
Daniella tidak berani membuka mata lalu melihat ekspresi wajah Erika setelah mendengar pengakuannya ini. Tubuhnya sampai bergetar merasa khawatir jika tiba-tiba mendapat tamparan di pipi.
Tetapi setelah menunggu beberapa saat, ketakutannya itu tidak terjadi. Perlahan kedua matanya pun terbuka, melirik khawatir ke arah Mama nya hanya diam saja. Namun tidak mengalihkan pandangan sedikit pun darinya.
"Maafin aku Mah," cicit Daniella.
"Ka-kamu serius suka sama Kai? Ba-bagaimana bisa?" Erika sampai dibuat gagap saat menanyakan ini untuk memastikan lagi.
Daniella pun mengangguk pelan. "Iya, aku cinta sama Om Kai. Dia juga tahu ini, karena aku gak suka nyembunyiin perasaan ini dan suka menunjukkan diri," jawab nya.
Terdengar helaan nafas berat dari Erika, membuat Daniella semakin menundukan kepala karena Mamanya pasti terkejut dan tidak menyangka sendiri. Entah bagaimana selanjutnya, tapi Daniella sih sudah yakin kalau Mama nya itu pasti menentang.
"Kenapa kamu gak pernah cerita ini sama Mama dan Papa? Kamu malu ya?"
"Hah?"
Daniella tidak menyangka saat mendengar itu, seolah Mama nya bersikap biasa dan tidak mempermasalahkan. Bisa tahu juga alasannya memendam karena itu, apa jangan-jangan dirinya ada peluang?
"Mama gak marah kamu ada perasaan sama Kai, cuman terkejut aja," ucap Erika sambil menatap ke balik matanya dalam.
"Jadi Mama gak marah aku suka sama Om Kai? Dia kan keluarga kita, terus usianya.."
Erika menggeleng lalu memegang bahu nya. "Mungkin awal perasaan itu hadir karena kamu merasa nyaman dan merasa aman bersama Kai, hingga semakin tumbuh menjadi cinta. Hanya saja, Mama memang tidak terlalu mendukung ini.
Kamu salah kalau menganggap Mama tidak mendukung karena perbedaan usia kalian, tapi ya karena Kai akan menikah. Dia akan menjalin hubungan serius dengan Ayana, Mama gak mau kamu menjadi orang ketiga," jelasnya panjang lebar.
__ADS_1
Hati Daniella langsung mencelos, harapan indah yang sempat Ia duga itu kembali dihancurkan. Tetapi yang dikatakan Erika benar, Ia tidak bisa menjadi orang ketiga di antara Kai dan Ayana.
Mereka akan menikah, dan hubungan sakral itu jangan sampai gagal hanya karena bocah ingusan sepertinya.
"Tidak apa sayang jangan sedih, Mama yakin suatu saat nanti kamu akan dapat pasangan yang baik, bahkan lebih dari Kai," ucap Erika berusaha menghibur.
Wanita itu lalu kembali membawa Daniella ke pelukannya, berusaha menenangkan dan menghibur nya. Ia pun pernah muda, saat sedang patah hati rasanya tidak semangat melakukan apapun. Jadi harus ada yang menemani terus.
Daniella sendiri hanya diam saja dengan ekspresi wajah sedih nya. Sepertinya Ia memang harus mengikhlaskan Kai, berharap doa Mama nya itu juga terkabul, yakni Ia yang mendapatkan sosok lelaki yang baik.
***
Hari terus berganti, keluarga pun mulai disibukkan dengan persiapan pernikahan Kai dan Ayana yang sudah pasti akan sangat meriah. Untungnya saat itu pun Daniella juga sibuk ujian kelulusan, Ia bisa menyibukkan diri sendiri dan menjauh sejenak.
"Ella kamu serius mau kuliah di luar negeri? Terus aku gimana dong?" tanya Mia yang baru duduk di sebelah nya, ekspresi wajahnya terlihat sedih.
"Ck tetep aja ah, kirain kita bakalan satu Kampus." Mia membalikan tubuhnya menjadi membelakangi, kedua tangannya terlipat di dada dengan bibir mengerucut di ke bawah tanda Ia sedang ngambek.
Melihat tingkah sahabat nya itu membuat Daniella hanya tersenyum lalu memeluk nya dari belakang. Ia tahu Mia pasti sedih, tapi Ia juga sama sedihnya karena nanti akan meninggalkan semua orang di sini.
Daniella sudah memutuskan akan melanjutkan Kuliah di Singapura. Awalnya kedua orang tuanya merasa keberatan, tapi setelah Ia yakinkan dengan kemajuan teknologi dan pendidikan lebih baik di sana, akhirnya mereka pun setuju.
"Mia jangan ngambek dong, tar pulang sekolah aku beliin es krim deh. Mau gak?" bujuk Daniella sambil melengokan kepalanya ke depan lewat bahu.
"Gak mau es krim, mau nya seblak!" sahut Mia dengan suara ketus nya.
__ADS_1
"Hahaha iya-iya, kita beli seblak yuk. Sudah dong jangan ngambek ah, kan aku jadi ikut sedih."
Mendengar itu membuat hati Mia luluh, Ia pun kembali memutar posisi duduknya menghadap Daniella. Ya benar, bukan hanya Ia yang sedih, tapi Daniella pun pasti harus mempersiapkan banyak hal karena harus pindah.
Keduanya lalu kembali berpelukan, dan tanpa bisa ditahan air mata pun langsung menetes begitu saja. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, setelah lulus dari sini, mereka akan menjalani kehidupan masing-masing. Tidak akan terus bersama.
"Daniella, hal yang paling aku syukuri adalah kenal dengan kamu. Banyak hal yang sudah kita lalui, makasih banyak untuk semuanya. Dan maaf selama ini aku jadi sahabat yang nyebelin dan ngerepoton kamu," ujar Mia di sela isakan tangis nya.
Daniella pun menyahut. "Enggak, aku malahan yang lebih ngerepotin. Aku juga seneng banget bisa kenal dan jadi teman dekat kamu Mia, semoga hubungan kita selalu baik-baik aja ya."
Karena ujian kelulusan pun sudah selesai dari minggu lalu, jadi kelas tiga sekarang benar-benar bebas. Mereka sedang disibukkan dengan memperbaiki nilai, itupun jika yang melanjutkan ke perguruan tinggi.
Saat ini kelas dua belas hanya sedang menunggu nilai dan ijazah, setelah itu mereka benar-benar akan melanjutkan kehidupan yang baru. Setelah merasa cukup puas menangis, keduanya melepas pelukan dan segera menghapus air mata masing-masing.
Saat bertatapan langsung tertawa kecil merasa malu satu sama lain. Bukan lebay, tapi merasa sedih saja karena nanti akan berpisah. Sepertinya semua orang yang memiliki teman dekat akan merasakan seperti ini.
"Sorry ganggu, kalian mau minum?"
Perhatian Daniella dan Mia teralih pada Andra yang baru datang, pria itu mengulurkan dua kaleng minuman ke arah mereka. Tanpa menolak, mereka pun menerima nya tidak lupa mengucapkan terima kasih.
Andra terlihat tersenyum lalu memasukan tangannya ke dalam saku celana. "Kenapa nih? Kok pada nangis, acara kelulusannya juga belum dimulai," tanyanya kepo.
Tetapi dua perempuan itu hanya tersenyum, merasa malu juga jika harus menceritakan. Dan Andra pun tidak masalah, Ia bisa mengerti kenapa dua temannya itu menangis. Sepertinya sedih karena akan berpisah.
Untuk Andra sendiri, hubungannya dengan Daniella tidak berubah, masih teman biasa. Ia sempat mengungkapkan perasaan lagi waktu itu, tapi tetap saja ditolak. Akhirnya Ia pun bisa menerima semuanya, dan memilih seperti ini saja.
__ADS_1
"Pulang sekolah kalian mau main kemana lagi, gabung dong," ucap Andra sambil menaik turunkan alis nya. Dan Mia pun mengangguk tidak masalah, semakin banyak orang semakin seru.