Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Ada Sesuatu Yang Aneh


__ADS_3

Saat sedang asik menyuapi Olivia, Dilon tidak sengaja melihat kumpulan lelaki yang baru datang. Ada sekitar tujuh orang, mereka terlihat tertawa lalu mencari tempat duduk. Dilon menggeram tanpa sadar, merasa keadaannya sekarang tidak tepat.


"Dilon kamu kenapa?" tanya Olivia bingung.


"Hah? Gak papa kok," jawabnya lalu tersenyum.


Sialnya posisi duduk kumpulan itu tidak jauh darinya, bahkan hampir se jajar walau ada jarak. Dilon berusaha mengalihkan pandangan, Pura-pura tidak melihat. Berharap mereka pun tidak melihat dirinya.


"Dilon, kamu sudah minta maaf belum sama Tante Erika? Ini sudah lumayan lama loh waktunya dari yang aku minta," tanya Olivia sambil mengaduk minumannya.


"Em belum sempat, belum ketemu lagi," jawab Dilon pelan.


"Beneran gak ketemu? Atau kamu yang ngehindar gak mau ketemu?" tanya Olivia menohok.


"Dua-duanya mungkin?"


Mendengar pacarnya itu terlalu banyak alasan, membuat Olivia menghela nafas berat. Tidak habis pikir dengan Dilon, padahal Olivia sudah memberikan waktu. Apa sampai saat ini Dilon belum bisa berlapang dada?


Padahal waktu itu Olivia sudah bantu menjelaskan dan meluruskan kesalahpahaman. Mungkin Dilon terlalu sakit hati, sampai lukanya tidak mudah di sembuhkan. Tetapi seharusnya Dilon bisa lebih ikhlas.


"Gimana kalau nanti kita makan malam lagi? Kalau bisa bareng Om Aiden juga," ajak Olivia.


Melihat pacarnya itu yang mengabaikannya dengan pandangan lurus ke sampingnya, membuat Olivia bingung. Ia pun menoleh ke belakang untuk melihat apa yang dari tadi di perhatikan pacarnya itu, kalau arahnya ke sebuah meja dengan kumpulan para lelaki.


"Olivia, jangan lihat!" tegur Dilon dengan suara tertahannya.


Olivia tentu saja terkejut mendengar itu, "Hah? Jangan lihat apa?"


"Ekhem mending kita pulang aja yuk," ajak Dilon mengalihkan.


"Loh kok pulang sih? Belum lama loh kita di sini, makanan juga masih banyak. Jangan gitu ah, mubazir," tolak Olivia lalu memutuskan melanjutkan makannya.

__ADS_1


Masalahnya sekarang suasananya sedang genting, Dilon bertemu geng motor yang kebetulan berhubungan buruk dengan geng motornya. Mereka dari Jakarta Barat, sering sekali ada masalah karena banyak hal.


Sebenarnya jika hanya Dilon saja tidak masalah, Ia merasa tidak gentar jika pun di keroyok. Tetapi masalahnya sekarang ada Olivia, Dilon tidak mau mereka melihat pacarnya ini dan malah memanfaatkan keadaan.


"Dilon, kamu kenapa sih dari tadi lihatin kumpulan itu terus? Mereka temen kamu ya, ya sudah sapa aja sana," kata Olivia.


"Ck bukan, gue gak kenal kok!" bantah Dilon.


"Terus kenapa lirik-lirik ke sana terus? Sampai aku ngobrol aja gak di dengerin!" kesal Olivia menggerutu.


"Di dengerin kok," bela Dilon, ya walau kadang Ia tidak fokus karena sedang berjaga.


Saat Dilon melirik lagi ke meja itu, tubuhnya terlihat tersentak melihat mereka membalas tatapannya dan baru menyadari kehadirannya. Ekspresi wajah Dilon pun dengan cepat berubah menjadi datar, dengan tatapan tidak gentar.


"Dilon sebentar ya aku mau ke toilet dulu," izin Olivia lalu berdiri, tapi terkejut karena tangannya malah ditahan, "Ada apa?"


"Gue anter ya?"


Olivia pun akhirnya pergi sendiri, tidak menyadari tatapan penuh ke khawatiran dari pacarnya itu. Untung saja tidak sulit menemukan kamar mandi, Ia pun segera masuk ke salah satu bilik untuk membuang hajat.


Setelah selesai Olivia keluar untuk mencuci tangannya terlebih dahulu, sambil merapihkan dandanannya. Ternyata bibirnya masih merah, tidak salah Ia beli lip mate yang mahal karena makan pun tidak luntur.


"Tolong layanin mereka dengan baik, mereka teman-teman saya. Kalau misal mereka tambah makanan atau minuman tidak usah di hitung, saya yang traktir mereka malam ini," ucap seorang pria.


"Baik Tuan, kalau begitu kami permisi." Pelayan itu pun melenggang pergi setelah sedikit membungkukan badannya.


Olivia perlahan mendekati lelaki berpeawakan familiar itu, bahkan suaranya pun sangat Ia kenali. Saat Ia tepuk bahunya, pria itu pun berbalik ke arahnya. Mereka terlihat sama-sama terkejut saat melihat satu sama lain.


"Septian, apa ini kamu?" tanya Olivia memperhatikan lelaki di depannya dalam.


Pria itu terlihat gelagapan, "Maaf siapa ya?"

__ADS_1


Mendengar pria itu malah bertanya balik padanya seperti tidak kenal membuat Olivia terdiam berusaha mencerna. Sekali lagi Ia menatap wajahnya, terlihat agak mirip dengan Septian. Ya walau penampilan mereka berbeda jauh, Septian culun, sedang yang ini rapih juga tidak pakai kaca mata.


"Apa anda butuh bantuan? Perkenalkan nama saya Hendra, saya pemilik Kafe ini," kata pria itu sambil mengulurkan tangannya.


Olivia pun membalas jabatan tangan itu, "Nama saya Olivia, maaf kalau tadi tidak sopan. Anda mirip sekali dengan teman sekolah saya, namanya Septian," ucapnya tidak enak.


"Oh tidak apa-apa, sepertinya anda cukup dekat ya dengan teman lelaki anda itu sampai bisa kenal hanya lihat dari belakang dan suara saja." Hendra terlihat tersenyum penuh makna saat mengatakan itu.


"Em ya kita berteman baik, suaranya juga memang agak berbeda dari yang lain," jawabnya.


Sebelum pergi Olivia sempat memperhatikan pria bernama Hendra itu lagi. Mungkin jika Septian bisa berdandan, akan setampan itu juga. Olivia menggeleng pelan, dirinya terlalu jauh membayangkan.


Saat sebentar lagi mendekati mejanya, langkah Olivia memelan melihat Dilon tidak sendirian. Ada beberapa lelaki di sana, mereka seperti sedang mengobrol sesuatu yang penting, bahkan saat dirinya dekat pun sampai tidak sadar.


"Dilon," panggil Olivia membuat obrolan mereka terhenti.


Saat beberapa lelaki asing itu menatapnya dengan seringai, jujur saja Olivia sedikit tidak nyaman, tapi berusaha tetap tenang dan bersikap ramah. Jika di perhatikan lagi, mereka ini kumpulan lelaki yang dari tadi di lirik Dilon di meja sebrang.


"Wah siapa nih Dilon? Pacarnya yah? Cantik, emang lo hebat juga ya cari cewek," celetuk seseorang membuat yang lain pun tertawa.


"Nama aku Olivia, salam kenal," ucap Olivia memperkenalkan diri, lalu menjabat tangan mereka bergantian.


Tanpa Olivia sadari, sikap ramahnya itu membuat Dilon ketar ketir. Ia terus memperhatikan Olivia, dengan tubuh siap siaganya khawatir kenapa-napa. Dadanya sampai naik turun menahan marah.


"Sorry ya sempat ganggu, kalian pasti lagi kencan ya? Ya sudah deh silahkan dilanjut, kita balik dulu," pamit salah seorang mewakilkan.


"Oh enggak papa kok," ucap Olivia sambil mengibaskan tangan.


"Salam kenal ya Olivia, semoga langgeng sama Dilon." Entah apa maksudnya mereka mengatakan itu, sebelum benar-benar pergi.


Olivia hanya tersenyum saja tanpa curiga sedikit pun. Tetapi Ia terkejut saat tiba-tiba Dilon menarik tangannya kasar pergi dari sana. Olivia yang terkejut sampai hampir terjatuh, tapi untungnya dapat menyeimbangkan tubuh.

__ADS_1


__ADS_2