Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Gadis Nakal ku 27


__ADS_3

Selepas kepergian Ayana, Kai berbalik untuk kembali ke dalam apartemen. Tetapi saat menaiki tangga, Ia malah terkejut melihat Daniella di atas. Sikap tubuhnya yang sombong itu membuatnya dapat memastikan jika tadi gadis itu pun sempat menonton.


"Kamu mau Om anter pulang sekarang?" tanya Kai berusaha bersikap biasa.


"Iya sudah malam juga, Mama sudah nelepon aku tadi," jawab Daniella. Oh rasanya Ia ingin bersikap ketus karena kesal, tapi harus menahan diri dan tidak mau terlalu kekanakkan.


"Ya sudah yuk langsung aja, barang-barang kamu gak ada yang ketinggalan di dalam kan?"


"Gak ada," jawab Daniella singkat lalu melenggang pergi lebih dulu, diikuti Kai di belakang nya.


Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan apapun. Kai ingin memulai percakapan, tapi merasa canggung melihat sikap dingin Daniella yang sudah pasti sedang ngambek itu. Kalau sudah seperti ini selalu membuat Kai bingung harus bersikap bagaimana.


Kai tahu inginnya Daniella itu di bujuk dan di luluhkan, tapi jika Ia melakukan itu untuk apa? Mereka bukan pasangan kekasih. Kai malah khawatir nya, jika Ia sampai melakukan itu membuat Daniella semakin berharap kepadanya dan salah paham.


"Pantesan Om itu betah banget ya sama Ayana, dia tipe cewek yang penyabar. Kayanya aku kalau ada di posisi Ayana gak akan tahan deh," gumam Daniella pelan namun masih bisa terdengar.


"Hm iya, dia memang orang tersabar yang pernah Om temuin. Dia gak banyak menuntut, bisa mengerti juga keadaan Om," sahut Kai tetap fokus menyetir.


Daniella lalu menoleh menatap pria itu. "Terus aku gimana? Aku juga kan orang penyabar, bertahun-tahun nungguin Om buka hati."


Hampir saja Kai menginjak rem mendengar itu, tapi untungnya Ia dapat menormalkan ekspresinya. Kalau sudah di tanyain begitu, selalu membuatnya terbebani sendiri dan bingung harus bagaimana.


"Daniella, Om tidak minta kamu menunggu Om. Sampai kapanpun kita akan tetap begini, maafin Om," ucap Kai berat hati harus mengungkapkan.


Helaan nafas berat keluar lewat celah bibir Daniella, Lagi-lagi dirinya mendapat penolakan. "Iya Om gak papa," ujar nya pelan.

__ADS_1


Untungnya jalanan tidak terlalu macet, jadi tidak lama mereka sampai juga di rumah Daniella. Bahkan gadis itu masih berbaik hati menawarkannya masuk, tapi Kai menolak karena sudah lelah dan ingin segera istirahat.


Daniella pun mengangguk sambil membuka seatbelt nya. "Makasih ya Om untuk hari ini," ucap nya.


Tetapi saat akan membuka pintu, suara Kai di belakang menghentikannya. "Daniella, kamu masih muda dan perjalanan kamu masih panjang. Akan banyak juga orang-orang baru di hidup kamu nanti, dan Om yakin salah satu nya adalah masa depan kamu. Bahagia lah bersama orang yang tepat."


Daniella tidak menanggapi apapun, Ia pun turun dari mobil dan langsung berjalan memasuki gerbang rumah nya. Kedua matanya sempat terpejam mendengar suara mobil di luar yang berjalan pergi.


Sebelah tangannya terulur menyentuh dada nya, bisa merasakan denyutan sakit di sana. Entah sudah berapa kali Kai menolak nya, tapi rasanya tetap sama sakit nya. Hanya saja kali ini, entah kenapa Daniella merasa harapan indah itu semakin kecil.


"Daniella, kenapa berdiri di sana? Kamu baru pulang?"


Suara Papa nya menghentikan lamunan, Daniella berusaha tersenyum lalu berjalan cepat menghampiri Aiden. Menyalami tangannya terlebih dahulu sambil mengucap salam.


"Kamu pukang bareng siapa? Katanya tadi sempat ke apartemen Kai dulu ya." Aiden terlihat memperhatikan sekitar, tapi hanya Daniella di sana.


"Kamu ini, jadi gak enak sama dia sudah ngerepotin. Tapi tadi sudah bilang makasih kan sama Kai? Kasihan dia sudah jemput kamu, terus buatin kamu makanan," kata Papa nya.


Tetapi Daniella memberikan pengertian pada Papa nya itu jika pasti Kai pun tidak masalah sudah di repotkannya, toh mereka kan keluarga. Keduanya pun berjalan riang sambil berpegangan tangan menuju rumah mereka.


***


Siang ini kelasnya ada jam olahraga, semuanya sudah berkumpul di lapangan. Banyak murid yang mengeluh karena cuaca siang itu mataharinya sangat terik, sayangnya guru olahraga mereka tetap kekeuh ingin melakukan jam pelajaran di luar.


"Ayo bagi-bagi dulu kelompok nya, kita akan tanding bola voli. Gak papa perempuan dan laki-laki dicampur, biar adil!" perintah guru olahraga itu dengan tegas.

__ADS_1


Seperti biasa Daniella dan Mia selalu satu kelompok, sedang empat lain nya ada laki-laki dan satu perempuan lain. Mereka lalu diperintah menjadi yang pertama bertanding, itu karena kelompok mereka pun hampir semua bisa bermain voli.


Permainan cukup sengit, Teman-teman yang menonton di samping lapangan pun terlihat asik dan menyoraki memberikan semangat. Dan akhirnya tim Daniella pun yang memenangkan pertandingan.


"Daniella kamu bintang nya ya di pertandingan ini, kamu masukin poin paling banyak di antara yang lain. Tenang saja, nanti Bapak kasih nilai besar di rapot kamu," kata guru olahraga nya sambil memberikan jempol tangan.


"Makasih Pak," ucap Daniella sambil tersenyum lebar.


Pertandingan kedua akan di lakukan minggu depan, jadi tim yang sudah selesai tinggal bersantai saja. Sekarang semua menuju kantin, masih ada waktu untuk istirahat sebentar sebelum jam pelajaran selanjutnya.


Mia memperhatikan Daniella yang terlihat lahap memakan es krim nya. "Tadi kita sampai gak nyangka kalau itu kamu," celetuk nya.


Daniella pun menghentikan acara makan nya. "Maksudnya?" tanyanya bingung.


"Ayolah Ella, kamu itu biasanya selalu gak semangat kalau lakuin hal merepotkan gitu. Pas kamu ditunjuk main langsung nerima, terus tadi main voli serius banget lagi, udah kaya bener tanding aja," jawab Mia dramatis.


Terlebih dahulu Daniella menelan es krim nya, terdiam memikirkan sikap dirinya yang hari ini memang agak aneh dan serius. Mungkin terjadi karena perasaan hatinya, Ia sedang berusaha mengobati perasaannya yang sedang galau karena penolakan Kai kemarin.


Tiba-tiba Daniella mengatakan sesuatu. "Mia, gimana kalau misal aku nyerah aja ya?" tanyanya.


"Nyerah apaan?"


"Nyerah ngejar-ngejar Om Kai, gak gangguin dia terus dan ngemis-ngemis minta cinta nya."


Kedua mata Mia terlihat terbelak, Ia sampai menggebrak meja di depannya lumayan keras sanking syok nya dengan pernyataan sahabat nya itu. Terasa tidak mungkin saja, karena Ia tahu se besar apa perasaan Daniella untuk Kai.

__ADS_1


"Hei-hei ada apa nih? Kok jadi gini sih. Bukannya kamu cinta banget ya sama Om Kai? Ella, apa ada masalah di antara kalian?!" tanya Mia menuntut.


__ADS_2