
Tok tok . . .
"Dek ?" panggil Andre seraya mengetuk pintu kamar adiknya Alya.
"Masuk, mas!" sahut Alya dari dalam.
Ceklek. Andre lalu membuka pintu kamar Alya.
Alya sedang sibuk dengan buku-bukunya di atas tempat tidur. Andre lalu duduk di sisi tempat tidur di samping adiknya.
"Kamu ada tugas kuliah, ya?"
Alya menoleh sekilas.
"Iya, mas."
"Mas bisa bantu?"
Alya menggelengkan kepala, "Mas bisa?" Alya balik bertanya.
"Mata kuliah apa?"
"Hukum Tata Negara, mas. Dosennya, Pak Kevin."
"Oh, jadi si Kevin mengajar mata kuliah itu, ya?"
Alya mengangguk, "Iya, mas. Rumit, bikin pusing. Mana pak Kevin pelit bicara lagi."
"Hhmm, pelit bicara gimana?"
"Dia jelasinnya singkat. Kita harus benar-benar fokus kalau nggak, bakalan nggak ngerti. Parahnya kalau dia tanya kita nggak bisa jawab, di suruh ambil jurusan lain saja!"
"Masa sih, dek?"
"Tapi kalau sama mahasiswa dia baik banget. Sama mahasiswi yang pelit. Sama nilai juga pelit!"
"Hhmm, kok gitu, ya?"
"Iya, sampai tersebar gosip kalau dia suka sesama karena dia baiknya cuma sama mahasiswa saja!"
Andre manggut-manggut.
"Dia masih single? Mas sudah berapa tahun nggak tahu kabar dia."
"Sama seperti mas Andre, hihi!" sahut Alya.
"Kamu, ya!" Andre mencubit pipi adiknya itu.
"Mas, iihh! Mas kapan mau kenalin pacar mas ke rumah?"
"Kamu?"
"Kok tanya aku sih, mas?"
"Mas nggak apa-apa kok kalau kamu duluin."
"Paan, sih. Nggak ada omongan lain, apa?"
"Dih, kamu yang mulai. Oh iya, mas mau tanya kenapa si Kevin sampai antar kamu pulang? Kalian nggak ada apa-apa, kan?"
"Iihh mas ini. Sudah aku bilang tadi kalau pak Kevin cuma baik sama mahasiswa. Kalau sama mahasiswi dia dingin seperi frezer, termasuk sama aku!"
"Hhmm, lantas kenapa dia anter kamu pulang!"
"Hhh, pingin tahu saja."
"Dek?"
"Nggak ada apa-apa, mas.Tadi aku kesenggol mobilnya dikit terus jatuh gara-gara nggak fokus jalan sibuk nelpon mas. Mau minta di jemput tapi handphone mas mati!" jelas Alya.
"Oh gitu. Maaf ya, dek. Mas lupa kalau batrenya habis. Tapi kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Andre khawatir.
"Hhmm, aku nggak apa-apa, kok!"
"Ya sudah, mas tinggal dulu. Mas percaya kamu pasti bisa menguasai mata kuliahnya si Kevin!"
"Aamiin!"
***
Andre baru saja keluar dari rumah sakit. Baru saja dia hendak naik ke mobilnya, tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya.
"Dokter?"
Andre menoleh, "Kamu?"
"A-aku bisa minta waktunya sebentar?"
"Hmm? Tapi saya harus ke kampus sekarang," tolak Andre halus.
"Hhmm, boleh bicara di mobil saja?" pintanya seraya menakupkan kedua tangannya di dada.
Hhh, Andre menghela nafasnya berat. Mau membicarakan apa wanita ini? Batin Andre.
"Tolong," ucapnya lagi dengan wajah memohon.
"Hhh, baiklah. Ayo naik!" ajak Andre akhirnya.
Mereka berdua lalu naik ke mobil. Andre melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
"Mau bicara apa?" tanya Andre.
"Aku-aku mau minta tolong."
"Hhmm, saya bisa tolong apa?"
"Jadi pengantin pria untukku!"
Andre langsung mengerem mendadak hingga gadis itu kaget.
"Kamu apa-apaan?" tanya wanita itu kesal dengan dahi berkerut.
"Kamu yang apa-apaan? Permintaan macam apa itu?"
"Ehhmm, aku-aku mau nikah. Tapi tunanganku membatalkan pernikahan kami sepihak. Persiapan pernikahanku sudah tujuh puluh persen. Aku harus gimana?" jelasnya yang mulai terisak.
"Dan semua gara-gara kamu! Kamu harus tanggung jawab!" imbuhnya.
"Kenapa saya harus tanggung jawab?!" Andre terlihat kaget dan bingung.
"Kalau hari itu aku mati, aku nggak akan stres memikirkan ini!" ucapnya sambil tergugu. Wajahnya sudah penuh airmata. Sampai make upnya hampir luntur.
"Hhh, kenapa nggak coba saran aku itu? Kamu coba lagi di kamar kamu sendiri? Saat nggak ada orang. Pasti nggak akan ada yang menggagalkannya, kan?" ucap Andre kesal.
"Kamu? Kamu jahat! Ok. Kenapa nggak kamu tabrak saja aku!"
"Dasar wanita aneh!" gerutu Andre.
"Bukannya kamu yang aneh? Suruh aku melakukannya di kamarku?"
"Kamu memang ingin mati, kan? Kalau aku nggak ingin jadi pembunuh. Jadi jangan menyusahkan orang lain!"
"Kamu! Ok. Aku nggak akan nyusahin kamu!" ucap wanita itu sembari membuka pintu mobil lalu turun.
Dia berlari ke jalan dan berdiri di tengah jalan raya yang banyak kendaraan melaju dengan kecepatan di atas rata-rata.
"Huuhh, dasar wanita gila!" gerutu Andre lalu gegas turun dari mobil.
Andre menghampiri wanita itu lantas menariknya ke pinggir jalan dengan susah payah karena wanita itu sedikit memberontak.
"Lepasin aku!" ucapnya sembari menepiskan tangan Andre.
"Jangan gila, kamu!" ucap Andre kesal.
"Ada apa ini?" tanya ibu-ibu yang mendekati mereka bahkan ada beberapa orang yang menghampiri mereka.
"Kamu apakan wanita ini?" tuduh ibu-ibu separuh baya.
"Dia nggak mau tanggung jawab. Lebih baik aku mati saja!" wanita itu memulai dramanya sembari mengusap airmata.
"Oohh. . . ."
"Nggak-nggak, bu. Itu nggak seperti yang ibu pikirkan!" ucap Andre yang mulai panik dan kesal.
"Kamu sebagai laki-laki harus bisa bertanggung jawab! Kamu punya ibu, nggak? Punya adik perempuan, nggak?"
Semua perkataan orang-orang di sana membuat Andre pusing.
Gawat, sebentar lagi kuliahku di mulai. Bagaimana ini? Batin Andre.
"Loh kok malah bengong?"
Haduh, kalau ke kantor polisi bisa-bisa aku nggak bisa ikut kuliah hari ini. Mana satu jam lagi di mulai. Kanaya! Andre menatap tajam ke arah wanita itu yang masih terus menangis.
"Ok! Kita permisi dulu, ibu-ibu, bapak-bapak!" pamit Andre sembari menarik tangan Kanaya lalu membawanya ke mobil.
"Puas kamu, heh?" ucap Andre kesal saat mereka sudah naik ke mobil. Andre melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Jadi kapan menemui keluargaku?" tanya Kanaya.
"Dalam mimpi!" jawab Andre masih kesal.
Mata Kanaya membulat, "Apa? Jadi kamu tadi bohongi aku?"
"Bohong apa? Aku nggak bilang apa-apa kan, tadi?"
"Kamu?!" Kanaya mulai menangis lagi.
"Hhh, dasar wanita. Selalu saja memakai jurus seperti itu."
"Berhenti. Aku mau turun!" teriak Kanaya.
"Mau turun? Alhamdulillah!" ucap Andre lega lalu berhenti di sisi jalan.
"Kamu nggak punya hati. Dasar semua laki-laki sama saja! Baiklah, aku akan melakukan itu di kamarku sendiri! Puas kamu!"
Setelah mengatakan itu, Kanaya lalu membuka pintu mobil. Wanita itu benar-benar turun dari mobil Andre.
"Terimakasih sarannya," ucapnya lirih sebelum menutup pintu mobil. Terlihat jelas dari sorot matanya luka mendalam.
Wanita itu melangkah gontai tanpa mau menoleh ke kiri ataupun ke kanan. Entah apa yang ada dalam pikirannya.
Andre melajukan mobilnya melewati wanita itu. Entah tiba-tiba dia merasa takut. Takut wanita itu akan menuruti saran darinya.
"Huuhh, ada-ada saja!"
Sampai di dekat Kanaya, Andre menghentikan laju mobilnya di dekat wanita itu lalu membuka pintu mobilnya.
"Masuk!" titahnya pada Kanaya.
__ADS_1
Wanita muda itu menoleh. Tatapannya sendu. Lalu dia berbelok hendak melanjutkan langkah kakinya.
"Hey!" teriak Andre yang tidak di gubris oleh Kanaya.
Gegas Andre turun dari mobil, meraih tangan wanita itu lalu membawanya ke mobil, "Ikut saya," ucap Andre pelan.
Kanaya hanya menurut saja tanpa berkata apa-apa. Wajahnya masih basah oleh sisa air mata.
Dan dalam diam, Andre melajukan mobilnya ke arah kampus tempat dia melanjutkan kuliahnya.
Sampai di kampus, Andre lalu memarkirkan mobilnya. "Kamu mau nunggu di mobil apa di kantin? Atau ikut saya?" tanya Andre.
"Di mobil," jawab Kanaya lirih.
"Hmm, baiklah. Saya ada kuliah sekarang. Tunggu di mobil jangan kemana-mana, ok?"
Kanaya hanya mengangguk tanpa mau menoleh. Andre gegas turun dari mobil lalu setengah berlari menuju kelasnya.
Pukul delapan. Dua jam kemudian Andre keluar dari kelas.
"Dre, ikut kita jalan, yuk!" ajak Soni, teman Andre.
"Maaf, aku capek lagipula aku masih ada urusan," tolak Andre halus.
"Yah, payah kamu!"
"Lain kali saja, ok?"
"Kita tunggu, loh!"
"Sip. Aku pulang dulu!" pamit Andre yang bergegas ke parkiran.
Dari jauh dia melihat mobilnya masih ada di sana. Dan saat Andre membuka pintu mobil, ternyata Kanaya sedang tidur.
"Huuhh, dasar. Baru jam segini sudah tidur!" gerutu Andre.
Andre mulai menghidupkan mesin mobilnya. Mobil melaju membelah malam.
Kanaya menggerakkan tubuhnya perlahan. Matanya bergerak-gerak.
"Enak tidurnya?" tanya Andre ketus.
"Ehmm. Kamu sudah selesai kuliahnya?"
"Sudah dari tadi!"
"Oohh."
"Saya antar kemana?"
"Kamu mau jadi pengantin priaku?" tanya Kania dengan senyum semringah dan mata berbinar.
"Eehh, aku hanya mau antar kamu pulang!"
"Hhh, jadi aku di suruh nungguin kamu kuliah cuma buat di anterin pulang? Bukan jadi pengantin priaku?"
"Hehh, ada ya wanita seperti kamu? Maksain laki-laki asing untuk menikahimu?"
"Biarin! Daripada aku malu?"
"Cari yang lain saja!"
"Aku akan beri kamu imbalan. Dan aku janji setelah beberapa bulan kita menikah, kamu boleh ceraikan aku! Kamu juga nggak perlu sentuh aku!"
"Kamu pikir menikah itu buat main-main?"
"Jadi kamu benar-benar nggak mau?" tanya Kanaya yang mulai terisak lagi.
"Hhh, kamu kenapa sih cengeng banget! Nggak usah pedulikan omongan orang. Daripada kamu tahu kebohongan calon kamu setelah menikah lebih baik kamu tahu sekarang, kan?"
"Tolong berhenti."
"Mau kemana? Saya antar saja kamu pulang!"
"Nggak usah pedulikan aku. Turunkan saja aku di sini," pintanya dengan suara bergetar.
"Hhh, kamu itu bukan tipeku!"
"I-iya, aku tahu. Jadi turunkan saja aku."
"Hhh, kamu nggak ingin tahu bagaimana tipeku?"
"Aku nggak peduli! Turunkan aku sekarang!" teriaknya dengan air mata yang terus mengalir membuat Andre kaget.
"Kamu?"
"Berhenti aku bilang!" Kanaya terlihat seperti orang yang sedang depresi.
Hhh, kenapa aku harus bertemu dengan wanita seperti dia. Dia memang cantik tapi aku tidak mencari wanita cantik untuk aku jadikan pendamping. Aku ingin yang seperti bunda. Aku juga belum mengenalnya dan yang pasti aku tidak ingin mempermainkan pernikahan.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
19