
Darren baru saja selesai menghabiskan sarapan nasi goreng yang di masakin mamanya. Dia sudah mulai terlihat segar.
"Sampai kapan kamu seperti bayi, hah? Mandi harus pakai air hangat terus!" ucap papanya ketus.
Darren hanya diam seraya melirik ke arah mamanya.
"Kamu hati-hati di jalan ya, nak. Jangan lupa pakai jaket kamu!" Lisa mengingatkan.
"Iya, ma!" sahut Darren.
Darren lalu mencium punggung tangan papa dan mamanya sebelum keluar dari rumah. Dia tuntun sepedanya keluar dari gang.
Darren mengayuh sepedanya pelan. Tenaganya masih belum pulih benar.
"Nggak sabar ingin ketemu Annisa. Hhh, kenapa jantungku deg-degan, ya? Nis-Nis, kok bisa ya kita dekat. Apalagi ternyata keluarga kita pernah ada hubungan di masa lalu. Semoga keluarga kamu nggak melarang aku dekati kamu!" gumam Darren.
Sampai di sekolah, bel tanda masuk baru saja berbunyi. Darren buru-buru ke kelasnya. Dia terlalu santai mengayuh sepedanya hingga tak terasa jam sudah menunjukkan pukul tujuh.
Sampai di kelas, beruntung guru belum datang.
"Kamu kemana saja, Darren?" tanya teman sebangkunya.
"Aku sakit. Ini aku bawa surat keterangan dari dokter!" sahut Darren.
"Wah, kamu bisa sakit juga ternyata. Hehee!"
"Kamu itu. Aku juga manusia biasa yang bisa sakit."
"Sakit apa memangnya kamu?"
"Nih, baca!" ucap Darren seraya menyodorkan selembar surat keterangan sakit dari dokter yang merawatnya.
"Kamu di rawat di rumah sakit, ya? Kok nggak kabarin aku kan aku bisa jenguk kamu!"
"Aahh, kamu. Rumah kamu di mana, rumah sakitnya di mana.
"Coba ceritakan, kenapa kamu sampai hampir tertabrak kereta?"
"Aku sudah sakit waktu itu, nggak sadar ada kereta lewat."
Ari bergidik ngeri, "Wah, untung saja kamu masih selamat."
"Iya. Kalau nggak, kita nggak bisa ketemu lagi. Hahaa!"
"Kok malah ketawa, sih? Bukannya takut."
"Ya mau gimana, pasrah saja."
"Kamu itu selalu saja pasrah. Di jahatin orang juga masih saja pasrah!" ucap Ari kesal.
"Aku nggak suka ribut. Pusing!" cukup melihat mama sama papa saja yang sering ribut hampir setiap hari. Batin Darren.
"Iya, sesekali di lawan, donk. Masa diem terus. Lah kalau misal kamu punya pacar, terus pacar kamu di jahatin orang, kamu masih diam saja?"
Darren terdiam. Dia ingat Annisa. Bagaimana kabarnya. Semoga Ryan tidak berbuat macam-macam terhadap gadis itu.
"Hey! Malah melamun!" Ari menepuk keras bahu Darren.
"Paan, sih. Sakit, tahu!" protes Darren.
"Makanya jangan suka melamun! Tuh pak Abdi sudah datang!" ucap Ari membuat matanya menoleh ke arah pintu.
Pelajaran pun di mulai. Darren di minta memberikan surat keterangan sakit dari dokter supaya dia tidak mendapatkan sanksi karena tidak masuk sekolah selama beberapa hari.
Jam istrirahat, Darren buru-buru ke kantin. Berharap akan bertemu dengan seseorang yang sudah lama mereka tidak bertemu. Dan benar saja, dari jauh dia sudah melihat dua orang gadis kembar sedang berjalan menuju kantin.
"Nis. . ." panggil Darren.
__ADS_1
Annisa dan Alina yang berjalan sambil menunduk dan saling merangkul, kompak mendongakkan kepala mereka. Melihat ke arah sumber suara.
"Kak Darren!" seru Annisa.
"Annisa!"
Senyum terlukis di bibirnya. Mata mereka saling mengunci dengan tatapan rindu.
"Ehheemm!" celetuk Alina.
Mereka reflek menoleh ke arah lain. Malu pada sodara kembarnya itu yang memang mempunyai sifat jahil.
"Mau pacaran itu lihat-lihat dulu. Ada aku, nih, hhmm!" ucap Alina sembari mamajukan bibirnya.
Annisa mencubit kecil kembarannya, "Iiihh, siapa yang pacaran!" sanggahnya.
Alina mengangkat bahunya, "Aku mau pesan baso!" ucap Alina lalu melenggang pergi meniggalkan Annisa dan Darren yang terlihat salah tingkah.
"Kak Darren. . ."
"Nis. . ."
"Hhmm, makan?" tanya Annisa.
Darren terlihat bingung. Kalau makan bareng mereka, dia tidak punya uang buat mentraktir tapi dia pun rasanya ingin sekali makan bareng bersama mereka. Darren masih tetap terpaku di tempatnya berdiri.
"Kak? Aku hari ini sedang seneng. Yuk aku traktir kakak makan sepuasnya!" ajak Annisa yang mulai paham situasi.
"Hhmm, tapi, Nis?"
"Ayolah kak!" Annisa berjalan mendahului Darren.
Alina sudah duduk manis dengan semangkok baso di hadapannya.
"Lin, aku mau pesan baso juga. Kamu sudah bayar?" tanya Annisa sembari menatap kembarannya yang sedang asyik menyantap basonya.
Annisa mengangguk, "Iya, aku traktir!"
Alina mendongakkan kepalanya lalu kembali menyantap basonya.
"Kak Darren, kita pesan baso saja, yuk!" ajak Annisa yang di ikuti oleh Darren.
Saat mereka sedang memesan baso, entah dari arah mana, seseorang sengaja menabrak Darren dengan kuat hingga dia terhuyung dan hampir terjatuh jika satu tangannya tidak bertumpu pada dinding dan satu tangannya lagi bertumpu pada bahu Annisa.
"Aduh!" teriak darren.
"Kakak nggak apa-apa, kan?" Annisa menahan tangan Darren hingga mereka saling menatap satu sama lain.
"Woi, pacaran jangan di kantin!" ucap seseorang yang dengan sengajanya mendorong lagi Darren, untung saja dia sudah siap jadi masih bisa menahan tubuhnya supaya tidak oleng.
Darren dan Annisa pun reflek menoleh ke arah orang yang mendorong Darren dan melepaskan pegangan tangan mereka.
"Arif!" gumam Darren.
"Arif? Siapa, kak?" tanya Annisa penasaran.
"Teman sekelas kakak!" jawab Darren.
"Hhmm, ayo kak, kita makan basonya di meja sama Alina!" ajak Annisa yang di berikan anggukan oleh Darren.
Sampai di meja di mana Alina sedang menikmati basonya yang hampir habis, mereka langsung duduk.
"Nis?" panggil Alina.
"Hmm?"
"Kenapa kalian tadi?"
__ADS_1
"Ada yang sengaja dorong kak Darren, Lin!"
"Hhmm, iya. Kak Darren ada musuh sepertinya!" ucap Alina pelan namun dengan penekanan.
Dahi Darren berkerut. Kok Alina bisa tahu. Padahal Dia tidak pernah menceritakan masalahnya dengan siapapun juga.
"Masa, Lin?"
"Jadi apa namanya kalau bukan musuh? Iya kan, kak Darren?" Alina menatap tajam ke arah Darren.
Darren terlihat salah tingkah. Dia tidak orang lain tahu masalahnya, "Hhmm, a-aku nggak tahu, Lin!"
"Nggak tahu?" Dahi Alina berkerut.
"Hhmm, mungkin tadi itu nggak sengaja!" ucap Darren.
"Nggak sengaja gimana, kak?" tanya Annisa bingung karena dia lihat sendiri tatapan kebencian yang di tunjukkan oleh orang yang mendorong Darren.
"Hhmm, iya kan ramai, Nis. Jadi nggak sengaja kesenggol kakak tadi."
"Masa, sih?" Annisa tidak yakin.
"Sudah habiskan makanan kalian. Kita ke kelas saja!" titah Alina.
Darren buru-buru menghabiskan basonya sedangkan Annisa terlihat malas.
"Nis, ayo di habiskan!" titah Alina.
"Sudah kenyang!"
"Nggak boleh buang-buang makanan!" ucap Darren.
"Hhmm, iya deh!" Annisa memaksakan diri menghabiskan makanannya.
"Hhmm, pacarnya yang suruh habiskan baru nurut!" gerutu Alina.
"Iiihh, kita nggak pacaran, Lin!" tegas Annisa.
"Hhmm, iya deh. TTM, yah? Hahah!" ucapnya dengan tawa tergelak.
"Alina!"
"Cepetan di habiskan. Jam istirahat sudah hampir habis!"
Lima menit, Annisa sudah menghabiskan basonya.
Mereka gegas meninggalkan kantin.
.
.
.
Maaf masih banyak typo 😊🙏
.
.
.
.
.
12
__ADS_1