
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, aku harus segera menjemput putriku di sekolahnya.
"Kamu mau ikut jemput Alya, yank?" tanyaku pada istriku yang sedang berbaring di tempat tidur sambil bermain gawai.
"Iya, aku ikut!' sahutnya lalu berdiri mendekatiku.
Kemana aku pergi, dia tak pernah mau di tinggal.
Kadar cemburunya makin bertambah sejak dia hamil. Padahal apa yang mesti dia cemburuin. Aku bukanlah pria kaya dan hebat yang akan menjadi incaran kaum hawa. Apalagi sekarang dia sudah tidak mengizinkan lagi aku mengenakan pakaian kantoran seperti biasanya.
Bahkan tadi pagi dia hanya menyiapkan kaos oblong biasa untuk aku pakai ke minimarket sama seperti pakaianku saat aku bekerja di toko bangunan. Tapi ya sudahlah daripada nanti dia kecewa dan kesal, aku turutin saja kemauannya.
Aku segera melajukan mobil ke sekolah putriku. Ternyata anak-anak sudah mulai pulang dan hanya sedikit yang baru saja keluar dari gerbang sekolah. Aku menunggu di mobil lima sampai sepuluh menit tapi putriku tidak juga muncul di gerbang sekolah. Perasaanku mulai tidak enak. Biasanya putriku akan keluar bareng dengan teman-temannya.
"Alya kemana ya yank, tidak biasanya dia belum keluar?" tanyaku pada istriku.
"Iya ya, mas. Biasanya dia tidak pernah keluar belakangan. Apa kita tanyakan saja sama gurunya, mas?"
"Ya sudah ayo kita tanya sama gurunya saja, yank! Kita tanya juga sama Andre."
Kami lalu turun dari mobil. Kebetulan ada guru yang melintas di dekat pintu gerbang sekolah. Gegas kami menghampirinya.
"Assalammu'alaikum, bu guru," salam kami berdua.
Bu guru pun menoleh ke arah kami, "Wa'alaikumsalamm. Ya, ada yang bisa saya bantu, pak, bu?" sahut bu guru ramah.
"Saya mau tanya, bu. Apa kelas 1A sudah pulang semua?" tanya istriku.
"Kelas 1A sudah pulang semua,bu. Belum lama!" jawab bu guru.
Deg. Jantungku berdetak lebih cepat. Kemana putriku.
"Apa ibu yakin mereka sudah pulang semua? Soalnya putri saya yang di kelas 1A sampai sekarang belum keluar juga," sahutku mulai cemas.
"Kalau begitu bapak dan ibu bisa tanyakan langsung ke wali kelasnya. Ayo saya antar ke kantor!" ajak bu guru tersebut.
Kami berdua lalu mengikuti beliau ke kantor. Kami diarahkan ke wali kelas putriku yang bernama bu Wati.
"Bu Wati. Ada yang sedang mencari anak kelas 1A. Mungkin bu Wati tahu!" ucap bu guru yang mengantarkan kami.
"Anak kelas 1A sudah pulang lima menit yang lalu. Memangnya ada apa?" tanya bu Wati.
"Apa ibu yakin semua murid kelas 1A sudah pulang,bu?" tanyaku belum yakin.
"Iya, pak. Mereka semua sudah lima menit yang lalu pulang!"
"Tapi putri saya yang belajar di kelas 1A kok tidak ada ya, biasanya dia akan menunggu di pintu gerbang sebelum kami menjemputnya!" jelasku.
Aku makin cemas. Ke mana Alya sebenarnya.
"Coba kita tanyakan sama Andre saja, mas!" saran istriku.
Aku pun mengangguk, "Bu,apa kita boleh ke kelas 3A? Anak saya yang sulung belajar di kelas 3A. Saya ingin menanyakan mungkin dia tahu keberadaan adiknya," pintaku.
"Oh ya boleh pak, silakan! Ayo saya antarkan!" tawar bu guru.
Kami lalu menemui Andre di kelasnya. Andre izin keluar kelas sebentar menemui kami.
"Nak, kamu tahu dimana adik kamu Alya?" tanyaku langsung tidak sabar.
"Adik Alya di kelasnya, yah!" jawab Andre.
"Tapi semua murid di kelas 1A sudah pulang semua, nak!" ucapku.
"Loh, jadi adek Alya kemana, yah?" putraku pun mulai cemas.
__ADS_1
"Ayah juga tidak tahu, nak. Biasanya adik kamu akan menunggu di pintu gerbang jika ayah telat jemput. Tapi hari ini ayah datang tepat waktu tapi adik kamu nggak ada."
"Adik di mana?"
"Apa di sini ada CCTV bu, yang mengarah ke pintu gerbang?" tanyaku kemudian.
"Oh ada, pak. Mari saya antar ke petugas yang mengurus masalah CCTV sekolah ini!" ajak bu guru kemudian.
Kami lalu menemui petugas yang di maksud oleh bu guru.
"Pak, apa bisa tunjukkan rekaman CCTV setengah jam yang lalu?" pinta bu guru kepada petugas yang ada di ruangan CCTV.
Ternyata di layar CCTV menunjukkan jika putriku sudah dijemput oleh Lisa. Ternyata Lisa yang sudah menjemput Alya lebih dulu.
"Nah, itu pak sudah ada yang jemput putri bapak!" seru bu guru.
"Iya, bu." sahutku pelan.
"Perempuan itu apa bapak kenal?" tanya bu guru.
"Iya saya kenal, bu."
"Siapa, pak?" tanya bu guru.
"Hhmm,ibunya," jawabku pelan.
"Alhamdulillah kalau benar ibunya, pak. Jadi sudah jelas ya pak, kalau putri bapak sudah dijemput sama ibunya. Bapak bisa menemui ibunya saja!" jelas bu guru.
"Baiklah, bu. Terima kasih. Kalau begitu kita permisi dulu," pamitku kemudian.
Aku lalu menemui Andre di kelasnya supaya putraku itu tidak kepikiran adiknya.
"Adik kamu dibawa sama ibu kamu tadi."
"Apa yah, jadi adik Alya dibawa sama ibu?" Putraku pun terlihat kaget.
Aku lalu berpamitan pada guru dan gegas melajukan mobilku ke arah rumah suami Lisa.
"Mas harus sabar, jangan terbawa emosi!" ucap istriku.
"Iya sayang, mas nggak bakal emosi. Mas hanya ingin membawa Alya pulang."
"Bagaimana jika ibunya tidak mengizinkan Alya pulang sama kita, mas?"
"Ya kita lihat saja nanti. Mas pasti akan membawa Alya pulang bersama kita!" tegasku.
Kenapa Lisa sampai nekat berbuat seperti ini. Apa tujuan dia sebenarnya dan tahu dari mana Lisa jika kedua anakku bersekolah di sini.
Akhirnya kami sampai di depan rumah suami Lisa. Rumah yang dulu pernah aku datangi. Rumah itu terlihat sepi. Tapi ada ibu-ibu yang sedang mengobrol di rumah yang tak jauh dari rumah suami Lisa.
Aku dan istriku turun dari mobil lalu berjalan ke arah rumah itu. Kami mengetuk pintu pagar besi dan memanggil-manggil nama putriku tapi tidak ada sahutan.
"Alya! Alya!!" teriakku berulang-ulang.
"Cari siapa, mbak, mas?" tanya salah satu dari ibu-ibu yang tadi aku lihat sedang mengobrol di depan sebuah rumah yang tidak jauh dari rumah suami Lisa.
"Kami cari anak kami yang bernama Alya, bu!" sahut istriku.
"Alya? Setahu saya yang tinggal di rumah ini nggak ada yang namanya Alya!" jawab ibu itu.
"Hhmm,putri saya Alya di bawa oleh orang yang tinggal di rumah ini, bu. Namanya Lisa. Apa ibu kenal?" tanyaku lagi.
"Oh Lisa? Si pelakor itu?" tanya dua orang ibu hampir berbarengan.
Aku dan istriku hanya diam saja mendengarkan mereka.
__ADS_1
"Apa Lisanya ada di rumah ya, bu?" tanya istriku.
"Tadi pagi kita lihat pak David sama si pelakor dan bayinya juga pergi dan sepertinya belum pulang, deh!"
"Belum pulang, bu?" kepalaku mulai terasa pusing.
"Iya,memangnya Alya itu siapa,mas?"
"Alya itu putri saya, bu!" jawabku.
"Lalu apa hubungannya sama si pelakor Lisa itu?"
Aku menarik nafas berat, "Lisa itu mantan istri saya," jawabku pelan.
"Ooh, Lisa itu mantan istri mas, ya?" tanya semua ibu-ibu yang ada di sana.
Aku hanya mengangguk. Dan semua ibu-ibu itu lalu menoleh ke arah istriku dengan pandangan aneh.
"Oohh, pantes. Mungkin si Lisa itu stres karena di tinggal suaminya yang ganteng ini, ya? Jadi dia merebut suaminya mbak Melly. Kasihan mbak Melly, ya!" mereka saling berbisik dan bergantian melirik istriku hingga wajah istriku memerah.
"Saya tidak pernah meninggalkan dia, bu! Saya dan istri saya ini baru saja menikah lebih tiga bulan! !" tegasku. Aku tidak ingin semua ibu-ibu di sini berpikiran buruk tentang istriku apalagi istriku yang sedang hamil makin sensitif.
"Oohh,jadi si Lisa itu yang selingkuhin mas, ya? Bener-bener ya perempuan itu bodoh. Punya suami ganteng begini kok di tinggal malah pilih si David yang biasa-biasa saja. Galak lagi jadi suami. Kan dulu mbak Melly sering di pukul sama si David itu. Untung saja sih sudah bercerai."
"Wah,coba masnya menikah sama mbak Melly pasti seru tuh,tukeran ya. Hihihii." celetuk seorang ibu yang paling tua.
"Huuusss!" sahut yang lain."
"Eehh, maafin ya mas, mbak!"
Makin ramai saja ibu-ibu yang datang. Istriku sudah terlihat lelah dan stres. Aku pun berniat pulang saja mencari Alya di tempat lain walau aku tidak tahu harus mencari di mana lagi putriku itu.
"Hhmm, kita permisi dulu ya, ibu-ibu. Mau cari anak saya di tempat lain. Terimakasih atas informasinya!" pamitku lalu gegas pergi dari sana seraya menggandeng istriku.
"Loh,kok pulang mas ganteng?"
"Kok buru-buru kan putrinya belum ketemu?"
"Eehh,mas!"
Teriak ibu-ibu yang ada di sana. Aku makin mempercepat langkah kakiku.
"Sudah ibu-ibu saja masih kegenitan!" ucap istriku kesal.
"Sudah yank, jangan marah-marah."
"Ngatain orang pelakor, lah mereka godain mas di depan mukaku! Gimana aku nggak kesel!" dengusnya.
"Iya-iya mas ngerti. Yang penting mas nggak tergoda, kan?"
"Hhhh,"
"Sudah, donk! Sekarang kita mau cari Alya di mana, yank?" tanyaku bingung.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
15