
Semua orang di meja makan menatap satu sama lain saat melihat penampilan Olivia yang pagi ini terlihat berbeda. Yang menjadi perhatian mereka adalah matanya yang bengkak itu, seperti semalaman habis menangis.
"Papa penasaran bagaimana Dilon memperlakukan kamu sebagai pasangan, apa dia sering menyakiti kamu? Entah itu secara sikap atau perkataan nya," tanya Kevin memulai obrolan.
Olivia lalu melirik Papanya itu, "Kami baik-baik saja," jawabnya singkat.
"Lalu kenapa kemarin kamu menangis mengejar dia? Semalaman kamu juga habis menangis kan, karena Dilon?" Kevin terlihat penasaran sekali, dari kemarin Olivia pun belum menjelaskan.
"Ini urusan aku sama Dilon, lagian yang namanya hubungan pasti selalu ada masalah. Aku bisa selesaikan sendiri, Papa tenang saja," ucap Olivia lalu mulai memakan roti panggang nya tanpa nafsu.
Baru saja Kevin akan bertanya lagi, istrinya yang mengusap tangannya membuat bibirnya yang sempat terbuka kembali menutup. Melihat Keisha yang menggeleng seperti mengkode untuk diam, membuat Kevin pun menurut.
Memang Keisha juga tahu jika Olivia dan Dilon sedang marahan, suaminya yang semalam cerita. Tetapi Keisha pikir itu masalah mereka, namanya juga anak muda. Jika pun semisal masalahnya berat, baru mereka sebagai orang tua akan membantu.
"Aku berangkat sekarang, takut Dilon sudah jemput," pamit Olivia beranjak dari duduknya.
"Roti kamu belum habis, masa sarapan cuman sedikit?" tegur Kevin pada putrinya.
"Aku gak terlalu nafsu makan," jawab Olivia. Perempuan itu berpamitan lagi pada keluarganya, lalu pergi dari sana.
Biasanya di jam biasa begini Dilon sudah jemput, tapi Olivia sudah menunggu hampir lima menit di depan gerbang pria itu belum datang juga. Apa mungkin Dilon tidak akan menjemputnya? Pria itu masih marah kah?
Semalam Olivia juga sudah berusaha menghubungi Dilon beberapa kali, sayangnya pria itu mengabaikannya, bahkan pesannya pun hanya dibaca saja. Nanti jika mereka bertemu, Olivia akan berusaha membujuknya lagi.
Tin!
Klakson mobil yang keluar dari gerbang membuat Olivia terkejut, saat menoleh melihat Papanya dan Kai yang sepertinya akan berangkat. Olivia sempat ditawarkan untuk berangkat bareng, tapi Ia tolak karena masih yakin jika Dilon sebentar lagi akan menjemputnya.
__ADS_1
"Kamu yakin gak akan berangkat bareng Papa? Nanti gimana kalau Dilon gak jemput?" tawar Kevin sekali lagi.
"Enggak, Dilon pasti jemput kok," kata Olivia yakin.
"Papa ayo kita berangkat aja, nanti aku telat lagi ke sekolah. Biarin aja Kak Olivia, paling Kak Dilon lagi di jalan," ajak Kai yang takut kesiangan, dasar anak rajin.
"Ya sudah Papa sama Kai berangkat duluan. Tapi kalau misal sepuluh menit lagi Dilon belum jemput juga, kamu minta anter Mama aja ya? Jangan kesiangan," kata Papanya.
"Iya, kalian hati-hati."
Sayangnya ternyata dugaan Papanya itu benar, karena Olivia sudah menunggu sepuluh menit lagi pun Dilon belum tiba juga. Terpaksa Ia pun kembali masuk ke rumah untuk minta di antar Mamanya ke sekolah.
Sepanjang perjalanan, Olivia melamun dan hanya memikirkan Dilon. Pria itu jahat sekali tidak menjemputnya, setidaknya kabari saja jika tidak mau menjemput, agar Olivia tidak harus menunggu. Sudah pasti di sekolah Ia terlambat.
"Sayang, kamu beneran gak papa kan? Apa Mama bisa bantu?" tanya Keisha melirik putrinya sebentar.
"Gak papa kok, namanya juga pacaran," jawab Olivia singkat.
Olivia menghembuskan nafasnya berat lalu menjawab, "Aku, aku yang salah dan sudah buat Dilon kecewa."
Keisha mengangguk lalu tidak lagi membuka suara, dan fokus menyetir. Jika seperti itu, pantas saja putrinya ini galau sekali. Tetapi Ia salut pada Olivia yang mengakui kesalahan, pasti akan berusaha memperbaiki hubungannya dengan Dilon.
Sesampainya di depan sekolah, Olivia tidak lupa menyalami tangan Mamanya itu lalu turun dari mobil. Sayangnya gerbang sekolah sudah di tutup, Olivia bahkan telat hampir sepuluh menit. Guru penjaga pun memintanya ke lapangan, di hukum dengan murid terlambat lain.
"Olivia, Ibu kaget kamu terlambat gini, tumben," kata guru piket itu.
"Iya Bu maaf, tadi macet di jalan," Bohongnya sambil tersenyum kikuk.
__ADS_1
"Ya sudah tidak papa, tapi ini pasti pertama kalinya kamu di hukum ya?"
Olivia mengangguk mengiyakan, agak malu karena dirinya selama ini dianggap murid baik-baik, tapi hari ini malah terlambat sekolah. Hukumannya ternyata harus hormat pada bendera merah putih selama sepuluh menit, ya tidak terlalu berat lah.
"Yang tadi bertiga di hukum duluan silahkan kembali ke kelas. Lain kali jangan terlambat lagi ya biar gak dihukum," ujar guru itu.
Setelah tiga murid lelaki itu pergi, tersisa lah Olivia seorang. Untungnya keadaan sekolah sepi karena sedang jam pelajaran, jadi Olivia pun tidak terlalu malu.
Kernyitan terlihat di kening Olivia merasakan pusing tiba-tiba, selain itu pandangannya pun perlahan memburam. Perempuan itu tiba-tiba jatuh pingsan, membuat guru piket itu terkejut.
Kebetulan ada Septian yang sedang lewat, tadinya akan membawa buku LKS ke perpustakaan. Mendengar teriakan minta tolong dari lapangan, segera Ia pun menghampiri. Tetapi Septian dibuat terkejut karena yang pingsan adalah Olivia.
"Bu, ini Olivia kenapa bisa pingsan begini?" tanyanya panik.
"Olivia terlambat datang, jadi dia di hukum seperti yang lain untuk hormat ke bendera, tapi dia tiba-tiba jatuh pingsan. Sudah cepat kamu bantu bawa dia ke UKS, " perintah guru itu.
Septian mengangguk dan menggendong Olivia dengan mudah ala bridal, lalu berjalan cepat menuju ruang UKS. Guru yang sedang jaga pun dengan sigap menangani. Septian masih setia di sana memperhatikan.
Untungnya Olivia tidak lama pingsan, matanya yang perlahan terbuka menandakan jika perempuan itu sudah sadar. Penjaga UKS pun menanyakan keadaan nya, tapi Olivia hanya menggeleng lesu.
"Ya sudah kamu istirahat saja ya, kayanya kamu anemia deh, wajah kamu pucat banget," kata guru piket itu, Ia lalu beralih menatap Septian, "Kamu bisa kembali ke kelas," perintahnya.
Tetapi Septian malah menggeleng, "Saya mau di sini aja ya Bu, jagain dia, kasihan," ucapnya memohon.
"Tidak usah, kan ada Ibu yang jagain Olivia. Kamu sudah kelas tiga, jangan sering bolos pelajaran, sayang banget," tolak Guru itu tegas.
Dan dengan terpaksa Septian pun beranjak pergi dari sana. Tetapi sebelum benar-benar keluar, Ia sempat mengusap tangan Olivia. Entahlah apa perempuan itu sudah terlelap atau belum, tapi kedua matanya terpejam.
__ADS_1
"Olivia nanti aku kesini lagi, kamu istirahat dulu ya," ucap Septian pelan setengah berbisik, malu jika di dengar guru itu.
Setelah kepergian Septian, guru wanita itu kembali mengecek keadaan Olivia dan membantunya menyamankan posisi tidur.