
Semua mahasiswa dan mahasiswi sudah masuk ke kelas. Saat ini waktunya mata kuliah pak Kevin. Entah kenapa Alya merasa deg-degan setiap kali harus bertemu dengan dosennya yang satu itu.
Dia ingat saat resepsi kakaknya Andre. Kevin yang notabene teman lama kakaknya itu tentu saja di undang. Dan mereka bertemu.
FLASH BACK
Alya sedang sibuk membuat video pernikahan kakaknya Andre dengan menggunakan smartphonenya sendiri. Dia fokus sendiri tanpa mempedulikan kiri kanannya.
Saat itu memang Alya ikut di rias oleh MUA bersama bunda dan adik-adiknya. Kecantikannya makin terlihat karena dia yang selama ini tidak pernah menggunakan alat make up selain bedak tipis dan sesekali memakai lipstik.
Saat itu Alya sedang tersenyum sendiri melihat hasil video dan foto yang dia ambil. Dia berniat ke toilet yang tidak jauh dari tempat di langsungkannya resepsi.
"Sempurna!" gumamnya sambil berjalan.
Saat dia hendak membalik badannya ternyata ada Kevin berdiri di belakangnya hingga tak sengaja dia menabrak dosennya itu dan Alya hampir saja terjatuh jika tubuhnya tidak cepat di raih Kevin. Mereka terdiam dengan mata saling bertatapan.
"Hey!" seru Kevin membuat Alya tersentak kaget.
"Pak?"
"Sengaja ya nabrak saya!" ucap Kevin yang terus menatap lekat Alya.
"Hhmm, a-aku nggak sengaja, pak!" ucap Alya dengan wajah memerah karena malu.
"Nggak sengaja? Alasan saja, kamu!"
"Bener, pak. A-aku minta maaf! Lepasin!" ucapnya sembari berusaha berdiri melepaskan pegangan tangan Kevin.
"Saya lepas, ya?" tanya Kevin membuat mata Alya membulat. Gadis itu buru-buru memegang tangan Kevin karena jika Kevin melepaskan pegangannya, Alya pasti terjatuh.
"Loh kok malah pegang-pegang?"
Alya berusaha berdiri tegak sambil berpegangan pada Kevin. Tapi karena terburu-buru, justru Alya terlihat seolah memeluk dosennya itu.
"Wah, jangan di sini!" celetuk seorang bapak yang kebetulan lewat hingga mereka berdua kaget lantas dengan terburu-buru, Alya melepaskan pegangannya dan segera berlalu meninggalkan Kevin. Hampir saja Alya terjatuh kalau tidak berpegangan tangan pada tiang penyangga yang ada di dekatnya.
Alya merasakan wajahnya memerah. Belum lagi menahan malu karena ada beberapa orang yang ada di sana melihat ke arah mereka berdua.
"Alya, kamu ceroboh banget, sih!" gumamnya kesal.
Alya kembali lagi berkumpul dengan adik-adiknya.
"Mbak, dari mana kita cariin loh!" tanya Alina.
"Hhmm, mbak dari toilet, dek!" jawab Alya bohong. Padahal dia belum sempat ke toilet.
Huuhh, gara-gara pak Kevin. Batinnya.
Saat tiba acara foto-foto, Andre mengajak Kevin untuk berfoto dengannya. Karena tidak ada pasangan, Andre memaksa Alya untuk ikut berfoto. Alya sudah menolak tapi Andre terus memaksa. Sedangkan Kevin menatapnya dengan senyuman tipis tapi membuat Alya bergidik.
"Ayolah, dek. Sebentar saja, ya! Masa cuma foto bertiga? Temani dosen kamu ini, ya!" ucap Andre memohon.
Sedangkan Annisa dan Alina mendorong-dorongnya supaya ikut berdiri di sana untuk menemani Kevin berfoto bersama pengantin.
Setelah selesai, Alya buru-buru turun, "Huuhh! Kalian ini!" gerutunya kesal.
"Kalau beneran nggak mau ya nggak usah di paksa. Pura-pura saja ya nggak mau. Hehee!" ucap Kevin dengan senyum menyeringai menakutkan Alya.
Alya buru-buru menghindar. Jantungnya sampai berdetak kencang.
Kenapa sikap pak Kevin saat bertemu mas Andre sangat berbeda ketika sedang di kampus, ya. Aneh. Batin Alya.
__ADS_1
FLASBACK OFF
"Alya!" panggil seseorang yang ternyata Kevin.
Alya buru-buru mendongakkan kepalanya.
"Ayo jelaskan, kok malah melamun!"
Alya menoleh ke kiri kanan bermaksud meminta bantuan temannya tapi mereka justru mengedikkan bahu sembari menggelengkan kepala.
Kevin mendekati Alya, "Lain kali kalau mau melamunkan saya, di rumah saja!" bisik Kevin membuat wajah Alya memerah.
Tak lama kemudian, kelas pak Kevin selesai.
"Alya, kamu nanti menghadap saya!" titah Kevin.
"Haahh?" Alya membuka mulutnya kaget.
Alya menghempaskan tubuhnya di bangku dengan kesal. Kenapa juga pak Kevin minta aku menghadapnya. Kan nggak ada tugas apa-apa. Batin Alya.
***
"Alya, ke kantin, yuk!" ajak temannya.
"Aku mau menemui pak Kevin. Tadi dia minta aku menemuinya!" tolak Alya.
"Hhmm, ya sudah kita tinggal, ya!" ucapnya.
"Ok!" sahut Alya.
Alya pergi ke ruangan Kevin yang ada di lantai tiga. Alya lalu mengambil handphone di dalam tasnya. Dia membuka galeri, melihat-lihat foto. Tak sengaja dia melihat foto Kevin saat berfoto di acara resepsi kakaknya.
"Hhh, ternyata kamu suka memperhatikan foto saya, ya?"
Alya kaget langsung berdiri dan menoleh ke sumber suara.
"Hm, pak Kevin? Sejak kapan di situ?" tanya Alya gugup.
"Sejak kamu bilang pak Kevin tampan juga!" jawab Kevin dengan senyum menyeringai.
"Hmm, a-aku. . ."
Wajah Alya terasa panas. Dia jadi salah tingkah dengan jantung yang bergemuruh.
"Tapi saya tidak berkepribadian ganda!" ucapnya pelan di telinga Alya namun penuh penekanan.
Alya menunduk. Rasanya dia ingin menghilang saja saat ini.
"Ayo masuk ke ruangan saya!" titah Kevin dengan nada tinggi
Duh, gimana nih. Batin Alya bingung. Dia benar-benar takut. Kaki kanannya maju selangkah ke depan, berniat pergi dari sana secepatnya.
"Eeh, mau pergi kemana? Mau saya kosongkan nilai kamu, heehh?"
Mata Alya membulat, "A-aku nggak mau pergi kok, pak. Mau masuk ke ruangan bapak!" ucap Alya bohong.
"Masuk!" titah Kevin lagi.
Dengan menahan gemuruh di dada, Alya melangkah ke ruangan dosennya itu dengan langkah gontai.
"Duduk!"
__ADS_1
Alya pun menurut. Dia duduk dengan wajah tertunduk. Rasa malu, takut, jadi satu.
"Kamu tahu kalau saya ini akan jadi dosen pembimbing kamu!"
"A-apa, pak?" tanya Alya kaget.
Kevin tersenyum menyeringai, "Jadi, kita akan sering bertemu. Dan kamu bebas menatap wajah tampan saya ini!"
Kok bisa-bisanya sih nanti pak Kevin yang jadi dosen pembimbingku. Batin Alya. Membayangkannya saja tubuh Alya terasa bergetar.
"Dan saya tidak ingin ya, nilai kamu jelek!"
"I-iya, pak!" sahut Alya.
"Ok. Saya sudah lihat semua nilai-nilai kamu. Saya harap itu bisa di tingkatkan lagi! Apalagi mata kuliah saya! Kamu paham, kan?"
"Iya, pak!" sahut Alya lagi.
Lagipula nilaiku sudah banyak yang A, kok. Hhh, mimpi apa aku dapat dosen pembimbingnya pak Kevin. Batin Alya.
"Ya sudah, kamu boleh keluar!"
"Baik, pak. Terimakasih!" pamit Alya.
Huuhh, kirain ada apa. Bikin deg-degan saja tuh. Batin Alya. Gadis itu buru-buru pergi dari sana.
Saat Alya hendak ke gerbang kampus, dia bertemu dengan temannya Riri.
"Kamu ada apa-apa ya, sama pak Kevin?" tuduhnya.
"Kamu ngomong apa sih, Ri?"
"Ah, kamu jujur saja lah. Aku tahu, kok!"
"Terserah deh kamu mau ngomong apa!"
Tiba-tiba ada mobil berhenti di dekat mereka. Kaca mobil terbuka.
"Alya!"
Alya langsung menoleh. Pak Kevin.
"Naik!" titahnya.
Alya terlihat bingung antara mau menuruti perintah dosennya itu atau tidak. Kalau menolak, dosennya itu selalu mengancam tidak akan memberikannya nilai tapi kalau tidak menolak, temannya Riri makin membenarkan tuduhannya.
"Alya?"
Hhh, Alya menarik nafasnya berat. Dengan langkah gontai, dia mendekati mobil lalu naik tanpa mau menoleh ke arah Riri yang menatapnya sinis.
.
.
.
.
.
15
__ADS_1