
Setelah selesai sholat,aku lalu menggendong istriku ke tempat tidur. Kami kembali menghangatkan ranjang kami yang sempat dingin akibat kejadian tadi sore. Hasratku tidak berubah,masih seperti dulu yang menggebu-gebu. Istriku pun terlihat sangat menikmatinya. Berdua kami merasakan indahnya surga dunia. Setelah selesai menuntaskan hasrat,kami pun tertidur.
Menjelang subuh,terdengar suara ketukan di pintu kamarku.
Tok tok tok.
"Ayah!" seru suara dari luar. Suara Andre,putraku.
Perlahan aku melepaskan pelukan istriku lalu turun dari tempat tidur setelah mengenakan lagi pakaianku. Aku lalu membukakan pintu untuk Andre.
Ceklek.
"Ayah!" panggil Andre.
"Iya,kamu kok sudah bangun?" tanyaku.
"Ayah,sholat subuh di masjid,kan?"
"Oh iya,nak. Kamu tunggu sebentar,ya. Ayah mau mandi dulu."
Andre mengangguk lalu kembali ke kamarnya.
Aku gegas pergi mandi. Sepuluh menit kemudian aku menyusul putraku ke kamarnya. Kami lalu pergi ke masjid untuk sholat subuh. Untung saja sholat subuh baru saja di mulai.
Setelah selesai sholat subuh,aku kembali ke kamarku. Aku lihat istriku belum bangun. Mungkin dia kelelahan,tidurnya sangat nyenyak. Terasa damai sekali saat melihat wajahnya yang sedang terlelap. Aku usap lembut wajah sayunya. Aku berjanji akan selalu membahagiakannya.
Aku lalu turun ke bawah,berniat membuat sarapan untuk kami. Aku ingin memasak nasi goreng tapi istriku tidak bisa makan yang terlalu banyak minyak,jadi aku akan memasak sup ayam saja.
Satu jam lebih masakanku matang. Aku langsung menghidangkannya di meja makan,tepat pukul enam pagi. Aku lalu naik ke atas menuju kamar anak-anakku,ternyata mereka sudah bangun.
"Sayang,sarapan yuk. Tapi ayah mau panggil bunda dulu. Kalian duluan saja turunnya!" titahku pada kedua anakku.
"Iya,yah!" sahut mereka berdua.
Aku lalu pergi ke kamar istriku. Ternyata dia sudah bangun dan sedang duduk di meja riasnya.
Dia lalu menoleh ke arahku, "Mas dari mana?"
"Mas dari bawah. Kamu sudah segar,ya? Nggak pucat lagi," tanyaku seraya memeluknya dari belakang.
Hal yang jarang aku lakukan pada Lisa dulu. Kami jarang bermesraan karena ada kedua anakku. Maklum tinggal di sebuah kost-kostan yang hanya memiliki satu ruangan saja. Mungkin itu juga yang membuat Lisa berpaling dariku. Aku cukup sadar diri walau tetap tidak bisa menerima perselingkuhannnya. Bagiku,kejujuran itu sangat penting.
"Iya,mas. Badanku sudah fit!" sahutnya.
"Alhamdulillah! Jadi resepnya apa,tuh?" godaku.
Dia tersenyum manja lalu menoleh ke arahku, "Resepnya dapet cinta dari suamiku yang tampan ini!" sahutnya seraya mengusap lembut wajahku. Ada binar bahagia di manik mata sayu itu.
Aku mendekatkan wajah kami berdua lalu menciumnya mesra, "Terimakasih. Mas memang hanya punya cinta!" tegasku lalu merangkulnya. Kami saling berpandangan mesra.
"Cinta itu tak ternilai harganya,mas! Karena cinta nggak bisa di beli! Itu tumbuh dari sini!" ucapnya seraya menempelkan tangannya ke dadaku.
Aku kembali memeluknya, "Alhamdulillah! Sarapan,yuk. Anak-anak sudah nungguin!" ajakku lalu melepaskan pelukanku.
"Iya,mas. Aku juga sudah lapar. Masak apa ya kita pagi ini?"
"Mas sudah bikin sarapan untuk anak dan istri mas tercinta!"
Dia mendongakkan kepalanya, "Mas sudah bikin sarapan?" tanyanya kaget.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum lalu menggandengnya keluar kamar.
Di meja makan,anak-anak sudah menunggu. Kami lalu sarapan bersama.
"Hari ini kita mau kemana,mas?" tanya istriku.
"Kalian mau kemana?" aku balik bertanya.
"Aku terserah mas saja. Asal sama mas!" jawab istriku.
"Iya,aku juga terserah ayah saja mau kemana!" celetuk Alya.
"Hhh,kemana ya?" tanyaku bingung.
"Kita ke ke kebun binatang saja yuk!" ajak istriku.
"Mau-mau!" seru Alya.
"Ya sudah,kita ke kebun binatang tapi nanti jam delapan saja,ya!" ucapku.
"Ok,yah!" sahut Alya.
***
Pukul sembilan,kami sudah berada di kebun binatang. Karena masih pagi dan juga bukan saat liburan,jadi pengunjung masih sepi. Kedua anakku terlihat sangat bahagia. Maklum mereka jarang sekali pergi jalan-jalan.
Kedua anakku berjalan di depan sementara aku dan istriku berjalan di belakang dengan bergandengan tangan. Kami terlihat seperti sebuah keluarga yang bahagia.
"Mas,kita cari tempat duduk,yuk. Aku capek,mas!" ucap istriku setelah kami cukup lama berjalan.
"Di mana yang ada tempat duduknya? Mas sudah lama sekali nggak main ke sini," tanyaku.
"Ya sudah ayo kita ke sana!" ajakku lalu memanggil kedua anakku agar mengikuti kami.
Lima menit kami sampai di sana. Hanya ada satu ayunan yang kosong dan hanya cukup untuk dua orang. Akhirnya istri dan anak bungsuku yang duduk di sana.
"Kalian sudah lapar atau haus?" tanyaku.
"Haus!" jawab mereka kompak.
Aku lalu tersenyum, "Ayah cari minuman dulu ya,kalian tunggu di sini!" ucapku.
"Aku ikut,yah!" ucap Andre.
"Mas,aku ikut juga deh!" sahut istriku.
"Aku nggak mau ikut!" celetuk Alya.
Aku jadi bingung.
"Kalian di sini saja,ya!" ucapku seraya menoleh ke istriku.
Wajahnya cemberut, "Mas. . .?" dia seperti memohon untuk ikut.
"Sebentar saja! Andre juga nggak usah ikut. Jagain adik sama bunda,ya!" titahku akhirnya.
"Iya deh. Tapi jangan lama-lama,ya!" pesan Andre.
Aku lalu berbisik ke telinga istriku, "Mas nggak lama."
__ADS_1
Dia hanya menatapku saja.
Aku gegas pergi mencari minuman. Setelah bertanya dengan beberapa orang,aku segera menemukan penjual air mineral. Aku lalu membeli beberapa botol lalu segera kembali ke tempat anak dan istriku berada. Dari jauh aku lihat istriku terus memandang ke arahku. Dia seperti tidak mau jauh-jauh dariku.
"Nih,minumannya. Ayah cepat,kan!" ucapku seraya menyodorkan masing-masing satu botol air mineral.
"Terimakasih,mas!" sahut istriku.
"Iya,sama-sama."
Setelah istriku meminum airnya setengah botol,sisanya aku yang menghabiskan. Dia tampak tersenyum.
"Ayah dorong ya ayunannya!" ucapku.
"Iya,yah!" sahut Alya.
"Dek Alya,mas fotoin ya!" seru Andre.
"Iya,mas!" sahut Alya.
Andre lalu mengambil foto kami bertiga dengan aku di belakang anak istriku sambil mengayun ayunan. Semua tampak tertawa bahagia. Hatiku menghangat. Mempunyai keluarga kecil seperti ini sudah cukup membuat hidupku terasa berarti.
Selama setengah jam bermain ayunan,kami kembali keliling melihat berbagai jenis binatang yang ada di sana. Tak lupa aku mengabadikan momen anak dan istriku di sana. Bergantian dengan Andre,kami membidikkan kamera berlatarkan semua jenis binatang di depan sangkarnya.
Menjelang siang saat udara sudah mulai terik,kami lalu beristirahat.
"Mas,aku laper. Cari makan,yuk!" ajak istriku.
"Ayo,mas juga laper. Anak-anak juga pasti laper." sahutku.
Kami lalu mencari kantin yang terdekat untuk mengisi perut.
Setelah pesanan kami datang,kami pun makan dengan lahap.
"Mas. . ." panggil istriku yang duduk di sebelahku.
Aku lalu menoleh, "Hhmm,kenapa?"
"Terimakasih,ya?"
Aku mengernyitkan dahiku, "Terimakasih untuk apa?"
"Untuk kebahagiaan yang mas berikan untukku!"
Aku lalu tersenyum, "Sama-sama. Mas juga bahagia sama kamu!" sahutku.
.
.
.
.
.
.
23
__ADS_1