Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 107


__ADS_3

Istriku naik ke atas ranjang. Dokter lalu mengoleskan gel di perut istriku.


"Kita lihat ya, bu. Hhmm, tidak ada apa-apa di layar monitor!" jelas dokter.


"Yakin, dok?" tanya istriku seolah tidak percaya.


Dokter mengangguk, "Iya, bu. Jadi bu Santi tidak dalam kondisi hamil saat ini!"


Istriku langsung menyunggingkan senyum. Wajahnya terlihat bahagia.


"Alhamdulillah," ucapnya seraya mengusap wajahnya perlahan.


Aku pun tak kalah bahagia. Bukan tidak bersyukur jika istriku ternyata hamil, tapi mengingat kehamilan sebelumnya yang berat dan kedua bayi kembarku, rasanya kasihan jika dia benar hamil lagi. Belum lagi usianya yang kini sudah kepala empat.


"Alhamdulillah ya bu, ternyata ibu tidak dalam kondisi hamil. Karena ibu juga belum lama melahirkan secara caecar dan itu juga berbahaya untuk ibu sendiri."


"Oh iya, dok. Karena saya koma waktu itu jadi tidak terlintas pikiran untuk menggunakan kontrasepsi."


"Jadi sekarang bu Santi mau menggunakan alat kontrasepsi yang mana?"


"Baiknya yang mana, dok?"


Dokter lalu menjelaskan semua jenis alat kontrasepsi. Aku dan istriku mendengarkan secara seksama. Istriku lalu menoleh ke arahku. Wajahnya terlihat bingung.


"Jadi bagaimana bu? Mau menggunakan yang mana?"


"Hhmm, kalau menggunakan alat yang di pasang di badan kita, saya takut, dok!" jawab istriku.


"Hhmm, jadi ibu mau yang suntik saja? Atau minum pil juga bisa asal jangan sampai lupa."


Istriku masih terlihat bingung.


"Atau kalau bu Santi masih bingung, biar pak Anto saja yang pakai alat kontrasepsinya," ucap dokter sambil tersenyum.


"Hhmm, yang suntik saja deh!" ucap istriku akhirnya.


"Baiklah kalau begitu," ucap dokter lantas menyiapkan alat suntik dan obatnya dalam botol kecil.


Setelah selesai, kami lalu keluar dari ruang dokter.


"Alhamdulillah ya, mas. Aku nggak hamil," ucap istriku sambil menarik nafas perlahan.


"Iya, yank. Bahaya juga kan karena kamu belum lama operasi caecar."


"Iya, mas. Hhh, aku tenang sekarang!"


"Jadi nggak perlu was-was lagi walau setiap malam begadang, ya?" ucapku sambil mengedipkan sebelah mataku.


"Iihh, mas ini!" wajahnya bersemu merah.


"Loh, kan memang kita setiap malam begadang demi si kembar,"


"Iiihh!" dia mencubitku gemas.


"Hehee, begadang setiap malam demi mas juga nggak apa-apa. Dengan senang hati!"


"Hhmm, maunya!"


Aku tertawa, "Mau langsung pulang atau kita pacaran dulu, hmm?"


"Sudah tua pacaran. Mau langsung pulang saja, mas. Kangen si kembar!"


"Siap bidadariku!" jawabku antusias dan langsung melajukan mobil keluar dari area rumah sakit.


Sudah hampir siang tapi jalanan masih saja macet. Begitupun jalan menuju ke sekolah kedua anakku.


Sampai di depan gerbang sekolah, suasana terlihat sepi. Mungkin anak kelas satu sudah pulang dari tadi.

__ADS_1


"Mas masuk dulu ke dalam, yank. Tunggu sebentar, ya!" pamitku yang di beri anggukan oleh istriku.


Aku turun dari mobil lalu masuk ke halaman sekolah. Dari gerbang sekolah aku bisa lihat putriku sedang duduk di depan ruang guru.


Dia langsung berlarian ke arahku.


"Ayah!" serunya.


"Sayang, maaf ya ayah telat jemput."


Alya mengangguk, "Bunda sudah ke dokternya?"


"Sudah, nak! Ayo!"


"Bagaimana sekolah Alya?" tanya istriku setelah kami naik ke mobil.


"Tadi aku di suruh maju isi soal, bun. Untungnya aku bisa jawab, kalau nggak aku akan di hukum berdiri di depan kelas!" jelas Alya.


"Alya harus belajar lebih giat lagi, ya!"


"Iya, ayah!"


Kami langsung kembali ke rumah.


***


Hari ini adalah hari pernikahan mbak Melly dan Rudi. Mereka hanya melakukan akad nikah sederhana saja sama seperti pernikahanku dan Santi dulu.


Aku dan istriku sudah bersiap-siap. Kami hanya mengajak Alya saja. Kebetulan acara akad nikah mereka di gelar sore hari di rumah mbak Melly.


"Kadonya kapan di anterin sama pemilik toko, mas?" tanya istriku.


"Tadi siang, yank. Kalau sore takutnya mereka sibuk."


"Oh sudah di anterin, ya."


"Iya, yank. Kan supaya kita nggak perlu lagi repot-repot bawa! Berat lagi!"


"Hhmm. Mas turun duluan, ya!" pamitku.


Aku dan istriku membelikan alat elektronik sebagai kado untuk pernikahan mbak Melly dan Rudi. Aku sengaja meminta langsung pada pemilik toko supaya barangnya di antarkan langsung ke rumah mbak Melly karena kalau aku yang bawa sendiri, mobil tidak muat.


"Aku sudah cantik belum, yah?" tanya putriku Alya seraya berdiri dan berputar di depanku.


"Hhmm. Cantiknya putri ayah!" sahutku seraya mengusap lembut kepalanya.


"Bunda mana, yah?"


"Bunda ada di kamar, masih siap-siap."


Tak lama istriku turun. Penampilannya terlihat elegan dengan make up tipis.


"Yuk, mas!" ajaknya.


"Kamu cantik banget, yank!"


Lalu aku, istri dan anakku naik ke mobil. Aku pun melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju rumah mbak Santi.


Sampai di sana, terlihat beberapa kendaraan beroda dua yang sedang terparkir. Di teras ada beberapa orang yang sedang duduk.


Aku lalu memarkirkan mobil tidak jauh dari sana. Setelah menyalami tamu yang lain, kami di persilahkan untuk masuk ke dalam rumah.


Kami lalu masuk dan duduk di lantai berlapis karpet.


Rudi sudah duduk di depan pak penghulu sedangkan mbak Melly tidak terlihat. Mungkin nanti dia keluar saat pengantin pria sudah mengucapkan ijab kabul.


Tak lama menunggu, acara ijab kabul pun di mulai.

__ADS_1


"Saya terima nikah dan kawinnya Melliani binti Mahmud dengan mas kawin tersebut. Tunai!" ucap Rudi dengan lantang.


"Bagaimana, sah?" tanya pak penghulu.


"Sah!" jawab semua orang yang ada di ruangan dengan kompak.


Setelah itu semua orang berdoa bersama.


Tak lama setelah itu, mbak Melly datang lalu duduk di sebelah Rudi. Wanita itu hanya berdandan sederhana. Mereka lalu menandatangai buku nikah.


Setelah menandatangani buku nikah, mereka lalu menyalami satu-persatu tamu yang hadir di ruangan.


"Selamat Rudi. Semoga pernikahan kalian langgeng, ya!" ucapku seraya menyalami Rudi.


"Terimakasih pak Anto," sahut Rudi dengan senyum semringah. Wajahnya terlihat berseri-seri.


Aku juga memberikan ucapan selamat untuk mbak Melly begitupun istriku.


"Selamat ya, mbak!"


"Tante cantik banget!" puji putriku pada mbak Melly.


Mbak Melly langsung tersenyum, padahal dari sejak dia muncul setelah ucapan ijab kabul, wajahnya terlihat tegang tanpa senyum sedikitpun.


"Terimakasih, sayang sudah mau datang. Kamu juga cantik banget!" sahutnya.


"Selamat ya, mbak. Mbak memang cantik banget hari ini!" istriku pun ikut memuji wanita itu.


"Terimakasih, bu! Oh iya, terimakasih juga kadonya!"


Istriku tersenyum, "Iya, sama-sama!".


Kami lalu di persilahkan untuk menikmati hidangan.


Mbak Melly dan Rudi hanya duduk sambil sesekali menerima ucapan selamat dari tamu yang baru datang.


Dari tadi aku tidak melihat Davina. Kemana anak itu? Bukankah seharusnya dia kumpul bersama. di sini.


"Ayo, nak. Makan.yang banyak!" titahku.


Setelah menyantap hidangan, kami lalu berpamitan hendak pulang.


.


.


.


.


.


Trimakasih sudah membaca.


.


.


.


.


.


Maaf masih ada typo


.

__ADS_1


.


23.3


__ADS_2