
Sampai waktunya aku menjemput putraku Andre, putriku Alya belum juga bisa aku temukan.
"Adik Alya sudah ketemu, yah?" tanya Andre
Aku menggeleng lemah, "Belum, nak!" jawab ku.
"Ya Allah, jadi di mana adik? Ke mana ibu membawanya?" putraku terlihat cemas.
"Sabar nak, kita akan terus berusaha mencari adik kamu!" janjiku.
"Kenapa ibu gitu, yah?"
"Hhmm. Ayah nggak tahu. Ayo kita pulang saja dulu!" ajakku.
Kami lalu kembali lagi ke mobil. Di dalam mobil aku lihat istriku sedang gelisah sambil memegangi perutnya.
"Kamu kenapa yank?" tanyaku heran.
"Hhmm, mas. Perutku sakit," jawabnya lirih.
"Ya Allah, kita ke dokter ya?" tanyaku lembut.
"Hhmm, sepertinya lambungku sakit, terasa kembung juga, mas!"
"Lambung kamu sakit? Kamu laper, yank?"
"Laper?" dia balik bertanya.
Aku mengangguk, "Iya, sayang!"
Aku ingat dulu setiap hamil, Lisa sering mengeluh lambungnya terasa sakit dan kembung. Ternyata itu karena dia lapar. Dan juga karena kehamilannya.
"Hhmm,"
"Kita cari makan, ya? Ini juga sudah waktunya makan siang!" ajakku.
"Tapi kita masih harus mencari Alya, mas!"
"Iya sayang! Tapi kita juga butuh tenaga. Mas nggak mau kamu sakit. Andre juga pasti sudah laper!" aku lalu menoleh ke kursi belakang di mana putraku duduk. Dia terlihat gelisah sambil menatap keluar jendela.
"Ndre, kita cari makan dulu ya setelah itu kita cari adik kamu!" ucapku.
"Iya, yah," sahutnya lirih.
Aku kembali melajukan mobil mencari tempat untuk kami makan siang. Setelah sampai di sebuah restoran kecil, aku langsung memarkirkan mobil.
"Yuk turun!" ajakku lalu membukakan pintu mobil untuk istri dan putraku.
Kami lalu masuk ke dalam restoran. Mungkin karena memang jamnya makan siang, walau kecil tapi restorannya cukup ramai. Beruntung masih ada meja yang kosong. Kami gegas duduk sebelum ada yang menempati.
__ADS_1
"Kalian mau makan apa?" tanyaku seraya menyerahkan buku menu pada istri dan anakku.
"Aku apa saja, yah!" sahut Andre tanpa mau melihat buku menu.
"Aku pesan sup daging saja, mas!" pinta istriku.
Aku segera memesan makanan. Selama menunggu pesanan datang, kami hanya diam tidak ada yang mau memulai bicara. Kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing.
Aku bingung mau mencari putriku di mana lagi. Aneh juga kenapa Lisa sampai tidak ada di rumahnya. Apa dia sengaja menghindar supaya aku tidak bisa bertemu Alya. Tapi kenapa? Aku benar-benar pusing. Aku sangat takut memikirkan apa yang akan di lakukan David pada putriku itu. Karena aku mulai paham seperti apa David sebenarnya. Aku takut karena kebenciannya padaku, dia akan menyakiti Alya. Hhh, aku benar-benar stres memikirkannya.
Karena sibuk dengan pikiran kami masing-masing, sampai pelayan mengantarkan pesanan kami pun kami tidak menyadarinya.
"Pak, bu, silahkan," ucap pelayan ramah.
Aku yang kaget langsung menoleh, "Hhmm, terimakasih, mas!" sahutku.
"Andre, ayo di makan!" titahku seraya meletakkan makanan ke hadapan putraku. Dia hanya mengangguk kecil.
"Yank, kamu juga makan!" titahku pada istriku. Dia pun hanya mengangguk.
Kami lalu makan dalam diam.
Setelah selesai makan,kami kembali mencari Alya.
"Kita cari adik di mana, yah?" tanya Andre.
Aku menggeleng lemah, "Ayah nggak tahu, nak!"
"Kemarin dia maksa mau bawa Alya tapi mas larang. Mas takut suaminya akan menyakiti Alya. Entahlah mungkin mas hanya berlebihan saja tapi melihat bagaimana David selama ini terhadap mas, mas takut dia juga akan bersikap sama terhadap Alya."
"Semoga saja nggak, mas. Anak kecil kan nggak mengerti urusan orang dewasa."
"Iya, semoga saja."
Sampai menjelang sore,kami belum juga tahu kabar Alya. Kami mampir sebentar di minimarket.
"Semoga saja Alya di bawa ke sini!" ucapku penuh harap.
"Iya, mas. Kan si David itu tahu kita selalu di sini."
Aku lalu mampir ke gudang, aku masih tidak melihat mbak Melly.
"Kamu lihat mbak Melly?" tanyaku pada karyawan di gudang.
"Mbak Melly dari kemarin nggak datang, pak!" jawabnya.
"Hhmm. . . ,"
Ada apa sebenarnya dengan mbak Melly, sudah dua hari tidak datang ke minimarket. Semoga dia dan anaknya baik-baik saja.
__ADS_1
Aku lalu kembali ke kantor. Istri dan anakku sibuk dengan gawai masing-masing.
"Andre, kamu masih ingat nomor handphone yang dulu di pakai sama ibu kamu, nak?"
Andre menoleh, "Sudah lama nggak aktip lagi, yah!" sahutnya.
Hhh,ternyata Lisa sudah mengganti nomor handphone yang biasa di pakai saat masih tinggal di kost-kostan dulu. Lalu bagaimana cara menghubunginya.
Aku lalu kembali mengawasi minimarket dan mencatati persediaan barang yang ada di etalase. Sebelumnya tugas itu aku kasih ke mbak Melly tapi karena wanita itu dua hari ini nggak datang ke minimarket jadi aku kembali mengambil alih tugas itu. Ternyata ada beberapa barang yang tinggal sedikit di etalase dan aku menyuruh karyawan gudang untuk mengisinya lagi.
Hari sudah malam,kasir sedang menghitung pendapatan hari ini. Dan setelah itu melaporkan padaku beserta uang hasil pendapatan hari ini. Aku lalu menyimpan uang ke brankas. Setelah semua selesai,kami langsung menutup minimarket.
"Lisa ternyata nggak antar Alya ke minimarket padahal si David kan tahu dimana minimarket. Apa dia sengaja, ya?" gumamku saat kami sudah di dalam mobil.
Istriku menoleh, "Kita tunggu sampai besok pagi, mas. Semoga mereka antar Alya ke sekolahnya. Ikut dengan siapapun, Alya tetap harus sekolah, kan?"
"Aku juga sempat mikir begitu, yank. Tapi aku tetap nggak tenang kalau Alya harus bermalam dengan si David itu!" jelasku. Entah perasaanku tidak enak. Mungkin kalau si David itu nggak jahat, aku nggak akan sekhawatir ini.
"Jadi sekarang gimana, mas?"
Aku menarik nafas berat, "Kita pulang saja dulu. Lihat besok pagi, " jawabku pasrah.
Aku lantas melajukan mobil pulang ke rumah. Setengah jam kami pun sampai juga di rumah.
"Jadi adik Alya gimana, yah?" tanya putraku.
"Kita tunggu besok saja, ya. Semoga ibu kamu mau antar adek Alya sekolah."
"Iya, yah. Aku ke kamar dulu, yah!" pamitnya.
Aku mengangguk lalu masuk ke kamar menyusul istriku.
Aku berbaring di tempat tidur di sebelah istriku dengan gelisah. Istriku sudah memejamkan matanya. Aku kepikiran Alya terus hingga kantukku hilang.
"Hhmm, mas. Gelisah banget tidurnya?" protes istriku masih dengan mata terpejam.
"Maaf, yank. Kamu tidurlah!" titahku.
Aku masih belum bisa tidur saat jarum jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Aku turun dari tempat tidur lalu menyalakan tv. Semoga dengan menonton tv, bisa membuatku mengantuk.
Semoga Allah selalu melindungi anak-anakku dimana pun mereka berada. Aamiin!
.
.
.
.
__ADS_1
09