Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 137


__ADS_3

Andre mendengarkan suara adzan. Dia ingin membuka matanya tapi terasa berat. Mungkin karena semalam dia tidur sudah larut malam hingga saat ini matanya masih begitu susah untuk di buka.


Suara adzan terus menggelitik telinganya. Tapi matanya masih terasa berat. Astagfirullah. Batinnya.


"Andre, ayo bangun!" gumamnya.


Dia lantas menoleh ke samping. Istrinya masih tidur dengan nyenyak. Dia amati wajah istrinya lalu mengusapnya lembut. Dia kembali teringat semalam lantas tersenyum.


Andre mengusap lembut wajah istrinya itu lantas dengan perlahan turun dari tempat tidur menuju kamar mandi.


Lima belas menit kemudian dia keluar dari kamar mandi. Aroma sabun segar menyeruak ke dalam kamar. Saat dia menoleh ke atas tempat tidur, ternyata istrinya itu sudah terbangun.


"Kamu sudah bangun sayang?"


Yang di ajak bicara tersenyum lalu mengangguk.


"Mandi, kita jamaah yuk. Mumpung belum jam lima!"


"Iya, mas!" jawab Kanaya.


Dia sedikit menggeser tubuhnya ke sisi tempat tidur.


"Aah!" jeritnya tertahan dengan dahi berkerut.


Andre gegas menghampirinya, "Ada apa, sayang?" tanya Andre cemas.


Kanaya menggelengkan kepalanya, "Ehm, nggak apa-apa, mas!" ucapnya lirih lantas hendak berdiri ke kamar mandi namun tiba-tiba rasa nyerinya bertambah. Dia memejamkan matanya sambil mengernyitkan dahi.


"Kamu kenapa, sayang? Ada yang sakit, hmm?" tanya Andre bingung.


Kanaya mengangguk ragu.


"Apa yang sakit, hmm?" tanya Andre lembut.


Wajah Kanaya memerah, "Hhhmm, sa-sakit kalau bergerak, mas!" ucapnya dengan tangan menyentuh ke bawah yang ada di balik selimut.


Andre reflek menoleh, "Ya ampun, maaf sayang mas baru ngerti. Sakit banget, hmm?"


Kanaya mengangguk pelan.


"Mas gendong ke kamar mandi, ya!" ucap Andre yang tanpa menunggu jawaban dari istrinya langsung saja menggendong istrinya lantas membawanya ke kamar mandi.


"Hhmm, mas!"


Sampai di kamar mandi, Andre menurunkan istrinya di dekat bathup, "Kamu mandi pakai shower saja, ya. Biar cepet kan mau jamaah sama mas!"


"Hhmm, iya mas."


"Ya sudah mas tinggal, ya. Selimutnya mas bawa keluar!"


"Hhmm, jangan, mas! Biar aku saja!" tolak Kanaya cepat sembari menahan selimutnya.


Andre tersenyum, "Ya sudah mas keluar, ya! Jangan lama-lama mandinya yang penting saja!"


Andre lantas keluar dari kamar mandi.


"Duh, kok sakit banget, ya," keluh Kanaya seraya mengernyitkan dahinya.


Hanya lima belas menit dia sudah selesai mandi karena suaminya sudah menunggu untuk berjamaah. Padahal rasanya dia ingin berendam di bathup dengan air hangat. Mungkin bisa sedikit mengurasi rasa nyerinya.


Kanaya keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk kimono. Andre sudah siap di atas sajadahnya. Kanaya lantas buru-buru memakai pakaiannya dan menyiapkan alat sholatnya. Mereka pun sholat subuh berjamaah.


Setelah selesai berjamaah, Kanaya lalu mencium punggung tangan suaminya dan Andre membalas dengan mencium dahi istrinya.


Tanpa melepaskan alat sholatnya, Andre menggendong istrinya lantas membawanya ke atas tempat tidur. Mereka berdua sama-sama duduk di sisi tempat tidur, saling berhadap-hadapan dengan mata saling bertatapan dengan mesra.


Wajah Kanaya bersemu merah. Dia juga merasakan jantungnya yang mulai berdetak tidak beraturan.

__ADS_1


Andre lalu mendekatkan wajah mereka berdua. Memegang dagu istrinya kemudian mencium sekilas bibirnya. Andre lantas membantu istrinya melepaskan alat sholat yang masih dia kenakan, menyimpannya di atas nakas.


Andre kembali mencium bibir istrinya sembari berbisik, "Mas mau. . ."


Kanaya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum malu.


Dengan debaran jantung yang sama, Andre mulai melepaskan satu persatu pakaiannya dan juga pakaian istrinya.


Dengan mata terpejam, Kanaya mulai merasakan sentuhan-sentuhan kecil dari suaminya yang mampu membuatnya terbuai.


Setelah mengucapkan doa, Andre pun mulai memberikan nafkah batin untuk istrinya itu. Selama lebih setengah jam, mereka memadu kasih. Meluapkan hasrat hingga sama-sama meraih surganya dunia.


"Terimakasih, sayang!" bisik Andre mesra dengan tangan yang melingkar di atas perut rata istrinya.


Kanaya tersenyum lalu mengangguk.


"Semoga akan menghasilkan keturunan yang baik untuk kita! Aamiin!"


"Aamiin!" sahut Kanaya.


Mereka masih tidur dengan saling berpelukan. Rasanya masih enggan untuk bangun.


"Mas. . ." panggil Kanaya lembut.


"Hhmm, kenapa sayang?"


"Mas hari ini kerja?"


"Kenapa memangnya, hmm?"


Kanaya menoleh lantas menatap suaminya yang sedang menatap ke arahnya.


"Mas kan sudah janji!"


"Janji? Janji apa?"


"Iihh, masa lupa sih?" ucap Kanaya sebal.


"Kalau mas nggak kerja, mas mau di kasih apa seharian ini, hmm?" tanya Andre dengan tatapan menggoda.


Kanaya bersemu merah, "Mas mau minta apa?"


"Apa, ya?" Andre masih pura-pura tidak tahu.


"Hhm, mas ini!"


"Mandi dulu, yuk!" ajak Andre.


"Hhmm, mas saja mandi duluan nggak apa-apa!" sahut Kanaya.


"Mas mau sama kamu, kok!"


"A-apa, mas?"


Andre langsung menyibak selimut yang menutupi mereka dan dengan gerakan cepat langsung menggendong istrinya. Membawa istrinya itu ke kamar mandi.


Sampai di kamar mandi, Andre memasukkan istrinya ke dalam bathup.


"Aakkhh, mas!" Kanaya menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya lalu menundukkan kepala tak berani menatap suaminya.


Andre mengisi bathup dengan air hangat. Menuangkan sabun dan aroma terapi ke dalamnya. Setelah itu Andre menyusul istrinya masuk ke dalam bathup.


Andre duduk di belakang istrinya, memeluknya dari belakang. Mereka pun mandi dengan romantis. Sesekali terdengar teriakan kecil dari bibir Kanaya.


Karena asiknya berdua, mereka tidak menyadari jam berlalu begitu cepat. Ketukan asisten rumah tangganya di pintu kamar sampai tidak terdengar oleh mereka.


Setelah hampir satu jam, mereka keluar dari kamar mandi dengan Kanaya dalam gendongan suaminya. Mata mereka saling memandang dengan mesra. Sembari tangan Kanaya mengusap-usap lembut air yang masih menetes di dada bidang suaminya.

__ADS_1


"Sayang. . ." panggil Andre lembut.


"Ke-kenapa, mas?" sahut Kanaya.


"Kamu mau menggoda mas lagi, hmm?"


Dahi Kanaya berkerut, "Ma-maksud mas?"


"Jangan bangunkan lagi dengan tanganmu. Nanti mas nggak akan biarkan kamu turun dari tempat tidur!"


Mulut Kanaya terbuka, "Haah. . ."


"Jangan salahkan mas, ya! Kalau gara-gara tangan kamu, mas akan membuatmu kesulitan berjalan!"


Kanaya buru-buru menyingkirkan tangannya dari dada suaminya. Dia lalu menyembunyikan wajahnya di leher suaminya.


"Pakai pakaian dulu!" titah Andre setelah menurunkan istrinya di depan lemari pakaian.


"Hhmm,"


Kanaya membuka lemari pakaiannya lalu memilih pakaian yang dia suka sambil mengambil pakaian untuk suaminya juga.


"Mas pakai ini, mau?" tanyanya seraya menyodorkan pakaian untuk suaminya.


Andre mengangguk setuju, kemudian memakai pakaiannya.


"Mas laper, nih. Kita makan sekarang yuk sayang!"


"Iya, mas. Mungkin mami dan kak Kalla sudah menunggu di meja makan. Ada papi juga baru pulang dari Singapura semalam."


"Oh, papi kamu sudah pulang dari Singapura, ya."


"Papi kita, mas!"


"Iya, papi kita."


"Yuk mas. Aku juga sudah laper banget. Lemes juga."


"Masih sakit nggak itu?" tanya Andre.


"Hhmm, sa-sakit dikit, mas!" jawab Kanaya malu.


"Jangan sampai kamu kesakitan saat berjalan. Nanti papi bisa melarang mas melakukannya lagi!"


"Iiihh, masa iya papi larang?"


"Ya mungkin saja. Dia nggak ingin putri kesayangannya sakit. Jadi kita di larang. . ." goda Andre.


"Mas iihh! Masa papi sampai gitu?" sebal Kanaya.


"Heheee. . ." ucap Andre seraya mencubit mesra hidung istrinya.


.


.


.


.


Maaf masih banyak typo bertebaran 😊🙏


.


.


.

__ADS_1


.


13


__ADS_2