Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Belum Tahu Sebenarnya


__ADS_3

Jujur saja dari semalam Olivia tidak bisa tidur nyenyak, Ia terus terpikirkan Dilon dan khawatir pacarnya itu kenapa-napa. Jadinya besoknya Ia bangun kesiangan, tapi untungnya kan libur.


"Mah aku izin bawa mobil sendiri ya, bolehkan?" pinta Olivia di tengah makannya. Mamanya sedang minum teh, sekalian menemaninya.


"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Keisha.


"Ke rumah Dilon, main lah," jawab Olivia. Ia memang sudah memikirkan ini dari semalam, tapi tidak akan bilang dulu pada pacarnya itu.


"Kenapa gak Dilon aja yang jemput kamu?"


Olivia mengedikkan bahunya, "Enggak, aku gak mau ngasih tahu dia, mau ngasih kejutan aja," jawabnya.


"Ya sudah, tapi hati-hati," ucap Mamanya.


Selesai menghabiskan nasi gorengnya, Olivia kembali ke kamarnya untuk mandi dan bersiap berangkat ke rumah Dilon. Sengaja Ia tidak terlalu pagi pergi karena takut pria itu semisal masih tidur, jadi agak siangan.


Penampilan Olivia selalu cantik dan manis seperti biasa, walau sebenarnya gaya berpakaiannya tidak heboh juga. Diberikan izin membawa mobil sendiri membuat Olivia senang, Ia juga memang bisa menyetir.


"Permisi Pak, saya Olivia pacarnya Dilon. Boleh masuk gak?" tanya Olivia pada seorang satpam yang berjaga di depan.


Satpam itu lalu mendekatinya yang masih di dalam mobil, "Seingat saya Tuan Dilon dari semalam belum pulang, mbak," katanya.


"Hah masa sih? Beneran Pak?"


"Iya, Bapak kan jaga juga dari semalam."


Olivia terdiam beberapa saat merasa bingung mendengar itu, benarkah Dilon tidak pulang dari semalam? Dengan terpaksa akhirnya Olivia pun menghubungi Dilon, butuh waktu agak lama sampai panggilannya di angkat.


["Hm?"] Suara Dilon terdengar serak dari sebrang sana, seperti orang yang baru bangun tidur.


"Dilon kamu dimana? Kata satpam rumah kamu, kamu gak pulang ya semalam?" tanyanya langsung.


["Lo emang dimana? Jangan bilang ke rumah gue?"]


"Iya aku di depan rumah kamu, mau ketemu kamu. Jadi kamu dimana?"

__ADS_1


["Astaga kenapa gak bilang dulu sih? Gue gak di rumah, semalam nginep di rumah si Ian. Bentar deh gue pulang sekarang, lo masuk aja dulu ke rumah."] Dilon pun segera mematikan panggilan nya.


Olivia lalu memberitahu pada satpam itu jika dirinya diberikan izin masuk, dan si satpam pun segera membukakan gerbang mempersilahkan masuk. Saat masuk ke dalam rumah, ada seorang pembantu juga yang menyambutnya.


"Sambil nunggu Tuan Muda, Non mau minum apa?" tanya wanita paruh baya itu.


"Apa saja bi, air putih juga gak papa," jawab Olivia.


"Apa adalagi?"


"Gak usah, minum aja."


"Baik Non, bibi bawakan dulu ya." Pembantu itu pun pergi untuk membawakan minuman.


Olivia memperhatikan rumah Dilon, tidak beda jauh dengan rumahnya lah yang juga sama selalu sepi. Tidak lama pembantu itu pun kembali, lalu menyimpan segelas air putih di depannya.


"Bi, Om Aiden sama Tante Erika lagi di rumah gak?" tanya Olivia setelah meminum airnya sedikit.


"Tuan Besar jarang di rumah Non, biasanya lebih suka di apartemen Nyonya Erika," jawab pembantu itu.


"Loh kenapa? Padahal di sini lebih besar ya di banding di apartemen." Olivia pikir sebagus-bagusnya apartemen, tidak akan seluas rumah.


Olivia pun ikut tersenyum, ya dirinya terlalu kepo dan merasa tidak perlu tahu juga. Tetapi Ia yakin pembantu tua itu cukup tahu banyak masalah di keluarga ini, toh sudah lama bekerja di rumah ini.


Cukup lama Olivia menunggu sampai kebosanan, hampir setengah jam akhirnya Dilon pun sampai juga di rumahnya. Pria itu langsung menghampiri Olivia lalu duduk di sebelahnya dan memeluknya.


"Sorry ya lama, ban taxi nya pecah di jalan," kata Dilon tidak enak.


"Taxi? Kamu pulang naik taxi? Tumben, biasanya juga ke mana-mana suka pakai motor," tanya Olivia bingung.


"Em motornya lagi di bengkel," ucap Dilon lalu tersenyum kikuk.


"Kenapa? Bukannya semalam baik-baik aja ya?"


"Harus perawatan dong sayang, motor juga kan butuh perawatan," alasan Dilon terlihat tidak meyakinkan.

__ADS_1


Pria itu lalu mengajaknya naik ke kamar agar bisa mengobrol lebih enak, sekalian Dilon juga mau mandi katanya tadi belum sempat. Rumah ini benar-benar sepi, karena memang hanya sedikit juga penghuninya.


"Kamu nginep di rumah siapa? " tanya Olivia memulai obrolan lagi saat masuk ke kamar.


"Di rumah Ian, kenal gak?"


"Kenal, Ian itu yang agak pecicilan ya?" tanya Olivia bisa membedakan.


"Haha iya emang dia agak gesrek, tapi suka ngelawak di kumpulan," jawab Dilon tertawa sendiri mengingat temannya yang satu itu.


"Biasanya sih di tongkrongan emang suka ada yang begitu," gumam Olivia.


Dilon lalu pamit ke kamar mandi untuk membersihkan diri, nanti katanya mau sarapan. Olivia pun ditinggalkan sendirian, perempuan itu malah beranjak memperhatikan setiap barang di kamar itu.


Senyuman di bibir Olivia melebar melihat ada pigura di nakas, seorang anak kecil yang dipeluk erat oleh wanita cantik di belakangnya. Apakah itu Mamanya Dilon? Terlihat cantik, senyumamnya mirip sekali dengan Dilon.


"Aku baru lihat Mamanya Dilon, kalau dilihat-lihat sih emang agak mirip sama Dilon," gumam Olivia.


Tidak sengaja Olivia melihat sebuah kotak besar di sisi nakas, Olivia pun berjongkok membuka tutupnya untuk melihat. Kedua matanya langsung terbelak melihat isinya adalah beberapa piala dan mendali, bahkan sampai ada sertifikat nya juga.


"Wah ini semua beneran punya dia? Berarti yang Tasya sama Syifa bilang bener dong kalau Dilon pinter," ucap Olivia seorang diri.


Saat Olivia baca sertifikat nya ada beberapa perlombaan, tapi paling banyak itu perlombaan matematika. Sekarang Olivia percaya jika saat ujian harian matematika waktu itu Dilon mengerjakan serius, alias tidak nyontek.


"Lagi ngapain mojok di sana?" tanya Dilon yang baru keluar kamar mandi.


"Dilon, ini semua punya kamu?" Olivia sampai menunjukkan piala dan beberapa mendali di tangannya.


Raut wajah Dilon terlihat datar melihat itu, "Hm, udah simpen aja di sana, tutup lagi," perintahnya.


"Kok di simpen di kotak gini sih? Kalau rusak gimana? Sayang banget. Mending kamu simpen di nakas kaca, pasti bagus banget," usul Olivia sambil berdiri.


"Gak usah, nanti kamar gue penuh lagi!" tolak Dilon mentah-mentah.


"Loh kok gitu sih? Bukannya harusnya di pajang ya kalau prestasi begini? Aku juga ada kok di kamar, ya hampir sebanyak kamu juga lah," kata Olivia.

__ADS_1


Tetapi Dilon hanya menggeleng tidak tertarik lalu masuk ke walk in closet untuk memakai baju. Olivia yang melihat sikap cuek pria itu hanya menghela nafas, lalu dengan terpaksa kembali menyimpan mendali itu di kotak besarnya.


"Dilon kenapa sih? Apa ini gara-gara Mamanya lagi ya?" tanyanya seorang diri.


__ADS_2