Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 81


__ADS_3

Pagi hari yang sibuk. Aku dan istriku sibuk menyiapkan putriku yang hendak sekolah, sementara ibu dan adikku, mereka sibuk memasak di dapur. Hampir dua minggu putriku tidak bersekolah dan dia setiap hari menanyakan kapan dia bisa kembali ke sekolah. Tidak ingin terlalu jauh tertinggal pelajaran sekolah walau dia baru kelas 1 SD.


Pihak sekolahpun tidak mempermasalahkan kondisi putriku itu. Dia ke sekolah menggunakan kursi rodanya.


Gadis kecilku itu tersenyum semringah. Sudah beberapa hari dia terus mendesak ingin kembali ke sekolah. Dia ingin menyandang predikat juara di sekolah barunya seperi dulu di sekolah lamanya. Walau pun itu hanya juara ketiga. Tapi aku bangga dengan kedua anakku. Semoga masa depan mereka cerah.


"Alya nggak apa-apa kan sekolah menggunakan kursi roda?" tanyaku meyakinkannya. Aku takut dia merasa malu dan semoga saja teman sekolahnya tidak ada yang bicara aneh-aneh yang akan melemahkan mental putriku.


Putriku itu mengangguk, "Aku nggak apa-apa kok, yah. Kan ada mas Andre. Nenek juga mau menungguiku di sekolah," jawabnya yakin.


Alhamdulillah, batinku. Semoga putriku mempunyai jiwa yang besar dalam menghadapi ujian hidupnya.


"Iya, sayang!"


Aku lantas memindahkannya ke kursi roda. Kami lalu pergi ke ruang makan di mana ibu dan adikku sudah menyiapkan sarapan untuk kami semua.


"Ayo di makan. Alya makannya yang banyak ya, nak supaya lekas pulih!" ucapku.


"Iya, yah!" sahutnya.


Setelah selesai sarapan dan berbincang-bincang sebentar, aku lalu bersiap mengantarkan kedua anakku ke sekolahnya.


"Kamu nggak ikut ke minimarket kan, yank?" tanyaku pada istriku.


"Iya, mas. Kan ada Aminah dan anaknya di rumah."


"Ya sudah mas berangkat dulu!" pamitku.


Semenjak ibu dan adikku tinggal di rumah, istriku tidak pernah ikut ke minimarket.


Aku lalu membopong putriku naik ke mobil. Dia duduk di kursi belakang di temani neneknya. Putraku duduk di kursi depan di sebelahku.


Setengah jam kami sampai. Putriku aku pindahkan ke kursi rodanya. Aku berbicara sebentar dengan pihak sekolah mengenai putriku yang sudah mulai sekolah hari ini dan mengenai neneknya yang ikut menungguinya di sekolah.


Setelah itu, aku pergi ke minimarket. Karena masih pagi, belum ada karyawan yang datang. Aku lalu membuka pintu gudang, rapi. Dari pintu gudang, aku masuk ke dalam minimarket. Kondisinya juga rapi. Aku lalu masuk ke kantor. Aku berjalan menuju mejaku. Segera duduk kemudian melihat rekaman CCTV kemarin.


Aku sangat kaget saat melihat seseorang yang sangat familiar. Orang itu mondar mandir di pinggir jalan sambil sesekali menatap ke arah minimarket. Lisa. Tak berapa lama dia pergi.


Ternyata mantan istriku itu tidak bosan-bosan datang ke minimarket.


Pukul delapan, karyawan mulai berdatangan. Mbak Melly pun aku lihat sudah masuk ke gudang. Dia sekarang bekerja mulai pagi hingga sore supaya tidak pulang kemalaman karena akupun sejak Alya kecelakaan sudah tidak pernah lagi pulang malam dari minimarket.


***


Jalanan macet sore ini saat aku dan istriku hendak ke rumah sakit bersalin untuk memeriksakan kandungan istriku yang sudah menginjak 8 minggu.


Sampai di rumah sakit, kami duduk di ruang tunggu. Tanpa menunggu lama, nama istriku di panggil ke ruang praktek dokter.

__ADS_1


"Alhamdulillah, janinnya sehat dan kuat," jelas dokter kandungan setelah melihat ke layar monitor tentang kondisi kandungan istriku.


Seperti biasa, istriku tidak boleh melakukan apapun yang membuat tubuhnya lemah. Setelah mengambil obat dan vitamin di apotek, kamipun langsung pulang.


"Kamu nggak ingin makan apa gitu, yank?" tanyaku saat kami sudah di dalam mobil hendak pulang.


Istriku menggelengkan kepala, "Nggak mas. Nggak ada keinginan apa-apa!" sahutnya.


"Hhmm,"


"Mas nggak ke minimarket lagi, kan?"


Aku menggelengkan kepala, "Nggak, yank."


Kamipun langsung pulang ke rumah.


Sampai di rumah, aku lihat putriku sedang duduk di teras rumah bersama neneknya. Dengan piring berisi buah potong kesukaannya. Dia melambaikan tangannya saat mobil yang aku kendarai memasuki halaman rumah seraya memanggilku.


"Ayah!" serunya.


Turun dari mobil, aku dan istriku ikut bergabung bersama mereka.


"Mas Andre mana, nak?


"Mas sedang belajar renang, yah. Dia makin jago berenang. Aku juga mau bisa berenang seperti mas Andre, yah!"


"Bagaimana keadaan kandungan kamu, Santi?" tanya ibu pada istriku.


"Alhamdulillah, semuanya baik-baik saja, bu. Dia tumbuh dengan sehat," sahut istriku.


"Besok Alya harus kontrol ke rumah sakit, nak!" ucap ibuku.


"Oh iya, bu. Setelah antar Andre ke sekolah, kita ke rumah sakit sekaligus memintakan ijin untuk Alya."


***


Antrian cukup panjang sepagi ini. Beruntung, putriku sudah aku daftarkan dari pagi-pagi sekali. Wajah gadis kecil itu terlihat tegang, sesekali melirik ke arah kakinya yang masih terbalut perban tebal lalu mengusap-usapnya.


"Apa perbannya mau di buka, yah?" tanyanya cemas.


"Ayah nggak tahu, nak. Dokter pasti tahu apa yang terbaik untuk kaki Alya. Semoga kaki kamu bisa segera di terapi supaya bisa kembali jalan seperti biasa, ya!" ucapku menghiburnya.


"Hhmm, aku takut, yah!" suaranya bergetar.


"In Sya Allah, nggak sakit. Alya kan anak yang kuat!"


"Hhmm, tapi aku tetap takut, yah!" wajahnya terlihat murung.

__ADS_1


"Hhmm, daripada Alya mikirin yang jelek, mending mikirin bagaimana kalau kaki Alya sudah sembuh seperti dulu. Bisa jalan lagi, main sama teman dan ketemu turis. Alya mau jalan-jalan ke Bali, kan?"


"Bunda beneran kan mau ajak aku sama mas Andre ke Bali, yah?"


"Tentu saja, nak! Masa bunda bohong, hhmm?"


"Tapi bunda kan sedang hamil? Sering muntah-muntah."


"Nggak apa-apa. Semoga nanti saat kaki Alya benar-benar sembuh, bunda sudah nggak mual-mual lagi!"


"Hhhmm, iya yah. Ayah nanti ikut kan ketemu dokternya?"


"Tentu saja, nak. Masa Alya ketemu dokter sendirian?"


Nama Alya pun di panggil oleh suster. Aku mendorong kursi roda Alya ke ruang praktek dokter. Sampai di sana dokter lalu memeriksa kaki putriku yang patah. Luka dalamnya sudah lumayan sembuh. Setelah selesai pemeriksaan, kami akhirnya pulang.


Jadwal terapi belum ditentukan oleh dokternya, mungkin 2 kali pertemuan lagi baru Alya akan dirujuk ke dokter rehab medik sebelum di lakukan terapi.


"Bagaimana nggak sakit kan tadi diperiksa sama dokter?" tanyaku pada putriku saat kami sedang dalam perjalanan pulang.


"Sakit dikit, yah. Tapi aku udah takut duluan."


"Iya ayah mengerti kok, nak. Sekarang kamu sudah nggak takut lagi kan jika nanti kontrol lagi?"


"Iya, yah. Aku nggak takut lagi kok.


"Nah itu baru namanya cucu nenek, harus kuat!" ibuku ikut menimpali.


"Kita langsung pulang apa Alya mau beli makanan dulu?"


"Pulang saja, yah. Aku ingin tiduran."


Aku langsung mengemudikan mobil menuju rumah.


.


.


.


.


.


.


15

__ADS_1


__ADS_2