Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 88


__ADS_3

Waktunya membawa Alya terapi. Dokter sudah merekomendasikan seorang dokter rehab medik untuk putriku. Aku membawa putriku untuk konsultasi ke dokter rehab medik di temani ibuku.


Aku mengantarkan Andre terlebih dahulu ke sekolah sekaligus aku meminta ijin pada pihak sekolah kalau Alya mau kontrol ke dokter.


Setelah mendaftarkan Alya, kami pergi ke poli rehab medik.


Kami sudah mengantri selama hampir dua jam di poli rehab medik yang pasiennya cukup banyak. Dari pasien kecelakaan seperti putriku sampai pasien yang memang mempunyai penyakit dari bayi yang mengharuskan mereka untuk sering melakukan terapi hingga konsultasi ke dokter rehab medik setiap beberapa bulan sekali.


"Yah, kok lama banget?" keluh putriku yang seperti sudah mengantuk di kursi rodanya.


Aku mengusap lembut kepalanya, "Sabar ya, nak. Coba Alya lihat adik kecil itu. Dia datang lebih dulu daripada kita dan belum juga di panggil tapi dia nggak rewel, kan?" tunjukku ke arah seorang anak perempuan mungkin usianya baru tiga tahunan.


Gadis kecil itu sedang dalam gendongan ibunya. Entah apa yang menjadi penyebabnya hingga gadis kecil itu belum bisa berjalan padahal dia terlihat sehat dan segar. Tertawa dan bercanda dengan ibunya.


Ada hampir separuh pasien di sini yang berusia balita. Sementara di ruangan sebelah yang merupakan tempat untuk terapi, lebih banyak lagi anak-anak usia balita di sana. Tapi kebanyakan mereka datang bersama kedua orangtuanya tapi ada juga yang datang hanya berdua dengan ibunya.


Nama putriku akhirnya di panggil setelah jam menunjukkan pukul sepuluh. Kami lalu menghadap ke dokter rehab medik. Seorang dokter wanita yang masih terlihat muda. Dokter itu bernama dokter Maya Susanti.


"Hallo, Alya Anggita ya namanya?" tanya dokter Maya dengan ramah seraya mengulurkan tangannya padaku, ibu, dan juga Alya.


"Iya, dokter," jawab putriku.


"Pasien baru, ya?" tanya dokter lagi.


"Iya, dok."


"Hhmm, sebentar saya baca dulu riwayat sakitnya, ya!" jelas dokter lalu membaca-baca buku data pasien milik Alya.


Dokter lalu memeriksa kaki Alya dengan seksama. Setelah itu mencatat sesuatu di buku data pasien.


"Baiklah, ini hanya butuh keberanian Alya saja untuk memulai terapi. Nanti terapisnya akan membantu Alya berdiri dan berjalan. Jika Alya giat berlatih juga di rumah seperti yang di ajarkan oleh terapisnya maka tidak akan butuh waktu lama untuk Alya kembali bisa berjalan. Dan Alya juga harus makan yang cukup dan bergizi untuk proses penyembuhan dari dalam!" jelas dokter.


"Aku makannya banyak kok, dok!" sahut putriku.


Dokter Maya tersenyum, "Itu bagus sekali, Alya! Sekarang Alya silahkan menunggu di ruang terapi. Dan untuk selanjutnya, Alya langsung saja mengantri di ruang terapi nggak perlu ke dokter lagi. Nanti setelah menjalani terapi sebanyak delapan kali baru Alya kembali lagi ke dokter, ya! Biar dokter periksa perkembangannya!" jelas dokter Maya lagi.


"Baik, dokter! Terapinya setiap hari ya, dok?" tanyaku.


"Oh tidak, pak. Terapinya cukup dua kali dalam seminggu saja!" jelas dokter Maya.


"Baiklah. Terimakasih, dokter!" ucapku.


Kami lalu berpamitan.


Memasuki ruang terapi, kembali kami harus mengantri. Wajah putriku kembali murung saat melihat antrian pasien yang cukup banyak. Pasiennya rata-rata anak balita yang memang membutuhkan terapi yang lama. Bahkan aku mendengar obrolan ibuku dengan seorang ibu-ibu yang mungkin seumuran denganku kalau buah hatinya sudah hampir dua tahun di terapi di rumah sakit ini.


Sebenarnya ada tempat-tempat terapi berbayar yang pasiennya tidak akan mengantri seperti di rumah sakit tapi mungkin karena terbatas biaya dan juga jenis terapi yang harus di jalani tak cukup dua macam jadi kebanyakan mereka memilih terapi di rumah sakit. Benar-benar harus memiliki kesabaran.


Putriku yang awalnya terlihat sedih akan kondisi tubuhnya, sekarang justru memandang iba pada anak-anak kecil di sana.


"Kasihan ya, yah. Masa hampir dua tahun di terapi belum sembuh juga?" ucap Alya sedih.

__ADS_1


"Iya, nak. Tapi lihatlah mereka, wajah mereka nggak ada yang murung kan? Paling mereka terlihat ngantuk saja karena terlalu lama mengantri. Jadi Alya jangan mau kalah sama adik-adik itu! Harus bersemangat!"


Hhh, Alya menarik nafas dalam. Sepertinya putriku mulai menemukan semangatnya.


"Iya, yah! Masa aku kalah sama adik-adik kecil itu."


"Itu baru namanya anak hebat!"


Putriku tersenyum, "Lebih hebat mereka, yah. Mereka masih sangat kecil. Yang itu saja masih berumur satu tahun, kan. Tadi mamanya cerita sama nenek."


"Iya, sayang. Semua anak-anak di sini hebat!"


Mengantri selama hampir satu jam, Alya pun di panggil.


Ada tiga orang terapis di dalam ruangan. Putriku di tangani oleh seorang terapis wanita yang terlihat masih muda. Aku di minta menunggu di luar. Awalnya putriku keberatan tapi melihat anak lain yang juga tidak di temani orangtuanya, akhirnya putriku itu mau aku tinggal.


Selama setengah jam menunggu, aku di minta masuk. Ternyata sesi terapi putriku sudah selesai. Putriku terlihat tersenyum. Aku lalu membawanya keluar.


"Bagaimana terapinya, nak? Nggak sakit, kan?" tanyaku penasaran.


"Nggak sakit kok, yah. Cuma aku takut jatuh tadi."


"Kan mbak terapisnya sudah berpengalaman jadi Alya nggak mungkin sampai jatuh!"


"Iya, yah!"


"Alya pasti capek, ya! Kita langsung pulang atau Alya mau mampir kemana dulu?"


"Iya, sayang!"


Kami lalu pergi ke parkiran. Aku pun mulai menyalakan mesin mobil dan segera meninggalkan rumah sakit.


"Kapan Alya terapi lagi, nak?" tanya ibu.


"Lusa saja, ya? Kan bebas harinya yang penting dua kali dalam seminggu. Tapi terserah Alya saja maunya kapan."


"Hhmm, kalau aku ada tugas sekolah, aku nggak terapi ya, yah!" sahut putriku.


"Iya, nak!"


Jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Aku ingat harus menjemput putraku Andre.


"Kita sekalian jemput mas Andre dulu ya, nak. Sebentar lagi mas Andre pulang!" ucapku lantas melajukan mobil ke sekolahan Andre.


"Sudah siang banget ya, yah. Lama banget kita di rumah sakit tadi," sahut putriku.


"Iya, nak. Tapi selanjutnya kita hanya akan mengantri di ruang terapi saja nggak perlu lagi ke dokter rehab medik, kan. Jadi nggak akan selama ini!"


"Hhmm, iya yah. Aku haus, yah!"


"Ini, nenek sudah siap air minum. Nenek juga bawa roti. Alya mau?" sahut ibuku.

__ADS_1


"Iya, nek. Alya juga laper!"


Kami tiba di sekolah anakku saat sekolah belum selesai. Menunggu sepuluh menit, barulah putraku Andre muncul di pintu gerbang.


"Gimana, dek?" tanya Andre saat dia sudah duduk manis di sebelahku sembari menoleh ke belakang di mana adik dan neneknya duduk.


"Kita baru saja pulang langsung jemput mas! Aku capek!" jawab putriku.


"Jadi ini baru pulang dari rumah sakit, ya?" Andre terlihat kaget.


"Iya, mas. Lama banget antrinya sampai dua kali."


"Wah, membosankan banget pasti!" ucap Andre.


"Loh, siapa bilang membosankan? Di sana Alya bisa bertemu dengan adik-adik kecil yang lucu dan hebat, kok!" jelasku.


"Oh, ya? Hebat gimana, yah?" putraku mengernyitkan dahinya.


Putriku lalu menceritakan semua yang dia lihat dan alami selama di rumah sakit. Andre terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Wah, kasihan adik-adik itu, ya. Semoga adik Alya bisa cepat sembuh dan bisa jalan lagi seperti dulu!"


"Aamiin! Mas Andre harus selalu memberikan samangat buat adik Alya!"


"Iya, yah. Pasti donk."


Setengah jam, akhirnya kami sampai juga di rumah. Bundanya anak-anak sudah menunggu di teras rumah. Dia terlihat khawatir.


Aku gegas memindahkan Alya ke kursi rodanya lalu mendorong masuk ke rumah.


"Kok lama, mas? Kalian nggak apa-apa, kan?" tanya istirku cemas.


Aku tadi memang lupa membawa handphoneku sedangkan Alya dan ibuku memang tidak memiliki handphone.


"Maaf, yank. Mas lupa bawa handphone!" ucapku seraya merangkul dan mengusap bahunya lembut.


"Iya, mas. Aku lihat handphone mas di meja rias!"


"Hhmm, makan yuk! Mas laper banget, nih!" ajakku.


"Iya, mas! Yuk. Makan siang sudah siap, kok."


Kami langsung menuju ke ruang makan. Bibi sedang menyiapkan makanan di atas meja di bantu ibuku. Makanan menggugah selera. Rasanya perutku sudah tidak sabar untuk menyantap makanan yang ada di depanku.


.


.


.


.

__ADS_1


14


__ADS_2