
Acara dimulai dengan pembukaan lalu dilanjut penyampaian beberapa kata dari beberapa petinggi perusahaan, termasuk mertua Dilon yang dulu pernah menjadi Direktur Utama di sini. Betapa bangganya pria paruh baya itu pada putra bungsunya karena dapat menggantikannya dengan baik.
Selanjutnya Kai pun yang naik ke atas panggung. Suara tepuk tangan terdengar lebih meriah, pria itu seperti biasa selalu menjadi bintang dan membuat semua orang tertarik untuk melihat nya. Aura ke tampannya dan kepemimpinannya lah yang dominan.
"Selamat malam semuanya, saya ucapkan terima kasih banyak kepada semua tamu yang sudah hadir di acara spesial ini. Saya merasa bangga kepada diri saya juga kalian semua, karena perusahaan ini sampai sekarang dalam kondisi yang stabil, bahkan dari indeks lebih baik dari tahun kemarin.."
Daniella yang mendengarkan dari meja nya hanya diam memperhatikan pria itu dengan pandangan sulit di artikannya. Padahal hatinya sudah dikecewakan, tapi sialnya Ia masih merasa kagum pada sosok Kai itu.
Merasakan senggolan pelan di bahunya, membuat Danielle mengalihkan pandangan. Menatap Mama nya bingung. "Nanti kalau kamu sudah besar, harus cari suami yang sukses kaya Kai," kata Erika tiba-tiba.
Daniella sampai tergelak sendiri mendengar itu. "Mama gimana sih, kemarin minta aku pacaran sama Andra, sekarang malah nyuruh yang kaya Om Kai," sindir nya.
"Mereka sih dua-dua nya memang keren, tapi kalau untuk hubungan serius sebaiknya cari yang kaya Kai. Dia itu kayanya tipe menantu yang dipengen semua orang tua deh, sempurna," kata Erika dramatis.
Dengusan pelan keluar lewat celah bibir Daniella, meledek Mama nya itu yang banyak menuntut. Kira-kira bagaimana ya kalau Erika itu tahu jika sebenarnya Ia memang mengagumi sosok Kai, bahkan sudah ke perasaan cinta.
Daniella jadi ingin sedikit menguji.
"Ekhem Mah, kalau menurut Mama Om Kai itu definisi sempurna. Apa dia cocok sama aku?" tanya Daniella memastikan.
Erika pun menatapnya dalam. "Kamu ini bicara apa? Jangan bilang kamu suka lagi sama Kai?!"
"Ih kan cuman nanya doang, misal gitu aku sama Om Kai. Mama kan nyuruh aku nyari suami kaya dia, jadi bayangin aja gitu?"
Sungguh Daniella berdebar sekali menunggu jawaban dari Mama nya, karena baginya ini seperti sedang mendapat restu. Mama nya mungkin hanya menduga Ia bercanda, padahal sebenarnya perasaannya tidak.
__ADS_1
"Hm sebenarnya sih cocok saja, Mama pasti senang banget kalau punya menantu kaya dia," jawab Erika.
Daniella yang hampir bersorak senang di dalam hati, harus kecewa karena ternyata Erika belum menyelesaikan perkataannya.
"Tapi umur kalian terlalu jauh, Kai terlalu dewasa sedangkan kamu masih terlalu kecil. Mama malah kasihan kalau Kai sama kamu, karena dia harus ngurusin anak manja labil," lanjut Erika meledek anaknya sendiri.
"Ck dasar nyebelin!" ketus Daniella lalu kembali menghadap ke depan.
Apa itu berarti Mamanya tidak memberikan restu? Ah jawabannya ambigu sekali, Ia tidak bisa mendeskripsikan. Mungkin Mamanya juga bingung jika itu terjadi, tapi sekali lagi, Mama nya hanya menganggap itu sekedar khayalan saja.
Suara tepuk tangan meriah kembali terdengar setelah Kai selesai menyampaikan beberapa kata nya yang mengharukan. Pria itu lalu memanggil seseorang untuk naik ke atas panggung, tidak lain adalah Ayana.
Daniella langsung duduk tidak nyaman, bisa menduga sebentar lagi akan ada adegan romantis namun baginya terasa horor. Ayana malam ini terlihat cantik, dress yang melekat di tubuh indahnya juga sangat bagus.
"Ada apa ini Kai?" tanya Ayana bingung karena dirinya dipanggil ke atas panggung.
Kai lalu mencopot mic dari stand nya agar lebih nyaman. Lampu ruangan yang tadinya cerah pun mati, terganti kan oleh beberapa lampu warna cerah di panggung. Suara musik romantis pun mulai terdengar, membuat suasana di sana langsung berubah.
"Ayana, kalau dihitung dari awal kita bertemu, ini sudah hampir empat tahun. Selama itu, saya benar-benar bersyukur bisa bertemu sosok perempuan seperti kamu. Sepertinya kamu ini melebihi definisi tipe ideal saya," ucap Kai agak gombal, membuat para tamu langsung bersiut menggoda.
Ayana terlihat malu-malu, pipi nya pun perlahan merah tanda salah tingkah. Tangan kanannya yang dipegang Kai dari tadi terlihat berkeringat, perasaan perempuan itu sekarang tentu sangat campur aduk.
"Terima kasih ya sudah sabar menghadapi sikap saya selama ini." Tiba-tiba Kai menekuk sebelah kaki nya, lalu mengeluarkan kotak cincin dari saku celana nya. "Ayana, will you marry me?"
Suara bising di ruangan aula besar itu mulai ramai, para tamu ikut heboh dan berdebar menunggu jawaban dari si perempuan. Ternyata benar acara ini lebih spesial, karena mereka bisa menyaksikan adegan romantis dan mengharukan ini.
__ADS_1
"Ayo dong Ayana terima sayang, terima," gumam Erika pelan dengan gemas nya.
Daniella menggigit bibir bawahnya, Ia dari tadi sedang berusaha menahan tangis. Ternyata benar Kai ingin melamar Ayana, bahkan di acara spesial nya ini. Betapa beruntung nya wanita yang satu itu bisa mendapatkan hati seorang Kai.
Merasa tidak sanggup lagi menonton, Daniella beranjak dan pamit pada keluarganya akan ke kamar mandi. Saat Ia masuk ke salah satu bilik kosong, tangisannya pun pecah juga. Mulutnya Ia bekap dengan telapak tangan, tidak ingin suara isakannya terdengar siapapun.
"Aku sudah kalah, aku tidak ada kesempatan lagi bersama Om Kai. Ya aku tahu dari awal kalau akhir ceritanya akan seperti ini, ternyata sangat menyakitkan," Batin nya.
Entah berapa lama Daniella berada di dalam bilik kamar mandi menumpahkan perasaan sedih nya. Ia baru keluar setelah merasa tenang dan tidak menangis lagi. Ia lalu membasuh tangan dan wajahnya di wastafel, lalu menatap bayangannya di cermin.
"Astaga aku terlihat seram sekali," gumam nya seorang diri.
Make up nya jadi berantakan, Ia jadi malu kembali ke aula dalam keadaan seperti ini. Keluarganya pasti akan tahu kalau Ia selesai menangis. Daniella membawa ponselnya dan mengirim pesan pada Mama nya kalau Ia akan pulang duluan karena tidak enak badan.
Saat di luar kantor, Daniella merinding merasakan sepoyan angin di malam hari yang dingin. Saat sedang menunggu taxi di samping jalan, perhatiannya teralihkan mendengar seseorang memanggil namanya.
"Daniella, ternyata itu benar kamu."
Mengetahui itu adalah Andra, membuat Daniella repleks menutup wajahnya dengan tas selempang nya karena merasa malu. Astaga, kenapa mereka sering sekali sih bertemu di tempat terduga?
"Kamu kenapa Daniella?" tanya Andra bingung setelah berdiri di hadapannya.
"Gak papa, Andra kamu sendiri ngapain di sini?" tanyanya balik, wajahnya tetap Ia tutupi dengan tas.
"Aku diajak Papa ke undangan teman nya yang katanya ulang tahun perusahaan. Apa kamu juga dari dalam, ah iya pemilik perusahaan ini kan Om kamu ya."
__ADS_1
"Hm."