Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 23


__ADS_3

Sudah dua minggu lebih aku menganggur. Aku juga belum mendapatkan lagi orderan untuk bengkel. Sementara uangku di dompet mulai menipis. Apakah aku harus kembali bekerja di toko Pak Toni? Batinku. Tapi rasanya aku sudah tidak lagi nyaman bekerja di sana seperti dulu.


Karena cuaca yang sangat panas,aku memutuskan untuk beristirahat di sebuah masjid setelah selesai salat zuhur. Aku termenung. Bingung memikirkan langkah apa yang harus aku ambil selanjutnya. Saat sekarang, mencari pekerjaan tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan. Satu jam kemudian aku memutuskan untuk kembali mencari pekerjaan.


Aku kembali berkeliling dengan mengendarai sepedaku sembari mataku menoleh ke kiri dan kanan melihat-lihat siapa tahu ada toko atau rumah yang mau di bangun. Atau ada lowongan pekerjaan untukku. Tapi sampai menjelang sore aku tidak juga mendapatkan pekerjaan maupun orderan untuk bengkel. Karena lelah, akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke kost.


Sampai di kost, Andre mendekatiku, "Yah, tadi ada telepon dari yang namanya pak Imron. Ayah disuruh telepon balik!" jelas Andre seraya menyerahkan handphone kepadaku. Gegas aku mencari kontak pak Imron lalu mulai menghubunginya.


"Hallo,pak Imron." Aku.


"Hallo,pak Anto. Bagaimana kabarnya?" pak Imron.


"Alhamdulillah kabar saya baik,pak. Bagaimana kabar bapak?" Aku.


"Alhamdulillah saya juga baik. Oh iya,apa pak Anto sekarang sudah mendapatkan pekerjaan yang baru?" pak Imron.


"Saya belum mendapatkan pekerjaan lagi,pak." Aku.


"Hhmm,bagaimana kalau pak Anto ikut kerja lagi sama saya? Kebetulan saudara saya hendak membangun rumah beberapa hari lagi," pak Imron.


"Benarkah,pak? Alhamdulillah,saya mau,pak." Aku.


"Baiklah kalau begitu. Pak Anto bisa datang ke rumah saya besok pagi biar saya antar ke rumah saudara saya sekaligus membahas masalah gajinya." pak Imron.


"Baiklah,pak. Besok pagi saya akan ke rumah bapak." Aku.


"Ok. Saya tunggu ya pak." pak Imron.


"Iya,pak. Terimakasih." Aku.


Pak Imron lalu memutuskan sambungan teleponku. Alhamdulillah. Ucapku dalam hati. Aku akan bekerja beberapa hari lagi.


"Ada apa, yah?" tanya Andre.


"Ada yang menawarkan pekerjaan untuk ayah. Semoga memang rezeki kita," jawabku penuh haru.


"Alhamdulillah ya, yah. Semoga ayah mendapatkan pekerjaan yang cocok" ucap Andre penuh harap.


"Aamiin," sahutku.


Aku lalu menyerahkan kembali handphone ke anakku Andre lalu mengambil handuk dan pergi mandi. Selesai mandi aku mengajak Andre pergi ke masjid untuk sholat magrib. Malamnya aku memasak lauk dan sayur untuk makan malam aku dan anak-anakku.


***

__ADS_1


Keesokan harinya setelah mengantar anakku ke sekolah,aku bergegas ke rumah Pak Imron. Ternyata disana sudah ada beberapa orang pekerja yang pernah sama-sama bekerja di rumah Pak Imron.


Kami berjumlah empat orang. Bersama pak Imron kami naik ke mobilnya menuju rumah saudaranya sementara sepedaku di tinggal di rumah pak Imron.


Sampai di rumah pak Imron,kami saling berkenalan dengan enam orang lainnya. Saudara pak Imron yang bernama pak Taufik itu hendak membangun rumah yang lumayan besar dan memakan waktu paling cepat 3 bulan bila dikerjakan oleh 10 orang pekerja.


Kami di sana juga membahas masalah gaji. Alhamdulillah per harinya aku mendapatkan lebih dari gaji yang diberikan oleh pak Imron dulu. Sepertinya pak Taufik lebih kaya daripada pak Imron di lihat dari pekarangan rumahnya yang ada tiga buah mobil.


Setelah selesai membahas pekerjaan kami lalu kembali ke rumah pak Imron. Karena kami akan mulai bekerja tiga hari lagi jadi dua hari ini aku manfaatkan untuk mencari orderan untuk bengkel. Semoga saja sebelum bekerja di rumah saudara pak Imron,aku bisa mendapatkan satu atau dua orderan.


Menjelang zuhur aku masih belum mendapatkan orderan. Aku lalu istirahat di masjid sambil salat zuhur setelah salat zuhur aku mengisi perutku yang mulai terasa lapar. Setelah merasa kenyang aku kembali melanjutkan perjalananku untuk mencari orderan.


Satu jam aku berkeliling akhirnya aku menemukan sebuah rumah yang ingin mengganti pagar rumahnya dengan yang lebih bagus sedikit. Alhamdulillah walau jumlahnya sedikit tapi tetap aku syukuri.


Aku lalu mengantarkan orang yang order langsung ke bengkel pak Sugi. Setelah urusan di bengkel selesai,menjelang pukul empat sore aku pulang ke kost.


***


Tiga hari kemudian aku mulai bekerja di rumah pak Taufik. Saat aku sedang mengangkut bata,tiba-tiba aku dipanggil oleh pak Taufik. Ternyata pak Taufik ingin memesan teralis jendela dan tangga stainless ke bengkel pak Sugi. Pak Taufik meminta aku mengantarkan beliau ke bengkel pak Sugi.


Aku,pak Imron dan pak Taufik lalu pergi ke bengkel pak Sugi. Sampai di bengkel,seperti biasa,aku membiarkan mereka bernegosiasi sendiri tanpa aku.


Saat kami hendak pulang,pak Sugi berbisik padaku, "Terimakasih,pak Anto. Sudah merekomendasikan bengkel saya."


"Sama-sama,pak. Saya juga sudah lama susah cari orderan," sahutku.


Aku menganggukan kepala. Memang benar sekeras apapun kita mencari rezeki kalau bukan milik kita tidak akan bisa dapat. Yang penting tetap berusaha dan tak lupa juga berdoa.


"Dua minggu lagi pak Anto bisa ambil uang ke saya," ucap pak Sugi.


Aku kaget karena sebenarnya pak Taufik sendiri yang minta di antar ke bengkel pak Sugi bukan karena aku yang menawarkan.


"Tapi,pak. Sebenarnya saya hanya mengantar saja karena pak Taufik sudah tau bengkel pak Sugi dari pak Imron," ucapku.


"Tidak masalah. Kalau bukan karena pak Anto,pak Taufik juga belum tentu pesan di bengkel saya,kan."


"Tapi pak,saya merasa tidak enak," tolakku halus.


"Tidak apa-apa pak Anto. Anggap ini rezeki anak-anak!" tegas pak Sugi. "Lagipula pak Taufik tadi pesannya banyak jadi pak Anto pantas untuk mendapatkan bonus dari saya!" imbuhnya lagi.


"Alhamdulillah!" ucapku.


Aku mengucapkan terima kasih banyak kepada pak Sugi yang sudah berbaik hati padaku.

__ADS_1


Kami lalu kembali ke rumah pak Taufik. Aku kembali bekerja dengan yang lain. Alhamdulillah pekerjaanku berjalan dengan lancar dan bersyukur kami diberikan makan siang juga.


Menjelang sore aku pulang ke kost.


Dua minggu kemudian pak Sugi menelponku meminta aku datang ke bengkelnya. Sepulang kerja aku lalu pergi ke bengkel pak Sugi.


Sampai di bengkel,pak Sugi langsung memberikan aku amplop yang aku rasa cukup tebal.


"Terimakasih banyak,pak," ucapku terharu.


"Ini baru setengahnya,pak Anto. Nanti setelah pekerjaan selesai,saya akan kasih lagi sisanya!" jelas pak Sugi.


Aku kaget, "Loh,ini baru setengahnya,pak?" tanyaku seakan tidak percaya.


Pak Sugi menganggukkan kepalanya seraya tersenyum, "Iya,pak."


"Alhamdulillah. Sekali lagi terimakasih banyak,pak!"


"Sama-sama,pak Anto."


"Kalau begitu,saya pulang dulu pak. Sudah hampir maghrib," pamitku.


"Silahkan,pak. Hati-hati di jalan," ucap pak Sugi


Aku lalu gegas pulang ke kost. Baru saja beberapa menit aku pergi dari rumah pak Sugi,di jalan aku kembali bertemu dengan Meli,istri pertama dari suami Lisa. Dia sedang berjalan menenteng tas cukup besar sambil menggendong anaknya yang masih kecil.


Aku menghentikan sepedaku lalu berjalan menghampirinya.


"Mbak?" panggilku.


Meli menoleh ke arahku. Aku lihat matanya merah seperti habis menangis.


"Mau kemana,mbak? Sudah hampir maghrib,mbak. Kasihan si kecil," ucapku.


Tasnya terjatuh. Dia menatapku dengan tatapan sedih. Ada duka mendalam yang aku lihat dari sorot mata itu. Kami berpandangan cukup lama. Entah aku seperti terhypnotis.


Deg. Jantungku berdetak kencang.


.


.


.

__ADS_1


.


Maaf jika masih ada typo. 😊


__ADS_2