Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 102


__ADS_3

Dua minggu di rawat di ruang ranap biasa, akhirnya istriku di perbolehkan untuk pulang. Aku sedang membereskan barang-barang yang aku bawa dari rumah sedangkan istriku sedang memasukkan pakaian ke dalam koper.


Wajahnya terlihat berseri-seri.


"Akhirnya aku bisa pulang ke rumah juga, mas!" ucapnya.


"Alhamdulillah, yank!" sahutku.


"Aku nggak mau lagi balik ke rumah sakit, mas!" ucapnya.


"Tapi kan dokter bilang kamu masih harus lewat jalan, yank?"


"Oh ya aku lupa. Mau gimana lagi. Terpaksa deh ke rumah sakit lagi!" keluhnya.


"Nggak apa-apa, yank. Semua juga demi kesehatan kamu. Apa yang dokter bilang harus kamu turutin kalau kamu memang benar-benar nggak ingin lagi ke rumah sakit. Kamu harus berobat sampai tuntas!"


"Iya, suamiku sayang!" sahut istriku.


Aku tersenyum, "Mas juga sayang banget sama kamu, yank! Maaf kalau mas cerewet."


"Iya, mas. Nggak apa-apa, kok. Itu karena mas peduli dan sayang sama aku."


"Iya dong. Masa sama istri sendiri nggak peduli."


"Hhmm, mas. Aku sudah selesai nih. Yuk kita pulang sekarang!" ajaknya tidak sabar.


"Ayo!"


Alhamdulillah tadi pagi aku sudah selesai mengurus semua biaya rumah sakit. Jadi sekarang tinggal pulang saja.


Karena istriku masih sedikit lemah, suster menyarankan istriku menggunakan kursi roda sampai di parkiran. Setelah istriku duduk manis di kursi roda, aku lalu mendorong kursi rodanya keluar dari kamar.


Aku menutup pintu kamar lalu kami berpamitan pada suster yang berjaga di depan kamar ranap istriku.


"Selamat ya, bu. Semoga selalu sehat!" ucap suster ramah saat kami berpamitan.


"Terimakasih, suster!" sahut istriku.


Kami lalu pergi ke parkiran. Sampai di parkiran terlebih dahulu aku memasukkan barang-barang kami ke dalam bagasi mobil.


Aku lalu membukakan pintu mobil untuk istriku. Setelah istriku masuk ke dalam mobil, aku lantas berjalan memutar lalu masuk ke mobil dan duduk di kursi kemudi. Aku gegas menyalakan mesin mobil.


Aku melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Setengah jam lebih aku sudah sampai dirumah. Aku lantas memarkirkan mobil tak jauh dari pintu rumah supaya kami tidak terlalu jauh berjalan.


Aku lalu membuka pintu mobil untuk istriku dan membantunya berjalan.


Saat aku membuka pintu, tiba-tiba. . .


"Selamat datang bunda Santi! Kami semua merindukanmu!" ucap semua orang yang ada di dalam rumah.


Mereka lalu memeluk istriku satu persatu membuat wanitaku itu menangis terharu.


"Terimakasih. . ," ucapnya lirih.


"Bayiku?" tanya istriku kemudian.


"Ayo, bun. Kita lihat adik kembarku!" ajak putriku Alya.


Aku lalu membantunya berjalan menuju ke kamar bawah. Kamar yang di pakai untuk kedua bayi kembarku dan juga bu Mina dan ibuku.


Ternyata bayi kembarku sedang tertidur di dalam boks mereka masing-masing. Istriku tiba-tiba menangis sesenggukan saat menatap dua buah hati kami. Dia lalu menggendong salah satu bayi kami lantas menimang-nimang. Kemudian istriku menciumi wajah bayi kami sepuas hatinya.


"Siapa namanya, mas?" tanya istriku.


"Namanya Annisa, yank."


"Annisa. Sayangnya bunda! Bunda kangen banget sama kamu, nak!" ucapnya lirih masih sedikit terisak.

__ADS_1


Setelah puas menggendong bayi Anissa, dia lalu menidurkan lagi Annisa di box bayinya. Setelah itu, istriku menggendong Alina dan melakukan hal yang sama seperti pada bayi Annisa. Memeluk dan menciumi Alina sepuas hatinya.


"Dia pasti Alina, ya! Bunda juga kangen banget sama kamu, nak!"


Istriku lalu menoleh ke arahku, "Mereka tidur di kamar kita ya, mas?"


Aku mengangguk, "Iya, yank!" ucapku seraya mengusap air mata di pipinya.


"Aku akhirnya menjadi ibu dari darah dagingku sendiri. Penerus darah keluargaku. Terimakasih, mas!"


"Terimakasihlah sama Allah, yank! Sang pemberi kehidupan!"


"Iya, mas. Kalau itu sudah pasti!"


"Iya, yank."


"Yuk, mas!"


"Hhmm, yuk kemana?"


"Ke kamar kita, mas! Aku ingin tidur bersama mereka! Tapi satu tempat tidur sama kita ya, mas? Bukan di dalam box bayi mereka."


"Kamu mau ke kamar sekarang? Yang lain kan masih kangen sama kamu, yank!"


"Hhmm, Alya dan Andre juga ajak ke kamar, mas. Aku benar-benar kangen kamar kita!" pintanya dengan wajah memohon.


"Hhmm, baiklah, yank! Jadi box bayinya taruh di sini saja?"


"Terserah mas saja. Tapi aku ingin tidur sambil memeluk mereka!"


"Kita bawa saja box bayi ke kamar kita, yank. Siapa tahu di butuhkan!" ucapku.


Aku lalu meminta bantuan pada pak Toto untuk membawa box bayi ke kamar kami. Setelah itu, aku membantu istriku naik ke lantai atas. Tubuhnya masih sedikit oleng kalau di bawa berjalan, aku takut dia terjatuh. Sedangkan kedua bayi kembar kami di gendong oleh ibu dan juga adikku.


"Akhirnya, aku kembali ke kamar ini. Aku kangen banget berada di kamar ini," gumam istriku saat masih berada di sebelahku.


"Sama mas nggak kangen, ya?" tanyaku sambil berbisik.


"Tapi mas kangen terus sama kamu walau sudah ketemu setiap hari. . ," bisikku lagi.


"Iihh!" dia tersenyum malu.


Kedua bayi kembarku di baringkan di atas tempat tidur. Putriku Alya ikut berbaring di sebelah adiknya Annisa sedangkan istriku duduk di sebelah Alina.


"Adik kembarku mirip banget sama ayah ya, bun?" tanya Alya.


"Anaknya ayah ya mirip donk sama ayah!" celetuk Andre.


"Mas Andre anaknya ayah tapi nggak mirip sama ayah!" ejek Alya.


"Kamu juga nggak mirip sama ayah! Weee!" Andre balas mengejek adiknya.


"Iihh, mas Andre! Aku mirip sama ayah!" teriak Alya membuat adiknya Alina terbangun lalu menangis.


"Tuh kan adik Alinanya bangun gara-gara kamu teriak-teriak!" sungut Andre.


"Ayah, mas Andre nih!" tunjuk Alya sambil menghentakkan kakinya.


Aku mendekati Alya, "Sudah-sudah! Kalian nggak boleh berantem! Masa sudah punya dua adik masih suka berantem?"


"Mas Andre tuh, yah!"


"Iihh, kamu tuh!"


Aku menoleh ke arah putraku sambil menggelengkan kepala, "Mas, nanti adik Annisa ikut terbangun kalau ribut terus!"


"Hhh, mas ke kamar saja, deh. Ngerjain tugas sekolah!" ucapnya lantas meninggalkan kamar.

__ADS_1


Putriku masih dengan wajah di tekuknya.


"Ayah?"


Aku menoleh ke arahnya, "Kenapa, nak?"


"Aku beneran nggak mirip sama ayah?"


"Siapa bilang? Kamu mirip donk sama ayah!"


"Beneran, yah? Kalau mas Andre?"


"Kalian anak-anak ayah tentu saja mirip sama ayah!" tegasku.


"Tapi nek Mina bilang, cuma adik Alina dan adik Annisa saja yang mirip sama ayah."


Hhh, kenapa bu Mina sampai berkata seperti itu? Hhh, ada-ada saja. Aku akan bilang sama ibu supaya bu Mina jangan asal bicara apalagi di depan anak-anakku.


"Mungkin nek Mina hanya bercanda saja, nak! Kalian mirip semua sama ayah. Hanya mirip bagian mananya yang berbeda-beda. Hanya anak kembar saja yang benar-benar mirip seperti adik Alina dan adik Annisa!" tegasku.


Semoga putriku percaya dan tidak memikirkan kata-kata bu Mina lagi.


***


Kami semua baru saja selesai makan malam. Istriku yang belum terlalu fit kondisi tubuhnya memilih makan malam di kamar saja sembari menunggui kedua bayi kembar kami.


Andre dan Alya pun sudah masuk ke kamar mereka. Hanya aku dan ibu yang masih mengobrol di depan tv.


"Nak, apa kamu masih mau memperkerjakan bu Mina?" tanya ibu.


Kalau masih memperkerjakan bu Mina tapi beliau sering asal bicara. Terkadang aku mendengar sendiri bu Mina mengatakan kalau mantan istriku selingkuh meninggalkan aku. Yah, walau itu memang benar tapi tidak perlu membahas itu terlebih di depan anak-anak. Suatu kali aku mendengar kalau ibu tiri itu lebih sayang pada anak kandungnya sendiri di bandingkan anak dari suaminya.


Kalau aku berhenti memperkerjakannya, siapa yang akan membantu istriku dan ibuku mengurus bayi kembar kami sedangkan istriku tidak boleh capek dan juga ibu sudah tua tidak boleh capek. Lagipula aku tidak mau membebani ibuku dengan ke empat cucunya. Cukup ibu mengawasi dan membimbing saja tanpa harus turun tangan langsung mengurus anak-anakku.


Di samping itu, aku memperkerjakannya juga untuk membantunya. Memberikan tempat tinggal sekaligus penghasilan. Hhh, aku benar-benar bingung.


"To? Kok diam saja?" tanya ibu lagi.


"Menurut ibu?"


"Sebenarnya ibu kurang suka cara bu Mina tapi ibu nggak tega kalau mengembalikannya lagi ke keluarganya. Paling nanti dia di suruh kost sendirian lagi. Ibu merasa kasihan."


"Dan juga harus dengan alasan apa kita memberhentikannya kan, bu?"


"Iya!"


"Apa ibu nggak bisa bilang sama bu Mina mana yang boleh dan nggak boleh?"


"Ibu sudah sering bilang. Tapi sekarang kan ada Santi, biar istri kamu saja yang bilang. Mungkin bu Mina akan lebih menurut jika Santi yang bicara karena dia tahu rumah ini milik Santi."


"Hhh, iya bu. Aku akan bicarakan itu dengan Santi. Sekarang ibu masih tidur bersama bu Mina apa di kamar anak-anak?"


"Ibu di kamar bawah saja sama bu Mina."


"Hh, ya sudah terserah ibu saja. Aku ke kamar dulu ya, bu!" pamitku.


"Iya, nak!"


Lalu aku naik ke tangga menuju kamar atas.


.


.


.


.

__ADS_1


.


20


__ADS_2