
"Terserah Kakak nanti mau laporin ini ke Mama sama Papa, tapi perasaan aku ke Om Kai akan tetap sama." Setelah mengatakan itu, Daniella turun terlebih dahulu dari mobil.
Saat membuka pintu rumah, sedikit terkejut karena Mama nya menyambut. Erika terlihat banyak bertanya habis dari mana dirinya, tapi Ia yang sedang tidak mood hanya tersenyum lalu pergi menuju kamar nya di lantai atas.
Beralih pada Dilon, Ia pun ikut masuk ke rumah. Sempat melirik ke arah tangga dimana Daniella sudah pergi, tapi sepertinya sadar jika Ia pun ikut masuk. Mendengar namanya dipanggil, membuat Dilon pun memfokuskan pandangan pada Ibu tiri nya.
"Loh kok ada Dilon juga ternyata, kok bisa anterin Daniella? Apa mungkin dia habis main sama si kembar?" tanya Erika, seperti biasa selalu tersenyum.
"Iya Mah, tadi Daniella main ke rumah bareng si kembar dan aku anterin dia pulang," jawab Dilon bohong.
Sepertinya Dilon tidak akan menceritakan ini kepada kedua orang tuanya, membiarkan mereka tahu dari Daniella langsung karena khawatir jika dirinya malah akan salah paham lalu menjadi sebuah masalah.
Selain itu, Dilon juga agak khawatir dengan tanggapan kedua orang tuanya.
"Kamu mau makan malam dulu di sini?" tawar Erika.
"Enggak deh Mah kayanya, sekarang aku mau langsung pulang," jawab Dilon menolak halus.
"Ya sudah gak papa, nanti Mama titip salam untuk kembar ya sama Olivia. Kalian sering dong main kesini, biar kami gak kesepian," pinta Erika agak memelas.
Dilon mengangguk mengiyakan, sebelum pergi menyalami tangan Ibu tiri nya itu dulu dan mengucap salam. Hubungannya dengan Erika memang baik-baik saja, buruk itu saat dulu awal-awal saja. Semua perubahan ini terjadi karena Olivia.
Mengingat istrinya itu, mungkin Dilon baru akan berbagi cerita. Setidaknya istrinya juga harus tahu, apalagi kan Kai adik nya juga. Mungkin Olivia bisa memberikan masukan, agar sesama perempuan juga bisa sharing.
***
Saat ini Daniella sedang berbaring sambil menatap langit kamar nya dengan tatapan kosong. Hembusan nafas berat terlihat terus terdengar dari dirinya, berusaha mengurangi rasa sesak di dada.
"Seharusnya aku gak bilang gitu tadi sama Om Kai, pasti tadi aku kelihatan menyedihkan karena ngungkapin perasaan sedih aku yang selama ini gak dianggap," Batin Daniella.
__ADS_1
Merasa rasa kesalnya belum surut, Ia sampai mengusap wajahnya kasar sambil menggerutu. Sungguh Daniella tidak mau Kai kasihan pada nya, Ia ingin terus dianggap pantang menyerah agar suatu saat pria itu pun bisa tulus juga membalas perasaannya.
"Terus sekarang aku harus gimana sama dia?" tanyanya seorang diri, mencoba berpikir dengan keras.
Apa Daniella harus bersikap acuh atau seperti biasanya?
Belum sempat menemukan jawaban, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Saat Ia melirik ke ambang pintu, terlihat itu Mama nya sambil membawa piring. Ia pun mendudukan tubuh nya untuk melihat jelas.
"Nih kamu cobain brownies coklat buatan Mama tadi," kata Erika memberikan piring berisi empat potongan brownies.
Kedua mata Daniella terlihat berbinar melihat makanan manis itu, Ia pun langsung mencicipi nya dan sudah menduga rasanya enak. Kegiatan baru Mama nya ini adalah membuat kue, katanya biar tidak terlalu bosan di rumah.
"Enak Mah, kenapa gak coba jualan aja? Nanti kalau misal ada kemajuan dan sudah punya pelanggan, Mama tinggal minta ke Papa buatin toko kue gitu," usul Daniella.
Erika terlihat tersenyum lalu mengusap rambut panjang putrinya. "Kayanya itu mending kamu saja, kalau Mama pengen keluarga saja yang nikmatin, sudah cukup."
Erika pun melanjutkan jika usianya sudah tua dan sepertinya tidak akan kuat jika sampai membuka usaha toko kue seperti itu. Ia pun baru belajar membuat kue belum lama ini, ilmunya belum banyak.
Kemarin saja saat berkemah sepertinya Daniella orang yang paling rempong karena hidup nya selama ini selalu dilayani. Tetapi acara itu pasti ada hikmah juga untuk nya, hanya saja Daniella enggan ikut lagi.
"Oh iya jadi tadi sore kamu pergi itu ke rumah si kembar? Ck kok gak bilang sih, kalau tahu mungkin Mama bisa nitip kue dari sini," tanya Erika mengalihkan obrolan.
Kernyitan terlihat di kening Daniella mendengar itu. Tunggu Ia kan tadi dari kantor Kai, bukan dari rumah si kembar. Apa jangan-jangan Kakak nya malah bilang begitu? Sepertinya Ia harus memastikan sesuatu juga.
"Ekhem Mah apa tadi Kakak bilang sesuatu ke Mama tentang aku?" tanya Daniella penasaran.
"Bilang apa?"
Melihat ekspresi bingung Mama nya, membuat Daniella bisa bernafas lega karena sepertinya Dilon tidak melaporkan tingkah nya, alias punya perasaan suka pada Om-Om.
__ADS_1
Sungguh Ia kira Dilon akan langsung melaporkan. Tetapi kalaupun begitu, mungkin sekarang Ia dan Erika tidak akan mengobrol santai begini, bukannya malah akan sebalik nya? Ia dimarahin.
"Mama keluar lagi ya, nanti jangan lupa turun untuk makan malam." Erika beranjak dari duduknya lalu keluar dari kamar.
Selepas kepergian Mama nya, Daniella kembali bernafas lega. Nanti sepertinya Ia harus bicara pada Dilon, meminta alasan kenapa Kakak nya itu tidak langsung melaporkan pada kedua orang tuanya.
***
Besok nya kegiatan seperti biasa, Daniella berangkat sekolah dengan di antar Papa nya. Tetapi entah kebetulan atau bagaimana, di perjalanan Ia malah tidak sengaja bertemu dengan Kai. Mobil mereka bersebelahan saat lampu merah menyala.
"Om Aiden!" panggil Kai agak keras menyapa lebih dahulu, bahkan sampai menyalakan Klakson mobil.
Kedua nya pun repleks menoleh ke samping, kebetulan kaca mobil memang diturunkan jadi bisa melihat satu sama lain. Kedua mata Daniella terbelak melihat Kai, Ia malah membuang wajah dan pura-pura sibuk bermain ponsel.
"Loh Kai, haha bisa kebetulan banget ya. Kamu baru mau berangkat kerja ya?" tanya Aiden membalas sapannya. Suaranya di keraskan karena khawatir tidak terdengar.
"Iya Om, baru mau berangkat. Om lagi nganterin Daniella ke sekolah ya? Rajin," kata Kai, membuat Aiden kembali tertawa.
Sial sekali karena lampu lalu lintas berwarna merah itu terasa lama bagi Daniella. Masalahnya posisi nya paling depan dari Kai, jadi merasa sedang di perhatikan padahal kenyataannya Kai sedang mengobrol dengan Papa nya.
Iya kan?
"Daniella, kamu gak akan nyapa Kai? Jangan sombong dong," tegur Aiden berbisik pada putrinya.
"Hah? Em gak usah deh Pah," ucap Daniella malu-malu, tapi karena Aiden sampai melototi nya terpaksa Ia pun harus menurut.
Dengan gugup Daniella pun kembali menoleh menatap Kai, terlihat pria itu masih tersenyum dan membuat detak jantungnya menjadi tidak karuan. Kenapa Ia selalu langsung salah tingkah sih?
"Pagi Om," sapa Daniella berusaha sok ramah.
__ADS_1
"Selamat pagi juga Daniella, semangat ya sekolahnya biar cepat lulus." Setelah mengatakan itu, Kai malah mengedipkan sebelah mata entah apa maksud.