
Keesokan harinya, mereka kembali pergi ke pantai yang lain lagi. Kali ini mereka berenam berjalan bersama di bibir pantai.
Andre memaksa istrinya untuk main jetski.
"Aakkkhh," teriak Kanaya selama bermain jetski.
Alya pun tak kalah heboh dengan suara teriakannya sembari memeluk suaminya erat.
Alina dan Annisa hanya tertawa sembari mengambil video mereka.
Turun dari jetski, wajah Kanaya terlihat pucat. Andre langsung mengajak Alina untuk main jetski.
"Mbak Kanaya sakit? Wajahnya pucat," tanya Annisa khawatir.
Kanaya menggeleng lemah, "Sedikit pusing, dek. Ketakutan juga mbak ini," keluhnya lantas duduk di pinggir pantai berpasir.
Setelah semua mencoba bermain jetski, mereka jalan-jalan ke Mall sekaligus makan siang. Para wanita sibuk berbelanja sementara para lelaki dengan pasrah membawakan barang belanjaan yang jumlahnya tidak sedikit. Sudah tiga jam di Mall.
"Mau belanja apa lagi?" tanya Andre.
"Mau beli oleh-oleh di mana ya, mas?" tanya Kanaya.
"Kita tanya sama supir saja," jawab Andre.
Dengan di antar supir, mereka menuju pusat oleh-oleh.
Di sana mereka juga berbelanja sangat banyak. Kevin begitu royal membelanjakan istri dan juga ipar-iparnya sepuas hati.
"Uang Kevin sudah habis, nih. Yuk kita pulang!" ajak Andre.
"Uangnya mas Andre kan masih ada," celetuk Alina.
"Aduuhh!" Andre menepuk dahinya pasrah.
Menjelang sore mereka baru selesai berbelanja. Kevin dan Andre hanya bisa mengelus dada melihat para wanita menghabiskan uang mereka.
Sampai di hotel, semua barang belanjaan di simpan di kamar Alina dan Annisa karena masih harus di pilih-pilih dulu.
"Capek banget ya, Lin, hari ini!" keluh Annisa.
"Iya, capek tapi puas banget jalan-jalannya."
"Iya bener."
"Aku mandi duluan, ya," ucap Alina yang di berikan anggukan oleh Annisa.
Setelah Alina mandi, gantian Annisa yang mandi. Setelah itu, mereka sibuk memilah belanjaan mereka masing-masing lalu memasukkan ke dalam koper masing-masing.
Waktunya makan malam, kedua pasangan suami istri itu mendatangi kamar Alina dan Annisa.
"Kita pesan makanan saja, ya. Makan di kamar. Mas capek," ucap Andre.
"Iya, mas. Kita juga capek."
Alya dan Kanaya sibuk memilih belanjaan mereka lalu memasukkan ke koper masing-masing karena besok pagi mereka sudah akan kembali ke kota asal mereka.
Tak butuh waktu lama, pesanan makan malam mereka datang. Setelah selesai makan, mereka kembali ke kamar masing.
"Mas, aku kok lemes, ya," keluh Kanaya pada suaminya Andre.
"Lemes kecapekan, ya?" tanya Andre seraya mengusap lembut wajah istrinya.
Kanaya mengangguk.
Hhmm, nggak jadi deh malam panas terakhir di Bali. Batin Andre. "Ya sudah kita langsung tidur saja, ya."
Kanaya mengangguk setuju.
Di dalam kamar Alya, kedua pengantin baru itu menghabiskan malam terakhir mereka di Bali dengan percintaan yang panas seperti biasa entah sampai pukul berapa.
***
Pagi-pagi sekali, si kembar sudah rapi dan cantik. Annisa sibuk dengan handphonenya sedangkan Alina melamun di balkon kamarnya menatap ke bawah yang secara kebetulan terdapat kolam renang.
Ada beberapa orang yang sedang berenang. Tak sengaja pandangannya terkunci ke salah satu orang yang sedang ada di dekat kolam renang.
"Lin!" panggil Annisa.
__ADS_1
Alina menoleh, "Ya, kenapa?"
"Mas Andre sudah di luar. Semua sudah mau turun. Kamu masih mau melamun di sana?" tanya Annisa.
"Hhmm, siapa yang melamun?" sahut Alina lantas masuk ke kamar mengambil kopernya.
Mereka gegas keluar setelah yakin barangnya tidak ada yang tertinggal.
Di bawah, Alina kembali bertemu dengan seseorang yang ada di dekat kolam renang tadi.
"Mau kemana?" tanyanya.
"Aku?" tanya Alina kaget.
"Siapa lagi?" dia balik bertanya.
"A-aku mau pulang ke kotaku!" jawab Alina.
Laki-laki itu menghembuskan nafas berat. Dia lalu mengambil dompetnya lalu mengulurkan selembar kartu nama.
"Hubungi aku, ya," pintanya dengan wajah penuh harap lantas berlalu dari sana.
Alina menatap nanar laki-laki itu.
Pesawatpun membawa mereka kembali ke kota asal.
Pukul sepuluh pagi, mereka sudah sampai di rumah. Peluk sayang dari ayah dan bunda mereka melepas rindu.
"Kalian baik-baik saja kan di sana?" tanya bunda.
Mereka semua saling pandang. Bimbang harus jujur atau memendam saja cerita malam itu.
"Alhamdulillah, seperti yang ayah bunda lihat. Kita semua baik-baik saja," jawab Andre sedikit ragu. Biarlah nanti saja menceritakan semua. Walau bagaimanapun dalam keluarga jangan sampai ada yang di rahasiakan.
Mereka lalu masuk ke kamar masing-masing.
Alya membongkar barang-barangnya. Ada satu koper yang berisi oleh-oleh dia pisahkan ada di bawah.
"Kamu beli apa saja, sayang?" tanya Kevin sembari memperhatikan istrinya.
"Banyak, mas. Pakaian, tas, aksesoris. Kalau jajanan ada di koper oleh-oleh. Ada di bawah tadi."
"Oohh, ada kok. Baju Bali."
"Hhmm, mas nggak di beliin juga nggak apa-apa, kok. Yang penting istri tercinta seneng," ucap Kevin.
"Hhmm, ngerayu."
"Nggak apa-apa toh, merayu istri sendiri."
"Hhmm, iya-iya."
Kevin mendekati istrinya dan langsung menggendongnya.
"Mas!" teriak Alya kaget.
"Mandi dulu!" titah Kevin.
"Iya, mas duluan, deh. Aku mau. . ."
"Bareng!" potong Kevin.
"Mas, iihh!"
Di dalam kamarnya, Kanaya berbaring menunggu Andre yang sedang mandi. Matanya terpejam. Kopernya belum di buka sama sekali.
Saat Andre selesai mandi, dahinya berkerut melihat istrinya yang sedang tidur. Andre gegas memakai pakaiannya lalu mendekati istrinya.
"Pucat banget," gumam Kevin lalu menempelkan punggung tangannya ke dahi istrinya. "Loh, demam."
Andre gegas mengambil termometer lalu mengecek suhu tubuh istrinya, "Hampir tiga sembilan," gumamnya.
Andre lalu mencari kotak obat yang dia simpan dia dalam lemari khusus.
"Sayang," Andre menyentuh pipi istrinya lembut. Pipinya pun terasa hangat.
Kanaya menggeliat, "Mas" sahutnya lemah.
__ADS_1
"Kamu demam, sayang," ucap Andre.
"Pusing," keluh Kanaya.
"Minum obat, ya. Setelah itu tidur lagi!" titah Andre.
Kanaya menurut meminum obat yang di berikan suaminya. Dia lalu kembali berbaring.
"Tidurlah," titah Andre sembari mengusap kepala istrinya lembut dan penuh kasih sayang.
Beberapa menit kemudian, terdengar dengkuran halus menandakan istrinya itu sudah terlelap.
"Semoga panasnya segera turun," gumam Andre.
Di dalam kamar Alina, gadis itu selesai mandi. Dia lalu membongkar kopernya setelah itu merebahkan diri di atas tempat tidurnya yang nyaman.
Sedangkan Annisa, sampai di kamarnya dia langsung membuka handphonenya. Banyak pesan dan panggilan masuk dari seseorang yang beberapa hari ini dia rindukan.
Annisa segera membalas pesannya. Beberapa detik kemudian, handphonenya berdering. Kak Darren.
"Hallo." Annisa.
"Hallo, Nis. Kamu sudah sampai rumah?" Darren.
"Iya, kak. Aku baru saja sampai." Annisa.
"Luka kamu sudah sembuh?" Darren.
"Alhamdulillah, sudah sembuh, kak." Annisa.
"Syukurlah kalau begitu. Oh iya, kakak sudah mulai kuliah dua minggu lagi." Darren.
"Oh, ya? Selamat ya, kak!" Annisa.
"Terimakasih. Besok kakak akan melamar pekerjaan. Doain ya, semoga di terima." Darren.
"Aamiin!" Annisa.
"Oh iya, nanti malam kakak boleh nggak main ke rumah kamu?" Darren.
Wajah Annisa langsung bersemu merah. Jantungnya berdegup lebih kencang. Kak Darren mau ke rumah. Batinnya.
"Nis!" Darren.
"Eh iya, kak." Annisa.
"Kakak boleh nggak main ke rumah kamu nanti malam?" Darren.
"Hhhmm, boleh, kak." Annisa. Aku ada oleh-oleh untuk kakak. Batin Annisa.
"Kakak sampai ke rumah kamu mungkin pukul tujuh."
"I-iya, kak!" Annisa.
"Sudah dulu, ya." Darren.
"Hhmm, iya." Annisa.
"Kakak sayang kamu!" Darren.
Deg. Makin kencang saja jantung Annisa berdegub.
"A-apa, kak?" Annisa.
"Hhmm, ng-nggak apa-apa. Sudah dulu, ya. Bye!" Darren.
Sambungan telepon putus. Annisa masih mematung. "Aku nggak salah dengar, kan?" gumamnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
19