Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 135


__ADS_3

Pesanan mereka sudah datang. Mereka membawa makanannya ke balkon. Sepertinya enak makan sambil melihat keluar kamar.


"Mas suapin, ya!" ucap Andre yang di berikan anggukan Kanaya.


Mereka makan sambil suap-suapan dengan mata yang saling menatap dengan mesra. Andre mengusap bibir Kanaya dengan ujung jarinya saat ada makanan yang menempel di bibirnya. Kanaya dengan malu-malu menundukan wajahnya.


"Enak supnya?" tanya Andre lembut.


Kanaya mengangguk pelan, "Hhmm,"


"Apalagi makannya sambil di suapin suami, ya?"


Kanaya tersenyum. Debaran itu tak pernah berhenti dari semenjak di ucapkannya ikrar akad. Setelah selesai makan, mereka menghabiskan waktu bercengkrama di balkon sambil menatap langit dan gedung-gedung pencakar di sekitar hotel. Kanaya bersandar di bahu suaminya dengan jemari tangan yang saling bertautan.


"Mas, aku sebenernya dari kecil ingin sekali jadi dokter atau kalau nggak ya punya suami dokter. Alhamdulillah akhirnya aku bisa juga bersuamikan dokter."


"Oh ya?"


Kanaya mengangguk.


"Kamu nggak kuliah?" tanya Andre hati-hati takut Kanaya tersinggunng.


"Karena mau menikah ini, aku di minta berhenti kuliah oleh dia. Entah apa sebabnya dan aku juga nggak tahu kenapa papi bisa-bisanya setuju!" ucap Kanaya lirih dengan wajah sedih.


Dahi Andre berkerut, "Kamu kuliah ambil apa, hnm?" tanya Andre lembut sembari mengusap rambut panjang Kanaya.


"Aku ambil manajemen bisnis, mas. Karena papi awalnya ingin aku bisa membantunya di perusahaan!" jelas Kanaya.


"Hhmm, jadi kuliah dan menikah semua keinginan papi?"


Kanaya mengangguk, "Iya, mas! Aku nggak bisa membantah papi. Baru kali ini aku lelah dan memaksakan menikah dengan mas!" jelasnya lagi.


"Kamu memang anak yang penurut."


"Hhh, itu dulu. Makanya papi sudah nggak terlalu mau mengurusi pernikahan kita. Tapi beruntungnya, persiapan hampir seratus persen jadi mami sudah tidak terlalu repot mengurusinya. Ada kak Kalla yang membantu juga."


"Hhmm, pasti papi kecewa sama mas karena membuat kamu tidak menuruti keinginannya lagi."


"Aku nggak mau kecewa lagi, mas! Tapi aku bersyukur nggak jadi menikah dengan dia!"


"Hhhmm, jadi kamu benar-benar yakin memilih mas?"


Kanaya mengangguk, "Awalnya aku marah sama mas. Kesel. Dan mau manfaatin mas supaya pernikahanku tetap jalan. Tapi lama-lama entah mengapa aku jadi sering terbayang wajah mas! Aku justru ingin selamanya jadi istri mas!"


"Hhmm, begitu."


"Mas marah?"


"Kenapa harus marah?"


"Aku takut mas marah. Entah aku takut mas tinggalin aku," ucap Kanaya lirih.


Hhh, Andre menarik nafasnya perlahan, "Hanya satu yang bisa membuat mas marah dan tinggalin kamu!"


"Hhhmm, a-apa, mas?"


"Khianat! Jangan pernah kamu berkhianat!"


"Hhmm, sudah dapat suami seperti mas. Suami yang membuat aku benar-benar merasakan kebahagiaan sebenarnya, mana mungkin aku berkhianat."


Andre lantas menarik Kanaya dalam pangkuannya. Dia pun baru merasakan kebahagiaan bersama seorang wanita.


Kanaya bersandar di dada bidang suaminya dengan tangannya bermain-main di kancing baju suaminya itu. Lama-lama matanya terpejam.


Saat Kanaya membuka matanya, ternyata dia sudah berada di atas tempat tidur. Dia mengedarkan pandangannya. Suaminya tidak ada di manapun. Mas Andre kemana, ya. Batinnya.


Kanaya menggeser tubuhnya, lalu beranjak turun dari tempat tidur. Dia lalu menuju ke kamar mandi. Tidak ada siapapun. Dia mengintip balkon melalui tirai jendela. Tak ada siapapun juga.

__ADS_1


Dia menarik nafasnya berat, "Hhh, mas Andre mana, ya?"


Kanaya kembali duduk di sisi tempat tidur. Tiba-tiba. Ceklek. Pintu kamar terbuka dari luar membuat Kanaya terhenyak kaget. Dia lantas menoleh.


"Mas?"


"Sayang, kamu sudah bangun?" Andre pun duduk di sebelah istrinya.


"Hhmm, mas dari mana?" tanya Kanaya penasaran.


"Mas tadi dari lobi menemui Alya."


"Alya? Siapa, mas?"


"Alya, adik mas!"


"Hhmm, oh iya. Maaf aku lupa, mas!" ucap Kanaya tidak enak hati.


"Iya, nggak apa-apa, sayang!"


"Kenapa Alya ke sini?"


"Hhmm, mas pinjam uang dia karena dompet mas bersama isinya kan ada di kamar kamu di rumah. Jadi dia meminjamkan pada mas ATMnya."


"Hhmm, iya mas. Mami sih nggak bilang-bilang."


"Iya, nggak apa-apa, kok. Kita keluar saja yuk mumpung sore."


"Iya, mas. Aku mandi dulu!" sahut Kanaya.


Setelah Kanaya selesai mandi, mereka kemudian turun ke lantai bawah.


"Kita mau kemana, mas?"


"Kamu maunya kemana?"


"Ayo kita cari!" ajak Andre.


Beberapa menit berjalan kaki, akhirnya mereka menemukan kafe yang cukup terkenal. Pengunjung kafe terlihat ramai. Mereka mencari tempat duduk yang dekat dengan jendela di lantai dua. Pemandangan di luar terlihat bagus.


"Kamu mau pesan apa?"


Kanaya membolak balik buku menu, "Aku ingin makan bakso, boleh, mas?"


"Ya boleh saja, sayang!"


Kanaya tampak tersenyum, "Ya sudah aku pesan bakso, deh!"


Andrepun memesan dua porsi bakso. Setelah menunggu beberapa menit pesanan mereka pun datang.


"Hhmm, sini mas suapin!" ucap Andre sembari menyodorkan sesendok bakso ke mulut istrinya.


"Enak ya, mas!" ucap Kanaya dengan ekspresi senang.


"Kamu sudah pernah makan bakso di sini?"


"Hhmm, dulu sewaktu masih sekolah SMU 8. Kan sekolahku dekat dari sini."


"Hhmm, kok jauh sekolah kamu dari rumah?"


"Iya, mas. Itu kan salah satu sekolah terbaik!"


"Oh, gitu." Andre kembali menyuapi istrinya.


Setelah selesai makan di kafe, mereka kembali berjalan-jalan sampai tak terasa sudah hampir sore. Kebetulan mereka lewat sebuah butik.


"Kita cari pakaian kamu, ya?" tawar Andre.

__ADS_1


"Iya, mas."


Mereka pun masuk ke dalam butik. Andre menbantu istrinya mencari pakaian.


"Gimana kalau yang ini, Sayang? Apa kamu suka?" tanya Andre saat menunjukkan sebuah gaun yang menyerupai gamis.


Kanaya memperhatikan pakaian yang ada di tangan suaminya.


"Hhhmm, ini sepertinya pakaian untuk yang pakai hijab deh, mas?"


"Siapapun pasti cocok memakainya, sayang. Atau kamu mau pakai hijab, hmm?"


Kanaya terlihat bingung, "Hhmm, mas. Saat ini aku belum siap memakai hijab. Nggak apa-apa kan?"


"Iya sayang. Kamu belajar pelan-pelan, ya!"


"Hhmm, iya mas."


Setelah membeli dua potong pakaian, mereka pun pulang kembali ke hotel.


"Capek juga ya, mas!" ucap Kanaya seraya meluruskan kedua kakinya.


"Mas pijat, ya?" tawar Andre.


"Tapi mas kan juga capek."


"Mas nggak capek juga, kan?"


"Nggak kok, biasa saja!" ucap Andre yang mulai memijat kaki Kanaya lembut.


Tak lama kemudian ada yang mengetuk pintu kamar mereka.


"Siapa itu ya, mas?"


"Biar mas yang bukain pintu!" ucap Andre.


Andre lantas berjalan ke arah pintu.


Ceklek.


"Mbok?" tanya Kanaya kaget.


"Non, maaf!" ucapnya.


"Ada apa, mbok?" tanya Kanaya.


"Ini, non. Mbok bawain barang-barang pak dokter!" jelasnya.


"Masuk dulu, mbok!" ajak Kanaya.


"Mbok mau langsung pulang saja, non!"


.


.


.


.


.


Maaf jika masih banyak typo yang bertebaran. Terimakasih


.


.

__ADS_1


23,5


__ADS_2