Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 73


__ADS_3

Pov Lisa 2


Malam harinya Alya benar-benar membuatku stres. Dia ribut minta pulang. Ada tugas sekolah lah, kangen mas Andre lah, kengen ayah lah? Huuhh. Belum ada sehari sudah kangen sedangkan denganku ibunya yang sudah berbulan-bulan tidak bertemu, anak-anakku tidak ada yang kangen. Apalagi sudah di sogok hidup enak oleh perempuan itu. Kecil-kecil sudah tahu hidup yang enak.


"Bu, ayo antar aku pulang," pintanya dengan terisak.


"Kamu bisa diam nggak, sih!? Apa mau di kurung di gudang,heehh?" bentak mas David membuat putriku terhenyak kaget.


Mas Anto mana pernah membentaknya, marah pun tidak pernah. Akhirnya putriku itu hanya bisa menangis dalam balutan selimut. Aku sebenarnya merasa kasihan dengannya tapi aku butuh uang. Aku juga tidak ingin mas Anto hidup enak dan bahagia dengan istri barunya sementara saat bersamaku dia tidak bisa membahagiakanku yang telah setia bertahun-tahun mendampinginya.


***


Azan subuh berkumandang.


"Bu, bu! Antar aku ke kamar mandi!" pinta putriku.


Aku yang masih mengantuk karena sering terbangun malam memberikan ASI untuk putraku jadi kaget.


"Apa sih, Al?" tanyaku kesal.


"Antar aku ke kamar mandi," pintanya dengan suara bergetar. Sepertinya dia hendak menangis.


"Kan kamu tahu letak kamar mandinya sebelah mana. Masa minta di anter terus? Kamu makin manja sejak tinggal sama ayah kamu!"


"Hhmm,di luar kamar gelap, bu. Di rumah bunda Santi,kamar mandinya di dalam kamar seperti kost kita dulu,"


"Kamu, ya! Banding-bandingin terus sama perempuan tua itu! Sana ke kamar mandi sendiri, ibu masih ngantuk! Ganggu saja kamu bisanya!"


Suara isakannya makin jelas. Mataku benar-benar mengantuk dan jadi pusing di buat ulahnya.


Tak lama kemudian aku dengar suara pintu di buka. Pasti Alya yang keluar kamar. Biar nggak makin manja itu anak. Mas Anto terlalu memanjakan anak itu.


"Aaakkkhh!"


Tiba-tiba aku mendengar suara teriakan dari luar kamar. Aku yakin itu suara putriku. Aku yang belum benar-benar tertidur buru-buru keluar dari kamar menuju sumber suara.


"Ada apa?" tanyaku kaget.


Alya langsung berlari dan memelukku erat sambil sesenggukan, "Ibu. . ."


"Ada apa, sih?"


"Anakmu jatuh!" tiba-tiba mertuaku muncul dari arah dapur dekat kamar mandi.


Aku lalu membawa Alya kembali ke kamar.

__ADS_1


"Kenapa bisa jatuh? Kamu nggak hati-hati, ya?" tanyaku kesal. Rasa kantukku hilang sudah.


"Orang itu, " ucapnya lirih di tengah tangisnya.


"Orang mana? Sudah jangan nangis nanti adik kamu bangun lagi!" titahku.


Tangisnya sedikit berkurang. Aku lalu menyuruhnya untuk kembali tidur karena jam baru menunjukkan pukul empat lebih. Aku masih ingin tidur.


"Mau sholat, bu," ucapnya sambil mengusap sisa air mata di pipinya.


"Ya sudah sholat sana. Alat sholatnya ada di lemari itu!" tunjukku ke sebuah lemari di pojokan kamar.


"Aku belum wudhu, bu."


"Lah, tadi kamu ke kamar mandi ngapain? Pakai nangis segala!" bentakku.


Dia kembali terisak. Huhh,baru satu hari saja membawa Alya ke rumah ini, aku sudah pusing.


"Sudah, jangan nangis lagi! Ayo ibu antar!" akupun mengantarnya ke kamar mandi.


Dia memegangi ujung pakaianku seperti sedang ketakutan. Sampai di depan kamar mandi, aku menyuruhnya masuk sendirian sementara aku menungguinya di luar.


"Ibu jangan pergi, ya?" pintanya dengan wajah memohon.


"Iyaa!" sahutku.


"Ibu nggak sholat subuh?" tanyanya.


"Nanti!" sahutku dengan mata terpejam. Ngantuk banget.


Belum lama aku tertidur, Alya kembali membangunkanku.


"Ada apa lagi sih, Al?" tanyaku kesal.


"Aku mau sekolah,bu!" ucapnya.


"Apa? Sekolah? Hari ini libur dulu!" tegasku lalu kembali memejamkan mata.


"Tapi bu? Aku nggak mau bolos. Ayah pasti marah dan aku besok pasti akan di hukum oleh bu guru."


"Nggak! Ibu jamin nggak akan marah. Sudah, kamu tidur lagi saja!"


"Bu?"


"Alya! Bisa nggak jangan ganggu ibu,hah!" bentakku dengan suara makin tinggi.

__ADS_1


"Ibu. . . , Ibu nggak sayang sama aku," dia mulai menangis lagi.


Huuhh,pagi-pagi sudah membuat darahku tinggi saja. Di kasih makan apa sih sama mas Anto sampai Alya bisa semanja ini. Aku lalu menutup telingaku dengan bantal.


***


Aku terbangun saat mendengar suara tangisan bayi ku,aku lalu menggendongnya. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Aku langsung mengurusi bayiku, memandikannya dan memberikannya ASI. Aku lihat Alya sedang duduk di pojok kamar sambil memeluk lututnya. Wajahnya dia tutupi dengan tangan. Ada apa dengan anak itu.


"Lisa, sana kamu masak, aku lapar!" titah mas David yang baru saja masuk ke kamar.


"Iya, mas. Sebentar lagi aku sedang memberikan ASI untuk Daren!" sahutku.


Setelah anakku tenang, aku kembali membaringkannya di tempat tidur. Aku gegas ke dapur memasak nasi. Ternyata adiknya mas David masih tidur. Dasar, gadis pemalas. Sudah siang begini masih saja tidur. Batinku kesal.


Setelah selesai masak nasi, aku pergi ke warung untuk membeli sayur dan lauk sekadarnya untuk makan. Saat aku kembali ke rumah, Alya mendekatiku.


"Bu, aku mau pulang ke rumah bunda," pintanya dengan wajah memohon.


"Iya, nanti ibu masak dulu!" sahutku malas.


Aku segera berkutat di dapur. Aku juga sudah merasakan lapar karena Daren yang sangat kuat minum ASI. Pukul delapan lebih aku sudah selesai masak. Aku gegas memanggil mas David dan juga Alya untuk sarapan. Mertua dan adik iparku terserahlah mereka mau sarapan atau tidak aku tidak peduli. Yang penting aku,mas David dan Alya bisa makan.


Masakan sudah aku hidangkan di meja makan. Aku lihat Alya makan dengan tidak bersemangat karena aku hanya masak tempe dan sayur kangkung saja. Aku lalu menggorengkan sebutir telur untuk nya supaya anak itu mau makan.


"Nih,ibu kasih telur goreng. Ayo makan yang banyak!" titahku.


"Dasar anak manja, maunya makan enak saja!" ucap suamiku ketus.


Alya hanya menunduk saja. Wajahnya terlihat muram dan seperti sedang menahan tangis. Aku lalu menatap tajam dan menggelengkan kepala ke arah mas David supaya suamiku itu tidak bicara macam-macam pada Alya. Aku khawatir itu bisa buat Alya makin sedih dan takut.


Setelah selesai makan, kami kembali ke kamar. Alya kembali duduk bersandar dinding sambil memeluk lututnya.


"Sudah jangan sedih lagi. Nanti ibu antar kamu pulang kok, ke rumah bundamu yang kaya itu!" ucapku.


"Alya mendongakkan kepalanya, "Benarkah, bu!" tanyanya dengan wajah berbinar.


Aku kesal sekali melihatnya seperti itu. Seperti wanita itu saja yang ibu kandungnya. Padahal aku yang melahirkannya tapi Alya malah justru seperti tidak betah berada lama-lama di dekatku. Aku makin benci sama mas Anto dan juga istrinya itu.


.


.


.


.

__ADS_1


.


19


__ADS_2