
Sebenarnya bukan hanya Daniella yang merasa kesulitan saat mengikuti acara perkemahan itu. Anak remaja yang dari kecil dimanjakan orang tua sangat tidak biasa harus melakukan apapun sendiri, bahkan sampai ada yang menangis meminta pulang.
Maklum saja di sekolah mereka banyak anak orang kaya.
"Mia wajah kamu pucat, beneran masih kuat sampai pos terakhir?" tanya Daniella memastikan lagi.
Mia mengangguk pelan. "Iya bisa kok, lagian tinggal dua pos lagi kan?"
"Iya sih tinggal dua pos lagi kita jelajah, tapi kan ke satu pos aja jauh dan banyak banget rintangan nya," jawab Daniella agak mengeluh.
Sekarang mereka sedang berjalan di jalan kecil menyusuri sungai. Siang ini sangat panas, mereka yang sedang melakukan jelajah alam benar-benar tersiksa. Tetapi bisa bernafas lega, karena besok sudah pulang.
Rasanya Daniella tidak sabar sekali mengakhiri acara perkemahan. Memang banyak kegiatan yang menyenangkan, tapi rasa capek lebih besar. Ia sering mengeluh karena kulit nya menjadi hitam, dan belang.
Nanti saat pulang akan langsung perawatan ke klinik kecantikan.
"Ehh Mia!" pekik Daniella terkejut sendiri dan langsung memegang tangan ketua kelompok nya itu.
Teman-teman kelas nya yang lain pun menghampiri. "Kenapa nih Mia?" tanya mereka khawatir.
"Aduh kayanya dia emang beneran sakit deh, sudah dibilangin jangan ikut jelajah masih aja kekeuh!" kesal Daniella. Ia tidak marah, tapi khawatir dan tidak mau sahabat nya ini kenapa-napa.
Mereka pun memutuskan akan diam dulu di sana menunggu sampai Mia merasa lebih baik. Sepertinya perempuan itu kelelahan, karena tugasnya sebagai ketua kelompok cukup berat. Harus mengurus ini itu.
Daniella sampai menyandarkan tubuh Mia kepadanya, sambil mengipas-ngipasi wajah nya juga. Mia terlihat memejamkan mata dengan nafasnya yang berat, keringat pun terlihat di kening dan leher nya.
Perhatian para perempuan di sana teralih melihat ada kelompok lain mendekat, itu dari kelas B, kelas nya Andra. Mereka tidak lewat begitu saja dan malah menghampiri.
__ADS_1
"Loh kenapa kalian masih di sini? Harus nya kan kalian duluan," tanya salah seorang laki-laki yang memakai kaca mata hitam, masih bisa bergaya.
"Mia nih tadi hampir pingsan, gimana nih? Kalian bisa tolongin kita gak?" Kata Tessa meminta.
Para kelompok laki-laki itu merasa tidak tega, mereka lalu mulai berdiskusi memikirkan cara untuk menolong Mia. Sayangnya di sana tidak ada Kakak pembina, salah satu dari mereka pun memutuskan akan kembali untuk memanggil.
Daniella menoleh melihat Andra mendekat. "Daniella kamu sendiri gak papa kan?" Pria itu malah menanyakan kondisi nya.
"Aku gak papa kok, aku masih sehat dan semangat," jawab Daniella sambil berusaha tersenyum.
Sempat Ia melirik Mia di sebelah nya, sepertinya mendengar walau matanya itu masih terpejam. Bisakah Andra untuk jangan bersikap terlalu care padanya? Tidak enak ada Mia.
"Apa mungkin Mia lagi sakit makanya dia hampir pingsan tadi?" tanya Andra khawatir.
"Iya tadi pagi pas berangkat wajahnya emang agak pucat, tapi dia bebal banget susah dibilangin dan tetep pengen ikutan!" jawab Daniella kembali mengomeli.
Memang sih Mia itu sangat bertanggung jawab, ingin memberikan yang terbaik dan bertanggung jawab juga untuk kelompok nya. Tetapi sampai tidak memikirkan diri sendiri.
Tiba-tiba Daniella jadi terpikirkan sesuatu, sebelah sudut bibir nya terangkat berpikir inilah waktu yang tepat bagi nya untuk bisa membuat dua orang itu bersama. Sepertinya Andra pun tidak akan masalah karena perintah dari nya.
"Kamu kasihan sama Mia? Ya sudah, gimana kalau nanti ikut nganterin dia juga ke tenda?" tanya Daniella menguji.
"Hah aku?" Andra sampai menunjuk dirinya sendiri diberikan amanah begitu.
"Iya kamu, soalnya aku wakil Mia dan otomatis sekarang yang jadi ketus kelompok. Ayolah Andra, katanya tadi kamu kasihan sama Mia," bujuk Daniella tidak menyerah.
Beberapa teman kelompok Andra pun langsung bersiut menggoda, membuat Andra mengusap tengkuk agak malu. Karena tidak enak juga menolak, akhirnya Andra pun menerima itu.
__ADS_1
Untungnya tidak lama ada Kakak pembina membawa mobil dan akan mengantar Mia ke tempat perkemahan yang lumayan jauh dari sana. Andra pun ikut masuk dan duduk di sebelah Mia, Kakak pembina sendiri tidak masalah.
Setelah mobil pergi, Daniella langsung bersorak di dalam hati. Entahlah apa Mia itu sadar atau tidak, tapi pasti senang karena ditemani Crush. Kelompok nya pun kembali melanjutkan jelajah, sedang kelompok laki-laki dari kelas B di belakang. Beraturan.
Singkat nya sekitar pukul tiga sore nya Daniella dan teman-teman kelasnya sudah sampai lagi di perkemahan. Untungnya mereka bukan kelompok paling terakhir. Memutuskan segera mandi sebelum semakin penuh.
"Daniella kamu mau kemana, tadi katanya mau mandi bareng," tanya Tessa bingung karena perempuan yang satu itu malah belok.
"Kamu duluan aja, nanti aku nyusul. Aku mau lihat Mia dulu di pos kesehatan, mungkin dia udah sadar," jawab Daniella.
Tessa pun memutuskan pergi lebih dulu karena kalau dinanti-nanti akan sangat penuh, kalau menjenguk Mia bisa setelahnya dengan yang lain. Daniella pun kembali berjalan menuju pos kesehatan yang sebentar lagi tidak terlalu jauh.
Ia meminta izin pada seorang pembina yang menjaga, dan langsung dipersilahkan masuk. Terlihat ada beberapa juga yang sakit, tidur di brankar. Pandangannya pun langsung tertuju pada Mia yang berbaring di bagian paling ujung.
"Hei Mia, gimana sekarang masih pusing gak?" tanya Daniella setelah dekat.
Mia terlihat tersenyum tipis lalu menggeleng. Kalau diperhatikan wajahnya pun sekarang sudah tidak pucat lagi. "Enggak kok, sekarang sudah agak baikan."
"Hm syukur deh, tadi kita khawatir banget pas kamu mau pingsan. Awas ya nanti kalau keras kepala begini lagi, aku tinggalin!" ancam Daniella tidak serius, membuat Mia tertawa kecil.
Daniella kembali memperhatikan bagian dalam di tenda ini, lumayan luas dan besar. Untungnya tidak pengap karena ada kipas besar. Ia sebenernya sedang mencari seseorang, tapi sepertinya tidak ada.
"Kamu ingat gak siapa yang anterin kamu ke pos ini?" tanya Daniella kembali memfokuskan pandangan pada sahabat nya.
"Em inget kok, Andra kan?"
"Iya bener dia, gimana rasanya di anterin Mas crush? Hm pantesan aja langsung sembuh, orang obat nya dia aja cukup kayanya," celetuk Daniella terus menggoda.
__ADS_1
Mia yang salah tingkah pun mencubit pelan tangan Daniella dan memintanya diam karena malu jika terdengar orang lain. Ya Ia akui memang sangat senang, apalagi sepanjang perjalanan itu bersandar di tubuh Andra yang gagah dan wangi.
"Udah ah aku mau mandi dulu, gerah banget, kotor lagi badan aku. Nanti kesini lagi bareng teman-teman." Setelah mengatakan itu, Daniella pun beranjak pergi sambil melambaikan tangan.