Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 67


__ADS_3

Aku dan istriku sedang bercengkrama di teras rumah ibuku. Hari ini aku tidak kembali lagi ke minimarket. Semua sudah aku serahkan ke karyawan kepercayaan istriku. Dan mbak Melly pun ternyata tidak datang ke minimarket hari ini.


"Kenapa ya mas,mbak Melly nggak ke minimarket?" tanya istriku heran.


"Mas nggak tahu,yank. Mungkin dia ingin libur sehari."


"Tapi kok nggak bilang kemarin? Semoga dia dan Davina baik-baik saja ya,mas!" ucap istriku khawatir.


"Aamiin!" sahutku.


Tiba-tiba istriku menguap lalu menutupi mulutnya dengan tangan.


"Kamu ngantuk,yank?"


Dia mengangguk, "Sedikit,mas. Tapi memang sekarang sering ngantuk!"


"Hhmm,yuk kita tidur di kamar ibu!" ajakku.


"Hhmm,nggak enak,mas. Mungkin ibu mau istirahat," tolak istriku halus.


"Nggak apa-apa,yank. Ibu ngerti kok! Seharian di sini kamu pasti butuh istirahat. Yuk!" ajakku lagi seraya menarik pelan tangannya.


Kami lalu pergi ke kamar ibu,kebetulan ibu masih sibuk di dapur membuatkan makanan untuk anak dan cucunya.


Kami berbaring di tempat tidur ibu yang tidak terlalu besar. Saat aku dan istriku sedang bermesraan berdua di kamar tiba-tiba aku mendengar suara keributan di luar. Suara putraku jelas sekali terdengar.


"Andre kenapa itu,mas?" tanya istriku heran.


"Mas lihat dulu,ya. Kamu di kamar saja!" pamitku kemudian langsung keluar dari kamar ibu.


Baru saja sampai di pintu,aku lihat putriku sedang di gendong seorang wanita dan putraku berusaha menarik tangan adiknya. Dan wanita itu adalah Lisa. Kenapa Lisa sampai harus menggendong Alya yang sudah besar padahal dulu dia sudah tidak mau lagi menggendong putrinya itu. Gegas aku mendekati mereka.


"Ada apa ini?" tanyaku heran.


"Ayah! Ibu maksa mau bawa adek Alya!" sahut putraku.


Aku mengernyitkan dahiku, "Mau di bawa kemana putriku?" tanyaku pada Lisa. Wanita itu menatapku penuh kebencian. Bukankah harusnya aku yang benci sama dia atas apa yang sudah dia lakukan padaku.


"Alya juga putriku. Aku yang mengandung dan mengurusnya!" jawab Lisa ketus.


"Tapi aku yang mendapatkan hak asuhnya sekarang!" tegasku.


"Aku juga masih berhak atas anakku. Nggak ada yang namanya mantan anak dan mantan ibu! Ingat itu!" jawabnya penuh emosi.


"Jadi mau kamu apa?" tanyaku penasaran. Sepertinya dia sengaja mencari gara-gara denganku. Sama seperti suaminya.


"Aku mau anakku!" tegasnya.


"Kamu tanyakan saja apa Alya mau,nggak perlu sampai kamu harus menggendongnya. Dia bukan bayi lagi!"


"Bukan urusanmu!"


"Tentu saja menjadi urusanku. Sudahlah Lisa katakan saja apa mau kamu!"

__ADS_1


"Sudah aku bilang aku mau anakku! Kamu boleh bawa Andre tapi Alya denganku. Itu baru adil!" ucapnya.


"Aku juga mendapatkan hak asuh atas Alya bukan hanya Andre. Dan kamu nggak bisa asal membawanya tanpa ijin dariku!"


"Huuhh,sombong sekali kamu sekarang,mas! Aku nggak akan mau kalah sekarang."


"Alya? Yuk,turun. Putri ayah kan sudah besar masa di gendong," bujukku pada putriku yang tampak bingung dengan pertengkaran kami.


"Alya ikut sama ibu ya,nak. Ibu kangen banget sama Alya!" Lisa pun tak mau kalah membujuk putriku.


"Tapi,bu?" putriku terlihat ragu.


Tiba-tiba Lisa seperti hendak menangis, "Ibu kangen banget sama Alya. Ibu sampai sakit beberapa hari karena ingin ketemu kamu,nak," ucapnya terisak.


Kenapa Lisa sampai bersikap seperti itu. Aku tidak boleh sampai di perdaya olehnya.


"Aku juga kangen sama ibu. Tapi ibu malah punya suami baru. Ninggalin aku sama mas Andre," ucap putriku.


"Ayah kamu juga punya istri baru kan,nak. Kamu masih mau tinggal sama ayah!" protes Lisa.


"Tapi ibu yang duluan punya suami baru dan tinggalin kita semua. Ibu nggak sayang sama aku!" putriku mulai terisak.


"Ibu sayang sama Alya! Itu semua karena ayah kamu yang tidak peduli sama ibu!" ucap Lisa mulai menghasut putriku. Dia pun mulai berakting sedih.


Aku tentu saja kaget mendengar ucapannya. Bisa-bisanya dia bilang kalau aku tidak peduli dengannya.


"Maksud kamu apa,Lisa? Sudah tidak usah bicara yang tidak-tidak. Mau kamu apa?" tegasku.


Aku mulai malas meladeninya tapi aku juga tidak ingin dia membawa putrinya apalagi sampai harus tinggal dengan laki-laki bernama David itu.


Aku menggelengkan kepalaku. Tidak mungkin dia menginginkan putriku tanpa sebab. Aku tahu betul siapa Lisa. Bukankah saat dia selingkuh,dia sama sekali tidak peduli anak-anaknya.


"Nggak usah berpura-pura. Katakan!" tegasku.


"Huhh,makin sombong kamu,mas! Mentang-mentang sekarang punya istri kaya!"


"Nggak ada hubungannya sama istriku!" tegasku.


Tapi tiba-tiba Santi keluar, "Ada apa,mas?" tanyanya heran. Dia terlihat kaget saat melihat Lisa.


"Oh ini istri baru kamu,mas? Istri muda tapi sudah tua!" ejeknya.


Seketika darahku naik. Aku tidak terima dia menghina istriku. Dan aku lihat wajah istriku Santi berubah.


"Jaga ucapan kamu,Lisa!" tegasku.


"Kenapa? Mentang istrinya kaya terus di belain. Huuh,aku tahu kalau kamu mau sama dia hanya karena dia kaya saja,kan!"


Ucapan Lisa makin tidak terkendali. Wanita itu sudah sangat menghina. Tiba-tiba Santi kembali masuk ke rumah.


"Maksud kamu sebenarnya apa,Lisa!?" tanyaku makin emosi.


Dia tersenyum mengejek, "Aku mau bawa Alya. Aku nggak mau putriku tinggal sama ibu tirinya. Alya tahu kan nak,kalau ibu tiri itu jahat?" mulut Lisa makin keterlaluan.

__ADS_1


"Tapi bunda Santi nggak jahat kok,bu," sahut Alya. Aku tersenyum mendengar ucapan putriku.


"Sayang,sekarang saja belum jahat. Apalagi kalau ibu tiri kamu itu punya anak,pasti kamu akan di jahatin!"


"Lisa!" bentakku akhirnya.


"Kenapa? Memang kenyataan!" ucapnya sengit.


"Alya,Andre,ayo masuk ke rumah nenek!" titahku pada kedua anakku.


Andre langsung masuk sementara Alya di tahan oleh Lisa.


"Alya ikut ibu,nak. Ibu takut kamu di jahatin sama ibu tiri!"


"Tapi bunda nggak jahat kok,bu!" sahut Alya lagi.


"Iya belum saja,nak! Yuk ikut ibu!"


"Lisa!" bentakku lagi. Aku benar-benar sudah malas berdebat dengannya tapi aku tidak ingin dia sampai membawa Alya.


"Pokoknya aku mau bawa Alya!" ucapnya lalu menarik putriku keluar pagar.


"Tapi,bu?" Alya terlihat ragu.


"Ayo,nak. Kamu nggak kasihan sama ibu,ya? Ibu kangen banget sama kamu!"


Alya menoleh ke arahku, "Alya masuk dulu,nak!" titahku.


Alya terlihat bingung. Kasihan sekali putirku itu harus mendengarkan pertengkaran orangtuanya seperti ini.


"Aku ikut ibu," ucap Alya tiba-tiba,membuat aku kaget.


Aku lihat Lisa menyungingkan senyum.


"Tapi nak?" aku mendekati putriku.


"Kasihan ibu,yah!"


"Yuk!" Lisa buru-buru menggandeng putriku keluar.


Aku buru-buru menyusul mereka lalu menarik tangan putriku, "Nggak bisa!" tegasku.


"Mas! Alya sudah mau ikut aku,kok!" Lisa menepiskan tanganku kasar.


.


.


.


.


.

__ADS_1


23


__ADS_2