
Darren akhirnya menceritakan semua isi hatinya. Dari awal dia bisa mengenal Annisa. Darren terlihat pasrah saja saat Kevin menatapnya tajam. Dia berpikir, Kevin akan menganggapnya jahat karena sempat ingin menyakiti Annisa.
"Hadapi mereka! Buktikan kalau kamu lebih hebat dari mereka."
"Tapi mereka orang berduit, kak. Manalah bisa aku melawan mereka."
"Kamu sudah menyelamatkan dan melindungi kehormatan gadis yang saya sayangi. Saya akan balas itu dengan selalu membantu kamu. Kamu pegang ucapan saya ini!"
"Kak, itu hanya kebetulan saja."
"Iya, kebetulan yang sangat berarti. Sudah, kan ada saya di kampus ini jadi tidak perlu terlalu risau. Pikirkan saja masa depan kamu!"
"Iya, kak. Terimakasih banyak. Karena menolong kak Alya, aku mendapatkan banyak banget kebaikan dari kakak."
"Saya hanya sebagai perantara saja. Oh iya, kalau di depan orang lain, kamu panggil saya 'pak'. Oke!"
"Ehhmm, i-iya, pak!"
"Hmm, baiklah. Kamu mau tunggu di sini apa pulang? Saya masih ada urusan sampai nanti siang."
"Hhmm, sebenarnya aku mau melamar kerja di minimarket kak Alya."
"Oh, kamu mau kerja di sana?"
"Aku pernah kerja satu bulan di sana dan berhenti menjelang ujian, kak."
"Oh, gitu. Ya sudah kamu coba ke sana lagi."
"Sudah kak, tapi pak Anto suruh aku minta ijin dulu sama orangtuaku. Mana mungkin papaku kasih ijin," jelas Darren dengan wajah sedih.
"Hhmm, kalau kamu mau kerja di tempat om saya tapi kalau masih lulusan SMU, mungkin hanya akan di terima sebagai OB."
"Wah, aku mau jadi OB, kak," ucap Darren antusias.
"Kamu serius?"
"Iya, kak."
"Kalau kamu sambil kerja, kamu kuliahnya sore, donk."
"Ng, iya ya, kak."
"Ya terserah kamu,"
"Tapi kalau kuliah sore mahasiswa dan mahasiswinya banyak nggak, kak?"
"Lumayan tapi tidak sebanyak yang kuliah pagi. Dan lagi kamu tidak akan bertemu dengan orang-orang yang kamu ceritakan tadi."
"Hhm, iya ya. Nggak apa-apa deh, aku kerja jadi OB, kak."
"Ya sudah kalau kamu mau."
"Kapan aku masukin lamaran ke sana, kak? Hari ini apa besok?"
"Sabar, tunggu kamu mulai kuliah saja. Karena kamu masih harus datang pagi sebelum kuliah di mulai."
"Oh iya, kak."
"Nanti siang saya mau ke rumah Annisa. Kamu mau ikut?"
"Ke rumah Annisa, kak?"
"Iya, saya ada perlu sama Alya."
"Hhmm, ikut nggak, ya?" Darren terlihat ragu.
"Ikut saja nggak apa-apa. Supaya kamu bisa lebih dekat dengan saudara kamu."
"Tapi aku malu, kak."
"Malu lagi!" Kevin menggelengkan kepalanya.
Hhmm, aku memang minderan, kak. Batin Darren.
***
Alina dan Annisa baru saja menerima raport tahunan. Mereka naik ke kelas dua belas.
"Alhamdulillah, nilai kalian bagus-bagus," ucap Anto setelah membaca hasil rapot putri kembarnya.
"Iya, yah. Posisi kita bertukar-tukar terus. Kadang aku di posisi ranking dua kadang Alina. Mungkin kalau kita beda kelas bisa sama rankingnya ya yah," ucap Annisa.
__ADS_1
"Iya, nak. Bisa saja."
"Bener juga yang kamu bilang, Nis."
"Tapi nanti kita nggak tahu masih satu kelas apa pisah."
"Menurut ayah, lebih baik kalian di kelas yang sama. Soal ranking nggak jadi masalah. Nilai kalian juga kan sama," ucap Anto.
"Iya, sih. Nggak enak kalau pisah."
"Iya, bener. Semoga kita tetap dapet kelas yang sama, ya."
Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di rumah. Alina dan Annisa masuk ke kamarnya masing-masing untuk berganti pakaian.
Karena mereka pulang lebih awal, jadi belum waktunya makan siang. Mereka sedang berkumpul di dekat kolam renang. Kanaya sedang makan buah bersama Santi.
"Bunda. . ." seru Alina dan Annisa berbarengan.
"Sayangnya bunda sudah pulang?" sahut Santi.
"Iya, bun. Kan hari ini pembagian raport jadi pulang cepat. Mulai besok kita libur, deh!" jelas Annisa yang langsung memberikan pelukan hangat untuk bundanya,begitupun dengan Alina.
"Oh, ya. Mana raportnya bunda mau lihat!"
Alina dan Annisa mengulurkan raport mereka masing-masing pada bundanya.
"Alhamdulillah, nilai kalian bagus-bagus. Putri-putri bunda memang anak yang cerdas!" puji Santi.
"Iya, donk. Kan ayah dan bunda kita juga cerdas," sahut Alina.
"Mbak boleh lihat?" tanya Kanaya.
"Boleh donk, mbak," jawab Annisa lalu mengulurkan raport mereka pada istri kakaknya itu.
"Kalian memang anak yang cerdas, ya," Kanaya pun memuji mereka setelah membaca isi raport mereka.
"Mana coba kakak lihat?" pinta Alya yang baru saja datang.
"Ini," Kanaya mengulukan raport si kembar pada Alya.
"Selamat ya, sayang. Kalau bisa lebih di tingkatkan lagi, ya. Tahun depan kalian akan kuliah, kan."
"Kamu mau ambil apa, dek?"
"Aku mau jadi dokter juga seperti mas Andre. Aku mau jadi dokter spesialis Anak," ucap Annisa.
"Hhmm, kalau Alina mau kuliah apa?"
"Aku mau jadi guru, mbak,"
"Guru? Bagus juga itu, dek. Mau jadi guru apa?"
"Aku mau jadi guru Matematika atau Fisika."
"Wah, semoga tercapai cita-cita kalian, ya!" ucap Kanaya.
"Aamiin. Terimakasih doanya, mbak!"
Tak lama kemudian ada yang mengetuk pintu. Ternyata Andre yang pulang.
"Wah, sedang kumpul semua di sini," ucapnya lantas duduk di sebelah istrinya.
"Kita baru saja dapet raport, mas," ucap Alina.
"Sini mas mau lihat!" pinta Andre.
Annisa memberikan raport mereka pada kakaknya.
"Hmm, bagus. Nilainya lebih di tingkatkan lagi."
"Iya, mas. Nanti aku mau kuliah kedokteran. Aku mau jadi dokter kandungan kalau nggak ya dokter spesialis anak."
"Aamiin."
Tak lama kemudian, bibi buru-buru menghampiri mereka.
"Permisi, bu. Ada tamu di depan," ucap bibi.
"Siapa, bi?" tanya Santi.
"Ada dua orang anak muda, bu," jelas bibi lalu kembali ke dapur.
__ADS_1
"Siapa, ya?" tanya Santi penasaran.
"Biar aku yang ke depan, bun," ucap Andre yang di berikan anggukan bundanya.
Andre lalu berjalan ke depan. Dia ruang tamu sedang duduk dua orang laki-laki yang membelakanginya.
"Ehemm," Andre berdehem hingga kedua tamunya menoleh.
"Dre," sapa Kevin.
"Loh, kamu Kev. Dan kamu," dahi Andre mengernyit heran.
"Dokter," sapa Darren.
Andre mendekati mereka lalu bersalaman dengan Kevin, "Sudah pulang kamu, Dre?"
Andre menggelengkan kepalanya, "Istirahat makan siang."
"Oh begitu. Sudah kenal Darren, kan?" tanya Kevin.
Andre tersenyum, "Tentu saja. Kakak tingkatnya Annisa dan Alina yang ternyata saudara saya," ucap Andre lalu memberikan pelukan untuk Darren.
Darren terkesiap. Tidak menyangka Andre akan memeluknya. Matanya jadi berkaca-kaca.
"Hey, kenapa menangis?" tanya Kevin.
"Hmm, nggak apa-apa kok, kak."
"Yuk, duduk!" ajak Andre. ,"Ngomong-ngomong kok kalian bisa sama-sama?" tanya Andre heran.
"Oh, kita dari kampus. Darren mau kuliah di sana," jelas Kevin.
"Serius? Alhamdulillah," ucap Andre.
"Ambil apa Darren?"
"Hhmm, aku ambil komputer, dok," jawab Darren gugup.
"Loh kok panggilnya, 'dok'?" tanya Kevin heran.
"Iya, panggil saja 'mas'!" titah Andre.
"Tuh panggilnya 'mas'!" ucap Kevin.
"I-iya, mas!" sahut Darren malu-malu.
"Mas, makan siang!" panggil Annisa dari balik pintu. "Loh, kak Darren?" Annisa kaget.
"Nis," sapa Darren.
"Eheemm, yuk kita makan siang bareng!" ajak Andre.
"Wah,,terimakasih, Dre. Kita di sini saja," tolak Kevin halus.
"Loh, nggak boleh nolak. Ayo! Darren, yuk makan bareng Annisa,"
Darren tersenyum malu.
"Ayolah, Kev. Kalau menolak nanti nggak boleh ketemu Alya, loh. Oh, iya. Kamu hutang penjelasan sama aku!"
"Dih, pake hutang segala!" protes Kevin.
"Iyalah. Ayo!"
Kevin dan Darren akhirnya ikut makan siang bersama keluarga Annisa.
"Ayo Darren makan yang banyak!" titah Anto.
"Hhmm, iya, om," jawab Darren malu-malu. Menu masakannya enak-enak semua. Lengkap lagi semua serba ada. Batin Darren lalu melirik ke arah Annisa yang juga tengah melirik ke arahnya.
.
.
.
.
.
07,3
__ADS_1