
Selama mbak Melly bekerja,putrinya Davina bermain dengan putriku Alya dan juga istriku di kantor. Alhamdulillah Davina tidak rewel walau terkadang dia menanyakan ibunya dan ibunya harus datang menumuinya walau hanya lima menit. Kalaupun dia tidak mau di tinggal oleh ibunya,mbak Melly akan mengajaknya ke gudang dan dia akan duduk manis memperhatikan saja ibunya bekerja.
"Davina lucu ya,mas," ucap istriku.
"Iya. Nanti yang di sini lebih lucu lagi!" sahutku seraya mengusap lembut perutnya.
Istriku tersenyum manja sambil menggenggam tanganku yang sedang mengusap perutnya.
Pantas saja belakangan ini istriku makin manja dan maunya dekat-dekat terus denganku. Mungkin saja itu dorongan dari bayi dalam kandungannya. Entahlah,orang-orang sering mengatakan itu tentang ibu hamil. Semua karena bawaan bayi.
Menjelang malam,toko sudah mulai sepi. Alya dan Davina sudah tertidur mungkin karena capek bermain. Mbak Melly akhirnya pulang bersama kami sekaligus aku mengantarnya sampai ke rumah.
Sampai di rumah,aku langsung menggendong putriku ke kamarnya lalu aku menyusul istriku ke kamar.
"Mas,sudah lama ya kita nggak ke rumah ibu. Ajak Aminah sama Lani jalan-jalan."
"Iya,sayang. Mas masih sibuk banget beberapa hari ini. Lusa kan karyawan gajian. Nanti saja habis gajian,ya!"
"Hhmm,iya mas."
"Tidur,yuk! Apa mau mas tengokin adek bayinya,hhmm?" aku menatapnya menggoda.
"Iihh,semalam sudah berapa kali di tengokin!"
"Kan kemarin belum tahu kalau sudah ada dia. Lagipula makin sering di tengokin ayahnya dia akan makin sehat!" ucapku seraya membawanya dalam pelukan.
"Hhmm,bisa saja kalau cari alasan!" istriku menyebik.
Aku langsung tergelak, "Alasan yang pas,kan?"
Dia menggelengkan kepala, "Alasan mengada-ada itu sih!"
"Hehehee,jadi nggak mau nih?"
Dia tersenyum, "Masa nolak suami kan dosa!"
"Hanya karena takut dosa saja,nih?"
"Hhmm. . ."
"Ya sudah nggak jadi deh kalau hanya karena takut dosa!" aku lantas pura-pura memejamkan mataku.
"Iihh,mas. Iya-iya aku mau!" dia berusaha membuka mataku.
Aku lantas membuka mataku tiba-tiba dan langsung menciumi wajahnya.
"Mass!" teriaknya.
***
Aku dan istriku sedang menyiapkan uang untuk gaji para karyawan. Istriku berencana untuk menaikkan sedikit gaji mereka.
"Aku naikkin hanya sepuluh persen dari gaji mereka apa nggak terlalu sedikit,mas?" tanya istriku.
"Hhmm,nggak kok. Kamu sudah berbaik hati menaikkan gaji."
"Hhmm,keuntungan kita kan naik lebih dua puluh persen,mas."
"Alhamdulillah. Terserah kamu saja,yank!"
"Ya sudah aku naikin segitu dulu ya,mas. Bulan depan kalau keuntungan kita terus naik,aku akan naikin lagi gaji karyawan."
__ADS_1
"Iya,yank."
"Oh,iya mas. Mbak Melly kan sudah satu minggu kerja di sini,apa kita gaji juga sekarang?"
"Hhmm,kalau itu terserah kamu,yank. Mas ikut saja keputusan kamu!"
"Hhmm,aku kasih saja deh mas. Mungkin mbak Melly sudah membutuhkan uang. Aku kasih dia setengahnya saja,ya?"
"Hhmm,istri mas ini baik banget sih. Mas makin sayang sama kamu!" ucapku seraya mencubitnya mesra.
"Hhhmm biasa saja,mas. Aku hanya mikir seandainya aku jadi dia bagaimana,rasanya pasti berat."
"Allah nggak akan menguji manusia di luar batas kemampuannya,yank!"
"Iya,aku tahu mas. Tapi aku benar-benar kasihan sama mbak Melly."
"Mas sih terserah kamu saja,yank!"
"Iya,mas. Nanti amplop buat mbak Melly biar aku saja yang kasih."
Aku mengangguk setuju," Iya,yank. Kamu saja yang kasih dia langsung!"
"Hhmm,mas. Kok aku laper lagi,ya?"
"Masa? Kamu kan tadi memang sarapannya dikit banget,yank! Mau makan apa mas beliin?"
"Apa,ya? Aku tu cuma merasa laper tapi nggak tahu mau makan apa."
"Bubur ayam mau?"
"Hhmm,boleh deh,mas. Yang pedes,ya!"
"Nggak boleh terlalu pedes,yank! Kasihan bayinya nanti ikut kepedesan!"
"Kata orang-orang begitu!"
"Hhmm? Ya sudah deh sambelnya dikit saja,mas!"
"Ya sudah mas tinggal dulu,ya sayang. Nggak nitip yang lain?"
Istriku menggeleng, "Sekarang sih nggak,mas!"
"Siap,bos! Mas beli sekarang,ya. Cari yang dekat saja."
"Iya,mas. Hati-hati di jalan."
Aku mencium dahi istriku terlebih dahulu lantas segera keluar dari kantor. Aku lalu menyalakan mesin mobil. Sebenarnya malas kalau harus bawa mobil sendirian tapi nggak enak kalau mau pinjam sepeda motor karyawan.
Aku mencari warung atau ruko-ruko yang menjual bubur ayam. Sepuluh menit kemudian aku menemukan ruko di ujung jalan yang menjual aneka sarapan. Jam masih menunjukkan pukul sembilan,semoga saja masih ada.
Aku lalu memarkirkan mobil di depan ruko. Hanya ada beberapa sepeda motor yang terparkir di depan ruko.
"Pak,bubur ayamnya masih ada?" tanyaku pada penjualnya.
"Bubur ayam masih ada tiga porsi lagi,nak," jawab si bapak.
"Saya beli satu saja,pak!" sahutku.
"Oh,iya nak. Tunggulah,bapak siapkan dulu," ucapnya.
Aku lalu duduk di kursi di dekat pintu seraya menatap ke jalanan.
__ADS_1
Setelah selesai,aku segera kembali ke mobil tapi baru saja aku hendak membuka pintu mobil ada seseorang yang menyenggolku dengan sepeda motornya. Aku terhempas ke pintu mobil. Dan kantong plastik yang berisi bubur pun jatuh tumpah ke tanah.
Beberapa detik setelah aku bisa menguasai keadaan,aku langsung menoleh ke arah orang itu. Dan ternyata orang itu adalah David. Mantan suami mbak Melly yang sekarang menjadi suami Lisa,mantan istriku.
Aku menatap tajam ke arahnya pun dia tidak mau kalah menatapku seakan ingin membunuhku.
"Kalau jalan itu lihat-lihat! Mau mati,ya!" hardiknya.
"Kamu!" tunjukku.
"Eh,situ yang nabrak mas ini kok malah situ yang marah? Aku lihat kok mas ini berjalan pelan di dekat mobilnya!" tiba-tiba bapak-bapak yang jadi juru parkir datang mendekati kami.
"Jangan ikut campur!" hardiknya lagi.
"Eh,dasar orang aneh!"
"Kenapa rame-rame?" tanya seorang bapak yang ternyata pemilik ruko.
Juru parkir lalu menjelaskan masalahnya.
"Saya minta tolong ya,pak. Jangan cari keributan di sini," ucap bapak itu pelan.
"Dia yang jalan sembarangan mentang-mentang bawa mobil!" David tidak terima.
"Hhh,sudahlah kalian berbaikan saja. Ini masnya nggak apa-apa,kan?" tanya bapak itu seraya menoleh ke arahku.
"Saya nggak apa-apa,pak!" sahutku tapi memang lenganku yang terhempas ke mobil terasa sedikit sakit.
"Nanti saya ganti buburnya!" ucapnya lagi.
"Terimakasih,pak. Saya beli lagi saja," tolakku halus lalu segera kembali ke dalam ruko untuk memesan bubur.
Baru saja aku hendak memesan bubur tiba-tiba David datang,berdiri di depanku.
"Saya pesan buburnya dua porsi,pak!" teriak David.
"Saya satu,pak!" ucapku.
"Tapi buburnya hanya tinggal dua porsi saja!" sahut bapak penjual bubur.
"Kalau begitu buat saya saja,pak. Saya yang pesan duluan! ucap David memaksa.
"Tapi saya mau satu,pak!" ucapku juga memaksa. Aku harus bisa mendapatkan bubur juga demi istriku.
"Loh,bagaimana ini?" sahut si bapak bingung.
"Tidak bisa! Saya yang duluan pesan,kok! Jangan asal nyerobot kamu,ya!" ucapnya kasar seraya menatap aku tajam.
"Yang nyerobot kan situ! Saya yang duluan berdiri di sini!" aku tidak mau kalah.
"Tapi saya yang pesan duluan!"
Sebenarnya aku malu harus ribut tapi aku ingat Santi,istriku. Dia pasti sudah menunggu. Hari sudah siang kemana lagi mencari penjual bubur ayam.
.
.
.
.
__ADS_1
23