
Satu minggu terasa sangat cepat. Waktunya sidang kedua untuk kasus David. Aku pun kembali datang ke Pengadilan. Aku sengaja menunggu di mobil supaya tidak terlihat oleh mantan istriku, Lisa.
Kulihat dia sedang duduk sendirian di depan ruang sidang. Pukul sembilan aku di minta masuk ke ruang sidang. Setelah Jaksa Penuntut Umum, Majelis Hakim dan juga Penasihat Hukumnya David hadir, sidang pun dimulai.
Awalnya Jaksa menuntut David dengan hukuman lima tahun penjara tapi Penasihat Hukum David terus berusaha agar kliennya dapat di kurangi masa hukumannya. Dan untuk itu sidang kembali di tunda dua minggu lagi untuk keputusan apakah Hakim akan mengabulkan tuntutan Jaksa atau justru mengabulkan permintaan dari Penasihat Hukum David.
Sementara itu aku juga akan menjadi saksi dalam sidang ayahnya David dengan kasus pelecehan atas diri putriku. Aku sungguh kaget ternyata tidak sia-sia kesaksianku minggu lalu. Aku diminta untuk menunggu selama satu jam lagi.
Satu jam cepat berlalu. Sidang atas ayahnya David pun dimulai. Karena pada minggu lalu sudah mendengarkan keterangan dariku dan juga keterangan dari putriku melalui rekaman yang sudah ada di tangan Majelis Hakim, akhirnya Jaksa Penuntut Umum menjatuhi ayah David dengan hukuman penjara selama lima tahun sama seperti David.
Ayah David berteriak lantang menolak tuntutan Jaksa karena dia merasa dia tidak sengaja melakukan itu. Dia mengatakan jika putriku hanya melebih-lebihkan cerita saja.
Situasi makin tidak kondusif dengan Lisa yang justru membenarkan ucapan dari ayah David. Beruntung saat itu Lisa tidak melihat langsung kejadiannya jadi keterangan Lisa di anggap tidak beralasan.
Kembali sidang ditunda satu minggu lagi. Itu artinya berbarengan dengan sidang kasus David. Tubuh dan pikiranku benar-benar letih. Aku sungguh stres dengan dua sidang hari ini.
Setelah selesai aku gegas keluar dari ruang sidang. Lalu kembali lagi ke minimarket.
***
Pembangunan minimarket di rumah yang baru saja kami beli sudah setengah jadi. Itu termasuk cepat juga menurutku. Mungkin karena tukang bangunannya lumayan banyak untuk ukuran bangunan yang tidak terlalu besar.
Ternyata begini rasanya menjadi pemilik rumah. Aku bisa mengatur pekerja sesuai dengan kemauanku tidak seperti dulu. Baru terasa kalau dunia benar-benar berputar. Tapi aku tidak akan menjadi sombong atas semua yang sudah aku capai saat ini.
Setelah mengontrol pembangunan minimarket, aku kembali ke kantor untuk mengerjakan pekerjaanku seperti biasa. Aku dan istriku semalam sudah melakukan penghitungan. Berapa biaya untuk pembangunan dan perluasan minimarket. Itu cukup memakan biaya besar. Biaya pembangunannya saja ada lebih satu miliar, belum lagi harga rumah dan tanah yang kami beli waktu itu.
Dan ternyata aku baru tahu jika istriku memiliki simpanan uang lebih dari 5 miliar. Jumlah yang sangat fantastic menurutku. Aku bahkan tidak pernah melihat uang dengan jumlah sebanyak itu.
***
Menjelang sore pukul dua, waktunya aku mengantar istriku kontrol kandungannya ke dokter spesialis kandungan langganan istriku. Terakhir kali istriku memeriksakan kandungannya sudah satu bulan lebih.
Setelah mengantri sebentar, nama istriku di panggil.
"Wah, selamat ya bu, pak, janinnya kembar dua!" seru dokter.
Aku dan istriku saling menatap kaget.
"Alhamdulillah, "ucapku penuh syukur.
Istriku pun langsung mengusap wajahnya seraya berucap, "Alhamdulillah."
"Dokter yakin kalau janin yang saya kandung kembar?" tanya istriku masih dengan rasa tidak percaya.
"Ya, tentu saja. Bisa lihat kan di layar janinnya ada dua."
"Jadi ibu istirhat saja jangan melakukan pekerjaan yang berat-berat. Harus lebih banyak istirahat, ya! Karena kandungan bu Santi sangat rentan selain karena usia janin yang masih sangat muda juga karena janinnya kembar.
"Baiklah, dok! sahut istriku.
Dokter lalu memberikan resep vitamin dan obat anti mual. Kami gegas pergi ke Apotek untuk mengambil obat. Setelah itu kami langsung kembali ke mobil.
Alhamdulillah, aku sangat bwmedokter mengatakan kandungan istriku baik-baik saja. Dan yang membuat aku makin bahagia ternyata janin yang di kandung istriku kembar.
"Mas, aku seneng banget ternyata anak kita kembar. Aku ingin anak kita laki-laki semua, mas!" ucap istriku.
"Buat mas, laki-laki atau perempuan itu sama saja yang penting dia sehat. Bundanya juga sehat!"
__ADS_1
"Iya mas aku juga begitu. Aku ingin anakku sehat tidak seperti ku.
"Kamu tidak boleh bicara seperti itu yank! In Sya Allah, kamu pasti akan sembuh!"
"Iya,mas."
"Kamu sudah lama tidak kontrol penyakit kamu kan, yank? Sekarang saja, yuk!" tawarku.
Istriku menggeleng cepat, "Enggak, mas. Aku enggak ingin ke dokter dulu sekarang. Aku ingin fokus dengan kehamilanku dulu saat ini tanpa harus memikirkan penyakitku," tolak istriku.
"Tapi kamu baik-baik saja kan yank?" tanyaku
"Alhamdulillah, mas! Sekarang aku baik-baik saja. Aku juga nggak pernah lagi merasakan sakit kepala!" sahut istriku.
"Ya sudah kalau gitu, yank. Sekarang kita mau kemana lagi? Apa mas langsung antar kamu pulang ke rumah?"
"Aku ingin mampir ke minimarket sebentar boleh kan, mas? Aku ingin melihat pembangunan minimarket kita sudah sampai mana?" pinta istriku.
"Hhmm, baiklah sayang. Kita ke sana sebentar saja ya. Ingat yang tadi di bilang sama dokter, kan? Mas nggak ingin kamu capek. Lagipula mas sejak makin sibuk sejak minimarket dibangun. Mas jarang bisa istirahat di kantor!" jelasku.
"Iya, mas."
Sampai di minimarket, istriku langsung mampir ke gudang.
"Aku ingin bertemu dengan mbak Melly dulu, mas. Sudah lama nggak ketemu dia."
Aku mengangguk lalu melihat saja dari pintu.
Istriku masuk ke dalam gudang. "Mbak Melly!" sapa istriku.
Mbak Melly tersenyum lalu membalas pelukan istriku.
"Alhamdulillah, kabarku baik-baik saja, mbak!" sahut mbak Melly.
"Apa kabar Davina? Nggak pernah di ajak lagi ke sini?" tanya istriku.
"Alhamdulillah putriku baik dan sehat,mbak. Sekarang sudah berkurang rewelnya jadi bisa aku tinggal bekerja."
"Alhamdulillah kalau gitu, mbak."
Mereka lalu duduk di kursi yang ada di dalam gudang.
"Mbak Santi sedang hamil, ya?" tanya mbak Melly.
Istriku mengangguk, "Iya, mbak. Alhamdulillah aku sedang hamil. Usia kandunganku sudah memasuki bulan ketiga dan tadi dokter bilang kalau bayi saya kembar!" jelaa istriku dengan senyum semringah.
Alhamdulillah, mbak. Mempunyai bayi kembar pasti menyenangkan sekali!"
"Iya, mbak. Aku juga nggak nyangka bisa hamil kembar. Aku pikir di kasih anak satu saja sudah bersyukur banget. Apalagi di usiaku yang sudah nggak muda ini."
"Loh, memangnya usia mbak Santi berapa kok bilang sudah nggak muda?"
"Aku tahun ini empat puluh tahun, mbak. Dan ini juga kehamilan pertamaku. Deg-degan sih tapi aku nikmati saja."
"Wah, mbak Santi awet muda kalau gitu, ya!"
"Kalau usia mbak Melly berapa? Pasti mbak Melly masih muda."
__ADS_1
"Hhmm, bulan lalu dua puluh tujuh, mbak."
"Wah, masih muda banget!"
Mbak Melly tersenyum. "Tapi aku awet tua ya, mbak!"
"Iihh, siapa bilang. Mbak Melly masih terlihat muda kok."
"Mbak Santi bisa saja."
"Oh iya, mbak betah-betah ya kerja di sini. Minimarket ini kan di perluas jadi nanti akan ada lowongan untuk beberapa orang lagi. Kalau mbak mau mencoba di bagian lain boleh. Tapi kalau mbak sudah nyaman di gudang ya nggak apa-apa di gudang saja!"
Kedua mata mbak Melly berbinar, "Aku boleh pindah ke bagian lain, mbak?"
"Tentu saja yang mana cocok untuk mbak. Jadi sebelum pembangunan selesai, mbak bilang saja mau aku tempatkan di mana biar bisa di atur nanti."
Di lantai atas nanti apa ya, mbak?"
"Oh, lantai atas tempat pakaian. Semua dari pakaian bayi sampai orang dewasa. Nanti di atas akan ada satu saja kasir. Jadi butuh dua kasir untuk sift pagi dan sore. Nanti kasir akan di temani satu orang pelayan yang akan membantu."
Hhmm, obrolan mereka panjang nih. Aku lebih baik pergi saja dari sini. Batinku.
"Yank, mas mau lihat-lihat ke bangunan baru dulu, ya?" pamitku.
"Hhmm, mas. Aku ikut!" pinta istriku.
"Loh, sudah selesai ngobrolnya?"
"Hmm, nanti sambung lagi!" jawab istriku lalu dia menoleh ke arah mbak Melly, "Mbak, nanti kita sambung lagi ngobrolnya,ya. Aku mau lihat bangunan baru!" pamit istriku yang di berikan anggukan dan senyuman mbak Melly.
Aku dan istriku lalu meninggalkan mbak Melly sendirian di gudang. Kenapa wanita itu ingin pindah ke bagian lain? Apa dia tidak betah di gudang? Pikirku.
Sampai di bangunan baru, istriku mengecek apa-apa saja yang dia suka dan tidak suka. Dia sedikit paham juga soal bangunan.
Setelah dia merasa lelah, kami lantas pergi ke kantor.
"Kami berbaring saja di tempat tidur, yank. Nanri sore saja kita pulang!" titahku.
"Iya, mas!" sahut istriku yang langsung merebahkan diri di tempat tidur.
.
.
.
.
.
Maafkan jika ada kata-kata yang salah. Terimakasih sudah mau mampir 😊😊🙏🙏
.
.
13
__ADS_1