Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 44


__ADS_3

"Mas,pindah yuk!" rengeknya.


"Hhhmm,di sini saja!" tolakku.


"Mas,aku-aku nggak bisa di sini."


"Bisa!" aku sedikit memaksa.


"Hhmm. . ."


Dia mulai melakukan apa yang dia bisa untuk mengembalikan hasratku. Awalnya aku tetap bersikap dingin tanpa membalasnya tapi aku tetaplah laki-laki normal. Sekian lama tidak melakukan itu lagi,tentu saja sekarang aku begitu menggebu-gebu untuk melakukannya. Apalagi istriku itu makin membuatku tergoda dengan tingkahnya yang pada awalnya terlihat kaku hingga makin lama makin terlihat agresif.


Dan akhirnya malam pertama kami terjadi juga di sofa. Aku sangat bahagia pun istriku,senyum selalu menghiasi bibir manisnya.


"Mas,pindah ke tempat tidur,yuk. Ngantuk!" ajaknya dengan suara manja masih dalam pelukanku.


Tanpa menjawab,aku langsung menggendongnya menuju tempat tidur lalu membaringkannya.


Aku pikir kami akan segera tidur karena merasa ngantuk dan lelah,tapi ternyata hasrat itu muncul kembali. Aku menginginkannya lagi.


"Sayang,jangan tidur dulu,ya!" pintaku yang langsung menciumi wajahnya. Dia hanya pasrah dan menerima saja dengan apa yang aku lakukan. Sekali ini aku yang memimpin. Walau usia istriku terpaut cukup jauh dan memiliki penyakit,tapi dia bisa mengimbangiku.


"Terimakasih ya sayang," bisikku di telinganya lalu mencium pucuk kepalanya lembut saat kami selesai melakukannya untuk yang kedua kalinya malam ini.


Dia mengangguk lalu menyembunyikan wajahnya di dadaku. Aku mengusap-usap rambutnya. Kami pun lalu tertidur karena kelelahan sampai aku lupa untuk membersihkan diri terlebih dahulu.


Beberapa jam kemudian aku tiba-tiba terbangun. Aku pikir saat ini masih malam tapi setelah aku melihat jam di dinding kamar,aku kaget ternyata saat ini sudah hampir pukul empat subuh. Mungkin karena memang sudah menjadi kebiasaanku setiap sebelum adzan subuh pasti terbangun.


"Sayang,hampir subuh," bisikku lembut di telinga istriku.


Dia lalu menggerakkan tubuhnya dan itu adalah sebuah kesalahan. Seharusnya aku bangun lebih dulu dan langsung ke kamar mandi sebelum mambangunkannya. Tapi sudah terlanjur. Dan aku tak bisa menghindari. Aku menginginkannya lagi.


Sebagai istri yang barbakti,tentu saja dia menuruti keinginanku. Walau singkat,aku tetap merasakan kepuasan. Aku gegas ke kamar mandi duluan untuk membersihkan diri. Sebenarnya aku ingin mandi bersama tapi aku takut tergoda lagi dan membuatku telat untuk melaksanakan sholat subuh.


Setelah dia selesai mandi,kami sholat subuh berjamaah. Tidak seperti biasanya aku sholat subuh selalu di masjid.


"Sayang,kamu tetap memakai hijab,kan?" tanyaku saat dia sedang menyimpan kembali alat sholat.


"In-sya Allah kalau keluar aku pakai hijab,mas. Kenapa?"


"Jadi kalau di rumah nggak pakai,ya?"


"Hhmm,mas mau aku pakai hijab juga di rumah?"


"Iya,sayang. Mas malu!" jelasku.


Dia mengernyitkan dahinya, "Kenapa mas malu?"


"Sini!" aku mengajaknya menatap ke cermin kaca, "Lihat leher kamu,hmm? Nggak enak kalau di lihat ibu atau Aminah!" jelasku.


Wajahnya langsung memerah, "I-iya,mas!" sahutnya sambil tersenyum malu.

__ADS_1


Dia lalu mengambil hijab instan dari dalam lemari lalu memakainya.


"Nah kan nggak kelihatan dan juga kamu makin cantik dengan berhijab,sayang!" pujiku. Memang istriku makin terlihat cantik dengan berhijab. Aku merasa tenang melihatnya.


"Iya,mas. Aku turun ya,mas?"


"Ayo. Mas juga mau turun!" sahutku.


Kami lalu turun ke bawah,sebelumnya terlebih dahulu aku melihat putraku di kamarnya,ternyata dia sudah tidak ada. Mungkin dia sudah turun ke bawah.


"Ayah!" seru Alya saat melihatku turun. Dia sedang di dapur bersama yang lain.


"Kamu nggak sholat di masjid,nak!" ucap ibuku membuat aku malu terlebih istriku langsung melirikku dengan wajah merahnya.


"Ayah tadi aku tungguin mau sholat di masjid,eh belum bangun," celetuk Andre.


"Maaf,nak. Besok ya kita sholat subuh di masjid!" janjiku.


Yah,mau bagaimana. Namanya juga pengantin baru. Batinku.


Aku lihat istriku mulai membantu Aminah memasak sedangkan bibi sedang sibuk beberes. Memang istriku bilang kalau sarapan dia selalu masak sendiri karena bibi harus beberes rumah.


"Kita keluar saja,yuk. Hirup udara pagi!" ajakku pada anak-anak.


"Ayoo!" sahut mereka.


Kami lalu berkeliling halaman rumah istriku yang sangat luas. Halaman belakang dan sampingnya yang banyak tumbuh pohon buah-buahan membuat siapa saja pasti betah di sini. Aku yang sudah seumur ini saja senang apalagi anak-anak.


Pasti selama ini istriku itu merasa sangat kesepian. Aku berjanji akan membuat hidupnya lebih berwarna.


"Mas! Ajak anak-anak masuk! Kita sarapan." serunya dari balik pintu dapur.


Aku lalu mengajak anak-anak masuk ke rumah. Sarapan sudah tersedia di meja makan.


"Ayo anak-anak. Sarapan yang banyak,ya!" titah ibuku.


Kami semua makan dengan lahab. Apalagi aku yang semalam kurang tidur karena menuntaskan hasratku sampai berapa kali. Rasanya tenagaku terkuras dan merasa laper banget.


"Ayah kelaperan,ya?" celetuk Alya yang melihatku dengan cepat menghabiskan sarapanku bahkan sampai nambah dengan porsi banyak.


Aku menoleh ke arahnya, "Hehee,masakan nenek enak banget!" jawabku.


"Istri kamu yang masak!" sahut ibu.


Aku lalu menoleh ke arah istriku yang tengah tersenyum menatapku.


"Jadi ini bunda Santi yang masak? Enak banget,bunda!" seru Alya.


"Iya ya,dek. Ternyata bunda pinter masak." sahut Andre.


Setelah selesai sarapan,kami lalu berkumpul di ruang keluarga.

__ADS_1


"Hari ini kalian belum bisa sekolah,ya. Ayah baru urus kepindahan kalian beberapa hari yang lalu. Mungkin kalau nggak besok ya lusa kalian baru bisa sekolah. Kalian harus betah di sekolah yang baru,ya!"


"Iya,yah!" sahut Andre.


"Sekolah mereka jauh nggak dari sini,nak?" tanya ibu.


"Naik sepeda motor hanya sepuluh menit,bu. Iu sekolah terdekat dari sini."


"Oh,ya sudah. Kamu antar jemput mereka,kan?"


"Iya,bu. Aku yang antar jemput. Karena dari sini harus menyeberang jalan raya jadi mereka akan aku antar sendiri."


"Pakai mobil saja kalau antar anak-anak,mas," ucap istriku.


"Iya,mas antar anak-anak pakai mobil," sahutku.


"Oh,iya. Kita sebentar lagi mau pulang. Kamu bisa antar kita,nak?" tanya ibu seraya menoleh ke arahku.


"Tentu saja bisa,bu. Sekalian aku balikin mobil sewaan kemarin!" sahutku.


"Loh,mas nanti ke sini lagi naik apa?" tanya istriku.


"Mas kn ada sepeda motor," jawabku.


"Mas,di sini ada sepeda motor nganggur. Mas bisa pakai. Sepeda motor mas taruh saja di rumah ibu,Aminah bisa kan mengendarai sepeda motor?"


"Iya juga sih. Tapi masa mas pakai semua barang kamu?" ucapku kurang setuju.


"Mas. Mas itu kan sudah jadi suamiku. Milikku ya milik mas juga begitupun sebaliknya!" jelas istriku.


"Tapi mas nggak punya apa-apa!"


"Mas,kok bilang begitu sih?" istriku terlihat ngambek. Wajahnya di tekuk.


Aku tersenyum, "Iya-iya! Tapi nanti mas pulang naik apa?"


"Aku ikut,bawa mobil. Jadi kita bisa pulang sama-sama. Mas bilang masih ada barang di kost yang belum di ambil kan?"


"Oh iya. Tapi kamu sehat,kan? Bisa bawa mobil sendiri?"


"In sya Allah aku sehat,mas!" sahutnya.


Aku pun tersenyum. Pagi ini dia memang terlihat lebih segar walaupun semalam sudah banyak tenaga terkuras karena acara malam pengantin kami.


.


.


.


.

__ADS_1


.


09


__ADS_2