
Tinggal dua hari lagi menuju ulang tahunnya Dilon, Olivia baru ingat jika dirinya belum sempat membelikan kado untuk pacarnya itu. Beberapa hari ini memang sedang disibukkan dengan kegiatan ekskul, dirinya harus membimbing murid yang akan lomba menyanyi.
"Ayo pulang!" ajak Dilon menghampiri mejanya.
"Em aku gak akan langsung pulang," jawab Olivia.
"Emangnya mau kemana? Apa ngajarin yang mau lomba lagi?"
Dengan berat hati Olivia pun mengangguk, "Iya, jadi kamu pulang duluan aja," jawabnya bohong.
"Ya udah nanti bilang aja kalau udah selesai, nanti gue jemput lagi kesini," kata Dilon.
Tetapi kalau seperti itu, mungkin Dilon pun akan tahu kadonya. Sekarangkan Olivia mau ke Mall untuk membeli hadiah, tidak mungkin ke sekolah lagi juga. Olivia harus mencari alasan lain.
"Gak usah, aku bisa di anter supir. Kamu nongkrong aja sama temen-temen kamu, aku gak mau ganggu," ucap Olivia.
"Beneran ya di jemput supir? Nanti kalau sudah sampai di rumah bilang."
"Iya."
Sebelum pergi seperti biasa Dilon selalu mengusap kepala Olivia, lalu setelahnya pria itu pun pergi menjauh. Olivia terlihat tersenyum puas, sekarang Dilon tidak curigaan lagi dan keras kepala. Tidak terbayang kalau Dilon akan tinggal dan mengikutinya terus.
Saat sedang menunggu taxi online di trotoar, Olivia tidak sengaja melihat Septian di kejauhan. Sepertinya sedang menunggu jemputan juga. Baru saja akan menghampiri, langkahnya terhenti melihat sesuatu.
Sebuah mobil Alphard mewah berhenti tepat di depan Septian, seorang supir lalu keluar untuk membukakan pintu. Septian pun masuk ke bagian belakang, sedangkan si supir kembali masuk dan menjalan mobilnya pergi.
"Hah serius itu Septian? Apa aku gak salah lihat ya?" tanya Olivia seorang diri sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Bukan apa-apa, tapi Olivia sempat mengira Septian hanya orang biasa karena penampilannya pun terlihat culun. Tetapi setelah melihat tadi, Olivia tahu dirinya tidak boleh melihat dari penampilan saja.
Pluk!
"Eh?" Olivia berbalik merasakan bahunya ditepuk.
__ADS_1
"Lagi ngapain nih sendirian aja?" tanya Bagas, ketua ekskul musik.
"Lagi nungguin taxi, katanya sebentar lagi juga datang," jawabnya.
"Tumben pulangnya naik taxi, Dilon emangnya gak nganterin kamu?"
"Em aku ada urusan lain, jadi nyuruh dia pulang duluan."
Bagas terlihat menganggukan kepalanya mengerti, tapi Ia sempat memperhatikan sekitar berjaga saja takut ada Dilon. Pria itu kan terkenal cukup posesif, tumben kali ini tidak menempeli Olivia.
"Emangnya mau kemana? Mau aku anter aja gak?" tanya Bagas menawarkan diri.
"Mau ke Mall, beli sesuatu. Lusa Dilon ulang tahun, aku lupa belum beli kado untuk dia," jawab Olivia langsung menjelaskan.
"Kamu ini romantis banget siapin kado untuk dia, jadi iri deh," celetuk Bagas entah apa maksud nya.
Bagas lalu terpikirkan sesuatu, Ia harus memberanikan diri karena hitung-hitung juga bisa berdekatan dan jalan dengan Olivia. Apalagi sekarang tidak ada Dilon, jadi sepertinya aman.
"Mau aku bantuin gak? Aku juga kan cowok, mungkin kamu bisa tanya-tanya gitu selera cowok kaya apa ke aku," ucap Bagas modus.
Bagaimana kalau Dilon tiba-tiba tahu dan memergoki? Suasana akan canggung sekali. Apalagi Dilon itu orangnya sangat emosional, Olivia tidak mau ada keributan lagi hanya karena dirinya.
"Gak usah deh, aku juga sudah tahu apa yang bakal aku beli. Taxinya sudah sampai, kalau gitu aku pergi dulu, dah!" tolak Olivia baik-baik.
Perempuan itu sempat melambaikan tangannya sebentar pada Bagas tanda perpisahan. Ia masuk ke mobil bagian belakang, dan si supir pun langsung menjalankan. Olivia tidak lupa juga menyebut lagi Mall yang ingin ditujunya.
"Mbak ada sepatu yang kaya gini gak? Ukurannya empat puluh dua," tanya Olivia pada salah seorang pelayan di toko dengan brand mewah terkenal.
Pelayan itu melihat dahulu foto di ponsel Olivia, "Kebetulan sekali barangnya baru sampai tadi pagi, jadi ukurannya juga masih lengkap. Mari saya antarkan," katanya.
Olivia langsung tersenyum lebar merasa senang dan bersyukur mendengar itu. Ternyata Ia datang tepat waktu, jadi bisa memilih lagi. Memang rencana awalnya juga Ia ingin membeli sepatu keren itu, membayangkannya terasa cocok saja pada Dilon.
"Ini Kak nomor empat puluh dua, silahkan di cek lagi," ujar pelayan itu memberikan sepasang sepatu di kotaknya.
__ADS_1
Olivia lalu duduk di sebuah sofa melingkar di sana untuk mengecek sepatu itu. Ternyata aslinya lebih keren, Ia saja yang perempuan menyukainya. Tetapi Olivia tentu berharap Dilon lebih suka.
Saat melihat harganya Olivia dibuat menelan ludah susah payah. Sepatunya memang bagus dan pasti akan awet, tapi harganya juga sangat lumayan sekali. Hampir tiga juta. Haruskah Olivia beli?
"Menurut mbak kalau saya kadoin sepatu ini untuk pacar saya, apa dia akan suka?"
Sebelum pelayan itu menjawab, kedatangan seseorang membuat perhatian Olivia teralih. Senyuman di bibirnya tanpa sadar langsung melebar, melihat itu adalah Erika.
"Tentu saja dia pasti akan senang, apalagi itu kan hadiah istimewa dari kekasih nya," jawab Erika. Dengan santainya, Ia duduk di sebelah Olivia.
"Tante Erika kebetulan banget ada di sini juga, lagi apa?" tanya Olivia semangat sendiri.
"Sama seperti kamu, Tante juga lagi cari kado untuk Dilon. Lusa kan dia ulang tahun," jawab Erika terus tersenyum.
"Ya ampun bisa kebetulan begini ya hehe. Terus apa Tante sudah dapat kadonya?"
Erika memggeleng pelan, "Sebenarnya tadinya Tante juga mau kadoin dia sepatu, tapi kamu lebih cepat. Tante akan cari barang lain aja, kamu bisa bantu Tante mungkin?"
Mendengar itu tentu saja Olivia langsung mengangguk setuju. Ia senang jika bisa menghabiskan waktu dengan Erika, karena hubungan mereka pasti akan lebih dekat. Masih merasa speechless saja bertemu di tempat umum begini.
"Kalau menurut Tante, Dilon beneran bakalan suka sama sepatu pilihan aku ini?" tanya Olivia memastikan lagi sebelum membayar.
"Tante yakin dia akan suka, bukan lebih tepatnya dia akan suka apapun yang penting itu dari kamu," goda Erika.
"Ah Tante bisa saja, ya sudah deh aku jadi beli yang ini aja. Mbak tolong bungkusin ya, ini kartu saya," kata Olivia sambil memberikan kartu debit nya langsung.
Pelayan itu mengangguk lalu membawa barang dan kartunya, setelahnya pamit pergi untuk menyiapkan. Kini terlihatlah Erika dan Olivia berduaan, mereka malah saling lihat-lihatan.
"Tante mau cari kadonya sekarang?" tanya Olivia.
"Iya, kamu bantuin ya? Soalnya Tante takut salah pilih dan gak sesuai selera Dilon," pinta Erika memelas.
"Iya tenang aja, yuk aku temenin."
__ADS_1
Olivia tanpa ragu memeluk tangan kiri Erika, mereka berdua pun mulai berkeliling lagi toko mencari kado yang tepat. Terlihat sudah sangat akrab, padahal baru beberapa kali bertemu.