
Tidak terasa waktu sudah menunjukka pukul empat sore.
"Ternyata dia benar-benar kelelahan dan ngantuk. Nggak tega rasanya membangunkan tidurnya," gumam Kevin.
Tiba-tiba Alya menggerakkan tubuhnya. Dia lalu mengerjap-ngerjapkan matanya. Kevin memperhatikan dengan intens.
"Pak?!" ucap Alya kaget.
"Al. . ." sahut Kevin lembut dengan tatapan yang menusuk sampai ke jantung Alya.
"Hhmm, aku?" Alya salah tingkah. Dia lalu menundukkan kepalanya.
"Sudah puas tidurnya, hmm?"
"Hhmm, maaf aku ketiduran," sahut Alya.
Entah kenapa tiba-tiba Kevin mengusap lembut wajah Alya. Gadis itu merasakan tubuhnya gemetar.
"Ja-jangan, pak!" pinta Alya dengan suara bergetar.
Kevin menarik tangannya, "Pulanglah!" titahnya kemudian.
Alya mendongak, "Silahkan kalau pak Kevin nggak memberiku nilai. Silahkan kalau pak Kevin nggak mau jadi dosen pembimbingku. Silahkan juga buat aku nggak lulus tahun ini!" ucap Alya sambil terisak.
"Kamu bicara apa, sih?" tanya Kevin heran.
"Pak Kevin marah kan dengan sikapku? Silahkan lakukan apa yang pak Kevin mau tapi satu hal, aku bukan gadis gampangan!" tegasnya sembari menghapus air mata.
"Siapa yang anggap kamu seperti itu, hahh? Kenapa kamu sampai berpikir seperti itu?"
Alya hendak membuka pintu mobil tapi satu tangannya di tahan oleh Kevin, "Alya!"
Alya menoleh, "Tenang saja, pak. Aku nggak akan cerita apa-apa sama mas Andre!" tegasnya lantas buru-buru turun dari mobil Kevin.
"Dia kenapa, sih? Gara-gara aku sentuh wajahnya jadi marah-marah begitu?" gumam Kevin yang terus memperhatikan Alya sampai gadis itu tidak terlihat lagi.
"Aaakkhh!" Kevin mengusap wajahnya kasar.
"Kenapa dia jadi salah paham?"
Kemudian Kevin melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Alya.
Sementara gadis itu langsung masuk ke kamarnya tanpa mempedulikan panggilan dari adiknya Annisa.
"Mbak Alya kenapa, ya?" gumamnya bingung.
Alya membanting tasnya ke lantai. Dia merasa sangat sedih. Orang yang akhir-akhir ini sudah memasuki alam pikirannya ternyata memandang dia sebelah mata.
"Lupakan dia, Alya. Lupakan!" racaunya.
Tapi bagaimana cara melupakannya sedangkan hampir setiap hari mereka bertemu dan yang lebih menyesakkan, pria itu yang akan menjadi dosen pembimbingnya. Bisa di pastikan pertemuan mereka akan semakin intens.
Alya lalu pergi ke kamar mandi. Mengisi bathup dengan air tak lupa sabun aromaterapi favoritenya. Dia langsung berendam.
***
"Mbak Alya dari tadi diem terus?" tanya Alina heran.
"Hhmm, mbak nggak kenapa-kenapa kok, dek!" sahut Alya lirih.
"Ada mas Andre tuh!" seru Annisa tiba-tiba dari ruang tamu.
"Wah, mas Andre!" teriak Alina lantas berlarian ke ruang tamu.
Dari ruang keluarga di mana Alya sedang duduk, terdengar suara ramai.
"Mas Andre datang sama siapa kok rame banget?" gumam Alya.
Karena merasakan rindu pada kakak satu-satunya itu, Alya pun menyusul adik-adiknya ke ruang tamu.
Tapi saat dia sudah berada tak jauh dari mereka, tiba-tiba Alya terdiam. Mematung di tempatnya berdiri.
__ADS_1
"Alya, kenapa masih berdiri di sana? Apa kamu nggak kangen sama masmu yang tampan ini, hmm?" seru Andre lantas menghampiri adiknya lalu mengulurkan punggung tangannya untuk di cium.
Alya tersenyum kecil lantas mencium punggung kakaknya itu
"Apa kabar, mas?" tanya Alya.
"Alhamdulillah makin baik!" jawab Andre.
"Iyalah, pengantin baru pasti hidupnya makin baik!" celetuk Kevin seraya melirik ke arah Alya.
Alya hanya menatapnya sekilas lalu mengulurkan tangannya pada istri kakaknya, "Mbak, apa kabar?" tanya Alya ramah.
"Alhamdulillah, baik juga!" sahutnya.
Tak lama kemudian ayah bunda mereka datang bersama sang nenek.
"Andre," sapa bundanya.
"Bunda," sahut Andre seraya mencium punggung tangannya.
"Kalian sehat, kan?" tanya ayah sembari memeluk putranya.
"Alhamdulillah sehat, yah!" jawab Andre.
Mereka lantas ngobrol apa saja di ruang tamu sedangkan Alya segera berlalu dari sana hendak kembali ke kamarnya.
Alya duduk di meja riasnya. Memandang pantulan dirinya di depan kaca. Dia melamun. Dia ingin sekali ikut bergabung di ruang tamu tapi ada sosok yang dia tidak ingin untuk bertemu.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.
Tok tok tok.
Dengan malas, Alya bangkit lalu berjalan ke arah pintu.
Ceklek.
"Lin? Ada apa?" tanya Alya pada adiknya.
"Hhmm, mbak sakit perut, dek. Mau ke kamar mandi!" ucap Alya bohong.
"Hhmm, ya sudah nanti kalau sudah langsung turun ya, mbak!" pinta Alina yang langsung pergi dari hadapan Alya.
"Hhuhh, bagaimana ini? Kenapa datangnya bareng sama mas Andre, sih!" gerutu Alya.
Alya berpikir sejenak. Tanpa pergi ke kamar mandi, Alya terpaksa turun menemui mereka.
"Tuh mbak Alya!" tunjuk Annisa saat Alya masih di atas tangga.
Dengan langkah gontai, Alya berjalan menghampiri mereka.
"Nak, kamu kenapa masuk ke kamar kan ada mas Andre datang?" tanya Anto.
"Hhmm, aku-aku ada tugas kuliah, yah!" jawab Alya bohong.
"Ini loh ada dosen kamu. Masa nggak di ajak ngobrol?" ucap Andre sambil mengedipkan sebelah matanya.
Alya menatap Kevin sekilas dengan malas. Dia lantas duduk di antara mereka.
Semua keluarga asik ngobrol apa saja sementara Alya hanya jadi pendengar.
Tak lama kemudian, Kevin berpamitan.
"Om, tante, saya pulang dulu!" pamitnya.
"Loh kok buru-buru?" tanya Andre.
"Sudah malam, Dre!" sahut Kevin.
"Alya, kamu antar dulu Kevin sana!" titah Anto yang sukses membuat mata Alya membuka lebar.
"Alya, sana anter!" titahnya lagi.
__ADS_1
Dengan terpaksa, Alya mengantar Kevin ke depan pintu.
"Al. . . " ucap Kevin.
Alya diam saja. Dia terlihat tidak suka dengan kedatangan dosennya itu.
"Al, saya minta maaf. Tadi saya nggak bermaksud apa-apa. Hanya ingin mengusap wajahmu saja. Maaf kalau kamu nggak suka."
Alya masih saja diam membisu.
"Saya suka kamu, Al!"
Alya mendongak. Kaget dengan kalimat yang baru saja dosennya itu ucapkan.
"Saya sungguh-sungguh menyukai kamu, Al!"
"Saya tahu kamu pasti tidak percaya. Tapi cobalah mengerti."
Alya masih setia dengan diamnya.
"Al, jangan diam saja. Ok saya tahu kamu marah. Tolong maafkan semua sikap saya selama ini. Saya benar-benar menyesal tapi tolong jangan menghindari saya."
Alya menelan salivanya. Dia bingung harus mengatakan apa.
"Al, saya akan mengundurkan diri jadi dosen pembimbing kamu kalau kamu merasa nggak nyaman sama saya!"
"Aku pikir kamu juga suka sama saya, ternyata itu hanyalah pikiranku sendiri. Sekali lagi saya minta maaf!" Kevin membalik badannya hendak pergi tapi tiba-tiba Alya mau bicara.
"Aku-aku maafin!" ucap Alya lirih.
"Benarkah?" tanya Kevin dengan senyum semringah.
Alya mengangguk.
"Kamu masih mau saya jadi dosen pembimbing kamu?
Alya kembali mengangguk.
"Kamu mau jadi seseorang yang spesial di hati saya?"
Alya mendongak.
"Hhmm, maaf ya saya banyak maunya!"
"Iya, memang banyak maunya!" ucap Alya ketus.
Kevin kembali tersenyum. Walau Alya bicara ketus tapi setidaknya gadis itu sudah mau bicara lagi dengannya.
"Terimakasih, Alya! Saya sayang kamu!" ucap Kevin pelan namun dengan penekanan.
Mata mereka saling memandang.
.
.
.
.
.
Maaf masih banyak typo. 🙏
.
.
.
.
__ADS_1
23