
Alina dan Anissa. Aku memberikan nama untuk kedua putri kembarku. Satu minggu usia mereka berdua. Dokter mengatakan kondisi kedua putri kembarku mulai ada kemajuan.
Sekarang hampir semua waktuku habis ke rumah sakit. Aku hanya pulang sesekali untuk mengantar jemput kedua anakku ke sekolah saja.
Ke minimarket pun aku hanya datang mengontrol pagi dan malam hari. Pikiranku tidak akan tenang jika aku berlama-lama jauh dari rumah sakit. Rumah sakit jadi seperti rumah kedua bagiku. Aku mulai bisa tidur nyenyak di malam hari walau hanya tidur di bangku panjang yang ada di ruang tunggu.
Ibuku hanya ke rumah sakit sekali saja karena Alya dan Andre juga harus diurus keperluan mereka. Aku tahu ibuku pasti sangat lelah tapi dia tidak pernah mengeluh. Justru beliau selalu memberiku semangat, memberikanku kekuatan.
Aku bisa berdiri sampai sekarang, semua karena dukungan dari ibu. Aku tak boleh putus asa. Aku harus terus berharap dan berdoa pada sang pencipta.
Saat ini, aku sedang mengantar kedua anakku ke sekolah.
"Jadi nama adik kembar aku, Anisa dan Alina ya, yah?" tanya Alya.
"Iya, sayang. Apa kamu suka nama mereka?"
"Aku suka yah! Nama adik-adikku bagus kok!" puji putriku.
Aku tersenyum, "Selalu doakan adik-adik, ya. Semoga mereka kuat dan bisa segera kita bawa pulang ke rumah."
"Aaminn! Iya, yah. Aku selalu mendoakan mereka. Aku sudah nggak sabar main sama mereka dan juga bunda! Aku kangen bunda, yah!"
"Iya, nak. Ayah juga kangen sama bunda!"
***
Aku dan ibuku sedang membereskan semua barang-barang bayi kembarku. Hari ini mereka akan kami bawa pulang karena hari ini tepat satu bulan mereka di rawat di ruang NICU.
Dokter mengatakan kalau bayi kembarku sudah boleh dibawa pulang karena mereka mengalami perkembangan yang sangat baik. Aku sangat bersyukur walau di sisi lain masih ada kesedihan di hatiku. Sampai sekarang, bundanya anak-anak masih belum juga mau bangun dari tidurnya.
Aku memakai jasa satu orang baby sitter untuk merawat bayi kembarku. Karena aku tidak mungkin membiarkan ibuku sendiri yang merawat mereka. Ibuku akan mengawasi babysitternya langsung jadi aku tidak akan terlalu khawatir bayi kembar ku di rawat oleh orang lain.
Kebetulan ada tetangga di dekat rumah ibu, seorang janda yang sedikit lebih muda dari ibuku tidak mempunyai rumah dan hanya tinggal di sebuah kost-kostan seperti aku dulu. Namanya ibu Mina. Mungkin ibu Mina berusia sekitar lima puluh tahun. Bu Mina akan tinggal di rumah sekaligus merawat bayi kembarku.
"Ibu bisa gendong bayinya, kan? Dia masih sangat kecil!" tanyaku pada bu Mina.
Aku begitu khawatir karena melihat fisik bayiku yang tidak seperti Alya dan Andre sewaktu mereka bayi dulu.
"In Sya Allah bisa, tuan!" jawabnya sambil tersenyum.
"Loh, jangan panggil 'tuan'! Panggil saja saya Anto, bu! Sama seperti ibu saya manggil saya!" tegasku.
"Yah jangan, kan saya orang lain."
"Hhmm, nggak apa-apa kok, bu. Saya nggak suka di panggil 'tuan'!"
"I-iya. Saya panggil 'nak Anto' saja, ya? Sama seperti ibu kamu?"
__ADS_1
"Iya, nggak apa-apa, bu!"
Setelah semua selesai, kami lalu pergi perkiraan. Aku masukkan semua barang-barang bayiku di bagasi mobil. Setelah ibuku dan bu Mina naik ke mobil, aku gegas melajukan mobilku ke arah rumah.
Rencananya kedua putriku akan tidur di kamar yang ada di lantai bawah. Jadi ibuku bersama bu Mina akan tidur bersama dengan bayi kembar ku. Sedangkan putriku Alya sudah mulai tidur bersama kakaknya Andre.
Karena aku belum mempunyai pakaian bayi, jadi aku mengambil perlengkapan bayi di minimarket saja daripada aku harus pusing membeli di tempat lain. Dari mulai popok bayi sampai box bayi aku ambil dari minimarket.
Sampai di rumah, pak Toto membantuku membawa barang-barang bayi ke kamar bawah. Bibi sudah merapikan kamar dari sejak tadi pagi. Setelah semua keperluan bayiku dan juga susu sudah tersedia, aku lalu kembali lagi ke rumah sakit untuk menjenguk istriku.
"Aku ke rumah sakit dulu ya, bu. Mau menunggui Santi!" pamitku kepada ibu.
"Semoga bundanya anak-anak segera sadar ya, nak!" ucap ibuku penuh harap.
"Aamiin! sahutku.
Aku melajukan mobil ke arah rumah sakit. Aku langsung menuju ruang ICU.
"Bagaimana kondisi istri saya, apa sudah ada kemajuan, sus?" tanyaku pada suster yang berjaga di ruang istriku di rawat.
"Alhamdulillah, pak. Saturasinya sudah mulai normal dan tidak naik turun lagi seperti sebelumnya. Demamnya juga sudah tidak tinggi lagi. Pengobatan kankernya juga masih terus berjalan!" jelas suster.
"Alhamdulillah!" ucapku penuh harap.
"Bapak jangan lupa untuk terus berdoa!"
Aku lalu duduk disebelah istriku sambil membisikkan ayat-ayat suci Alquran di telinganya.
"Permisi, pak. Saya mau memberikan cairan makanan untuk istri bapak dulu,"ucap suster.
"Silahkan, sus!" jawabku.
Suster lalu memberikan cairan makanan pada istriku melalui selang NGT. Sejak istri dan bayi kembarku di rawat di ruang khusus, aku mulai sedikit mengerti istilah yang sering diucapkan oleh suster.
***
Tak lelah aku untuk terus berdoa dan berusaha untuk kesembuhan istriku. Hari ini kedua bayi kembarku sudah berusia empat bulan. Itu artinya istriku sudah koma selama empat bulan. Waktu yang sangat lama dan panjang bagiku.
Namun aku tidak pernah bosan untuk datang menungguinya, membisikkan kata-kata cinta dan semangat untuknya. Semoga saja dia bisa mendengar apa yang aku katakan dan bisa merasakan kasih sayang yang aku berikan kepadanya walaupun dia dalam keadaan koma.
Pertumbuhan kedua bayi kembarku juga sangat pesat. Aku sangat bersyukur sekali. Berat badan mereka pun sekarang sudah normal hingga aku kini sudah berani menggendong mereka.
Saat beberapa hari yang lalu mereka dibawa ke dokter anak, dokter mengatakan berat badan kedua putri kembarku sudah 5,5 kilogram. Apapun itu aku sangat bersyukur. Mereka juga sudah bisa tersenyum dan mulai bisa mengangkat kepalanya sedikit.
Alya juga sudah mulai bisa berjalan seperti dulu. Hanya saja dia tidak berani lagi naik turun tangga sambil berlari. Tapi sejak istriku dirawat, kami sekeluarga sudah tidak pernah lagi pergi keluar walau hanya untuk sekedar jalan-jalan. Di rumah tetap merasa ada yang kurang.
Aku sekarang sudah tidak terlalu sering lagi ke rumah sakit karena walau bagaimanapun juga aku tetap harus menjalankan usaha minimarket istriku. Tapi setiap malam aku selalu menginap di rumah sakit dan paginya aku akan pulang melihat bayi kembarku dan mengantar kedua anakku ke sekolah.
__ADS_1
Hari ini aku sedang sibuk di minimarket. Banyak barang yang baru masuk. Perlengkapan bayi yang pernah aku ambil pun sudah aku ganti lagi. Sekarang barang-barang sudah semakin lengkap.
Karyawan minimarket pun sekarang sudah berjumlah 16 orang. Dua orang satpam berjaga untuk malam hari saja.
Walau pengeluaran untuk biaya rumah sakit istriku lumayan banyak, aku tidak pernah mempedulikannya. Dan untuk itu aku semakin giat bekerja memajukan minimarket istriku. Cari uang sebanyak-banyaknya untuk biaya pengobatannya.
Walau aku tahu bahwa kesembuhan untuk istriku sangat tipis tapi aku tidak patah semangat. Santi adalah wanita yang memberikan ku cahaya ditengah kegelapan. Saat aku terpuruk, saat aku merasa tidak dicintai, dan saat aku merasa kecil, dia datang mengangkatku dari keterpurukan dan memberikanku secercah harapan.
"Ayah, besok kan hari minggu. Aku mau menemani ayah menginap di rumah sakit, boleh ya?" pinta putriku.
"Di rumah sakit itu tidak enak. Kamu nggak bisa istirahat dengan nyaman, nak. Kamu di rumah saja, ya!" tolakku halus.
"Aku kangen bunda, yah!"
"Alya doakan saja bunda cepat sadar dan bisa kembali ke tengah-tengah kita, ya sayang! Lebih baik kamu di rumah membantu nenek menjaga adik-adik."
"Aku selalu doain bunda, yah!"
"Anak baik. Sekarang adik kan sudah pandai tertawa setiap kamu ajak main, ya. Nanti adik-adik nyariin kalau kamu nggak ada."
"Iya deh yah, aku di rumah saja bantuin nenek jagain adik."
"Nah, itu baru anak ayah!"
Aku lalu memeluk dan mencium putriku itu penuh kasih sayang. Semoga anak-anakku selalu dalam lindungan Allah.
Tak terasa, kini aku sudah memiliki tiga orang putri dan satu orang putra. Tanggung jawab yang semakin besar. Dan aku tidak akan terpuruk terus karena memikirkan bunda mereka.
.
.
.
.
.
Maaf jika masih ada typo. Terimakasih sudah membaca 😊🙏
..
.
.
19
__ADS_1