
Selesai makan malam, mereka berkumpul di ruang keluarga. Andre pun menceritakan kejadian saat mereka di Bali. Walau dia tahu konsekuensinya, tapi dia harus tetap memberitahukan pada kedua orangtuanya. Tetap berusaha untuk jujur dan terbuka.
"Maafin aku, bun, yah," ucap Andre penuh penyesalan saat sudah selesai menceritakan apa yang terjadi saat mereka liburan.
Anto dan Santi hanya bisa menarik nafas panjang. Memang seharusnya para gadis tidak usah mengikuti pasangan yang sedang berbulan madu. Tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi yang terpenting sekarang semua anak-anak baik-baik saja.
Andre makin merasa bersalah saat kedua orangtuanya hanya diam mendengarkan ceritanya.
"Mas Andre nggak salah kok, yah, bun. Kita yang nggak sabar, harusnya nunggu dulu," sahut Alina.
"Hhmm, yasudah. Lain kali jangan seperti itu lagi! Kebersamaan itu sangat penting. Apalagi di tempat yang asing. Kalian mengerti?" ucap Anto pelan namun penuh penekanan.
"Iya, yah," sahut mereka hampir bersamaan.
Tak lama kemudian bibi datang memberitahukan kalau di luar ada tamu laki-laki yang mencari Annisa. Annisa terlihat salah tingkah."
"Siapa, bi?" tanya Anto.
"Hmm, namanya Darren, pak," jawab bibi.
Deg. Jantung Annisa berdegup kencang. Ternyata kak Darren beneran datang. Batin Annisa tapi dia tidak berani menemui Darren sebelum orangtuanya menyuruh.
"Iya, terimakasih. Suruh tunggu," sahut Anto.
"Baik, pak."
Bibi pun segera berlalu dari sana.
"Nis, ada Darren, tuh. Ajak ke ruang tamu saja!" titah Anto.
"I-iya, yah," sahut Annisa lantas segera berjalan ke ruang tamu.
Darren sedang duduk sembari membaca koran yang ada di lemari kecil yang ada di ruang tamu
"Kak Darren," sapa Annisa.
Darren menoleh lantas berdiri.
"Nis," Darren menatap Annisa dengan tatapan lembut dan penuh arti.
"Hhmm, kak," Annisa tersenyum malu.
"Kaki kamu gimana?"
"Alhamdulillah sudah nggak sakit lagi, kak," jawab Annisa.
Annisa lalu duduk di sofa yang ada di hadapan Darren. Darren pun ikut duduk. Beberapa menit mereka hanya saling pandang. Sampai Kevin datang mengagetkan mereka.
"Hei!" panggil Kevin.
"Kak Kevin," sapa Darren.
"Apa kabar kamu?"
"Alhamdulillah baik, kak. Bagaimana kabar kakak?"
"Alhamdulillah baik juga. Kuliah kamu?"
"Dua minggu lagi aku kuliah, kak."
"Sip, jadi kalau kamu mau, bisa besok melamar pekerjaan yang kakak bilang waktu itu."
"Oh iya, kak," sahut Darren.
__ADS_1
"Ya sudah kakak tinggal dulu," pamit Kevin dan gegas berlalu dari sana.
"Kak, aku ada oleh-oleh buat kakak," ucap Annisa.
"Oh, ya. Oleh-oleh apa?" tanya Darren penasaran.
"Ada makanan sama baju Bali. Aku ambilkan dulu, ya," ucap Annisa lantas segera masuk ke dalam.
Tak lama kemudian Anisa kembali menemui Daren. Dia lalu meletakkan oleh-olehnya di atas meja. "Ini oleh-oleh buat kakak," ucap Annisa malu-malu.
"Terimakasih," ucap Darren lalu mengambilnya.
Setelah mengobrol sebentar, Darren pun berpamitan pulang.
***
Keesokan harinya, Darren melamar pekerjaan sebagai office boy di perusahaan kenalan Kevin. Dan hari itu juga Darren langsung di terima bekerja dan mulai besok, Darren sudah mulai bekerja.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Darren sudah bangun.
"Ayo, nak sudah pukul enam ini nanti kamu telat. Masa karyawan baru kesiangan!" titah Lisa.
"Iya, bu."
Darren lalu duduk di meja makan. Sepiring nasi goreng hangat sudah terhidang di meja plus segelas teh hangat.
"Ingat, nak. Kerja yang bener. Harus jujur."
"Iya, ma," sahut Darren.
Setelah kenyang, Darren berpamitan pada mamanya. Mamanya sudah menyiapkan bekal untuk makan siangnya. Saat hendak keluar ternyata papanya sedang duduk di teras.
"Hmm, pa. Aku mau berangkat kerja," pamit Darren lalu mencium punggung tangan papanya.
"Aku kerja jadi office boy, pa," jawab Darren lirih.
"Jadi office boy?" tanya David kaget.
"I-iya, pa."
"Huuhh," David langsung masuk ke rumahnya.
"Sudah jangan di ambil hati papamu. Sana kerja yang bener!" ucap Lisa.
"Iya, ma. Aku pergi dulu," Darren pun segera pergi bekerja.
Memakan waktu hampir satu jam, Darren sudah sampai. Dia lalu menemui supervisor kemudian pengawasnya. Setelah di breafing, Darren pun mulai bekerja.
Baru pertama kerja, semua teman-temannya sibuk mengajak kenalan. Darren dengan senang hati dan hangat menyambut pertemanan mereka.
Apapun yang di suruh, Darren dengan senang hati mengerjakannya. Saat istirahat siang, Darren tetap berada di ruangan office boy. Makan siang di sana dengan bekal yang tadi di bawakan oleh Lisa.
Setelah istirahat selama satu jam, mereka kembali bekerja.
Di antara teman-temannya, ada satu orang gadis yang sepertinya menyukai Darren. Dia seperti mencari perhatian padanya.
"Silvi sepertinya menyukai kamu, loh!" ucap Robi, teman sesama office boy.
"Hah, itu hanya perasaan kamu saja!" ucap Darren walau tak bisa di pungkiri Darren pun merasakan juga hal itu. Baru juga satu hari.
Saatnya Darren pulang. Tiba-tiba gadis yang di gosipkan menyukainya sudah berdiri di depannya.
"Kak Darren, pulang bareng, yuk!" ajak Silvi.
__ADS_1
Darren menggelengkan kepala, "Maaf, aku mau langsung pulang," tolak Darren halus.
"Iya, langsung pulang," sahut Silvi.
"Tapi rumah kita kan beda arah," jelas Darren.
"Nggak apa-apa," ucap Silvi.
Darren terlihat kesal. Sudah di tolak masih juga Silvi memaksa. Darren terlihat bingung. Baru juga sehari kerja tapi sudah ada yang membuatnya tidak nyaman.
"Ayo!" kali ini Silvi benar-benar memaksa dengan tanpa permisi menggandeng tangan Darren.
"Eh, lepasin!" tolak Darren sembari menepiskan tangan Silvi.
Darren gegas berlalu dari hadapan Silvi dengan setengah berlari. Tapi Silvi mengejarnya lalu di dalam bassman, Silvi berhasil menyusulnya dengan diam-diam lantas menarik tangan Darren.
"Silvi, kamu? Aku kan sudah bilang aku mau pulang sendiri."
"Ayolah Darren. Aku suka kamu," ucap Silvi percaya diri.
Iihh, apa-apaan. Batin Darren kesal.
"Darren. Aku mau jadi pacar kamu!" ucap Silvi tanpa rasa malu.
"Silvi!" teriak seseorang dari kejauhan.
Silvi maupun Darren terkejut.
"Di sini kamu rupanya. Aku cari-cari malah asik sama anak baru ini!" ucap orang itu dengan emosi.
Baik Darren maupun Silvi kaget.
"Kak Aldo," ucap Silvi kaget.
Tiba-tiba, bugh- bugh- bugh! Laki-laki yang bernama Aldo itu memukuli Darren.
"Kurang ajar kamu, berani-beraninya menggangu calon istriku!" tuduh Aldo.
Darren berusaha menghalau pukulan dari Aldo dengan tangannya.
"Kak Aldo hentikan!" teriak Silvi.
Beruntung mereka masih berada di bassman dan ada beberapa orang yang masih bekerja jadi bisa menjauhkan Aldo dari Darren.
"Lepasin! Biar aku hajar brengsek ini!" ucap Aldo makin emosi.
Bibir dan mata Darren sedikit membiru.
"Cepat pergi dari sini!" titah salah satu dari mereka pada Darren.
Darren pun gegas pergi dari sana dengan setengah berlari. "Huuh, ada-ada saja, sih. Baru juga kerja di hari pertama," gumam Darren dengan wajah kesal.
.
.
.
.
.
12
__ADS_1