gara-gara kamu hubungan aku sama Dilon jadi gak kaya dulu. Mending kamu pergi lagi aja sana!"
"Sudahlah Vanessa akui saja kekalahan. Ingat ini, Dilon itu sampai kapanpun gak akan mungkin suka sama cewek centil kaya kamu. Mending cari cowok lain aja sana, Dilon udah ada yang punya," balas Olivia tidak mau kalah.
Dilon yang dari tadi mendengarkan hanya menghela nafas lalu memijat pelipisnya. Sekarang Ia mengerti penyebab sahabat dan pacarnya ribut, itu karena dirinya.
Kedatangan wali kelas mereka sambil menggebrak meja dengan penggaris besar dari kayu membuat suasana kelas menjadi hening. Ekspresi wajah wali kelas nereka terlihat garang, membuat yang lain jadi ikut takut.
"Tadi ada yang laporan ke Ibu kataya di kelas ini ada yang berantem, jadi siapa?" tanya Bu Rita.
Murid yang berada di tengah pun langsung bergeser, dan kini Bu Rita bisa melihat Olivia dan Vanessa. Melihat penampilan mereka yang berantakan begitu, sudah bisa Ia simpulkan.
"Olivia, Vanessa ke ruangan Ibu sekarang. Tapi rapih kan dulu penampilan kalian, Ibu tunggu dalam waktu lima menit." Setelah mengatakan itu, Bu Rita pun keluar kelas.
__ADS_1
Olivia terlihat menghela nafas kasar merasa kesal tapi juga bodoh di waktu bersamaan. Rasanya memalukan sekali karena tadi sudah membuat keributan, rekor dirinya membuat masalah pertama kali selama sekolah.
"Hei gue anter ya?" tawar Dilon sambil mengusap bahunya.
Melihat senyuman manis pacarnya itu, membuat perasaan Olivia perlahan membaik. Ia sempat melirik Vanessa, perempuan itu terlihat kesal lalu melenggang pergi sambil menghentakkan kakinya. Olivia mengedikkan bahunya acuh.
Sepanjang perjalanan ke ruang guru wali kelas, Dilon dengan baiknya membantu merapihkan rambut panjang Olivia. Pria itu juga sesekali meringis melihat ada luka cakaran di wajah cantik dan mulus itu, tidak terbayang seganas apa tadi.
"Apa aku akan di skorsing? Aku takut. Mama sama Papa pasti bakalan marah sama aku," tanya Olivia setengah merengek.
Dilon terus mengusap bahu Olivia, "Tenang aja, gue bakalan bantu."
"Beneran ya? Tolong bujuk Bu Rita sama Kakek kamu, jangan sampai orang tua aku juga tahu tentang ini." Selama ini Olivia kan selalu memberikan kabar bahagia tentang prestasinya di sekolah.
Saat masuk ke ruangan itu, Vanessa terlihat sudah datang lebih dulu dan duduk di depan Bu Rita. Wali kelasnya itu sempat menyuruh Olivia duduk bersebelahan dengan Vanessa, mau tidak mau Olivia pun menurut.
"Kamu bisa kembali ke kelas Dilon, bel sudah masuk," perintah Bu Rita.
"Saya mau di sini saja ya Bu? Temenin mereka," jawab Dilon memberanikan diri.
Tetapi Bu Rita menggeleng tidak setuju, karena Ia ingin berbicara langsung dengan dua siswi ini. Jika ada Dilon, takut tidak berjalan baik dan malah mengganggu. Sesekali Rita harus bisa bersikap tegas.
"Dilon," panggil Rita sekali lagi.
Untung saja kali ini Dilon menurut dan tidak keras kepala, dengan berat hati meninggalkan Olivia dan Vanessa. Nanti mungkin Ia akan bicara dengan Bu Rita, meminta mengurangi hukuman pacarnya.
***
Waduh Olivia wkwk
__ADS_1