
Selain keluarga sedang disibukkan dengan persiapan pernikahan Kai dan Ayana, perasaan semua dibuat campur aduk mengetahui Daniella akan kuliah di Singapura. Tentu banyak yang sedih, karena harus berjauhan selama beberapa tahun.
Saat ini Daniella sedang di rumah utama, orang tua nya Kai. Di sini sangat ramai, bagian ruang keluarga bahkan sudah dihias untuk menyambut para tamu. Ia terpaksa ikut karena diajak kedua orang tuanya.
Pluk!
Merasakan tepukan di bahunya, membuat Daniella menoleh dan langsung tersenyum pada Kakak Ipar nya. Sudah beberapa hari mereka tidak bertemu, sibuk dengan urusan masing-masing.
"Ella, kamu beneran bakalan kuliah di Singapura? Kok dadakan begini sih, Kakak kaget loh pas dengar," tanya Olivia dengan ekspresi sedih nya.
"Hehehe iya Kak, aku juga tiba-tiba aja kepikiran pengen kuliah jauh. Tapi aku akan jamin gak akan sia-sia, di sana kan semuanya lebih maju," jawab Daniella berusaha meyakinkan.
Olivia terlihat mengangguk pelan, ya Ia akan selalu mendukung yang terbaik untuk adik nya ini. "Terus kapan kamu ke sana nya? Nanti kan masih lama?"
"Kurang dari seminggu ini, semua sudah aku siapkan jadi nanti tinggal berangkat."
"Kok cepet banget? Terus gimana sama pernikahan Kai, jangan bilang kamu akan pergi sebelum acara?"
Daniella pun mengangguk pelan dengan ekspresi tidak enak nya, dan Ia pun langsung melihat ekspresi wajah keberatan Olivia. Hampir semua pun yang tahu Ia pergi lebih awal seperti itu, mereka merasa kecewa.
Sebenarnya jarak masuk Kuliah pun ada beberapa hari, hanya saja Daniella memutuskan berangkat lebih cepat. Jangan tanya alasannya, sudah pasti Ia akan sangat patah hati jika melihat Kai mengucap ijab kabul nya pada Ayana.
Daniella tidak mau menyakiti hatinya sendiri, jadi Ia memutuskan menjauh.
"Ella, maafin Kakak ya," ucap Olivia tiba-tiba murung.
__ADS_1
"Hm kenapa Kak?"
Tetapi Olivia hanya menggeleng memilih memendam di dalam hati. Ia hanya merasa kasihan saja pada Daniella, tapi berharap kepergiannya itu bukan karena kesalahan adik laki-laki nya. Inginnya Daniella benar niat tulus belajar mencari ilmu, bukan karena ingin mengobati hatinya yang patah.
Olivia lalu pamit pada Daniella karena masih banyak pekerjaan di dapur membantu membuat kue. Daniella yang merasa bosan di sana juga ikut pergi, tapi Ia malah naik ke lantai atas menjauh sejenak dari banyak nya orang.
"Filio sama Fiona kemana sih? Ck aku kan jadi bosan tidak ada teman di sini," gerutu Daniella memperhatikan lantai dua yang sepi, berbeda sekali dengan di bawah yang banyak orang.
Melihat pintu balkon terbuka, membuat Daniella pun memutuskan ke sana. Tetapi langkahnya malah terhenti melihat ada seseorang, dari belakang saja sudah bisa ditebak kalau itu adalah Kai.
Tidak mau mengganggu dan berakhir mengobrol berdua, Daniella pun berbalik dan memutuskan akan pergi. Tetapi baru saja satu langkah, namanya sudah dipanggil membuatnya repleks memejamkan mata sambil meringis pelan. Ternyata Ia tetap ketahuan.
"Daniella, kebetulan sekali. Ayo temani Om di sini sebentar," panggil Kai dengan suara berat nya.
"Em enggak deh Om, aku mau ke bawah, kayanya banyak yang harus aku kerjain," tolak Daniella menghindar.
Merasa tidak bisa mengelak lagi, mau tidak mau Daniella pun harus menghampiri Kai. Mereka sempat bertatapan, tapi Ia dengan cepat mengalihkan dan memilih menatap ke bawah dimana letak halaman belakang.
Kai dari tadi tidak mengalihkan pandangan sedikit pun dari gadis itu. "Kamu kemana saja, kenapa baru kesini?" tanyanya.
"Gak kemana-mana, tapi aku kan lagi sibuk sekarang ngurus banyak hal, apalagi baru kelulusan," Jawab Daniella pelan tanpa menatap.
"Begitu ya, pantas saja kamu jarang kelihatan. Lalu bagaimana, kamu beneran jadi kuliah di Singapura?"
"Jadi kok, mungkin hari jumat juga aku berangkat."
__ADS_1
Kai sampai tergelak mendengar itu, kedua matanya pun berkedip dengan pelan. Jika dihitung, mungkin itu sekitar lima harian lagi. Di minggu itu juga Ia menikah, tapi ternyata Daniella akan berangkat lebih cepat.
"Kenapa harus hari jumat? Tidak bisa saja setelah Om melakukan acara pernikahan?" tanya Kai keberatan.
"Maaf Om kayanya gak bisa, aku juga sudah pesan tiket pesawat nya dari jauh-jauh hari. Semua sudah aku siapkan, jadi tinggal berangkat," tolak Daniella lalu menggigit bibir bawah nya.
Tidak pengertian sekali pikirnya lelaki itu memintanya hadir di acara pernikahannya. Kai juga pasti tahu Ia akan sakit hati melihat nya menikah dengan Ayana, tapi masih berharap Ia hadir dan menjadi penonton.
Kepala Daniella menoleh merasakan tangannya yang memegang pembatas disentuh, saat Ia mengangkat kepala langsung bertatapan dengan Kai. Untuk beberapa saat keduanya terdiam, menyelam pada mata indah masing-masing.
"Om harap keputusan besar ini karena keinginan kamu, bukan karena ego kamu karena nanti pasti akan membebani kamu sendiri, " ucap Kai penuh makna.
Ia tidak bisa blak-blakkan karena takut dianggap terlalu percaya diri jika Daniella belum move on dari nya. Bukankah waktu itu Ia sudah memperjelas semuanya juga dan membuat benteng?
Sungguh Kai tidak mau Daniella memutuskan pergi menjauh dari keluarganya hanya karena dirinya. Gadis itu pantas mendapatkan kebahagiaannya sendiri, jangan sampai karena dirinya semua masa depannya jadi terhalangi.
"Om tenang saja, aku mutusin kuliah di Singapura memang keinginan aku kok. Om jangan salah paham dan duga kalau aku ingin menghindari Om," jawab Daniella, Ia lalu menarik tangannya dan bergeser memberikan jarak. "Lagian aku sudah ikhlas kok."
Melihat senyuman Daniella, entah kenapa malah membuat Kai terbebani. Saat mendengar kata-kata nya juga yang bermakna sudah melupakannya, entah kenapa hati Kai merasa tidak nyaman. Perasaan apakah ini?
Kai tidak mau dianggap mempermainkan perasaan Daniella.
"Aku pengen hidup mandiri dengan jauh dari orang tua aku, berharap juga masa depan aku bisa lebih baik dari apa yang cuman aku duga. Nanti pasti di sana pun akan banyak ketemu orang baru, mungkin juga salah satu nya jodoh aku. Iyakan Om?" tanya Daniella dengan senyuman nya, berusaha tidak terlihat sedih.
"Hm, tapi Om akan lebih senang kalau kamu baik-baik dan betah di sana. Berteman lah dengan orang baik, dan jangan nakal," nasihat Kai dengan tatapan dalam nya.
__ADS_1
"Om tenang aja, aku gak akan nakal di luar batas walaupun jauh dari orang tua. Niat aku ke sana kan untuk cari ilmu, bukan mau main-main," sahut Daniella.
Keduanya sekarang bisa mengobrol dengan tenang dan lancar, walau begitu mereka sebenarnya hanya sedang menutupi perasaan yang sebenarnya.