
Hari ini jadwal istriku untuk terapi di klinik dokter Cyntia. Setelah menunggu setengah jam,giliran istriku yang masuk ke ruang terapi. Aku hanya menunggu di luar. Sambil menunggu,aku sempatkan untuk menelpon ibuku untuk menanyakan kabarnya dan juga kabar anak-anak.
Alhamdulillah semua baik-baik saja dan kedua anakku tidak rewel menanyakanku terutama putriku Alya.
Setelah menunggu selama lebih dua jam,istriku keluar dari ruang terapi.
"Bagaimana,yank?"
"Alhamdulillah lancar,mas. Kalau bisa seminggu sekali tapi kalau nggak bisa usahakan paling sedikit sebulan dua kali," jelas istriku.
"Alhamdulillah,yank."
"Tapi kepalaku panas,mas. Kemungkinan rambutku akan sering rontok!" jelasnya lagi dengan wajah sedih.
"Nggak apa-apa,yank. Yang terpenting penyakit kamu di obati!"
"Hhmm,tapi kalau sampai rambutku habis gimana?"
"Kan kamu pakai hijab,yank. Nggak akan ada orang yang tahu,kan!"
"Tapi mas kan tahu! Aku pasti makin jelek!"
"Mas kan suami kamu masa nggak tahu. Kamu nggak akan jadi jelek,yank!"
"Hhmm,aku makin terlihat tua!"
"Kata siapa? Tak perlu memikirkan hal seperti itu!"
"Gimana aku nggak mikir,mas. Usiaku jauh lebih tua dari mas di tambah kondisiku yang. . . "
"Sssttt!" aku menutup mulutnya dengan jariku, "Mas nggak pernah mempermasalahkan itu dari semenjak kita menikah! Jadi jangan pernah berpikir seperti itu!" tegasku.
"Hhmm,aku hanya takut saja."
"Dari awal kamu sudah cerita semua dan mas tetap mau menikahi kamu jadi untuk apa sekarang di permasalahkan,hhmm?"
"Hhmm,iya sih!"
"Sudah,sekarang kita mau kemana lagi?"
"Hhmm,aku mau belanja,mas!"
"Ya sudah tapi jangan lama-lama. Mas nggak ingin kamu kecapekan!"
"Iya,mas."
"Tapi kita cari makan dulu,ya!" ucapku yang di berikan anggukan oleh istriku.
Kami lalu mancari restoran terdekat setelah itu mencari masjid untuk sholat zuhur. Setelah mencari hampir setengah jam kami baru menemukan sebuah masjid. Setelah selesai sholat,kami lalu pergi ke pusat perbelanjaan.
Istriku membeli banyak barang-barang untuk oleh-oleh. Istriku begitu royal sampai tas belanjaannya penuh. Dan tentu saja aku yang membawa semua belanjaannya.
__ADS_1
Menjelang sore,kami baru kembali ke hotel.
"Kita jadi pulangnya kapan,yank?" tanyaku saat kami baru saja sampai di kamar hotel.
"Lusa,mas. Sudah di beli tiketnya lusa. Nggak apa-apa,kan?"
"Jadi besok kita mau kemana?"
"Mas mau temani aku berkunjung ke rumah sahabat ayahku? Dari hotel ini satu jam menggunakan taxi."
"Iya sayang tentu saja mas mau!" sahutku.
***
Keesokan harinya setelah kami selesai sarapan di hotel,kami lalu pergi ke rumah sahabat dari mendiang ayah istriku.
Kami menggunakan taxi online. Satu jam kemudian kami pun sampai di sebuah rumah besar berpagar tinggi.
Kami lalu turun dari taxi dan di sambut oleh seorang satpam yang berjaga di pos yang tak jauh dari pintu pagar.
Istriku berbincang sejenak dengannya menggunakan bahasa inggris dan sekali lagi aku hanya bisa mendengarkan.
Kami lalu di persilahkan masuk. Dari pintu pagar sampai ke pintu rumah berjarak lebih dua puluh meter. Halamannya sangat luas dengan rumah bertingkat tiga yang sangat megah. Aku merasa rendah diri seketika. Bagaimana nanti saat bertemu dengan tuan rumah. Rasanya aku ingin pulang kembali ke hotel saja. Tapi itu tidak mungkin. Mana mungkin aku meninggalkan istriku.
"Mas,kenapa?" tanya istriku saat melihat aku yang seperti orang kebingungan.
"Hhmm,nggak apa-apa kok,yank!" sahutku.
Istriku lalu menggandeng tanganku,mengajakku masuk ke rumah itu. Rumahnya sangat mewah lebih mewah dari rumah istriku. Kami lalu duduk di sebuah sofa yang ada di ruang tamu.
Setelah menunggu beberapa saat,sepasang suami istri yang berusia kurang lebih enam puluh tahun datang.
"Santi?" ucap sang istri.
Mereka lalu berpelukan. Santi lalu memperkenalkan aku sebagai suaminya. Itu yang aku pahami dari obrolan mereka. Aku hanya diam,fokus mendengarkan obrolan mereka saja.
Beruntung istriku seorang yang sangat pengertian,kami di sana hanya sebentar saja. Kami lalu berpamitan setelah mereka saling bertukar nomor kontak.
Kami lalu pulang menggunakan taxi.
"Mas,maaf ya tadi kita ngobrolnya kelamaan sampai mas bosan," ucap istriku saat kami sedang dalam perjalanan pulang ke hotel.
"Nggak apa-apa kok. Nggak lama juga. Hanya mas kurang paham maklum bahasa inggris mas nol," sahutku.
"Iihh,mas kok ngomong seperti itu? Bahasa inggris mas di ijasah nilainya delapan,kan. Mas pinter donk bahasa inggris."
"Tapi itu kan masa sekolah menengah pertama,yank. Pelajaran bahasa inggrisnya nggak terlalu susah di banding sekolah menengah atas apalagi masa kuliah,"
"Mas selalu saja merendah."
"Mas bicara apa adanya kok."
__ADS_1
"Hhmm,tapi mas tahu kan mereka tadi bilang kalau mas itu suami yang baik. Aku sudah cerita dan mereka bilang kalau aku beruntung punya suami seperti mas!"
"Kamu hanya berlebihan memberikan pujian untuk mas!"
"Tapi memang suamiku ini the best kok. Walau usia lebih muda tapi mas sangat dewasa menghadapiku. Malah sikapku yang kurang dewasa. Sering manja seperti anak muda saja."
"Sebagai suami,mas memang harus bisa bersikap dewasa! Mas seneng kok kamu manja sama mas!"
"Terimakasih ya mas. Aku memang beruntung berjodoh sama mas!"
"Hhmm,kamu itu senengnya membuat mas besar kepala!" ucapku seraya mencubit mesra hidung mancungnya. Kami pun saling bertatapan dengan mesra.
"Hhmm,mas. Sekarang kita langsung pulang ke hotel atau mas mau jalan-jalan kemana?"
"Pulang ke hotel saja,yank. Kita lanjutkan bulan madu," ucapku. Aku memandangnya dengan tatapan berhasrat.
"Iihh,mas ini!" sahutnya malu.
Sampai di kamar hotel,kami terlebih dahulu memesan makanan untuk makan siang.
Setelah pesanan datang,kami makan berdua. Sesekali kami saling suap-suapan.
"Yuk yank,kita sholat dulu!" ajakku yang di beri anggukan oleh istriku.
Setelah sholat,aku langsung menggendong istriku,membawanya ke atas tempat tidur. Udara panas di luaran tidak menyulutkan kami untuk mengukir cinta sebagai pasangan sah. Ac yang sudah menyala full pun masih membuatku berkeringat.
Satu jam kami terbang bersama. Aku lalu mencium pucuk kepala istriku dengan penuh kasih sayang. Semoga kemesraan kami nggak akan pernah berakhir sampai maut memisahkan.
Aku beruntung walaupun usiaku lebih muda darinya tapi dia tetap menghormatiku sebagai suami. Selalu mendengarkan dan menuruti apa kata-kataku walau pada awalnya bertentangan dengan inginnya.
"Terimakasih sayang untuk kebahagiaan ini. Mas merasa jadi pria yang beruntung!"
"Aku juga,mas. Aku sangat beruntung memiliki mas sebagai suamiku. Semoga mas sabar menghadapi sikapku. Dan selalu ada untukku. Memberi dukungan untukku. Menguatkanku! Membuatku ingin hidup lebih lama lagi!"
"Iya sayang. Kalau perlu,mas ingin punya anak banyak dari kamu!"
"Hhmm,mas. Ingat tahun depan usiaku sudah kepala empat dan aku sama sekali belum pernah melahirkan. Fisikku harus benar-benar kuat!"
"Iya,sayang mas tahu! Tapi mas akan selalu ada untuk kamu!"
"Terimakasih,mas. Aku pun ingin cepat hamil. Bagaimana rasanya menjadi bumil pasti bahagia banget."
"Iya yank. Mas ngantuk nih. Kita tidur yuk!" ajakku. Istrikupun mengangguk lalu memejamlan matanya. Aku mengeratkan pelukanku lalu mulai memejamkan mata,meraih mimpi.
.
.
.
00
__ADS_1