Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 186


__ADS_3

Mereka sampai di mobil, ternyata Alya sedang tidur.


"Lama," ucap Alya.


"Iya, maaf. Tadi ketemu ayahnya Darren dahulu." jelas Kevin.


"Kalian ketemu ayahnya?" tanya Alya kaget.


"Hhmm iya, mbak. Ayahnya kak Darren galak, iya kan kak Kevin," ucap Annisa.


"Biasa saja, kok," sahut Kevin.


Alya menarik nafasnya berat, "Hhmm, kamu harus kuat mental kalau masih mau sama Darren!" ucap Alya.


"Maksud kak Alya?"


"Al, ayahnya hanya kurang ramah saja."


"Nggak maksud apa-apa, dek. Kan kamu sendiri tadi yang bilang kalau ayah Darren galak."


"Hhmm, iya, kak," sahut Annisa pelan.


Kevin mulai melajukan mobilnya pulang ke rumah Alya.


"Kita langsung pulang saja, ya. Saya ada perlu di kampus nanti sore."


"Iya, pak. Aku mau pulang,"


Ayahnya kak Darren serem banget. Apa itu yang bikin mbak Alya nggak mau ikut. Sepertinya mbak Alya sudah tahu tentang ayah kak Darren. Ah, aku nggak berani lagi ke rumah kak Darren. Walau ayahnya nggak sampai macam-macam tapi tetap saja aku takut. Beda banget sama ayah. Walau ayah tahu kak Darren itu anak dari orang yang sudah merebut istrinya dulu, tapi ayah tetap baik sama kak Darren. Ah, ayahku memang tetap yang terbaik. Batin Annisa.


Tak terasa mereka sudah sampai di rumah. Rumah terlihat sepi.


"Kak, terimakasih, ya," ucap Annisa lantas turun dari mobil.


"Iya, sama-sama," sahut Kevin.


Alya pun hendak turun tapi di cegah oleh Kevin.


"Kok langsung turun?"


Alya menoleh, "Hhmm, pak Kevin kan mau ke kampus."


"Masa masih panggil 'pak' sih?" Kevin cemberut.


"Hhmm, kan statusnya masih dosenku,"


"Dosenku?"


"Iya, memang dosenku, kan?"


"Dosen milikku!"


"Dah ah, aku mau turun. Aku mau istirahat, pak."


"Ok. Nanti aku telepon, ya."


"Hhmm, aku turun dulu."


"Aku sayang kamu!" ucap Kevin seraya menggenggam jemari Alya sebelum gadis itu turun.


Alya menoleh lalu tersenyum malu. Dia gegas masuk ke rumahnya.


"Kamu seperti itu bikin aku tambah gemes sama kamu, Al," gumam Kevin.


Kevin pun kembali menyalakan mesin mobilnya meninggalkan rumah Alya.


***


Beberapa hari kemudian, Kevin kembali ke rumah Darren. Darren sudah terlihat makin baik. Luka-lukanya juga sudah sembuh hanya tinggal sedikit bekasnya.

__ADS_1


"Bagaimana luka-luka kamu, hmm?"


"Sudah kering, kak. Yah, bekasnya saja ini yang mengganggu. Makin jelek saja aku, hahaa!"


"Masih tampan, kok. Annisa masih suka!" sahut Kevin.


"Ah, kak Kevin bisa saja."


"Setiap kakak ke rumahnya mesti dia duluan yang menghampiri kakak. Jadi seoalah punya pacar dua orang kakak adik saja rasanya. Hahaa. . ."


"Kak Kevin pacaran sama kak Alya?"


"Hhmm, pacaran sih nggak. Tapi saya serius dengannya."


"Serius menjadikan kak Alya istri? Wah, beruntung ya kak Alya dapet suami baik seperti kakak."


"Hhmm, biasa saja. Dia juga nggak merasa beruntung. Susah banget di dekati. Tapi itulah tantangannya."


"Oh, kak Alya susah di dekati, ya?"


"Dulu susah. Sepertinya karena dia takut dekat dengan laki-laki. Tapi sejak kita tahu kalau kakaknya Andre itu teman saya semasa sekolah, dia sudah tidak takut lagi."


"Oh, mas Andre itu teman sekolah kakak?"


Kevin mengangguk, "Iya, kita juga baru tahu beberapa bulan lalu."


"Wah, dunia ini sempit ya, kak!"


"Hehee, iya. Padahal dulu saya sering lihat si Alya saat main ke rumah Andre tapi biasa saja. Dan lagi dari dulu Alya itu takut sama orang yang baru dia lihat. Jadi memang dari dulu susah di dekati walau hanya sekadar di ajak bicara."


Hhmm, mungkinkah kak Alya trauma. Batin Darren.


Tak lama kemudian, mereka sampai di kampus. Darren turun dari mobil mengikuti Kevin. Darren kembali ingat kejadian beberapa hari yang lalu. Dia bersyukur sekali masih bisa selamat bersama Alya yang ternyata adalah kakaknya.


"Darren, kok melamun? Ayo ikut saya!" ajak Kevin.


Darren di ajak Kevin bertemu seseorang untuk meminta formulir.


"Kamu isi dulu formulir ini, ya!" titah Kevin.


Darren lalu membaca isi formulir itu.


"Kak, ini kan formulir untuk S1. Aku mau yang. . ."


"Sudah, kamu isi saja!" potong Kevin.


"Tapi, kak. S1 itu lama, aku ingin bisa lekas kerja!" ucap Darren.


"Darren! Kamu tetap bisa kerja walau belum lulus kuliah."


"Hhmm, tapi apa aku sudah pasti dapet beasiswa, kak?"


"In Sya Allah!"


"Kalau nggak dapet bagaimana?" tanya Darren bingung.


"Sudah, kamu pikirkan kuliah saja. Yang lain itu urusan saya. Ayo cepat di isi!"


"Hhmm, i-iya, kak."


Darren pun mulai mengisi formulir itu dengan cepat. Dia percaya saja pada Kevin. Toh dia tidak mungkin di bohongi. Ada Alya yang bagaimanapun juga masih saudaranya jadi tidak mungkin Kevin mempermainkannya.


Setelah selesai mengisi formulir, Darren lalu menyerahkannya pada Kevin.


"Kak, harus pakai materai ini. Aku nggak punya."


"Sini coba saya lihat," ucap Kevin lalu memeriksa formulir yang sudah di isi oleh Darren.


"Hhmm, sudah biar saya yang urus. Kamu tunggu di sini dulu!" titah Kevin lalu meninggalkan Darren di sana.

__ADS_1


Darren keluar, duduk di kursi panjang melihat mahasiswa dan mahasiswi yang berlalu lalang. Tiba-tiba Darren melihat seseorang yang membuat nyalinya ciut.


"Loh, itu kan," Darren kaget lantas berdiri hendak masuk kembali ke dalam ruangan tapi saat dia hendak berbalik, dia menabrak Kevin.


"Hey, ada apa?" tanya Kevin heran melihat wajah Darren yang seperti orang ketakutan.


"Hhmm, ng-nggak apa-apa, kak," jawab Darren gugup.


Kevin mengernyitkan dahinya, "Ya sudah, ayo masuk!" titah Kevin.


Darren pun masuk mengikuti langkah kaki Kevin.


"Kak, a-aku sepertinya nggak jadi kuliah di sini," ucap Darren terbata-bata.


Kevin mengernyitkan dahinya. Dia menatap Darren lekat-lekat, "Loh, kenapa?"


"Ehm, ng-nggak apa-apa, kak," jawab Darren tanpa mau membalas tatapan Kevin.


"Saya sudah daftarkan kamu tadi. Ini sebagai bukti buat nanti kamu ikut ujian masuknya," jelas Kevin.


Darren menunduk. Bagaimana ini, masa di mana-mana ada orang yang memusuhiku. Aku ingin hidup tenang. Batin Darren.


""Hhmm, aku minta maaf, kak,"


"Kenapa tiba-tiba berubah, hmm? Cerita."


"Kak, aku. Walaupun aku dapat beasiswa, tetap saja ada yang harus bayar sendiri, kan. Biaya kuliah itu nggak murah."


"Hhmm, hanya karena biaya bukan yang lain?"


"I-iya, kak!"


"Saya akan carikan kamu pekerjaan supaya punya uang untuk kebutuhan kamu yang lain!"


"Kak? Jangan terlalu baik sama aku. Aku nggak pantes, kak."


"Darren-Darren. Saya tahu ada yang kamu tutupi."


"Ng-nggak ada, kak!"


"Yakin?"


"Hhmm,"


"Sekali kita berbohong maka akan selalu ada kebohongan baru lagi. Terus dan terus begitu!"


Darren menunduk, "Hhmm, a-aku malu, kak."


"Malu karena apa?"


"Hmm,"


"Buktikan pada dunia kalau kamu mampu. Kamu bisa sukses. Kenapa memikirkan ucapan orang yang hanya ingin menjatuhkan kamu! Jangan jadi laki-laki yang lemah. Dengan kesuksesan, kamu akan bisa membungkam mulut orang-orang yang merendahkan kamu dan tentu saja kamu akan lebih percaya diri mendekati Annisa!"


Darren mendongakkan kepalanya. Annisa. Ahh, kak Kevin tahu saja kelemahanku.


.


.


.


.


.


.


19

__ADS_1


__ADS_2