
Pagi harinya, Andre sudah bersiap untuk mengajak adik-adiknya jalan-jalan. Dia tidak ingin kejadian tadi malam terulang lagi.
"Ayo sayang kita ke kamar Alina dan Anisa!" ajak Andre pada istrinya Kanaya.
"Iya, mas," sahut Kanaya seraya mengambil tas selempangnya.
Setelah menutup pintu kamarnya, Andre mengetuk pintu kamar Alina dan Annisa tak lupa dia juga mengetuk pintu kamar Alya supaya bersiap-siap.
"Mas Andre kok pagi banget?" tanya Alina.
"Nggak apa-apa, dek. Supaya sore kita sudah pulang kembali ke hotel," jawab Andre.
"Iya, mas."
"Kaki Annisa sudah nggak sakit lagi?" tanya Andre.
"Alhamdulillah sudah enak di bawa jalan, mas," sahut Annisa.
"Alhamdulillah," ucap Andre.
"Tapi kita sarapan dulu, kan?" tanya Alina.
"Iya, kita sarapan dulu di hotel," jawab Andre.
Setelah menunggu beberapa menit Alya pun keluar dari kamarnya.
Mereka langsung menuju restoran untuk sarapan. Setelah sarapan, mereka menyewa mobil dan juga guide untuk membawa mereka jalan-jalan. Tujuan utama mereka adalah pantai.
Walau masih pagi tapi pantai sudah mulai ramai oleh wisatawan dalam dan luar negeri.
Alina dan Annisa tampak gembira. Mereka berlarian di bibir pantai dan tak lupa mengabadikan momen mereka. Pasangan Kevin dan Andre duduk-duduk di tikar sembari memperhatikan si kembar.
"Alhamdulillah, mereka baik-baik saja. Aku semalam benar-benar ketakutan kalau mereka sampai hilang atau di jahatin orang," ucap Andre dengan pandangan tak lepas dari adik kembarnya.
"Mas ngopi apa ngemil dulu, nih. Kita gantian lihatin mereka," ucap Kanaya.
"Kev, ajaklah Alya jalan-jalan. Handphone selalu aktif, ya. Aku sama Kanaya tetap menunggu di sini," ucap Andre.
"Kalian nggak ikut jalan?" tanya Kevin.
"Kalian saja dulu. Ini kan bulan madu kalian."
"Ya sekaligus bulan madu kalian juga," ucap Kevin.
"Kita gampang. Nanti gantian saja," ucap Andre.
"Ya sudah kalau gitu," ucap Kevin lantas menggandeng Alya menuju bibir pantai.
Andre menatap istrinya, "Nggak apa-apa kita menunggu mereka di sini kan, sayang?" tanya Andre.
"Iya, mas. Nggak apa-apa, kok. Aku juga kok malas mau jalan," jawab Kanaya.
"Kamu capek, ya?"
Kanaya menggelengkan kepalanya, "Nggak, mas. Hanya malas saja," jawab Kanaya.
Satu jam kemudian, Alina dan Annisa menghampiri Andre dan Kanaya.
"Capek, mas," keluh Annisa.
"Masih sakit kakinya?"
"Awalnya sih nggak tapi kalau kelamaan jalan, sakit."
"Hhmm, ya sudah istirahat dulu. Ini minum sama makanan," tawar Andre.
"Tadi kemana saja kalian?" tanya Kanaya.
"Tadi kita ketemu mas Kevin sama mbak Alya. Kita tadi main jetski sama kak Darren, mas. Iih seru banget."
__ADS_1
"Oh, ya. Kalian nggak takut?"
"Pegangan kuat-kuat sama mas Kevin. Kita gantian, mas. Mbak Alya awalnya nggak mau, takut banget katanya. Jadi kita paksa ya, Nis. Hehee,"
"Kalian ini. Mbak Alya itu penakut!"
"Ya mumpung main, mas. Mas Andre sama mbak Kanaya nggak mau main jetski juga?"
Kanaya menggeleng cepat, "Nggak, ah. Takut," jawab Kanaya cepat.
Dahi Andre berkerut, "Masa takut? Bukannya kamu pemberani?" tanya Andre heran.
"Kak Kanaya pemberani ya, mas?"
"Iya, tanya saja," ucap Andre.
"Apaan, mas. Aku takut," ucap Kanaya.
"Tapi lompat dari balkon lantai dua kok berani?" ucap Andre dengan alis di naikkan.
"Apa?"
"Kak Kanaya lompat dari balkon?"
"Hhmm, mas ini. Itu bedalah."
"Tapi itu kan juga membutuhkan keberanian, sayang!" ucap Andre.
Kanaya cemberut kejadian memalukan itu di ketahui si kembar.
Alina dan Annisa senyum-senyum sendiri. Cukup kaget mengetahui kalau istri kakaknya itu berani lompat dari atas balkon.
Menjelang siang mereka meninggalkan pantai.
"Kita ke restoran ya, mas," pinta Kevin pada supir hotel.
"Baik, mas," sahut supir.
"Iya, mas," sahutnya lagi.
Tiba di restoran, mereka makan dengan lahab.
"Kita mau kemana lagi, mas?" tanya Alina.
"Kita ke taman lalu ke pura kalau masih sempat. Besok pagi kita ke pantai lain lagi," jelas Andre.
Mereka pun segera menuju taman. Karena banyaknya tempat wisata, mereka memilih yang tidak terlalu jauh dari hotel.
Sampai di taman, mereka berjalan berpasangan dengan guidenya berjalan di depan. Tak lupa mereka mengabadikan tempat-tempat yang di rasa indah. Menjelang sore, mereka sempatkan main ke pura. Hanya berkeliling satu jam saja sambil berfoto, mereka pun pulang karena sudah kelelahan.
"Malam ini kita istirahat saja. Besok malam baru kita keluar sekaligus mencari oleh-oleh," ucap Andre saat mereka berpisah di depan kamar.
Mereka pun langsung membersihkan diri. Andre sedang memijat kaki istrinya yang terasa pegal-pegal.
"Terimakasih ya, mas. Sini gantian aku pijitin mas," ucap Kanaya.
Baru beberapa menit, tiba-tiba handphone Andre berdering. Alina.
"Mas, Alina menelepon, nih," ucap Kanaya lalu mengulurkan handphone pada Andre.
"Hallo, dek,"
"Laper?"
"Baiklah, setengah jam lagi, ya. Mas masih capek."
"Iya, kalian santai-santai dulu saja."
Setengah jam kemudian Andre menelepon adik-adiknya supaya bersiap ke restoran untuk makan malam.
__ADS_1
"Jadi kalian semalam makan di sini?" tanya Andre kaget.
Alina dan Annisa mengangguk, "Iya, mas."
"Mas nggak kepikiran."
"Tapi mungkin saat kita cari mereka sudah pergi keluar, Dre," ucap Kevin.
"Oh iya, bisa jadi," sahut Kevin.
"Kalian bawa uang?"
Mereka mengangguk, "Bawa, mas. ATM juga bawa cuma kita kemarin lupa bawa handphone," jawab Alina.
"Hhmm,"
Setelah selesai makan malam, Alina dan Annisa minta di antar ke depan hotel di mana mereka malam sebelumnya jalan-jalan berdua tapi ke arah yang berlawanan karena masih takut dengan kejadian malam itu.
"Kita mau foto-foto di sana, mas," pinta Alina.
"Iya, sini mas yang fotoin," ucap Andre.
Setelah puas berfoto-foto, mereka kembali pulang ke hotel untuk beristirahat.
"Aku capek banget, mas," keluh Alya sembari berbaring di tempat tidur.
"Mas pijitin, ya?" tawar Andre.
"Hhmm, nggak apa-apa, mas?" tanya Alya.
"Ya nggak apa-apa, sayang. Sini mas pijat kakinya," ucap Kevin.
Alya lalu tidur dengan posisi tengkurap. Kevin mulai memijat kaki sampai leher Alya.
"Mas, iihh!" protes Alya saat suaminya memijat bagian yang membuatnya geli.
Kevin tersenyum menyeringai tanpa Alya sadari. Dia terus memijat sampai waktunya Kevin berbaring di sebelah Alya.
"Sudah, sayang," ucap Kevin.
Alya bangun lalu duduk, "Terimakasih, mas. Mas aku pijitin juga, ya?" tanya Alya.
Kevin mengangguk.
"Ya sudah mas tidur tengkurap dulu!" titah Alya.
Kevin menggelengkan kepalanya, "Mas mau gini saja," tolak Kevin.
Dahi Alya berkerut, "Apa yang di pijit, mas?" tanya Alya heran.
Tiba-tiba Kevin memeluk Alya lalu menghujani wajahnya dengan ciuman.
"Mas, iihh!" protes Alya karena hampir kesulitan bernafas.
"Katanya mau pijat mas, hmm?"
Alya mengangguk, "Mana yang mau di pijat?"
Kevin menatap istrinya dengan senyuman menggoda. Alya menarik nafasnya berat. Paham pijatan seperti apa yang di inginkan oleh suaminya itu.
Kevin kembali menghujani wajah istrinya dengan ciuman lalu beralih ke bagian yang lain. Alya pasrah saja dengan apa yang di lakukan suaminya itu.
.
.
.
.
__ADS_1
.
13.3