
Aku kembali ke kamar. Istriku tengah duduk di depan kaca rias sedang memolesi wajahnya dengan cream. Aku lalu pergi ke kamar mandi.
Setelah keluar dari kamar mandi,aku lihat istriku sudah berbaring di tempat tidur. Aku lalu duduk di dekatnya.
"Kamu punya balsem,yank?" tanyaku.
"Balsem? Buat apa,mas?"
"Bahuku pegal!" jawabku,padahal rasanya lumayan sakit.
"Ada di laci meja rias,mas. Aku ambilkan,ya!" sahutnya lalu hendak bangun dari tidur.
"Mas ambil sendiri saja,yank!" ucapku lantas menuju meja rias dan membuka laci yang di maksud istriku.
Aku lalu mengusap bahuku yang sakit. Rasa hangat balsem sedikit mengurangi rasa sakitnya.
"Coba aku lihat,mas!" ucapnya lalu mendekatiku.
"Agak kebiruan ini,mas. Besok kita ke dokter saja,ya!"
Aku menggelengkan kepala, "Nggak usah,yank. Besok juga pasti sembuh!" ucapku.
"Hhhmm,ya sudah kita lihat besok!" sahutnya.
Kami lalu berbaring di tempat tidur.
"Tidur yuk,yank. Badan mas rasanya nggak enak!" ajakku.
"Hhmm,iya mas."
Aku lalu mencoba memejamkan mataku. Rasa sakitnya masih terasa. Semoga besok pagi sakitnya sudah hilang.
Setelah hampir satu jam aku baru bisa tertidur.
***
Aku bangun dari tidur dengan merasakan sakit di bahuku. Rasanya bahu kananku susah untuk digerakkan. Kaku dan kram.
"Mas kenapa?" tanya istriku heran saat aku kesusahan membuka pakaianku.
"Bahu mas masih sakit!" jelasku sambil mengernyitkan dahi.
Istriku mendekat lalu memeriksa bahuku, "Bengkak ini,mas! Kita ke dokter saja!" ucapnya dengan wajah khawatir.
"Hhmm,nggak usah,yank. Mungkin besok sudah enakan!" tolakku.
"Mas,kita ke dokter saja biar tahu. Semoga nggak kenapa-kenapa. Daripada di biarin. Sekarang saja mau buka pakaian susah,kan?" desak istriku seraya membantuku membuka pakaianku.
"Hhmm,mas tuh males banget ke dokter."
"Mas ini,maksain aku ke dokter bisa tapi mas sendiri susah di suruh ke dokter!" ucap istriku kesal. Wajahnya terlihat murung.
__ADS_1
"Hhh,iya-iya. Sudah jangan cemberut terus,jelek loh!"
"Mas sih ngeselin!"
"Memangnya mau ke dokter mana,mas nggak tahu."
"Ke dokter kenalan aku saja,mas. Dokter umum,sih. Siapa tahu dia paham."
"Ya sudah mas nurut saja sama kamu!"
Setelah mengantar kedua anakku sekolah,aku dan istriku lalu pergi ke rumah sakit menemui dokter umum kenalan istriku. Setelah mengantri lebih setengah jam akhirnya aku dipanggil masuk ke ruang dokter.
Aku lalu menunjukkan lenganku yang sakit. Memang terlihat sedikit bengkak dan membiru. Dokter lalu memeriksaku. Setelah itu dokter memberikan resep obat salep untukku dan juga obat pereda nyeri untuk diminum.
Pulang dari rumah sakit jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Waktunya Alya pulang sekolah. Aku dan istriku pergi menjemput Alya di sekolahnya. Setelah itu kami langsung pergi ke minimarket.
Minimarket terlihat sudah ramai. Karena tidak ada barang yang masuk,aku dan istriku hanya duduk-duduk saja di kantor.
"Mas,bagaimana kalau kita beli tempat tidur untuk di sini,buat kita kalau mau istirahat? Andre dan Alya kan juga sering tidur di sini. Mereka hanya istirahat di sofa kan kurang nyaman."
"Iya sayang. Mas pikir juga kita butuh tempat tidur di sini."
"Kalau gitu sekarang saja kita belinya ya,mas!" ajak istriku.
"Apa enggak nanti saja yank,sekaligus kita jemput Andre di sekolahnya?" sahutku.
"Oh iya nggak apa-apa nanti saja,mas."
Menjelang siang aku dan istriku serta putriku pergi menjemput Andre di sekolahnya. Sebelumnya kami pergi ke toko furniture untuk membeli tempat tidur dan lemari kecil untuk di taruh di kantor. Setelah mendapatkan apa yang kami cari,kami lalu pergi ke sekolah Andre lalu mampir ke restoran untuk makan siang.
"Biasanya jam segini dia sudah datang,yank," sahutku.
Setelah selesai makan kami lalu kembali ke minimarket dan ternyata benar,mbak Melly sudah berada di gudang bersama Davina. Wanita itu seperti biasa sedang mencatat stok barang yang ada di gudang. Tapi kali ini dia sedikit aneh,dia menutupi sebagian wajahnya dengan masker. Dia tidak berani menatap aku ataupun kearah istriku.
"Mbak Melly kenapa ya mas kok penampilannya aneh gitu?"
"Mas juga enggak tahu yank,coba kamu tanyakan!" sahutku.
Istriku lalu menemui mbak Melly.
"Mbak Melly sudah lama datangnya?" tanya istriku ramah dan hangat.
Mbak Meli yang kaget langsung menoleh, "Mbak Santi? Oh iya saya sudah satu jam yang lalu datang," sahut mbak Melly.
"Kenapa wajahnya dipakein masker,mbak?" tanya istriku.
"Hhmm. Oh ini mbak. Wajah saya? Oh,ini saya sedang flu!" jawab mbak Melly gugup dan terbata-bata. Sepertinya dia sedang menyembunyikan sesuatu. Dia juga tidak berani menatap langsung ke arah istriku. Aku hanya memperhatikan mereka saja dari balik pintu.
Aku lantas meninggalkan mereka berdua saja di gudang. Mungkin dengan ngobrol berdua saja dengan istriku,mbak Melly akan merasa lebih nyaman dan terbuka. Aku lalu kembali ke kantor.
Kedua anakku sedang mengerjakan tugas sekolahnya masing-masing.
__ADS_1
"Kalian ada PR,ya?" tanyaku.
"Iya,yah. Aku ada PR!" jawab Alya.
"Kalau mas hanya belajar saja kok,yah. Hari ini enggak ada PR," jawab Andre.
"Iya kalian belajar yang rajin ya,nak. Biar pintar dan jadi orang yang berguna!" ucapku.
"Iya,ayah. Aku ingin jadi dokter!" ucap Alya.
"Kalau mas ingin jadi polisi atau pilot!" sahut Andre
"Amin! Semoga cita-cita kalian berdua tercapai!" Aku lantas duduk di kursi kerjaku lalu membuka komputer. Saat sedang tidak ada pekerjaan,aku pasti selalu mengecek pembukuan minimarket sambil memperlancar gerakan jariku menekan keyboard. Tak lama kemudian istriku Santi masuk ke kantor. Dia lalu duduk di depanku.
"Mas," panggilnya.
Aku lalu menoleh, "Iya ada apa,sayang?" tanyaku.
"Aku tadi ngobrol sama mbak Melly. Dia tidak mau memperlihatkan wajahnya. Dia bilang sedang flu makanya pakai masker. Tapi kok suaranya biasa saja tidak seperti orang yang sedang terkena flu. Apa ada yang ditutupinya ya,mas! jelas istriku.
"Kita tidak usah mencurigainya. Tidak enak nanti dia merasa tidak nyaman,yank!" ucapku.
"Iya,mas."
Menjelang sore setelah aku selesai salat asar di masjid,ada mobil dari toko furniture datang mengantarkan tempat tidur dan lemari yang kami beli tadi siang. Aku lalu meminta mereka memasukkan yang ke kantor. Di kantor memang masih ada ruangan kosong yang cukup untuk menaruh tempat tidur dan lemari.
Tak lama kemudian saat kami sedang mencoba tempat tidur baru,ada keributan di luar minimarket. Seorang karyawan datang menghampiri kami di kantor.
Tok tok tok. Pintu kantor di ketuk.
"Silakan masuk!" sahutku.
"Permisi,pak Anto. Ada orang yang ribut-ribut di luar minimarket kita!" jelasnya.
"Hhmm,ribut ribut kenapa?" tanyaku penasaran.
"Orang itu mencari yang namanya Melly. Dari tadi ribut terus di luar,pak. Dia memaksa mau masuk ke kantor!" jelasnya.
"Mencari Melly?" aku dan istriku kaget.
"Iya,pak,bu. Orang itu mencari yang namanya Melly. Apa yang dimaksudnya Melly yang kerja di gudang ya,pak?" tanyanya.
Aku dan istriku saling pandang. Siapa orang itu kenapa dia mencari mbak Melly sampai marah-marah. Batinku.
Sebelum menemui orang itu,aku dan istriku menemui mbak Melly terlebih dahulu di gudang. Wanita itu sedang duduk-duduk sambil mengajak putrinya bermain.
.
.
.
__ADS_1
.
23