Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 159


__ADS_3

"Apa yang kamu lakukan, nak! Hentikan!"


"Biarin, ma. Jadi aku dan Annisa itu bersaudara kan, ma?"


"Sudah berapa kali mama bilang, mama nggak kenal siapa itu Annisa. Anak mama hanya Andre dan Alya!"


"Mama bohong!"


"Untuk apa mama bohong, nak! Hentikan! Kepala kamu berdarah!"


"Biarkan saja aku mati. Nggak ada yang sayang sama aku!"


"Kalau kamu mati, Annisa pasti sedih, nak!"


"Annisa. . ."


"Iya, Annisa!"


Tiba-tiba Darren memegangi kepalanya. Dia muntah-muntah. Tak lama kemudian dia pingsan.


"Darren. . .!!"


***


Setelah Andri meninggalkan ruang ranap Daren, dia pergi keluar dari rumah sakit. Duduk di kursi yang ada di taman dekat parkiran rumah sakit.


Andre mengusap wajahnya kasar sembari menggelengkan kepala. "Jadi Darren itu adalah adikku?" gumamnya.


"Apa yang terjadi pada dia sebenarnya. Apa ibu tidak merawatnya dengan baik atau mungkin suaminya ibu telah berbuat jahat pada Darren hingga anak itu seperti seseorang yang sedang tertekan."


"Aah, ternyata dunia ini sempit sekali!" gumamnya.


"Andre!" tiba-tiba ayahnya sudah berdiri di belakangnya.


Andre lantas menoleh, "Yah. . ." sahutnya lirih.


Anto lalu duduk di sampingnya.


"Dunia ini sangat sempit, yah!"


Anto melipat tanganya di depan dada, "Sudah takdir!"


Hhh, Andre menarik nafasnya berat, "Dari awal aku memang merasa berbeda saat melihat anak itu!"


"Andai tadi Annisa nggak memaksa dengan wajah sedihnya, mungkin ayah nggak akan melihatnya."


"Hhh, seorang bayi yang pernah beberapa kali di ajak ibu ke rumah nenek adalah si Darren. Bayi yang dulu aku benci kelahirannya."


"Bagaimanapun dia tidak bersalah, nak! Dia adalah tetap saudara kandungmu!"


"Apa, yah?" Annisa sudah berdiri di depan mereka


"Annisa?"


"Dek?"


"Jadi kak Darren itu saudara kita, yah?" tanya Annisa yang terlihat syok.


"Sayang, dengerin ayah dulu!" ucap Anto memohon sembari memegang tangan putrinya.


"Nggak! Ayah pasti bohong!" Annisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Bukan begitu, nak!"


Annisa melepaskan paksa pegangan tangan ayahnya. Dia lalu berlari.


"Annisa!"


"Dek!"


Panggilan orang-orang terdekatnya tidak dia pedulikan. Annisa terus saja berlari sambil terisak. Anto, Andre dan Alina berusaha mengejarnya.


"Dokter Andre!" panggil seorang suster.


Andre berhenti lantas menoleh ke arah orang yang memanggilnya.


"Dokter, di panggil dokter Ferry!" jelas suster.


"Hhh, baiklah!" sahut Andre seraya mengusap kasar rambutnya.


Andre gegas kembali masuk ke rumah sakit. Dia pergi ke ruang IGD.


"Dokter Andre!" panggil dokter Ferry.


"Iya, dok."


"Darren!"


"Darren? Ada apa dengan Darren?"


"Dia tidak sadarkan diri. Dia membenturkan kepalanya ke dinding!"


"A-apa?"

__ADS_1


Tubuh rasanya lemas. Apa yang sudah kamu lakukan, Darren. Batin Andre.


Andre lalu membantu dokter Ferry memberikan pertolongan pada Darren. Setelah selesai menjahit bagian kepalanya yang robek akibat terkena sudut dinding, Andre keluar. Dia duduk di kursi yang ada di depan ruang IGD.


"Dre!" seseorang memanggilnya. Andre mendongakkan kepalanya.


Andre hanya bisa menelan salivanya lalu kembali menatap ke lantai.


"Annisa itu adik kamu? Darren tidak percaya saat ibu mengatakan kalau Annisa itu bukan anak ibu. Dia terlihat syok, sedih dan seperti orang yang putus asa. Hhmm, sepertinya Darren menyukai Annisa!"


Andre tetap diam tanpa mau mengatakan apa-apa pada wanita yang sudah melahirkannya itu.


"Ibu minta maaf. Atas semua yang ibu lakukan saat itu. Ibu benar-benar menyesal. Apalagi atas apa yang terjadi sama adik kamu Alya!"


Lisa menyentuh tangan Andre tapi dengan cepat Andre menepiskan tangannya.


"Ibu tahu, kalau ibu bukanlah seorang ibu yang sempurna. Tapi ibu tetap menyayangi kalian, anak-anak ibu."


"Sayangi saja Darren. Dia lebih membutuhkan ibu darpasa aku!" tegas Andre lantas segera meninggalkan ibunya seoarang diri.


Kamu mirip sekali sama ayah kamu, nak. Bagaimana Alya, ya.


Sementara Anto sudah berhasil mengejar putrinya.


"Nis. Kenapa kamu lari, nak?"


"Kak Darren itu anak ayah juga, yah?"


Anto menggelengkan kepala. "Bukan."


"Bukan? Ayah nggak bohong, kan?"


"Kapan kamu lihat ayah bohong, hhmm?"


"Tapi tadi ayah bilang kalau mas Andre itu saudara kandung kak Daren, kan?"


"Mas Andre dan Darren memang saudara kandung dari ibu yang sama. Sama seperti mbak Alya. Kamu dan Alina berbeda.


"Maksud ayah?"


"Hanya kamu dan Alina yang anaknya bunda Santi."


Annisa menahan senyumnya.


"Jadi, aku sama kak Daren bukan saudara kan, yah?"


Anto menganggukkan.


"Ayah sering kali berpesan kan, jangan berpacaran selama masih sekolah!"


"A-aku sama kak Darren nggak pacaran kok, yah!"


"Beneran?"


"I-ya, yah! Ayah boleh tanya sama Alina."


"Hhmm, " Alina memajukan bibirnya.


"Hhmm, kalian tidak boleh terlalu dekat. Jaga jarak kalian!"


"Iya, yah!"


"Kalau cuma suka nggak apa-apa kan, yah?" tanya Alina.


"Hhmm, belajar dulu yang bener!"


"Hehehee!" Alina tertawa.


Tiba-tiba handpone Anto berdering. Andre.


"Hallo!" Anto.


"Hallo, yah!" Andre.


"Ya, nak. Ada apa?" Anto.


"Mana Annisa, yah?" Andre.


"Ada. Kamu mau bicara sama adik kamu, ya?" Anto.


"Bisa ajak dia ke IGD, yah!" Andre.


"IGD? Kenapa, nak?" Anto.


"Ajak saja, yah. Aku tunggu, yah!"


"Baiklah!"


Anto mematikan panggilan telponnya.


"Kenapa, yah?"


"Mas Andre suruh kita ke IGD."

__ADS_1


"Ada apa, yah?"


"Ayah juga nggak tahu, nak! Ayo, kita ke sana sekarang!" ajak Anto.


Mereka lalu pergi ke IGD.


Sampai di depan ruang IGD, sebuah brangkar keluar. Di atasnya, Darren berbaring. Darren di bawa kembali ke ruangannya. Mamanya ikut mendorong brangkar.


"Kak Darren. Ada apa sama kak Darren?" gumam Annisa yang mempercepat langkah kakinya menyusul Darren.


Sampai di ruangannya, mereka ada yang menunggu di luar sedangkan Annisa ikut sembari di rangkul Andre.


"Mas, aku masuk, ya!"


"Hhmm, jangan lama-lama, ya!"


"Iya, mas."


Annisa kemudian masuk ke ruang ranap Darren.


Darren langsung menoleh ke arah pintu masuk. "Annisa" gumam Darren.


Darren pun mengulas senyum terbaiknya.


"Kak Darren?" sapa Annisa lirih. Dia terlihat malu-malu.


"Kamu yang bermama Anisa?" tanya Lisa pada Annisa.


"I-iya, tante!"


"Mana yang lain?"


"Ada di luar, te," jawab Annisa malu-malu.


"Ya sudah kalian ngobrollah. Darren, mama mau nonton tv!"


Lisa lalu menyalakan televisi yang ada di ruamg ranap Darren.


"Kak Darren. . ."


"Annisa. . ."


Mereka tersenyum malu-malu.


"Kak Darren kenapa masuk IGD lagi?"


"Hhmm, nggak apa-apa kok, Nis!"


"Kepala kakak di perban lagi."


"Hhmm, i-iya."


"Kakak. . ."


"Iya, Nis."


"Kakak cepat sehat, ya. Biar bisa sekolah lagi. Bisa bisa kerja lagi!"


"Hhmm, biar bisa ketemu Annisa lagi setiap hari"


"Iihh, " wajah Annisa makin merona.


"Kamu, kamu mau kan ketemu kakak setiap hari?"


Annisa tersenyum sambil mengangguk.


"Kakak juga. . ."


"Hhmm. . ."


"Jangan sakit lagi!"


"Hhmm. . ."


.


.


l.


.


.


Maaf masih banyak typo 😊🙏


.


.


.


21.3

__ADS_1


__ADS_2