
Saat Alya dan Kevin baru sampai di tangga, ternyata semua orang baru saja selesai sarapan.
"Mbak Alya!" panggil Alina dari bawah.
"Dek!" Andre menggelengkan kepalanya sembari menatap Alina.
"Hhmm, iya, mas,"
Andre merangkul bahu adiknya mengajak ke ruang keluarga. Mereka ngobrol-ngobrol biasa.
"Masih liburan, kan?" tanya Andre.
"Masih, mas. Tapi di anggurin terus, nih. Bosen!" gerutu Alina.
"Kita liburan, mau?" tawar Andre.
"Beneran, mas? Mau donk!" seru Alina.
"Mau apa, Lin?" tanya Annisa penasaran.
"Mau apa, yaa?" Alina mengedipkan sebelah matanya.
"Iihhh. Mas Andre. Apa, sih?"
"Kalau ayah sama bunda ijinkan, ya. Itu juga cm tiga hari."
"Nggak apa-apa cuma tiga hari, mas," ucap Alina.
"Apa yang tiga hari, nak?" tanya Anto.
"Mau ajak adik-adik liburan, yah," jawab Andre.
"Liburan ke mana, mas?"
"Kalian mau liburan?" tanya Santi.
"Baru rencana, bun. Kanaya dan adik-adik mungkin bosan di rumah terus."
"Oh, iya kalau bunda setuju saja. Asal nggak ngerepotin kamu, Dre."
"Nah, ini pengantin baru kita mau bulan madu nggak, nih?" tanya Andre saat Alya dan Kevin baru saja datang setelah sarapan.
Kevin menatap Alya dengan tatapan aneh. Alya pura-pura tidak tahu. Andre melihat gelagat aneh dari tatapan mata sahabatnya itu.
"Kev, jadi nggak bulan madunya?" tanya Andre lagi.
"Hhmm, aku. Aku terserah Alya saja," jawab Kevin sembari melirik ke arah istrinya yang lagi-lagi terlihat tak peduli.
"Kita mau ikut mbak Alya bulan madu ya, mas?" tanya Alina bingung.
"Kita nggak bulan madu kok, mas," sahut Alya.
"Loh, kenapa?" tanya Andre kaget.
"Mbak Alya nggak jadi bulan madu?"
"Hhmm, di rumah saja," jawab Alya.
"Wah, beda donk di rumah sama di luar kota, mbak. Hmm, atau mbak Alya nggak mau di ganggu bulan madunya, ya," goda Alina.
Alya menatap adiknya sekilas lalu pura-pura main handphone.
"Loh, kenapa nggak sekaligus keluar kota, nak?" tanya Santi.
"Hhmm, capek, bun. Di rumah sama saja," Alya beralasan.
"Kev, kita lomba renang, yuk!" ajak Andre tiba-tiba langsung menggamit tangan suami adiknya itu.
"Renang?" tanya Kevin malas.
Andre mengajak Kevin duduk di pinggir kolam.
__ADS_1
"Hey, pengantin yang baru saja malam pertama, kenapa wajahnya kusut begini, hmm? Adikku sedang kedatangan tamu?"
Kevin hanya mendengus.
"Eh, tapi kalian turun tadi sepertinya ini rambut basah?" Andre mengusap rambut Kevin lalu menatap sahabatnya itu dengan tatapan curiga.
"Apaan, sih!" wajah Kevin terlihat muram.
"Kalian ribut?"
Kevin menggelengkan kepalanya.
"Lalu? Kenapa nggak jadi bulan madu?"
"Kamu deh yang bujukin Alya bulan madu. Nggak apa-apa bareng liburan kalian."
"Loh, kenapa aku? Kamu donk ajak dia, pasti mau. Istri mana yang nggak mau di ajak suaminya bulan madu keluar kota. Atau mungkin Alya mau keluar negeri?"
"Ke ujung duniapun aku turuti kalau dia mau!" tegas Kevin.
"Loh, jadi dia memang nggak mau?"
Kevin menggeleng lemah. Andre curiga padanya. Nggak mungkin adiknya menolak ajakan suaminya. Pasti ada apa-apanya.
"Adikku itu penurut. Apalagi sama suami, dia tahu bagaimana harus bersikap terhadap suaminya."
Kevin menarik nafas panjang, "Dia marah sama aku," ucap Kevin pelan.
"Marah? Alya marah sama kamu? Di malam pertama kalian?" tanya Andre kaget. Istrinya Kanaya bahkan selalu menurut apa yang dia ucapkan dan tidak pernah marah ataupun kesal.
"Tadi pagi," ucap Kevin.
"Pasti ada apa-apanya, nih. Ok. Aku nggak akan ikut campur masalah kalian berdua. Tapi aku tahu benar bagaimana adikku itu!" Andre menatap tajam ke arah Kevin.
"Hhh, iya aku yang salah. Tapi aku sudah minta maaf."
"Dia nggak maafin kamu?"
"Maafin tapi. . " Kevin mendengus.
"Huhh, ya itu. Dia nggak mau bulan madu!" jawab Kevin dengan wajah sedih.
"Ahh, payah, kamu!" Andre meninju bahu Kevin.
"Ah, sudahlah. Daripada dia nggak mau maafin aku."
"Hhmm. Adikku bisa membuat seorang Kevin bersedih. Hahaa! Lucu sekali!" Andre tergelak.
"Ah, kamu, Dre!" Kevin kesal lantas bangkit dari duduknya meninggalkan Andre yang masih tertawa.
Kevin yang bertambah kesal karena di tertawakan kakak iparnya yang sekaligus sahabatnya itu langsung naik ke kamar.
"Saya ke atas dulu, bun, yah," pamit Kevin.
Semua orang menatap heran ke arahnya. Andre mengikuti dari belakang lalu kembali bergabung dengan keluarganya dengan sisa tawanya.
"Kevin kenapa, mas? Mas kok malah senyum-senyum gitu? Nggak jadi renangnya?" tanya Kanaya heran. Yang lain pun ikut menatap heran ke arah Andre.
"Nggak jadi renang. Al, kita liburan, ya!" ajak Andre .
Alya menoleh lalu menggelengkan kepalanya.
"Sekaligus mbak bulan madu. Siapa tahu bisa langsung kasih kita keponakan," ucap Alina.
Alya hanya melirik sekilas adiknya itu.
"Iya, dek. Mas juga mau ajak mbak Kanaya bulan madu. Mau, ya?" bujuk Andre.
"Aku sama Annisa nggak di ajak nih, mas?" tanya Alina dengan wajah cemberut.
"Di ajak, donk. Nanti kalian bisa sekamar berdua!" ucap Andre.
__ADS_1
"Asik. Beneran ya, mas!"
"Iya adikku sayang. Tapi pengantin baru kita ini mau nggak bulan madu."
"Kalian pergilah, kita di rumah saja, mas," sahut Alya.
"Al, ikutlah masmu. Apa kamu mau bulan madu terpisah dari mereka?" tanya Anto.
"Kalau mau pisah ya nggak apa-apa, dek. Mumpung Kevin juga masih cuti, kan. Kamu juga belum cari kerja," bujuk Andre lagi.
Ada apa sebenarnya, kok Alya benar-benar nggak mau di ajak bulan madu. Si Kevin juga wajahnya sedih gitu. Ah, si Kevin takhluk juga sama adikku. Batin Andre.
"Nggak, yah. Aku sedang nggak ingin kemana-mana," sahut Alya yang tetap asik dengan handphonenya.
Semua menatap aneh ke arah wanita muda itu.
"Ya sudah kalau Alya nggak mau, kita juga nggak jadi liburannya!" ucap Andre.
"Loh, kok nggak jadi sih, mas?" Alina kesal.
"Ya nggak asik saja kalau mbak Alya nggak ikut," jelas Andre padahal dia sengaja supaya Alya mau ikut mereka liburan.
"Hhmm, kenapa harus tergantung aku, mas?" tanya Alya kesal.
Semua orang saling lirik.
"Ya sudah kalau nggak jadi!" Alina ngambek lantas naik ke atas pergi ke kamarnya.
Alya memutar bola matanya lalu menarik nafas berat, "Iya-iya aku ikut!" ucap Alya malas.
"Horree!" sorak Annisa dan langsung mendekati Alya lalu memeluknya. "Loh, leher mbak kok merah-merah semua? Apa terkena kelopak bunga mawar?" tanya Annisa kaget dan heran.
"Apaan sih, dek!" Alya menutupi lehernya dengan rambutnya. Wajahnya memerah.
"Hhmm, itu," tunjuk Annisa.
"Nis, sana bilang sama Alina kita jadi liburan!" titah Andre.
"Hhmm, iya, mas!" Annisa gegas ke lantas atas menuju kamar Alina.
"Al, kamu mau bulan madu ke mana?" tanya Andre.
"Hh, terserah mas saja!" jawab Alya malas.
"Ya sudah, kalian bicarakan sama-sama mau liburan kemana. Ayah bunda di rumah saja sama nenek. Ayah mau ke minimarket sekarang," ucap Anto lantas beranjak dari duduknya di ikuti oleh Santi yang mengantarnya ke depan.
"Mas, Alya kok aneh."
"Iya, tapi biarkan saja. Mungkin sedang ada masalah sama suaminya."
"Hhmm, semoga hanya masalah kecil saja."
"Iya, yank. Mas kerja dulu, ya. Titip ibu,"
"Iya, mas. Mas hati-hati di jalan, ya!"
"Iya, sayang."
Santi lalu mencium punggung tangan suaminya dan di balas dengan Anto mencium pucuk kepala istrinya. Mereka tetap mesra walau sudah tidak muda lagi. Itu yang membuat mereka terlihat awet muda. Hidup penuh cinta dan saling pengertian satu sama lain hingga kebahagiaan senantiasa terpancar di wajah mereka.
Ayah sama bunda mesra banget. Aku nggak pernah lihat mereka bertengkar. Ah, apa rumah tanggaku bisa seperti mereka. Batin Alya yang melihat orangtuanya dari ujung tangga.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
19