Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Tetap Nomor Satu


__ADS_3

"Mending kamu pulang aja sana!" usir Olivia.


Kedua mata Vanessa terbelak lebar mendengar itu, Ia lalu melipat kedua tangannya di dada. Gayanya sekarang terlihat angkuh sekali, jika di depan Olivia tentu Vanessa tidak boleh terlihat lemah.


"Enak aja ngusir-ngusir, aku yang lebih sering main sama Dilon!" kata Vanessa.


"Tapi aku yang hari ini duluan ada di sini, kalau ada kamu yang ada ganggu tahu gak? Sudah sana pulang aja!"


"Gak mau, kamu aja saja yang pulang!" balas Vanessa tidak mau kalah.


Merasa emosinya semakin meledak-ledak, Olivia pun memutuskan keluar dari dapur sambil menghentakkan kakinya. Memang si Vanessa itu menyebalkan sekali, selalu tidak mau kalah darinya.


Olivia memutuskan langsung naik ke lantai atas menuju kamar Dilon. Terlebih dahulu mengetuk pintu kamarnya, sambil memanggil-manggil nama Dilon. Untungnya pria itu pun membukakan pintu.


"Dilon," panggil Olivia dengan wajah memelas nya.


"Sudah selesai ributnya?" tanya Dilon menohok.


"Ih kamu malah pergi sendiri, ninggalin aku sama dia," kesal Olivie menggerutu.


"Kalian sih berisik banget, telinga aku sakit," ucap Dilon.


Pria itu ternyata sedang merokok, lalu mengajaknya masuk ke dalam kamar. Mereka tidak diam di sana, melainkan di balkon yang langsung bisa melihat pemandangan hutan di belakang yang banyak pepohonan.


Mereka duduk di kursi ayunan yang panjang, jadi bisa sambil tiduran. Olivia menolehkan kepalanya menatap pacarnya itu yang terlihat santai sekali sambil tetap fokus merokok. Cuaca siang hari ini juga sangat cerah.


"Dilon, kamu emangnya gak pernah muak gitu punya sahabat kaya Vanessa? Apalagi kalian sudah temenan dari kecil," tanya Olivia memberanikan diri.


"Gak tahu, tapi sebenarnya dia gak pernah se cerewet ini. Kalau sama gue ya anteng, gak suka aneh-aneh juga," jawab Dilon sambil menghembuskan asap rokoknya ke udara.


"Mungkin dia kesel karena sekarang kamu punya pacar, jadi kamu gak ada waktu lagi sama dia. Tapi dia nyebelin banget, emangnya kamu punya dia selamanya gitu?" gerutu Olivia.


Dilon memilih membuang rokoknya yang tinggal sedikit lagi. Lalu menggeser tubuhnya mendekati Olivia, membuat mereka kini berbaring dengan poposi jarak sangat dekat. Keduanya pun saling bertatapan.


"Lo cemburu gak gue punya temen cewek?" tanya Dilon.

__ADS_1


"Konyol banget pertanyaannya, ya cemburu lah!" jawab Olivia cepat.


"Sorry ya, tapi tenang aja, gue bakal tetep jaga batasan. Sebenarnya gue gak enak sama lo, gue juga gak mau lo salah paham. Tapi gue juga gak bisa mutusin pertemanan sama Vanessa, kasihan dia," jelas Dilon serius.


"Kasihan kenapa? Terus kamu emangnya gak kasihan sama aku juga?" tanya Olivia protes. Pria itu memikirkan perasaannya juga kan?


Bukannya menjawab, pria itu malah tertawa kecil merasa lucu melihat ekspresi kesal kekasihnya. Sanking gemasnya Dilon pun tidak tahan untuk mengecup pipi kemerahan Olivia, tapi perempuan itu malah protes


"Bukan gitu sayang, gue juga mikirin perasaan lo kok. Gue cuman gak tega aja sama Vanessa, sekarangkan dia sudah gak punya siapa-siapa lagi. Dulu orang tuanya sempat nitip dia ke gue," ucap Dilon meluruskan.


"Masa? Kapan?" tanya Olivia meragukan.


"Ya dulu pas gue masih kecil, tapi gue selalu inget itu dan gue juga udah janji sih," jawab Dilon.


"Aneh mereka itu, masa nitipin anak kecil ke anak kecil. Kamu sih terlalu baik, makanya di kasih beban begitu!" gerutu Olivia.


Entahlah apa Olivia harus bisa mengerti atau tidak, tapi Ia merasa agak berat saja memiliki pacar yang punya sahabat perempuan. Semua perempuan yang ada di posisi dirinya pun pasti tidak mau, karena khawatir di khianati.


"Kamu gak akan ada main sama dia kan di belakang aku?" tanya Olivia sambil mengusap rahang pria itu. Tatapannya terlihat dalam, penuh harap.


"Iya, misal ternyata kamu diam-diam sama dia ada main api di belakang aku. Kalau gitu, aku bakalan marah sama kamu!"


"Enggak akan lah, Vanessa itu aku anggap cuman teman, gak lebih kok," jawab Dilon tegas.


"Sampai kapan pun juga?"


"Hm sampai kapanpun juga," angguk Dilon.


Senyuman di bibir Olivia pun langsung mengembang mendengar itu, merasa senang karena sudah diyakinkan Dilon. Ya semoga saja pria itu selalu setia padanya, memegang janjinya juga. Olivia merasa Dilon terlihat meyakinkan juga.


Melihat bibir merah alami Olivia, membuat Dilon menelan ludah kasar. Rasanya sudah lama Ia tidak cicipi lagi, sekarang membuatnya tidak tahan. Perlahan wajahnya pun mendekat, melihat Olivia yang sepertinya paham langsung memejamkan mata, membuat Dilon senang karena seperti mendapat izin.


Brak!


"Dilon kamu dimana?"

__ADS_1


Teriakan menggelegar di sertai suara pintu yang terbuka kasar dari luar membuat keduanya langsung menjauhkan diri. Dilon terdengar menggeram pelan seperti menahan kesal karena diganggu, Ia pun beranjak untuk masuk ke kamarnya.


"Vanessa kamu ini kebiasaan dari dulu, kalau masuk kamar itu ketuk pintu dulu dong!" omel Dilon sambil berkacak pinggang.


"Aduh Dilon kita kan sahabat, kamu kaya ke siapa aja?" Vanessa malah tidak terima di katai seperti itu.


"Bukan apa-apa, tapi kamu kelihatan gak sopan. Kita emang temenan, tapi aku juga selama ini selalu jaga sikap sama kamu," kata Dilon.


"Ya sudah deh iya maaf, aku gak ulangin," ucap Vanessa tidak meyakinkan.


Perhatian Vanessa teralih pada Olivia yang juga baru masuk kamar. Ia jadi bingung, apa yang sudah Dilon dan Olivia lakukan dari tadi di balkon? Perasaannya jadi tidak enak mulai menduga aneh-aneh.


"Ada apa?" tanya Olivia pada Dilon.


"Gak tahu," jawab Dilon sambil mengedikkan bahu. Ia kembali menatap Vanessa meminta penjelasan.


"Itu Papa kamu manggil, dia nyuruh kamu ke kamarnya katanya," jawab Vanessa mengungkapkan maksudnya.


"Kapan dia pulang?" tanya Dilon bingung.


"Sudah dari beberapa menit lalu sih sebenarnya, terus tadi juga sempet ngobrol sama aku di bawah. Kalau Tante Erika kayanya gak ikut, cuman Papa kamu doang," jelas Vanessa.


Dilon mengangguk mengerti, lalu izin pamit pada Olivia. Meminta pacarnya itu untuk diam menunggunya di kamar, jika bosan boleh istirahat juga. Sebelum benar-benar keluar, Dilon juga sempat mengajak Vanessa tapi katanya sahabatnya itu akan menyusul nanti.


"Kenapa lihatinnya kaya gitu?" sentak Olivia menegur, tatapan Vanessa terlihat mencurigakan kepadanya, membuatnya tidak nyaman saja.


"Habis ngapain kamu tadi berduaan sama Dilon di balkon?" Vanessa memutuskan menanyakan agar tidak terlalu penasaran, ya walau hatinya akan sakit.


Sebelah sudut bibir Olivia terangkat, memang dasar Vanessa itu sangat kepo sekali. Sepertinya Ia akan bohongi, biar panas hatinya. Olivia senang jika Vanessa sudah cemburu.


"Mesra-mesraan lah, kaya pasangan kekasih lainnya. Tapi gara-gara tadi ada yang ganggu, jadi berhenti deh," katanya.


***


__ADS_1


__ADS_2