
Saat sedang fokus menulis, perhatian Olivia teralih melihat sebuah buku di simpan di mejanya. Ia pun mengangkat kepala untuk melihat, dan ternyata itu Dilon. Untuk beberapa saat keduanya pun bertatapan, membuat detak jantung tanpa bisa ditahan menjadi cepat.
"Sudah ngerjain essay nomor lima belum? Lihat dong, yang itu susah banget nyari jawaban nya," kata Dilon dengan nada suara masih ketusnya.
"Ini juga lagi nyari sih, emangnya kamu sudah selesain nomor lain?" tanya Olivia berbalik.
"Sudah," jawab Dilon singkat.
Olivia pun sempat melirik buku tulis Dilon, dan sepertinya memang sudah mengerjakan semua. Sama sepertinya, tinggal jawaban terakhir. Dari awal masik sekolah lagi, Dilon memang agak berubah menjadi lebih rajin dan serius belajar. Ya baguslah.
Tetapi Olivia terkejut saat Dilon menarik lagi bukunya, saat Ia tatapan pria itu bertanya. Dengan santainya Dilon pun menjawab, "Jangan nyontek!"
"Ish apaan sih? Ngapain juga nyontek, lagian aku juga sudah," kesal Olivia menggerutu dicurigai seperti itu.
Tanpa perempuan itu sadari, Dilon berusaha menahan senyuman nya karena berhasil menggodanya sedikit. Sayangnya memang tidak bisa bebas seperti dulu lagi, karena Dilon sekarang jadi agak gengsi. Semua tertutupi oleh sikap kasarnya.
Olivia bisa merasakan kalau Dilon belum beranjak dan masih berdiri di depan mejanya. Apakah pria itu memperhatikan nya? Sepertinya tidak, lebih tepatnya sedang ingin melihat jawaban essay nomor lima yang sedang Ia kerjakan.
Olivia pun kembali mengangkat kepala nya, "Kenapa masih di sini? Kerjain aja sendiri, jangan nyontek," ucapnya menyindir pria itu.
"Ck cuman minta satu jawaban aja, pelit banget!" ledek Dilon sambil mencebikkan bibirnya.
Olivia mendengus di dalam hati, tidak mau kalah sekali pikirnya Dilon itu. Tadi juga saat Ia lihat jawaban di bukunya langsung diamankan karena tidak mau dicontek, tapi saat Ia balas malah membela diri.
Tetapi karena Olivia orang yang tidak tegaan, Ia pun membiarkan saja Dilon melihat jawabannya. Sempat Ia menoleh melihat pria itu merendahkan tubuh di depannya, untuk menulis di meja yang sama dengannya. Sekarang posisi mereka terbilang cukup dekat, apalagi saling berhadapan.
__ADS_1
Tulisan Olivia berhenti saat menatap wajah Dilon, hatinya dibuat menghangat sendiri karena perasaan rindunya bisa sedikit terobati. Ia lalu tersentak saat pria itu mengangkat wajahnya dan membalas tatapan nya, jadi ketahuan sedang memperhatikan.
"Kenapa berhenti? Ayo lanjut nulisnya, apa masih panjang?" tanya Dilon dengan ekspresi datarnya. Tetapi percayalah detak jantungnya sekarang sangat cepat, tapi berusaha Ia tutupi.
"I-iya sedikit lagi kok," jawab Olivia gagap. Ia pun kembali melanjutkan menulis.
Kini malah giliran Dilon yang terdiam memperhatikan wajah cantik di depannya. Tangannya merasa gatal sekali ingin merangkum wajah itu, merasakan kelembutannya lagi. Sayangnya hanya angan-angan saja, karena sekarang mereka hanya sebatas teman.
"Nih nanti titip ya kumpulin ke Pak Mamat," ucap Dilon sambil melempar bukunya sampai bertumpuk di atas buku Olivia.
"Kenapa gak ngumpulin sendiri aja?" protes Olivia, Ia malah tadinya ingin titip pada Dilon.
Dilon mengedikkan bahu, "Laper, waktunya makan siang," jawabnya singkat. Setelah mengatakan itu, Ia pun pergi dari sana dengan gaya cool nya.
Olivia menghembuskan nafasnya kasar, lalu beranjak untuk mengumpulkan tugasnya dengan Dilon ke ruang guru. Entah kenapa setelah menjadi mantan, pria itu jadi lebih menyebalkan dan sangat menguras emosi nya. Atau apakah sifat Dilon memang begini ya?
Kunyahan Olivia sampai terhenti, "Septian, kenapa duduk di sini?" tanyanya protes.
"Loh kenapa? Terserah aku dong mau duduk dimana aja, lagian kasihan juga pacar aku sendirian dari tadi," jawab Septian acuh. Ia tahu perempuan itu tidak suka kalau mereka terlalu menunjukkan diri, pasti khawatir Dilon tahu.
"Tapi--"
"Tadi kamu sempat berduaan lagi kan sama Dilon di kelas? Aku tahu loh, aku kan sudah bilang akan pantau kamu terus," sela Septian tanpa menatap karena sedang mengaduk mie ayam nya.
Olivia tersentak sendiri saat mendengar itu, bagaimana Septian bisa tahu? Ia menggigit bibir bawahnya, merasakan perasaan tidak nyaman di dadanya. Pergerakannya sekarang jadi terasa di batasi terus oleh Septian.
__ADS_1
Mungkin saja Septian itu tidak sengaja melihat saat lewat, atau bisa juga punya beberapa mata-mata dari teman di kelasnya? Untuk yang terakhir sepertinya terlalu berlebihan, Septian tidak akan se menyeramkan itu juga kan?
"Ngapain aja tadi kalian? Bukan lagi bahas tentang masa lalu kan?" tanya Septian yang kini menatapnya dalam.
"Bukan kok, kami cuman lagi ngerjain tugas Sosiologi, perbaikan nilai," jawab Olivia jujur.
Septian menarik sebelah sudut bibirnya, "Bisa kebetulan gitu ya, kalian gak ngerencanain kan?"
Olivia merasa kesal dari tadi dituduh terus, Ia pun menyimpan sendoknya agar kasar di piring, "Septian, aku gak suka kalau kamu terlalu curigaan begitu. Aku juga gak nyaman kalau kamu terus pantau kegiatan aku, aku gak mau dikekang!" ucapnya tegas.
Ekspresi wajah Septian terlihat semakin datar melihat kekeras kepalaan Olivia. Tentu saja Ia harus keras pada kekasihnya itu, karena Olivia memang harus menjaga jarak dengan Dilon untuk bisa melupakannya. Kalau masih ada waktu bersama, bagaimana bisa move on?
Septian memang harus bersabar lagi untuk bisa meluluhkan hati Olivia. Rasanya sangat sulit sekali, karena Ia tahu perempuan itu memang tidak ada perasaan apapun kepadanya. Bahkan Olivia mungkin akan lebih membencinya karena terus Ia kekang.
"Nanti pulang sekolah kamu ikut aku, jangan pulang duluan!" ucap Septian mengalihkan obrolan.
"Kemana?" tanya Olivia bingung.
"Ikut saja, awas saja kalau kamu kabur!" Setelah mengatakan itu, Septian pun beranjak dari sana pergi begitu saja. Makanan pesanannya sama sekali tidak di cicip sedikit pun, sepertinya ngambek.
Tetapi Olivia tidak terlalu peduli dan bersikap acuh, Ia juga tidak mau repot-repot membujuk Septian untuk tidak marah. Jika saja itu Dilon, maka Olivia akan melakukan berbagai cara walau harus bersikap menggemaskan juga di depannya.
Sekarang nafsu makan Olivia pun jadi menghilang karena percakapannya tadi dengan Septian. Ia meminum jus jeruk nya, lalu memilih pergi juga dari sana. Masih ada satu pelajaran lagi yang ingin Ia perbaiki, setelah itu baru bisa pulang.
"Kalau Tasya sama Syifa tahu sekarang aku lagi deket sama Septian, gimana yah? Kayanya aku harus curhat deh sama mereka, mungkin aja mereka juga bisa bantu aku keluar dari masalah ini," Batinnya di dalam hati.
__ADS_1
Sayangnya kedua sahabatnya itu tidak masuk sekolah hari ini, sudah Ia hubungi dan mereka menjawab malas dan ingin bersantai saja di rumah. Memang dasar.