
Dua hari kemudian setelah aku mengantar istri dan anakku pulang ke rumah,mbak Melly datang ke minimarket. Seorang karyawan mengantarkannya ke kantor. Wanita itu hanya diam berdiri di depan pintu saat tahu hanya aku sendirian di dalam kantor.
"Hhmm,jadi mbak Santi nggak ada?" tanyanya gugup tanpa mau menatapku.
"Iya,dia biasanya siang pulang menemani kedua anakku di rumah!" sahutku.
"Hhmm,saya. . ." dia kelihatan bingung. Entah apa yang di pikirkannya.
"Mbak jadi mau kerja di sini?" tanyaku.
"I-iya,mas. Saya masih boleh kerja di sini?"
"Tentu saja! Ayo,saya antar ke gudang. Nanti sore ada barang masuk,mbak bisa mulai kerja hari di gudang!" jelasku.
Sampai di gudang aku lalu mengenalkan mbak Melly pada karyawan bagian gudang yang laki-laki semua. Sebenarnya aku ragu menempatkannya di gudang. Tapi semoga dua karyawanku itu bisa menjaga dan bersikap sopan pada mbak Melly.
"Nanti tugas mbak hanya mencatat dan mengecek barang saja setiap hari. Nggak usah angkat-angkat barang yang berat. Kalau di gudang nggak ada pekerjaan,mbak bisa ke minimarket untuk mencatat barang-barang di etalase apa saja yang sudah habis!" jelasku lagi.
"Iya,mas," jawabnya masih sambil menunduk.
Dia mulai mencatat barang-barang di gudang seperti yang biasa aku lakukan. Dia terlihat salah tingkah saat aku masih berdiri di dekatnya.
"Hhmm,saya tinggal ya mbak. Kalau ada yang mbak nggak ngerti,mbak bisa tanya sama yang lain!" pamitku yang langsung keluar dari gudang.
Aku lalu kembali ke kantor,duduk di depan komputer. Alhamdulillah berkat istriku,aku makin lancar mengoperasikan komputer. Aku tersenyum menatap layar. Tertera pemasukan minimarket yang meningkat setiap hari.
Menjelang sore,aku menemui mbak Melly di gudang. Wanita itu baru saja selesai mencatat barang-barang yang tadi masuk.
"Mbak," panggilku.
Wanita itu menoleh, "I-iya,mas. Eh,pak!"
"Hhmm,kamu mau pulang jam berapa?"
"Kemarin mbak Santi bilang kalau kerja dari siang,pulangnya saat minimarket tutup," jawabnya.
"Hhmm,nanti kalau pekerjaan kamu selesai,kamu boleh pulang nggak perlu menunggu minimarket tutup!" jelasku.
"Hhmm,baiklah,pak!" ucapnya seraya mengangguk.
Aku lalu kembali ke kantor.
Setelah maghrib,ada yang mengetuk pintu daat aku baru saja pulang dari masjid.
Tok tok tok
"Assalammu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam!" sahutku.
Wanita itu membuka pintu dan hanya berdiri saja di sana.
"Silahkan masuk!" titahku.
Dia terlihat bingung, "Hhmm,maaf pak. Apa saya boleh pulang?" tanyanya.
Aku lihat jam sudah menunjukkan pukul enam lebih, "Kamu pulang naik apa?"
"Hhmm,saya jalan kaki,pak!" sahutnya yang membuat aku kaget.
"Jalan kaki? Kenapa nggak naik angkot atau ojek?"
__ADS_1
Dia terlihat salah tingkah lalu menundukkan kepalanya, "Sa-saya. . ."
"Apa mau saya antar?" tawarku.
Dia mendongak, "Ng-nggak perlu,pak. Saya biasa jalan kaki!"
"Hhmm,saya antar saja sudah malam. Lagipula rumah kamu cukup jauh dari sini!"
"Hhmm,tapi pak?"
"Nggak apa-apa. Ayo!" ajakku yang langsung menyambar kunci motor yang aku taruh di meja.
Aku lalu keluar dari kantor,mbak Melly mengikutiku dari belakang.
Aku sudah naik ke atas motor tapi mbak Melly terlihat ragu.
"Ayo,mbak. Nggak apa-apa,kok!" ucapku meyakinkan.
Akhirnya dia mau naik ke boncengan tapi duduk sedikit menjauh.
Aku melajukan sepeda motor dengan perlahan supaya dia tidak jatuh. Setengah jam kemudian kami sampai di rumahnya. Dari luar terdengar suara anaknya sedang menangis.
"Davina. . ." gumamnya.
"Kenapa dia menangis?" tanyaku.
"Hhmm,mungkin nyariin saya,pak. Dia memang nggak biasa jauh dari saya!" jawabnya lalu buru-buru turun dari motor.
"Hhmm,"
"Oh ya,terimakasih sudah mau mengantarkan saya pulang. Saya masuk dulu,pak!" pamitnya yang segera berlalu dari hadapanku.
***
"Mbak Santi jadi kerja di minimarker mulai tadi siang,yank!" jelasku saat kami baru saja masuk kamar hendak tidur.
Dahinya berkerut, "Kok siang,mas. Jadi dia pulang jam berapa?"
"Dia datangnya siang saat mas habis anter kalian pulang. Mas suruh dia pulang habis maghrib."
"Hhmm,dia nggak hubungi aku kalau jadi kerja."
"Mas juga kaget saat dia datang. Dia juga nanyain kamu. Mas bilang kalau kamu siang pulang ke rumah menemani anak-anak."
"Hhmm,ya sudah kalau dia mau kerja."
Kami lalu naik ke tempat tidur,menarik selimut. Hujan baru saja turun satu jam yang lalu.
"Mas,besok anter aku ke dokter,ya!" pinta istriku.
"Kenapa ke dokter,yank? Kepala kamu sakit?" tanyaku khawatir sambil menatapnya lekat-lekat.
"Hhmm,nggak kok,mas. Aku hanya konsultasi saja!" jelasnya.
"Kalau ada apa-apa kamu bilang mas ya!"
Istriku mengangguk, "Iya,mas!"
"Hmm,yank. Kamu sudah mau tidur?" tanyaku lalu membawanya dalam pelukan.
"Ya ini kita mau tidur,kan."
__ADS_1
"Mas belum ngantuk,yank!"
Dia menatapku aneh tapi tidak berkomentar apa-apa. Aku mulai menciumi seluruh wajahnya.
"Hhmm,mas," ucapnya lirih.
Aku makin larut. Hasratku muncul dan aku menginginkannya. Istriku hanya menurut saja. Sepertinya dia juga menginginkannya. Malam ini pun terasa panjang untuk kami berdua di iringi derasnya hujan di luar menambah hasratku hingga berkali-kali.
Hampir satu jam kami bertukar keringat hingga aku merasa kelelahan dan ngantuk barulah kami berhenti. Aku tetap memeluknya sampai pagi kami terbangun dan aku pun menginginkannya lagi.
"Maaf ya sayang. Hasrat mas sangat tinggi," bisikku lembut saat kami baru selesai melakukannya walau hanya sebentar.
Dia tersenyum bahagia seraya menatapku mesra. Dia lalu mengusap lembut wajahku, "Aku bahagia,mas. Aku ingin mas seperti ini terus denganku!"
"Kalau terus,mas nggak bisa kerja,yank!" godaku.
Dia tertawa, "Ya bukan terus-terusan sampai nggak kerja juga,mas iihh!" Dia menyembunyikan wajahnya di dadaku, "Aku bahagia mas selalu berhasrat denganku. Aku akan memberikan yang terbaik untuk mas," ucapnya lirih.
"Terimakasih,sayang," sahutku.
"Hhmm,mas. Mandi,yuk!" ajaknya seraya menatapku.
"Lanjut di kamar mandi?"
"Iihh,mandi sendiri!" ucapnya sambil mencubitku.
"Yank,kamu KDRT!" jeritku.
Dia tertawa, "Haha,masa gitu KDRT!"
"Sakit,yank!"
"Hhmm,mas sih!"
"Ayo!" ajakku lalu duduk dan hendak menggendongnya.
"Mas,lihat sudah jam empat lebih,loh! Nanti kita kesiangan! Aku harus membuat sarapan!"
"Sebentar saja,yank! Kan sudah lama nggak."
"Hhmm,masa sih sudah lama? Baru dua hari lalu,deh. Nggak yakin juga mas bisa sebentar."
"Lagipula nggak ngapa-ngapain kok,yank. Hanya mandi saja!"
"Hhhmm,hanya mandi saja enggak yakin aku!"
Aku tersenyum menyeringai dan istriku hanya menggelengkan kepalanya.
Kami kembali olahraga pagi di kamar mandi.
.
.
.
.
.
07
__ADS_1