Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Berusaha Mengelak


__ADS_3

"Aduh gimana nih, em Septian mending kamu ngumpet deh," perintah Olivia yang mulai dilanda rasa panik.


Septian malah diam, "Kenapa aku harus ngumpet?" tanyanya.


"Kalau Dilon lihat aku lagi sama kamu, aku takut dia salah paham dan marah," jawab Olivia.


"Kamu takut buat dia cemburu ya?" tanya Septian dengan senyuman kecutnya.


"Bukan gitu, tapi aku takut dia apa-apa in kamu. Kamu tahu sendiri Dilon orangnya kasar, padahalkan kita di sini juga gak ngapa-ngapain."


Mendengar alasan masuk akal itu, membuat Septian pun mengangguk mengerti. Ternyata Olivia hanya ingin melindungi nya. Septian pun segera mencari tempat sembunyi di dekat sana.


Olivia lalu menoleh ke belakang, setelah memastikan Septian sembunyi di balik meja Ia pun segera ke depan mencari Dilon. Mereka lalu malah bertubrukan, dan Olivia langsung tersenyum canggung pada Dilon.


"Ternyata bener lo di sini, tadi gue tanya seseorang katanya lo masuk perpus. Gimana sih, bukannya tadi bilangnya mau ke toilet?" tanya Dilon agak sensi.


"Hehe iya kan udah selesai dari toilet langsung kesini," jawab Olivia.


"Terus kenapa ke perpustakaan?"


"Bantuin temen nganterin buku-buku." Olivia tidak bohong kan untuk yang satu ini.


"Temennya siapa?"


"Em cewek, tapi dari kelas lain."


Sebelah sudut bibir Dilon terangkat, Ia lalu berjalan semakin mendekati Olivia, membuat perempuan itu pun mundur sampai bersandar di rak buku. Kini posisi Olivia terpojok kan. Dilon terlihat menatapnya dalam, membuat Olivia gugup.


"Emangnya gue gak tahu apa? Tadi juga gue sempat tanya lo pergi sama siapa, dan mereka bilang itu cowok. Siapa?" tanya Dilon mengintimidasi.


"Itu--"


"Oliv, gue gak suka lo bohong. Kenapa lo malah jawab itu cewek hm?" tanya Dilon sambil mengusap pipi nya.


"A-aku takut buat kamu salah paham aja, tapi aku beneran cuman bantuin dia nganterin buku-buku ke perpustakaan kok," jawab Olivia berusaha membela diri.

__ADS_1


Rasanya dada Olivia sekarang berdebar sekali, Ia takut ketahuan Dilon. Jika pria ini sudah curiga, pasti akan banyak ditanyakan dan Olivia di pojokkan. Tetapi Olivia juga jangan terlalu lemah, Ia harus berani.


"Terus dimana dia sekarang?" tanya Dilon sambil memperhatikan sekitar perpustakaan yang sepi.


"Dia sudah pergi duluan, tadi aku lagi baca-baca dulu," jawab Olivia terpaksa berbohong.


Membayangkan Dilon tahu jika lelaki itu adalah Septian, Olivia khawatir terjadi keributan. Pacarnya ini kan orangnya cemburuan, Dilon juga sulit sekali percaya jika diberikan alasan.


"Lo gak bohong lagi kan sama gue? Bisa aja sekarang dia lagi ngumpet," tanya Dilon dengan mata memicing curiganya.


"Haha ya enggak lah, dia beneran sudah pergi kok. Emangnya kalau dia masih di sini, kamu mau apa?" tanya Olivia sambil menaikkan dagunya.


Dilon lalu mencubit pipi pacarnya itu, "Gue mau bilang aja sama dia supaya jangan jadi orang ngerepotin, apalagi pas ada lo. Nanti dia malah cari kesempatan lagi buat dapetin iba lo itu," katanya.


Olivia menepis tangan Dilon pelan, "Apaan sih? Dasar lebay, sudah ah lepasin!"


Di sini memang sedang sepi tidak ada siapapun, tapi kan pasti ada CCTV dan Olivia takutnya jadi perbincangan tidak enak di kalangan guru. Dilon mungkin akan biasa saja bahkan tidak peduli, tapi kan Olivia tidak bisa seperti itu.


Setelah Dilon melepaskan dirinya, Olivia langsung bernafas lega dan merapihkan rambutnya sebentar. Melihat gerak-gerik Dilon yang masih memperhatikan sekitar, membuat Olivia tidak nyaman karena takut ketahuan.


"Kamu sudah selesai makannya emangnya?" tanya Olivia.


"Terus kemana dia? Biasanya juga suka ngintilin kamu ke mana-mana," celetuk Olivia agak sinis.


Dilon lalu kembali menatap Olivia, "Gue bilang sama Vanessa kalau mau cari lo, dia gak mau ikut karena katanya males," jawabnya jujur.


"Oh bagus deh," gumam Olivia pelan.


Lagi pula Vanessa itu pastinya inginnya hanya berduaan terus dengan Dilon, jika menyangkut tentang dirinya sudah pasti tidak mau. Dari sana saja sudah bisa menyimpulkan jika si Vanessa itu menyukai Dilon.


"Sudah yuk balik ke kelas, bentar lagi kayanya bel masuk," ajak Olivia.


"Hm." Dilon hanya berdehem pelan lalu mengikuti Olivia keluar dari sana.


Entah kenapa perasaannya ada yang mengganjal, Dilon merasa yakin saja jika orang yang dibantu Olivia masih di perpustakaan. Padahal Dilon ingin tahu siapa orangnya, hanya memastikan saja.

__ADS_1


Setelah keluar dari perpustakaan Olivia baru bisa bernafas lega. Untung saja Dilon itu tidak memaksa dan kekeuh ingin tahu, karena kalau begitu sudah pasti Olivia gagal dan Dilon pun akan menemukan Septian yang sedang sembunyi.


"Kenapa ngehela nafas begitu?" tanya Dilon bingung.


"Hah? Haha gak papa kok, cuman siang ini agak capek aja," bantah Olivia sambil tertawa canggung.


"Masa? Lo sakit jangan-jangan?"


Dilon pun langsung menempelkan telapak tangannya di kening Olivia, mengecek suhu tubuhnya. Baru saja sebentar, Olivia itu langsung menurunkan tangannya itu.


"Dilon ih, gak enak dilihat orang lain!" tegur Olivia, apalagi mereka sedang di Koridor sekolah.


"Ya gak papa, cuman megang kening lo doang juga. Kalau misal ciuman tuh, baru gak boleh!"


"Ih apaan sih?!"


Dilon pun langsung tertawa setelah menggoda kekasihnya itu. Tetapi Ia meringis pelan saat Olivia malah memukul-mukul punggungnya, mungkin kesal sudah di goda begitu.


Saat sedang berjalan, seorang guru tiba-tiba berhenti di hadapan mereka. Olivia pun ikut berhenti memukul-mukul punggung Dilon, anehnya perasaannya mulai tidak enak karena guru itu yang piket jaga perpustakaan tadi.


"Olivia, kamu sama Septian sudah simpan buku-buku nya kan?" tanya guru itu.


Kedua mata Olivia terbelak sebentar karena guru itu malah langsung menyebut nama si lelaki. Dilon pun langsung menatapnya tajam, tapi Olivia membuang muka pura-pura tidak melihat.


"Su-sudah kok Bu dari tadi juga," jawab Olivia sambil tersenyum kikuk.


"Oh ya sudah makasih, kalau gitu Ibu mau ke perpustakaan lagi jaga." Dan guru itu pun melenggang pergi dari sana.


Dengan berat hati Olivia lalu menatap Dilon, tatapan pria itu masih sama tajamnya seperti tadi. Olivia menelan ludahnya kasar, merasa gugup harus menjelaskan apa.


"Oh jadi namanya Septian, jangan bilang si culun lagi?" tanya Dilon dengan suara kerasnya, sedang menahan marah.


"Si culun siapa?" tanya Olivia balik pura-pura tidak tahu.


"Orang yang dulu pernah lo belain juga pas di kantin. Gue juga baru inget, waktu itu dia nge chat lo dan bilang katanya mau nraktir lo minuman, lo ada hubungan apa sama dia?!" tanya Dilon mulai sensi.

__ADS_1


"Gak ada apa-apa kok, kita cuman temenan," bela Olivia.


"Jadi bener itu dia?" Kedua tangan Dilon terkepal, "Bener-bener harus di kasih pelajaran si culun itu," desisnya.


__ADS_2