
Karena Septian terus memaksa, mau tidak mau Olivia pun menerima juga tawarannya untuk makan malam di sana. Ia merasa sudah merepotkan datang kesini, Septian menjamu nya sangat baik membuat Olivia pun jadi segan.
Menu makan malam di rumahnya dan Septian tidak jauh beda lah, tapi di rumah ini ternyata yang menyiapkan adalah pelayan. Melihat para pekerja itu yang melayani Septian dengan baik, membuat Olivia semakin yakin jika pria itu bukanlah orang biasa.
"Kenapa? Apa kamu gak suka makanannya? Atau kamu mau sesuatu?" tanya Septian yang menyadari dari tadi di perhatikan.
"Bukan, aku cuman penasaran aja sama kamu. Septian, kalau boleh tahu orang tua kamu siapa? Kayanya mereka orang penting ya, kamu kaya Tuan Muda keluarga kaya," kata Olivia.
Septian malah tertawa kecil, "Haha aku biasa saja kok, apa kamu mengira aku orang yang lebay sampai harus dilayani begini?"
"Enggak kok, tapi aku bingung aja kenapa kamu sampai di perlakukan begini. Jadi?"
Septian mulai menyantap makanannya, sambil menjawab rasa penasaran Olivia. Pria itu ternyata sudah tidak punya orang tua, meninggal beberapa tahun lalu kecelakaan pesawat saat pulang dari London. Dan kini Septian lah satu-satunya pewaris dari keluarganya.
Mendengar itu membuat tatapan Olivia berubah menajadi sendu, merasa kasihan pada Septian. Di balik sikapnya yang mudah tidak ditebak selama ini, ternyata Septian orang yang cukup kesepian. Apalagi di sekolah pun tidak punya banyak teman.
"Kamu jangan merasa selalu sendiri ya Septian, harus percaya diri. Jangan menganggap tidak ada yang mau menjadi teman kamu, kamu juga harus mulai membuka diri pada siapapun," ucap Olivia memberikan dukungan.
"Iya, aku sekarang sudah gak kesepian soalnya kan ada kamu. Aku seneng punya temen sebaik kamu, Olivia," balas Septian sambil tersenyum. Ya inginnya sih lebih, tapi sayangnya tidak semudah itu.
Mereka pun kembali melanjutkan makannya, sambil mengobrol kan banyak hal, apalagi tentang cerita mitologi. Terlihat Olivia yang lebih banyak bicara, sedang Septian diam memperhatikan dengan baik.
Saat Olivia sedang asik cerita, suaranya terhenti merasakan bibirnya di usap. Repleks Ia pun menjauhkan wajahnya, lalu menatap terkejut Septian yang tadi melakukan itu. Apa yang pria itu lakukan?
"Maaf, aku.. Aku gak bermaksud. Tadi ada saus, jadi aku repleks hapus," ucap Septian gagap.
__ADS_1
"I-iya, tapi aku bisa sendiri," ucap Olivia. Ia membawa selembar tisu untuk mengusap bibirnya, takut masih kotor.
Setelah itu keduanya terdiam, merasa canggung satu sama lain. Septian meringis sambil mengumpat di dalam hati, merasa dirinya terlalu berani dan pasti sekarang Olivia tidak nyaman karenanya.
"Septian, aku mau pulang sekarang. Gak papa kamu gak usah anter, aku bisa pesan taxi," ucap Olivia sambil beranjak dari duduknya.
"Enggak-enggak, aku aja yang anter. Lagian ini sudah malam, aku gak tega juga kamu pulang sendirian," bantah Septian ikut berdiri.
Sayang sekali padahal tadi mereka sedang mengobrol santai, tapi karena tingkah beraninya itu membuat Olivia jadi tidak nyaman dan ingin cepat pulang. Septian merasa malu, berjanji lain kali tidak akan ceroboh lagi.
Septian memutuskan mengantar perempuan itu dengan mobilnya, kalau pakai motor takut kedinginan karena angin malam. Sepanjang perjalanan pun saling diam. Septian ingin memulai obrolan, tapi merasa takut di hiraukan.
Sesampainya di depan gerbang rumahnya, Olivia merasa bisa bernafas lega. Sebelum turun Ia tidak lupa berterima kasih karena pria itu sudah mengantarnya pulang, lalu berjanji akan segera mengembalikan buku yang dipinjamnya.
Perlahan Olivia memutar kepalanya, "Ya ada apa?" tanyanya.
"Aku benar-benar minta maaf soal tadi, kamu pasti gak nyaman karena sikap berani aku. Aku harap setelah ini hubungan kita tetap baik-baik begini," kata Septian penuh harap bisa dimaafkan.
"Tidak apa Septian, aku sudah maafin kamu kok. Tapi lain kali jangan begitu lagi ya, aku gak nyaman," ucap Olivia dari dalam hati.
Apalagi kan Olivia sudah punya pacar, jadi merasa bersalah karena sudah se dekat itu dengan lelaki lain. Memang Olivia hanya mengganggap Septian temannya, tapi pria itu jangan melewati batas juga.
Olivia pun sekali lagi berpamitan lalu benar-benar turun dari mobil. Ia melambaikan tangannya pada mobil Septian yang mulai berjalan menjauh. Olivia pun masuk ke gerbang rumahnya, lalu ke rumahnya.
"Nah itu Olivia akhirnya pulang," ucap Keisha dengan suara kerasnya.
__ADS_1
Repleks Olivia pun langsung menoleh ke asal suara, kedua natanya terbelak melihat salah satu orang di sana, yaitu Dilon. Kenapa pacarnya itu ada di sini? Dengan perasaan gugup, Olivia pun berjalan menghampiri Dilon dan Mamanya di ruang tamu.
"Dilon kok kamu di sini? Dari kapan?" tanya Olivia setelah duduk di sebelah pacarnya itu.
"Dia nungguin kamu dari tadi, kasihan, jadi Mama temenin ngobrol aja." Keisha lah yang menjawab, sambil membela Dilon karena tidak tega.
Keisha lalu izin pergi dari sana, membiarkan dua remaja itu agar bisa mengobrol lebih santai. Sempat wanita itu tersenyum menyeringai pada putrinya, seolah sedang menggodanya.
"Kok ponsel lo gak aktif? Gue telepon dari tadi," tanya Dilon sambil menarik tangan Olivia, agar perhatian perempuan itu sepenuhnya tertuju padanya.
"Batrai nya habis, makanya gak aktif. Terus kamu kenapa ke rumah aku?" tanya Olivia balik.
"Gak tahu, gue cuman kangen sama lo. Tiba-tiba gue kepikiran lo aja, makanya ke sini. Emangnya lo dari rumah siapa sih? Kok lama banget," kata Dilon sambil mengusap rambutnya.
"Temen, pinjem buku," jawab Olivia sambil menunjukkan buku yang dipinjamnya.
Merasa perutnya mulas, Olivia pamitan pergi ke kamar mandi dan meninggalkan Dilon sejenak. Pria itu pun membiarkan saja, lalu membawa buku berjudul bahasa asing itu untuk dilihatnya.
Dilon tahu pacarnya suka membaca, sangat berkebalikan sekali dengan dirinya yang pemalas. Dilon lalu kembali menyimpan buku itu karena merasa tidak tertarik, tapi sebuah kertas dari bukunya malah terjatuh.
Dilon pun membawanya untuk melihat lebih jelas, dan tertulis lah di sana satu nama. Kedua matanya repleks melotot melihat nama pemilik buku itu adalah Septian Ardiyatama. Perlahan detak jantungnya pun menjadi cepat.
"Aduh aku sakit perut, tadi kayanya makan sambel terlalu banyak. Dilon kamu sudah makan belum? Makan dulu yuk, tapi aku sudah makan sih tadi di rumah temen," ucap Olivia yang sudah kembali.
Olivia merasa bingung karena Dilon seperti tidak menghiraukan nya. Melihat pria itu fokus menatap sesuatu di tangannya, membuat Olivia pun ikut melihat dan membacanya. Melihat ternyata itu adalah tanda pengenal pemilik sah bukunya, membuat Olivia pun repleks merebut.
__ADS_1