
Alhamdulillah, senyum dan tawa yang aku rindukan beberapa bulan ini sudah bisa aku lihat dan dengar lagi. Aku merasa menjadi orang yang paling berbahagia di dunia ini. Mempunyai keluarga yang lengkap dengan seorang istri yang setia, lembut dan penyayang seperti istriku adalah sebuah anugerah.
Bahagia itu sederhana. Saat kita di butuhkan, di cintai dengan tulus dan menjadi berharga bagi seseorang yang sehati dengan kita. Tak perlu memaksakan diri menjadi sempurna karena kita akan menjadi sempurna jika bersama pasangan yang mencintai kita apa adanya.
Bercanda berdua melepas kerinduan yang selama ini terpendam membuatku seperti terhipnotis hingga melupakan sekitarku. Tanpa di sadari saat ini jarum jam sudah menunjukkan pukul satu siang. Itupun aku tahu karena seorang suster meminta bergantian berjaga untuk menunaikan ibadahnya. Refleks aku menoleh ke jam yang menempel di dinding.
"Astagfirullah. . ." aku mengusap kasar wajahku sendiri.
"Kenapa, mas?" tanya istriku kaget.
"Kamu lihat jarum jam di dinding itu, yank? Mas belum jemput Andre!" ucapku lesu lalu bangkit berdiri.
"Ya Allah, mas. Sana, mas jemput Andre sekarang!" titah istriku.
Aku mengecup dahinya sekilas, "Mas pergi dulu, yank!" pamitku.
"Hati-hati, mas!" sahutnya.
Aku tugas keluar dari ruang ICU lalu menuju parkiran. Aku melajukan mobil dengan cepat menuju ke sekolahan Andre. Maafkan ayah nak. Batinku.
Beruntung jam segini jalan tidak terlalu ramai jadi aku bisa cepat sampai di sekolah Andre. Dari jauh aku bisa melihat sekolahan putraku itu sudah sepi. Aku lihat ada satu orang anak laki-laki yang sedang duduk menyendiri di sudut gerbang sekolah. Itu pasti Andre. Pikirku.
Aku berhenti tak jauh dari sana. Anak lelaki itu langsung berdiri. Benar itu putraku. Andre langsung berlarian ke mobil. Aku lalu membukakan pintu untuknya.
"Maafkan ayah, nak!" ucapku dengan wajah menyesal.
"Ayah dari mana saja?" tanya putraku lirih..
Sepertinya dia kelelahan menunggu aku.
"Ayah dari rumah sakit, nak. Kita langsung pulang, ya?"
Andre hanya mengangguk. Mungkin dia kesal tapi dia tidak marah apalagi setelah aku memberikan alasan kalau aku baru saja dari rumah sakit. Aku itu anak itu sangat menyayangi bundanya walau dia tahu kalau bundanya itu bukan wanita yang sudah melahirkannya.
"Bunda kamu sudah sadar,"
Andre menoleh, "Beneran, yah? Ayah nggak bohong, kan?: tanyanya antusias
Wajahnya yang tadi terlihat murung menjadi ceria.
Aku mengangguk, "Iya, nak. Bunda kamu baru beberapa jam yang lalu sadar. Maakanya ayah sampai lupa waktu jadi telat jemput kamu. Maafkan ayah, ya?"
"Iya, yah. Nggak apa-apa, kok. Yang penting kan ayah sekarang sudah jemput aku!" jawab putraku itu.
Putraku yang cara berpikirnya sudah lebih dewasa daripada umurnya.
"Kamu langsung ayah ntar pulang, ya. Ayah mau ke rumah sakit lagi setelah mengantar kamu."
"Iya, yah. Jadi kapan bunda boleh pulang?" tanyanya.
"Ayah belum tahu, nak. Bunda kan baru saja sadar jadi kata sister pemulihannya cukup lama. Tapi yang penting bunda kamu sekarang sudah sadar. Kondisinya sudah makin baik dan juga kita masih punya harapan untuk kesembuhannya. Kamu jangan lupa untuk terus mendoakan kesembuhan bunda, ya!"
"Aku selalu mendoakan bunda setiap hari, yah!"
"Terima kasih ya, nak."
Sampai di rumah aku menemui ibu untuk memberitahukan tentang keadaan istriku.
"Beneran Santi sudah sadar?" tanya ibuku kaget bercampur bahagia.
"Iya, bu. Santi sudah sadar. Tadi aku sudah berbincang lama dengannya sampai kelupaan menjemput Andre," ucapku.
"Alhamdulillah, ibu senang sekali mendengarnya, nak. Kapan istrimu itu bisa pulang ke rumah!"
"Aku belum tahu, bu. Dia kan baru saja sadar. Mungkin setelah kondisinya makin baik, dia akan dipindahkan dulu ke ruang rawat inap biasa."
__ADS_1
"Sebenarnya Santi sudah ingin pulang. Tadi dia memaksaku untuk mengantarkannya pulang menemui bayi kembar kami.
"Katakan sama istri kamu kalau bayi kembar kalian baik-baik saja. Ibu akan menjaga mereka sepenuh hati. Ibu juga minta maaf kalau tadi sudah meninggalkan mereka sendirian."
"Nggak apa-apa, bu. Ibu bilang jelaskan sama bu Mina, kalau ibu sedang tidak ada, anak-anak jangan ditinggal sendirian. Kalau dia ingin meninggalkan anak-anak, tunggu ada ibu. Yang penting anak-anak jangan sampai di tinggal berdua saja."
"Iya, nak. Lain kali ibu nggak akan teledor lagi!"
"Sekarang mereka di mana, bu?"
"Mereka sedang minum susu di kamar. Bu Mina di bantu oleh Alya. Alya dan Andre terlihat sayang banget sama adik-adiknya."
"Alhamdulillah, bu."
Aku lalu pergi ke kamar bayi kembarku untuk menengok mereka sebentar setelah itu aku kembali lagi ke rumah sakit.
***
Beberapa hari kemudian, istriku sudah boleh di pindahkan ke ruang ranap biasa. Aku sangat bersyukur, kesehatannya makin menunjukkan kemajuan yang berarti.
"Ini, makan dulu, yank!" titahku sembari menyuapinya.
"Hhmm, kok masih bubur, mas? Kan aku sudah sehat tinggal pemulihan saja."
"Tadi kamu di anterin bubur ini, yank. Besok kita bilang sama dokter, supaya menggantinya dengan nasi biasa, ya. Sekarang kamu makan dulu yang ini." ucapku seraya menyuapkan bubur ke mulutnya.
"Iya, mas. Tanyakan juga apa aku sudah bisa makan makanan dari luar. Rasanya lidahku ingin makan masakan ibu."
"Iya, yank."
Walau tidak berselera, dia tetap menghabiskan makanannya.
"Mas, kasihan Alina dan Annisa."
"Kenapa, yank?"
"Hhmm, ya mau gimana, yank. Keadaan yang membuat mereka nggak bisa merasakan ASI. Semoga mereka tumbuh menjadi anak yang kuat dan sehat!"
"Aamiin! Kangen banget sama mereka!"
"Kamu mau video call lagi, hhmma?"
"Nanti saja, mas. Mereka kan sedang tidur."
"Hhmm. . ."
"Mas, aku mau ke kamar mandi, nih!"
"Ayo!"
Aku lalu menggendong istriku, membawanya ke kamar mandi. Setelah itu aku menggendongnya kembali ke kamar.
"Mas nggak capek?"
"Capek kenapa?"
"Ngurusin aku sakit."
"Hhh, masa cuma gitu capek, yank? Mas dengan senang hati melakukannya untuk kamu! Mas justru capek saat menunggui kamu saat koma. Capek pikiran, stres melihat kondisi kamu. Ada rasa penyesalan juga karena sebelumnya tidak memaksa kamu berobat saat hamil."
"Hhmm, lama banget aku koma ya, mas."
Aku mengangguk.
Sore hari saat aku sudah membersihkan tubuh istriku biar sedikit segar, kami kembali menghubungi putraku Andre untuk melakukan panggilan video.
__ADS_1
"Sayang. . ."
"Lucunya Alina sama Annisa."
"Iya, nak. Bunda besok akan tanyakan lagi sama dokter, kapan bunda boleh pulang."
"Bunda juga kangen sama Alya dan mas Andre!"
"Iya, sayang. Bunda titip adik bayi kamu, ya. Terimakasih sudah menjaga mereka dengan baik."
"Iya, bunda sayang kalian!"
"Sudah dulu ya, nak!"
"Muaahh!"
Panggilan video call di matikan.
"Lucu-lucunya mereka ya, mas. Gemes aku lihat mereka. Ingin cium, peluk mereka!"
"Iya, yank. Lucu dan gemesin sama seperti bundanya!"
"Iiihh, masa aku lucu sih?"
"Buat mas, kamu itu lucu, gemesin jadi ingin peluk dan cium terus."
Wajah istriku langsung merona merah. Aku mendekatkan wajah kami berdua lalu aku mencium bibirnya perlahan. Dia tersenyum malu. Aku bisa merasakan debaran jantungnya yang tak kalah debarannya dengan jantungku.
Dia mengusap lembut wajahku. Aku kembali mencium bibirnya. Dari ciuman biasa hingga menimbulkan hasratku yang sekian lama terpendam.
"Mas kangen banget, yank. Sudah berapa bulan puasa!" bisikku.
"Hhmm, mas. Maafkan aku. . ."
"Kamu juga kangen kan, yank?"
Dia mengangguk sambil tersenyum malu. Wajahnya makin merah saja.
"Mas mau sekarang?" tanyanya yang makin membuat aku gila.
Aku hampir saja lupa diri. Sebelum terlanjur makin dalam, aku langsung berhenti.
"Hhmm, mas? Kenapa?"
Aku menggeleng cepat, "Maafkan mas ya, mas tidak bisa menahan diri."
"Nggak apa-apa, mas!"
"Tunggu di rumah saja, yank!"
"Tapi, mas?" wajahnya terlihat khawatir.
"Mas nggak apa-apa sayang! Masa menunggu beberapa hari lagi mas nggak mampu sedangakan menunggu beberapa bulan saja mas sanggup, kok!"
"Mas sabar, ya. Tunggu aku. Aku janji nanti di rumah akan membuat mas bahagia!" janjinya.
"Mas percaya! Terimakasih, sayang!" aku mencium dahinya penuh kasih sayang.
.
.
.
.
__ADS_1
.
23,5