Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 218


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, David dan Lisa kembali mendatangi rumah Melly. Mereka tulus ingin meminta maaf, hingga akan terus berusaha mendapatkan kata maaf dari Melly dan juga putrinya.


Mereka sudah duduk di ruang tamu. Meysia yang membukakan pintu. Gadis itu lalu masuk ke dalam rumah memanggil ibu dan kakaknya Davina.


"Mas, semoga mbak Melly dan Davina mau memaafkan kita, ya," ucap Lisa penuh harap.


David menyunggingkan senyum lalu menganggukkan kepalanya, "Semoga saja."


Tak berselang lama, Melly dan Davina muncul di balik pintu. Davida dan Lisa sontak berdiri saat mereka sudah saling berhadapan. David mengulurkan tangannya di ikuti oleh Lisa.


Melly dan Davina saling memandang lalu mereka menakupkan kedua tangan mereka di depan dada.


"Silahkan duduk," ucap Melly dengan suara lirih.


David dan Lisa lalu duduk. Suasana terasa kaku hingga Meysia datang membawakan minuman untuk David dan Lisa.


"Silahkan di minum, om, tante," ucap Meysia ramah lantas segera kembali ke dalam.


"Silahkan," ucap Melly.


"Terimakasih," sahut David dan Lisa hampir berbarengan lalu meminum minuman yang di bawa oleh Meysia beberapa teguk.


"Mbak Melly, Davina, saya dan mas David datang lagi untuk memohon maaf atas kesalahan kita berdua di masa lalu. Kita berharap mbak Melly dan juga Davina mau memaafkan kesalahan kami. Walau kami tahu, kesalahan kami di masa lalu mungkin tak termaafkan tapi kami berdua sungguh menyesal dan hidup kami tidak akan tenang sebelum mendapatkan maaf dari mbak Melly dan juga Davina," ucap Lisa panjang lebar.


"Lisa benar, kami tidak akan tenang sebelum mendapatkan maaf dari kalian."


"Saya sudah memaafkan. Maaf kalau hari itu saya tidak bisa di ajak bicara karena saya sungguh kaget dan belum siap untuk bertemu," jelas Melly.


"Terimakasih," ucap Lisa dan David hampir berbarengan.


"Saya berharap kita bisa menjalin persaudaraan, dan untuk Davina, papa berharap kamu mau menerima papa sebagai papa kamu walau papa tidak ada di masa pertumbuhan kamu sampai kamu dewasa seperti sekarang ini. Walau penyesalan kami terlambat tapi ijinkan kami untuk memperbaiki diri," ucap David dengan wajah tertunduk.


"Aku juga sama seperti ibu sudah memaafkan papa dan juga tante," sahut Davina.


"Hhmm, boleh papa peluk kamu, nak?" pinta David dengan wajah memohon. Matanya berkaca-kaca menatap putrinya yang telah dia sia-siakan selama ini.


Davina menatap ke arah ibunya, Melly pun menganggukkan kepalanya dengan senyum lembut.


"I-iya, boleh," jawab Davina lirih.

__ADS_1


David langsung memeluk Davina erat sembari tangannya mengusap-usap pucuk kepala putrinya itu. Tangis Davina pun pecah. David pun tidak kuasa menarah kesedihannya.


"Menangislah, nak. Kalau kamu mau marah sama papa, ungkapkan saja. Keluarkan semua isi di hati kamu. Papa ikhlas, nak. Asalkan setelah itu, kamu tidak lagi merasakan sakit akibat perlakuan papa pada kamu."


"Aku benci papa. Awalnya aku sangat membenci papa."


"Iya, nak. Papa mengerti."


Setelah tangis Davina sedikit mereda, mereka kembali duduk.


"Mbak Melly, semoga mulai hari ini tidak ada lagi dendam di antara kita. Saya sangat mengharapkan tali silaturahim kita dapat terjalin," ucap Lisa.


"Saya tidak dendam, mbak. Saya bahkan sudah melupakan masa itu. Saya hanya ingin menjadi ibu dan istri yang baik untuk suami dan anak-anak saya. Saya hanya ingin hidup tenang."


"Alhamdulillah, mbak," sahut Lisa.


Tok tok tok. Tak lama kemudian ada yang mengetuk pintu. Seorang laki-laki muda berdiri tak jauh dari pintu. Semua mata menoleh ke arahnya. Davina lalu berdiri menghampiri laki-laki itu.


"Mas, silahkan masuk!" ajak Davina.


Laki-laki muda itu melangkah masuk dengan ragu saat melihat ada David dan juga Lisa di dalam.


"Hhmm, pa, tante. Kenalin, ini calon suami aku. Namanya Fahri. Dia dosen di sebuah Universitas Islam di kota ini," jelas Davina.


"Mas, kenalin papa aku dan, dan istrinya," ucap Davina terbata.


Calon suami Davina menakupkan kedua tangan di depan dada sembari menundukkan kepalanya.


"Saya calon suami dari Davina, om, tante," ucap Fahri santun.


David menarik nafas perlahan. Dia menyunggingkan senyum. Ada rasa lega di hatinya saat melihat calon suami dari putrinya itu. Sepertinya dia pria yang baik. Semoga dia bisa membahagiakan putriku. Batin David.


Mereka lalu mengobrol, membahas tentang rencana pernikahan Davina yang hanya tinggal tiga minggu lagi. Tak ada lagi raut wajah sedih. Yang ada hanya ikatan kekeluargaan yang saling mengasihi.


***


Waktunya hari pernikahan Davina telah tiba. Anto beserta istri dan kedua putri kembarnya ikut datang. David, Lisa dan Darren pun hadir. David bertindak sebagai wali dari mempelai wanita. Mata David berkaca-kaca saat sudah selesai menikahkan putri yang sudah dia sia-siakan selama ini.


Setelah selesai mengucapkan doa, semua tamu undangan di persilahkan untuk menikmati santapan dari ahli rumah. Kedua mempelai tampak sangat berbahagia.

__ADS_1


Acara sesi foto menambah haru saat tiba waktunya foto bareng keluarga.


Darren mendekati Annisa, "Foto bareng mbak Davina, yuk!" ajak Darren.


Annisa menyunggingkan senyum lalu menganggukkan kepalanya. Darren tersenyum semringah lantas gegas naik ke pelaminan.


"Hhmm, mbak. Aku boleh ikut foto, nggak?" tanya Darren malu-malu.


"Ayo!" sahut suami Davina sedangkan Davina hanya menganggukkan kepalanya.


Darren gegas menghampiri Annisa lantas menarik tangan gadis itu perlahan. Mereka lalu naik ke atas pelaminan. Darren berdiri di sebelah pengantin pria dan Annisa di samping Davina.


Alina sempat heboh dan ikut mengabadikan dengan handphonenya.


"Ayah! Tuh lihat anak gadis ayah sudah siap bersanding di pelaminan," seloroh Alina hingga Anto, Santi, David dan Lisa yang sedang makan di meja yang sama kompak menoleh. Mereka hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.


Annisa dengan wajah merah seperti kepiting rebus gegas turun setelah selesai berfoto tanpa menunggu Darren lagi. Dia lalu ikut makan di meja yang sama seperti kedua orangtuanya.


"Dek, tidak sampai satu tahun lagi sekolahmu selesai. Tidak jadi kuliah, hmm?" ucap Anto.


Annisa melirik ayahnya sekilas lantas pura-pura sibuk dengan makanannya. Alina nih, jadi malu kan aku sama ayah.


Setelah semua tamu hampir semuanya pulang, Anto dan keluarga juga berpamitan. Begitupun keluarga David.


Anto melajukan mobilnya ke arah rumah dengan kecepatan sedang. Si kembar duduk di kursi belakang sibuk dengan gawai masing-masing.


"Alhamdulillah ya, mas. Semua orang sudah berbaikan. Yang salah sudah mengakui kesalahannya dan yang tersakiti sudah ikhlas memaafkan."


"Iya, sayang. Anggap saja itu ujian hidup untuk menempa kita menjadi sosok yang kuat. Walau butuh waktu untuk menerima, tapi yakin saja itu adalah jalan kita untuk menemukan kehidupan yang lebih baik. Tidak ada yang perlu di sesali."


"Suamiku memang yang terbaik!" puji Santi dengan tatapan penuh Cinta ke arah suaminya. Pun Anto membalas tatapan istrinya dengan penuh cinta.


.


.


.


.

__ADS_1


.


01


__ADS_2