Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 32


__ADS_3

Aku ingin pulang lebih awal karena takut kedua anakku kemalaman di jalan tapi minimarket sedang ramai-ramainya,aku takut karyawan kewalahan.


Minimarket milik mbak Santi ini memang selalu ramai apalagi jika awal bulan dan akhir pekan,pembeli bisa dua kali lipat. Mungkin karena harga barang-barangnya lebih murah sedikit dari tempat lain tapi yang namanya pembeli,walau hanya beda lima ratus rupiah saja itu sudah membuat senang. Ya kalikan saja jika membeli sepuluh macam barang kan lumayan bisa hemat lima ribu rupiah. Apalagi ada juga harga barang yang sampai selisih dua ribu rupiah dari toko lain.


Aku akhirnya menelpon mbak Santi mengabari kalau aku tidak bisa pulang cepat karena minimarket ramai,antrian pembeli cukup panjang. Walau hanya mengawasi tapi tanggung jawabku besar. Aku tidak ingin minimarket mbak Santi mengalami kerugian karena kelalaianku.


Dan untungnya Andre dan Alya betah di sana. Mereka sore belajar renang di kolam renang samping rumah mbak Santi dan malam ini sedang membantu mbak Santi membuat kue. Aku harap kedua anakku menyukai wanita itu,jika tidak maka aku tidak akan memaksakan diri menikahinya tanpa persetujuan anak-anakku.


Menjelang pukul delapan malam,minimarket masih ada saja yang datang untuk membeli. Aku lihat para karyawan mulai kelelahan.


Mungkin kalau sedang sepi,aku akan belajar cara menggunakan mesin kasir supaya bisa bergantian melayani pembeli. Semenjak bekerja di minimarket mbak Santi,sekalipun aku belum pernah memegang mesin itu.


Pukul delapan lebih,pembeli baru habis karena pembeli sudah tau kalau minimarket akan tutup pukup delapan.


Setelah selesai mengunci pintu,aku gegas kembali ke rumah mbak Santi.


Sampai di sana,Alya langsung berlarian memelukku.


"Ayah. . .!" serunya.


Aku langsung membalas pelukannya, "Iya,sayang. Bagaimana,apa kamu betah di rumah tante Santi?"


Putriku itu langsung mengangguk, "Betah banget,yah! Tante Santi baik banget! Tadi kita bikin rainbow cake,enak banget. Terus belajar renang juga." celotehnya riang.


"Ayah,ayo pulang!" Andre sudah berdiri di sebelah kami.


Aku lalu melepas pelukan Alya. Lalu manatap Andre dan mbak Santi di sebelahnya. Entah mengapa,aku lihat wajahnya berseri-seri.


"Ayo,kita pulang!" sahutku.


"Mas bawa saja mobil saya!" tawar Santi.


"Kita mau naik mobil tante?" tanya Alya dengan senyum semringah.


"Terimakasih,mbak. Kita naik sepeda motor saja," tolakku halus.


"Ini sudah malam banget,mas. Kasihan anak-anak kena angin malam. Jauh juga kan," ucap Santi.


Aku sungguh dilema antara memikirkan kenyamanan dan keselamatan kedua anakku atau rasa gengsiku tentunya jika harus meminjam mobil mbak Santi.


"Tapi?" aku bingung mau menjawab apa.


Mbak Santi langsung menyodorkan kunci mobilnya ke tanganku. Begitu percayanya dia padaku yang belum lama kenal.


"Pakai saja,mas! Kasihan Alya dan Andre,pasti sudah ngantuk juga."


Dengan berat hati aku akhirnya menerima tawaran mbak Santi, "Baiklah,mbak. Saya pinjam mobilnya,besok pagi saya ke sini sekalian jemput mbak ke minimarket!"


Mbak Santi langsung tersenyum, "Iya,mas!"

__ADS_1


"Ayo anak-anak,kita pulang!" ajakku.


"Tiba-tiba bibi membawa kantong plastik besar dari dalam, "Bu,ini ketinggalan!" ucapnya.


"Oh,iya. Kalian hampir lupa membawa ini!" ucap mbak Santi.


"Eh,iya. Hampir saja kita lupa!" celetuk Alya.


"Loh,apa ini?" tanyaku penasaran.


"Rambutan sama alpukat,yah. Tapi alpukatnya masih mentah,ya te?" jelas Alya seraya menatap mbak Santi.


"Iya masih mentah. Tunggu beberapa hari pasti mateng,kok!"


Aku menggelengkan kepala, "Hhmm,maafkan anak-anak saya ya,mbak. Pasti mereka merepotkan sekali!"


"Nggak kok,mas! Mereka anak-anak yang manis!" sahut mbak Santi.


"Kalau begitu kita pulang dulu,mbak!" pamitku lalu memasukkan buah-buahnya ke mobil.


"Ayah,kita duduk di mana?" tanya Andre.


"Terserah kalian saja mau duduk di depan apa belakang!" sahutku.


"Aku di belakang saja,yah. Mau sambil tiduran," ucap Andre.


"Ya sudah,ayo."


"Kalian sudah makan malam,nak? Kalau belum,kita beli di luar." tanyaku pada anak-anakku.


"Kita sudah makan malam tadi di rumah tante Santi. Masakan tante enak banget loh,yah!" sahut Alya.


"Ya sudah,kita langsung pulang,ya!"


"Iya,yah. Aku ngantuk!" sahut Alya.


Saat aku menoleh ke belakang ternyata Andre sudah tertidur pulas.


***


Sejak mbak Santi dan anak-anakku ketemu,mereka jadi sering berkomunikasi lewat handphone sampai kadang rebutan atau langsung ngobrol bertiga.


Di minimarket pun mbak Santi terlihat lebih ceria,dan harus aku akui dia terlihat makin cantik walau tetap dengan polesan make up yang tipis.


"Mas,besok kan minggu. Andre dan Alya ajak ke rumah lagi,ya?" pintanya dengan wajah memohon. Aku jadi makin sulit menolak permintaannya.


"Hhmm,saya tanya mereka dulu ya mbak mau apa enggak," sahutku.


"Saya sudah tanya sama Andre dan Alya,mas. Dan mereka mau."

__ADS_1


Ya memang aku tau kalau anak-anakku pasti mau aku ajak lagi ke rumah mbak Santi. Setiap hari Alya selalu menanyakan kapan lagi main ke rumah tante Santi.


Kalau Andre lebih karena ingin manjat pohon rambutan dan makan langsung di pohonnya. Hampir setiap hari mereka bercerita asiknya di rumah mbak Santi. Yah maklum saja anak-anakku memang kurang liburan.


"Hhmm,baiklah mbak," sahutku kemudian. Dan senyum itu langsung terkembang sempurna. Dia makin terlihat cantik di mataku. Astagfirullah. Aku belum boleh mengaguminya yang belum jadi milikku.


Aku gegas pamit ke gudang. Aku tidak ingin terbawa suasana. Apa aku sudah mulai menyukainya? Entahlah,aku juga masih bingung.


Dan hari minggu pun kembali tiba tanpa terasa. Kedua anakku dari subuh sudah bersiap,bahkan Andre tanpa di suruh mau memasak nasi dan Alya beres-beres kamar sementara aku sedang mencuci pakaian.


"Ayah,aku sudah bikin nasi goreng nih. Pasti enak deh,nanti keburu dingin!" teriak Andre saat aku sedang menjemur pakaian.


"Iya,nak. Sebentar lagi ayah selesai." sahutku.


Saat aku kembali masuk ke kamar,aku di buat kaget oleh anak-anakku. Kamar benar-benar rapi. Nasi goreng plus telur dan kerupuk terhidang di lantai beralaskan tikar. Tidak lupa juga teh hangatnya.


Aku senyum-senyum melihat mereka.


"Anak-anak ayah rajin banget,nih!" pujiku.


"Ayo,ayah cepetan!" seru Alya.


"Sabar,nak. Kenapa sih buru-buru,baru juga jam enam."


"Biar cepat sampai di rumah tante Santi,yah!"


"Memangnya kenapa kalian nggak sabar ke rumah tante Santi? Jangan bilang karena pohon rambutannya,ya? Nanti kalau buahnya habis,kalian nggak mau lagi ke sana. Kan kasihan tante Santi."


"Ayah jadi suaminya tante Santi saja,yah! Biar kita bisa tinggal di sana!" seru Alya.


Aku lalu melirik ke arah Andre. Anak itu diam saja.


"Tapi mas Andre ga mau ayah jadi suaminya tante Santi!" ucapku.


"Mas Andre nggak suka ya tante Santi jadi ibu kita?" Alya menatap ke arah kakaknya.


Andre menggaruk-garuk kepalanya, "Hhmm,aku belum tau!" sahutnya.


Ya,aku sangat mengerti. Mungkin Andre ragu atau mungkin juga sulungku itu masih trauma di tinggal ibunya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


10


__ADS_2